Melihat Pergolakan Politik Awal Kemerdekaan Lewat “Domba-Domba Revolusi”

Dipentaskan Teater Ciliwung dalam Festival Teater Jakarta 2019, Selasa (19/11) malam.

Portal Teater – Situasi pergolakan pada masa-masa awal kemerdekaan dihadirkan pada beberapa menit menjelang pentas “Domba-Domba Revolusi” karya Bambang Soelarto oleh Teater Ciliwung, Selasa (19/11) malam.

Kumandang lagu Indonesia Raya dan siaran radio dan pidato-pidato revolusi kemerdekaan dihadirkan sebagai bahan arsip yang menandai ketegangan politik masa itu, meski kemudian tidak lagi berlanjut ke tubuh pertunjukan.

Imaji-imaji tersebut menggambarkan kobaran revolusi yang terjadi pada tahun 1948, di mana terjadi perguliran kabinet dari Amir Syarifudin kepada Mohammad Hatta dan pemberontakan PKI di Madiun.

Para penonton diminta ikut menyanyikan lagu kebangsaan tersebut, sambil berdiri menatap gambar bendera merah putih yang dipantulkan proyektor pada tengah layar merah di panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sepuluh menit berlalu. Penonton menunggu. Tepatnya pukul 19.57 WIB, layar dibuka. Pertunjukan berlatar peristiwa politik tahun 1948 itu pun dimulai.

Layar “Domba-Domba Revolusi” pun disibak dengan kisah tentang empat orang laki-laki: politikus, petualang, pedagang dan seniman-wartawan yang terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang; di sebuah Kota Tengah.

Mereka bersembunyi dari serangan musuh dan ingin melarikan diri ke Kota Selatan, yang saati itu menjadi pusat pemerintahan.

Namun, sebelum sampai di Kota Selatan, mereka melewati Kota Tengah. Di sanalah mereka bersembunyi. Tapi persembunyian mereka tidak aman. Musuh telah mencium bau pemberontakan mereka.

Situasi berkecamuk, ruang gerak menjadi terbatas. Tidak ada yang berani keluar dari losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si seniman.

Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi yang sedang terjadi. Konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai tumbuh benih-benih asmara antara si seniman dengan si perempuan pemilik losmen.

Ketika si seniman (diperankan Bagus Ade Saputra) meninggalkan losmen, si petualang (diperankan Lucky Moniaga) menggunakan segala kelicikan dan memanfaatkan situasi yang terjadi itu.

Ia menghasut seluruh penghuni losmen, termasuk politikus (diperankan Irwan Soesilo) dan pedagang (diperankan Suganda Lalamping) dan membawa mereka ke jurang maut.

Timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa curiga kepada para penghuni losmen.

Polemik hadir dan memperburuk suasana. Pada akhirnya, di antara mereka saling membunuh dan terbunuh, menjebak satu sama lain, dengan si petualangan adalah aktor intelektualnya.

Dalam kondisi yang rumit, mereka tak dapat menolak kehadiran kisah romansa apik dan mengiris hati. Benih-benih cinta tumbuh di antara si seniman dengan perempuan pemilik losmen.

Namun, perempuan itu berpendirian tegas dan menolak ungkapan cinta si seniman. Ternyata, pemilik losmen adalah ibu tiri si seniman, yang ditinggalkan ayahnya tanpa kepastian.

Pada akhirnya, lakon ini menggambarkan bagaimana kelicikan si petualang, yang telah menipu si pedagang dan politikus. Sebelum akhirnya ia juga terbunuh di tangan perempuan pemilik losmen.

Demikian halnya, pada puncaknya perempuan itu pun mati ditembak musuh persis setelah ia membunuh seorang serdadu musuh yang masuk ke losmennya.

Tak dapat dihindari lagi, losmennya pun dihancurkan musuh yang sudah menguasai seluruh kota.

Yang tersisa dan masih hidup adalah si seniman. Sebab dalam lakon ini, tidak ada simbol yang menunjukkan bahwa si seniman itu ikut mati bersama keempat orang penghuni losmen.

Ini menggambarkan bahwa kesenian dan kebudayaan tidak pernah mati meski tubuh kebudayaan itu mati oleh represi kekuasaan politik.

Terinspirasi dari Kisah Pengamen

Dalam penulisan naskah “Domba-Domba Revolusi”, Bambang Soelarto terinspirasi dari sebuah kisah nyata seorang pengamen Keroncong setengah baya.

Nama pengamen ini tidak pernah diriwayatkan oleh pengarang. Karenanya Soelarto tidak mengalami sendiri kejadiannya. Pengamen menceritakan pengalamannya selama perjuangan fisik yang terjadi pada tahun 1948.

Yaitu ketika ia mengalami peristiwa yang cukup dramatis pada waktu menginap pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung oleh para tentara Belanda selama beberapa hari.

Di losmen itu, ia terjebak cinta dengan pemiliknya. Namun pada akhirnya wanita itu mati.

Kejadian itulah yang mendorongnya mengangkat senjata melawan Belanda. Sekilas, jiwa patriotismenya muncul. Meski begitu, ia tidak ingin menyebut dirinya seorang partisan maupun orang berjasa/pahlawan.

