Portal Teater – Rasanya baru sebulan berselang setelah Pekan Teater Nasional di Samarinda (20-26 September 2019) menyuguhkan pertunjukan tiga kanon teater dari 14 grup partisipan dari seluruh Indonesia, yakni teater tradisi teater, post-tradisi dan teater riset dalam tajuk “Tubuh Gunung”.

Bulan ini, lagi-lagi pencinta teater, khususnya di kota  Jakarta, menyaksikan pertunjukan teater tradisi (rakyat) melalui Festival Teater Tradisi pada Bulan Bahasa 2019 yang digagas Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Festival ini digelar kembali setelah mengalami kemandekan selama hampir 10 tahun sejak 2009. Berniat menghidupkan kembali khazanah kesenian rakyat, festival ini mementaskan enam ragam teater tradisi (daerah) oleh enam grup (seni) teater diaspora di Jakarta.

Grup-grup tersebut, antara lain: Sanggar Seni dan Budaya Alor, Nusa Tenggara Timur yang mementaskan Lego-Lego; Mata Art Community yang mementaskan Topeng Blantek dalam karya berjudul “Mendadak Sakti” (sutradara Zoebir Mustaqim); Gaya Muda mementaskan Ubrug lewat karya “Pintar-Pinta Bodoh” (sutradara Sahari).

Selain itu ada teater tradisi Longser oleh grup Organik (judul: “Spirit of Tradisi”; sutradara: Dadang Badoet); Ludruk oleh Ludruk Mini KPS (judul: “Tragedi Topi Koboi”; sutradara: Yogi Karmas); dan Randai oleh Minangkabau Art and Culture Heritage (judul: “Sabai Nan Aluiha”; sutradara: Romi Nursyam).

Gelaran ini berlangsung selama dua hari, yakni 12 dan 13 Oktober 2019 di Gedung Badan Bahasa Rawamangun, Jakarta Timur. Tiga grup pertama pentas pada hari pertama, sedangkan tiga grup lainnya pentas pada hari terakhir.

Kekuatan Tubuh dan Olah Batin

Keenam pertunjukan teater tradisi masing-masing menampilkan bentuk kesenian teater yang menjadi kekhasan kebudayaannya. Ini memperlihatkan betapa kayanya kebudayaan Indonesia.

Teater tradisi Randai (Minangkabau, Sumatra Barat) yang dipentaskan Minangkabau Art and Culture Heritage pada Minggu (13/10) adalah salah satu pentas yang sangat menyita perhatian saya.

Meski tidak bisa memahami arti pertunjukan, karena menggunakan bahasa Minangkabau, setidaknya secara subjektif saya hanya dapat menangkap makna pertunjukan dari artikulasi gerakan yang terjadi di atas panggung.

Pentas ini tidak hanya menarik secara estetik dan artistik di mana moderasi dan kekompakkan gerakan para pemain sudah dianggap cukup melewati ambang batas elemen dasar pertunjukan.

Tapi lebih kepada gambaran penulis untuk membayangkan bagaimana mungkin para pemain dapat bertahan selama lebih dari satu jam di atas panggung untuk melakukan pertunjukan dengan gerak dan dialog yang sama dan berulang-ulang.

Konon, untuk menyelesaikan satu lakon atau cerita, pertunjukan Randai dapat berlangsung selama satu hingga lima jam. Kita bisa membayangkan betapa para pemain cukup kelelahan di atas panggung untuk mementaskan satu lakon.

Untuk berhasil menuntaskan lakon, ketahanan tubuh dan olah batin para pemain tentu menjadi syarat mutlak. Karena jenis teater rakyat ini tidak hanya menggabungkan lagu, musik, tari, drama menjadi satu, melainkan juga memasukkan seni persilatan ke dalam pertunjukan.

Seni silat ini pun sering menjadi cara untuk menyelesaikan konflik dalam suatu lakon.

Uniknya, musik dalam pertunjukan ini terbagi dua, yaitu musik internal yang berasal dari tepuk galembong, paha dan tangan para penari/pemain.

Bunyi-bunyi yang dihasilkan dari tubuh pemain ini mengisyaratkan tubuh tidak hanya menjadi objek pertunjukan, tapi juga menjadi sarana untuk pertunjukan itu sendiri. Tubuh punya kekuatan untuk dijadikan musik itu sendiri.

