Melintasi Batas Pagar Untuk Saling Mengenal Gagasan Kesusastraan

Portal Teater – Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berikhtiar menjadikan gelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) tahun ini sebagai wahana inklusif di mana para penulis, penerbit dan komunitas sastra dunia dapat melintasi batasan-batasan kultural, tradisi pengetahuan dan khazanah kesusastraannya.

Perlintasan itu dimaksudkan agar para sastrawan dan industri perbukuan melepaskan diri dari pagar-pagar yang membelenggu tradisi sastra, untuk meraih ekosistem global baru dalam atmosfer kesalingpengenalan.

Menurut Ketua Komite Sastra DKJ Yusi Avianto Pareanom, pagar pada dasarnya merupakan perangkat teknis untuk membatasi lingkup perumahan atau “wilayah aman” tertentu. Tetapi pada titik tertentu, pagar itu mesti dibuka agar, baik penghuninya maupun orang-orang luar, dapat melintasi dan berinteraksi secara luas.

“Dengan pengenalan maka hal-hal negatif itu bisa meluntur, atau pagar-pagar itu bisa terlintasi.
Pagar-pagar bisa melindungi tapi juga bisa dilintasi agar kita dapat bersilahturahmi dengan dunia luar,” katanya di TIM Jakarta, Rabu (21/8).

Diskusi Media bertajuk "Pangeran Mingguan" di Teater Kecil, TIM, Jakarta, Rabu (21/8) menghadirkan Pangeran Siahaan dan Adania Shibli - Dok. Wienda Parwitasari⁣/DKJ.
Diskusi Media bertajuk “Pangeran Mingguan” di Teater Kecil, TIM, Jakarta, Rabu (21/8) menghadirkan Pangeran Siahaan dan Adania Shibli – Dok. Wienda Parwitasari⁣/DKJ.

Dalam konteks gelaran JILF kali ini, kata Yusi, pagar itu dibuka agar puluhan penulis, penerbit dan komunitas sastra partisipan saling mengenal satu sama lain lebih baik, serentak berbincang-bincang melalui suatu program utama yang disebut simposium.

Pengenalan tersebut terjadi, baik melalui karya-karya atau budaya para sastrawan yang terlibat dalam event ini. Sebab, pengenalan baik untuk melumeskan kecurigaan dan pikiran-pikiran negatif kita terhadap sesuatu atau orang-orang di luar diri kita.

“Kalau kita saling kenal kan, kita merasa aman,” katanya singkat.

Simposium Jadi Program Utama

Itulah mengapa, simposium menjadi program utama (leading program) dalam perhelatan festival sastra berskala internasional di Jakarta yang digelar untuk pertama kalinya ini.

Dalam simposium, para partisipan dapat bertukar gagasan, berbagi pengalaman kepenulisan, dan memberikan wawasan-wawasan baru bagaimana harus berkoneksi dengan industri perbukuan.

“Di situ ada produksi pengetahuan juga. Kenapa itu jadi penting, karena itu materi utama festival. Tapi kan festival namanya festival itu melulu begitu pengetahuan, tapi perlu acara-acara pendukung. Pengetahuan pun perlu kegembiraan juga,” ungkapnya.

Simposium #2 "Kurator Yang Tak Nampak" menghadirkan pembicara: Stephanos Stephanides (Siprus), Laurie Callahan (Amerika)⁣, Clarissa Goenawan (Singapura)⁣, dan Moderator Nirwan Dewanto⁣, Rabu (21/8). - Dok. Wienda Parwitasari⁣/DKJ.
Simposium #2 “Kurator Yang Tak Nampak” menghadirkan pembicara: Stephanos Stephanides (Siprus), Laurie Callahan (Amerika)⁣, Clarissa Goenawan (Singapura)⁣, dan Moderator Nirwan Dewanto⁣, Rabu (21/8). – Dok. Wienda Parwitasari⁣/DKJ.

Yusi menuturkan, simposium menjadi program utama karena sebuah festival perlu ada program-program yang memiliki kejelasan identitas dan karakter. Karenanya, JILF kali ini menitikberatkan pada karya-karya dari Negeri Selatan, yaitu Asia, Afrika dan Amerika Latin (pembagian menurut garis ekuator).

Meski demikian, Yusi menggarisbawahi, itu tidak berarti gelaran ini seolah mengeluarkan partisipasi sastrawan-sastrawan dari Eropa, Rusia atau Amerika Serikat (Negeri Utara) yang sudah terkenal mapan karena sudah memiliki tradisi kesusastraan yang kuat dan maju.

“Penekanannya pada karya-karya dari negeri Selatan. Tapi itu tidak berarti sastrawan dari Eropa atau AS tidak dilibatkan,” terangnya.

Penting dalam event ini keterlibatan para sastrawan kaliber tersebut. Sebab bibit-bibit sastra yang baru mekar dari negeri Selatan masih membutuhkan interaksi dan konektivitas yang luas di luar batas-batas kultural dan tradisi sastra yang memagarinya.

“Selama ini kan porsinya mereka cukup banyak, jadi sekarang kita mau tampilkan lagi yang ini (Negeri Selatan),” jelasnya.

Diskusi "Cerita Dari Sekitar" menghadirkan pembicara: Legodile Seganabeng (Botswana)⁣ dan Azhari Aiyub (Indonesia)⁣ serta Moderator Isyana Artharini (Indonesia)⁣ di Lobby Teater Kecil, TIM jakarta, Rabu (21/8), . - Dok. Irene Barlian / DKJ.
Diskusi “Cerita Dari Sekitar” menghadirkan pembicara: Legodile Seganabeng (Botswana)⁣ dan Azhari Aiyub (Indonesia)⁣ serta Moderator Isyana Artharini (Indonesia)⁣ di Lobby Teater Kecil, TIM jakarta, Rabu (21/8), . – Dok. Irene Barlian / DKJ.

Akhirnya, Yusi menilai, khazanah kesusastraan Negeri Selatan pada dasarnya tidak kalah penting dan maju dengan peradaban sastra dari Eropa atau AS, tetapi apa yang kurang adalah penyebaran atau eksposurnya. Yaitu belum adanya pemerataan dalam hal distribusi pengetahuan sastra dan akses kepada penerbit kaliber dunia.

“Kita tidak benar-benar kenal, karena situasi kita ini,” paparnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...