Pengamen begitu suci niatnya, sehingga dalam “Domba-domba Revolusi” disebut sebagai seorang seniman, untuk menunjukkan bahwa jiwa seniman sebagai seorang yang membangun kebudayaan sebagai perjalanan mistik dan suci.

Karya berupa drama ini kemudian diterbitkan pertama kali dalam majalah sastra No. 8 Tahun II (1962). Cetakan dalam bentuk novel, pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Nusantara (Jakarta) tahun 1964, lalu dicetak ulang pada 1967 dan 2001.

Sebagai naskah realis, Teater Ciliwung berusaha menghadirkannya apa adanya, tanpa memperindah atau memperburuk latar yang sebenarnya. Sebab, teater realis adalah representasi kehidupan sehari-hari.

Namun, dalam beberapa dialog, para aktor Teater Ciliwung masih terkesan belum natural, sehingga aliran dialog tidak hanya memacetkan tubuh pertunjukan, tapi juga membuat pertunjukan terlihat formal dan masih kaku.

Desain panggung, properti yang digunakan, dan pencahayaan terlihat cukup minimalis untuk menghadirkan konsep realis.

Namun, di akhir cerita, ketika losmen diserang, justru tubuh bangunan itu definitif dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehancuran.

Di luar panggung teater, ada yang unik dengan grup teater ini. Di meja registrasi panitia, ada tiga orang humas Teater Ciliwung yang ikut membantu panitia melakukan registrasi ulang penonton.

Ini menjadi salah satu kerja manajerial grup, bagaimana menyapa dan mendekatkan diri dengan penontonnya. Grup tidak hanya berhubungan dengan pertunjukan, tapi sekaligus menjalin interaksi langsung dengan penonton.

Tim Produksi

Pimpinan Umum: H. Ahmad Yusuf
Produser: H. Iffan
Line Produser: Deni Christanta
Asisten Produser: Vita
Pimpinan Produksi: Aep Saepuloh
Sutradara: Irwan Soesilo
Penata Musik: Hardi Setiawan & Irfan Maulana
Penata Artistik: Anda Suhanda
Penata Cahaya: El-Draba
Penata Busana: Niken Puspita Rini
Penata Make-Up: Vicana MUA
Astrada: Kholil May Lutfy
Stage Manager: Maulana Firdaus
Publikasi & Dokumentasi: Ade Bilal Perdana
Akomodasi dan Transportasi: Sahrul
Asisten Kostum & Art: Luqman

Pemain

Aktor Utama Perempuan: Margareta Marisa
Aktor Utama Laki-Laki: Bagus Ade Saputra
Aktor Peran Pembantu Laki-Laki
Sebagai Petualang: Lucky Moniaga
Sebagai Politikus: Irwan Soesilo
Sebagai Pedagang: Suganda Lalamping

Tentang Teater Ciliwung

Teater Ciliwung berdiri pada 1984, di bekas pabrik batik milik keluarga H. Ahmad Yusuf yang berada di pinggiran kali Ciliwung.

Ahmad Yusuf kini menjadi ketua umumnya, memimpin beberapa rekannya yang juga merupakan mantan anggota Teater Lingkar Minggi pimpinan Muchlis Raya.

Sejak 1980-an sampai sekarang, Teater Ciliwung tetap aktif memproduksi beragam lakon, seperti misalnya: Bla Bla Bla (2003) yang ditulis oleh Agus Safari dan Sandiwara di atas Sandiwara (2004) karya Danarto – keduanya disutradarai oleh (alm.) Christi Maharsi.

Selain itu ada Kisah Cinta di Hari Rabu (2010) karya Anton Chekov yang disutradarai oleh Irwan Soesilo.

Irwan Soesilo lahir di Jakarta, 12 maret 1970. Dunia teater yang digeluti berawal dari pentas-pentas kampung.

Sampai saat ini pernah meraih sebagai sutradara terbaik dalam naskah “Drakula Pribumi” karya Putu Wijaya, pada tahun 1991.

Irwan berkarya di Festival Teater Mahasiswa tahun 2009 dan meraih sutradara terbaik lewat naskah “Selamat Jalan Anak Kufur” karya Utuy T. Sontani pada Festival Teater Jakarta Selatan tahun 2011.

Di tahun 2016, ia pernah menjadi pemain dan meraih aktor terbaik pada Festival Teater di Jakarta Pusat, dengan judul naskah “Demit” karya Heru Koeswara, dan beberapa karya lainnya.

Hingga saat ini masih berkarya dan menggeluti dunia teater.

*Daniel Deha

Baca Juga

FTJ Usai, Lab Teater Lumbung Ajak Penonton Bermain Teater

Portal Teater - Di penghujung tahun 2019, Lab Teater Lumbung membuka penerimaan anggota teater baru. Berniat menyasar penonton teater, proses ini berlangsung sejak Desember...

Peringati Hakordia, Tiga Menteri Jokowi-Ma’ruf Main Teater

Portal Teater - Ada yang unik dengan cara para menteri Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin periode 2019-2024 dalam memperingati Hari...

Dahlan Iskan Minta Aktivitas Teater di Surabaya Kembali Bergairah

Portal Teater - Seusai menonton pementasan "Para Pensiunan" oleh Teater Gandrik di Ciputra Hall, Surabaya, Sabtu (7/12) malam, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...