Selain musik internal, adapula musik eksternal yang berasal dari alat musik Talempong Jinjing yang dimainkan sebelum dan selama pertunjukan.

Keluar dari Pakem

Pada dasarnya, sebagai pertunjukan atraktif, Randai tidak boleh dimainkan oleh perempuan.

Namun Minangkabau Art and Culture Heritage dalam pementasannya berupaya keluar dari pakem tersebut karena melibatkan perempuan dalam pertunjukannya, di mana tiga dari tujuh penari adalah perempuan.

Ketidaklaziman ini, entah secara kultural dianggap menyimpang atau wajar, tidak semata-mata dibaca lewat kacamata feminis. Tapi sebagai pentas berbentuk lingkaran, pentas ini mencoba menghadirkan narasi klasik tentang kebersatuan dua-tubuh-satu-bahasa antara perempuan dan laki-laki.

Kebersatuan ini dimaksudkan agar lingkaran untuk mempererat hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak terputus oleh isu-isu dominasi dan subordinasi, atau oleh relasi kekuasaan yang timpang. Bahwa sejak semula keduanya manusia ini setara.

Pertunjukan ini ingin memperkuat wacana budaya Padang karena dalam tatanan budaya masyarakat Padang, perempuan mendapat privilese, misalnya dalam struktur perkawinan.

Pantun sebagai Kekuatan Dialog

Randai yang dipentaskan Romi Nusyam dkk menampilkan beberapa pemain, yang terdiri dari penari (7 orang), pemusik, juru bicara, raja, dan putri raja dalam lakon berjudul “Sabai Nan Aluiha”.

Lakon ini menceritakan tentang Sabai Nan Luiha, putri Raja Babandiang yang bijaksana. Raja ini mempunyai sahabat bernama Rajo Nan Panjang.

Suatu ketika Rajo Nan Panjang hendak melamar Sabai Nan Aluiha. Namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh Raja Babandiang.

Penolakan itu membuat Rajo Nan Panjang marah sehingga memicu ketegangan dan pertempuran antara Rajo Nan Panjang dengan Raja Babandiang.

Dalam pertempuran itu, ayah Sabai Nan Aluiha itu gugur. Akhirnya, sang putri pun berniat balas dendam dan ingin menghabiskan nyawa Rajo Nan Panjang.

Akhirnya melalui sejumlah cara, sang putri berkonspirasi dengan beberapa laki-laki dan berhasil membunuh Rajo Nan Panjang (diperankan Romi Nursyam).

Pada setiap babak di mana lakon dimainkan, para penari duduk bersila untuk memberikan ruang bagi para aktor berdialog. Jadi fungsi tari dalam pentas ini lebih sebagai jembatan untuk menghubungkan satu adegan dengan adegan berikutnya.

Uniknya, tiap dialog yang terjadi antar tokoh dinarasikan dalam bentuk pantun, sebagaimana menjadi khas suku Melayu.

Kita lihat, pantun sebagai bentuk sastra memiliki fungsi untuk memperkuat komunikasi. Sebab komunikasi melalui pantun merupakan bentuk verbalisme yang mengadung kekuatan semantik.

Namun dalam lakon ini, pantun juga berfungsi untuk mempertegas kekuasaan harusnya menjadi milik siapa. Artinya, siapa yang bisa mengungkapkan atau berkomunikasi secara baik melalui pantun maka ialah yang lebih dominan dan berkuasa atas lawannya.

Dalam pementasan “Sabai Nan Aluiha”, baik Raja Babandiang maupun Rajo Nan Panjang yang melamar putrinya sama-sama memiliki kemampuan berpantun.

Begitu pula dengan juru bicara Rajo Nan Panjang, putri sang saja dan beberapa perempuan lain yang tampil dalam lakon ini.

Kepiawaian Rajo Nan Panjang pun tampak pada perannya dalam pertunjukan ini. Di mana ia bertindak sebagai panggoreh yang bertugas mengeluarkan teriakan khas hep tah tih untuk menentukan cepat atau lambatnya tempo gerakan para penari.

*Daniel Deha