Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Oleh: Alia Swastika*

Portal Teater – Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari satu metode ke metode lain, dari medium ke medium lain.

Semua percaya bahwa “tidak ada batasan” adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, nyaris tak ada kategorisasi berdasarkan medium pada sebagian besar pameran seni kontemporer belakangan ini.

Semua dapat bertumpuk menjadi satu, menawarkan “pengalaman” atau “intervensi” atas ruang dan waktu, ketimbang melihat pameran sebagai tindakan memajang benda-benda seni.

Lukisan, video, gambar, patung, instalasi, atau bahkan manifestasi tak terlihat, berbaur menjadi satu, yang biasanya merupakan respon seniman atau sekelompok seniman atas tema kuratorial tertentu.

Karena itu, ketika pertama kali melihat draft buku ini dan menemui halaman daftar isi, saya tercenung membacanya; pembagian bab yang mendasarkan diri pada medium.

Betapa jarang saya menemuinya dari buku wacana seni kontemporer belakangan ini.

Apakah ini berarti bingkai pembacaan buku ini ketinggalan zaman? Atau, apakah Mas Bambu (sapaan akrab Bambang Bujono) sendiri yang masih berpikir dengan cara pengkotakan medium itu sendiri?

Tapi, tidak penting siapa yang mempunyai ide untuk membagi bab buku ini berdasarkan medium itu, yang lebih penting adalah bagaimana kategorisasi medium itu menjadi titik pijak dan memberi alur bagi pembaca.

Saya sendiri merupakan bagian dari generasi yang memasuki skena seni dalam masa transisi; di mana kategori medium masih cukup kuat pada pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an, dan kemudian menjadi bagian dari praktik kuratorial ketika perlintasan medium ini menjadi semakin intensif.

Dengan memisah lukisan dengan patung, performans dengan grafis, video dengan gambar, tulisan-tulisan Bambu membawa saya pada pertanyaan-pertanyaan reflektif pada praktik saya secara pribadi sebagai kurator dan penulis seni.

Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa membedah buku dua kritikus seni rupa: Bambang Bujono dan Oei Sian Yok, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Selasa (14/1). Dari kiri ke kanan: Brigitta Isabella (moderator), Alia Swastika dan Ibrahim Arimurti Rasha (pembicara). -Dok. Eva Tobing/DKJ
Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa membedah buku dua kritikus seni rupa: Bambang Bujono dan Oei Sian Yok, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Selasa (14/1). Dari kiri ke kanan: Brigitta Isabella (moderator), Alia Swastika dan Ibrahim Arimurti Rasha (pembicara). -Dok. Eva Tobing/DKJ

Apakah saya punya cukup pengetahuan tentang masing-masing medium itu sebelum melangkah pada praktik lintas disiplin? Apakah pengetahuan yang mendalam tentang masing-masing medium, seperti yang ditunjukan oleh Bambu, masih penting untuk generasi saya?

Apakah kita masih membutuhkan ahli spesifik untuk medium-medium tertentu, dengan kemampuan pembacaan yang mendetail pula?

Dalam praktiknya, belakangan praktik-praktik kuratorial saya semakin berkelindan di antara lintasan batas-batas itu, atau perjalanan mengamati berbagai pameran dan menuliskannya untuk media, saya memang cenderung memilih bentuk pameran yang sesuai dengan apa yang saya sukai, atau yang lebih dekat dengan visi estetika saya.

Dan, rasanya, seringkali pengalaman pertautan itu mempertemukan saya dengan kerja-kerja lintas disiplin, pameran multi-media, dan sebagainya.

Membaca buku Bambu dan mengikuti pembacaan berbasis media semacam ini, saya seperti didorong untuk memikirkan kembali konteks-konteks spesifik masing-masing medium.

Saya memanggil kembali pengalaman-pengalaman melihat pameran “lukisan”, pameran “patung”, pameran “grafis”, dan memasuki kedalaman atas dimensi-dimensi yang berbeda itu.

Bambu, di banyak tulisannya, mengingatkan kita betapa pentingnya menjadi penonton yang berserah pada pengalaman estetika: membawa tubuh dan pikiran kita pada spektrum yang terprediksi.

Pada catatannya, saya dapat merasakan bagaimana Bambumembuka dirinya untuk beragam kemungkinan itu, menjelajahi medium demi medium, menjemputnya untuk masuk dalam pikiran dan ingatan, kemudian membaginya melalui tulisan.

Tidak hanya datang ke pameran, Bambu juga rajin menghadiri diskusi, melakukan perluasan referensi dan bacaan, sehingga konteks medium ini menjadi kaya dan memberi kita ragam pendekatan yang berbeda.

Waktu dan pengalaman, terakumulasi menjadi pengetahuan.

Perubahan Gagasan: Konsep yang Bergerak

Yang menarik dalam buku ini adalah mendapati pula bagaimana konsep dan konteks bergerak dari satu periode waktu ke periode waktu lainnya.

Apa yang disebutkan Bambu pada dua atau tiga dekade lalu bisa jadi muncul kembali hari-hari ini, tetapi dengan pemaknaan yang telah bergeser sesuai konteks zaman.

Dengan demikian kita bisa melihat bahwa dalam seni, bukan saja praktik-praktiknya yang berubah, tetapi pemaknaannya yang juga terus bergerak dalam dinamika pusaran sejarah dan wacana seni.

Di halaman 18 buku ini (“Rumpun dan Gagasan”), saya membaca sebuah konsep yang ditawarkan oleh Bambu untuk merenungkan sebuah praktik penciptaan: engagement.

Betapa berbedanya konteks yang diajukan oleh Bambu dengan apa yang acap dilekatkan padanya sekarang.

Dalam tulisan yang dimulai dengan gambarannya atas seniman Rusli itu, Bambu menerjemahkan engagement sebagai sebuah ikatan sebagai sebuah kebutuhan, yang harus terjadi dengan sendirinya (genuine), tidak diada-adakan, demikian bahasanya.

Bagi Bambu, seorang seniman membutuhkan engagement sehingga praktik berkesenian ini juga menjadi semacam laku spiritual, karena memberikan kepuasan batin.

Engagement dilihat sebagai sesuatu yang muncul dalam “dunia dalam” (inner world) seniman.

Sekarang, kata engagement sering dikaitkan dengan aspek sosial seni. Sebuah konsep seperti “social engaged art” menjadi sebuah haluan baru dalam praktik estetika kontemporer.

Meskipun sama-sama mendasarkan diri pada gagasan tentang “ikatan”, apa yang disampaikan Bambu dan apa yang dirujuk dalam aspek sosial masa kini sangatlah berbeda.

Pemahaman engagement seni melompat dari dunia dalam, menuju dunia luar. Sebagian seniman menautkan engagement dalam praktik keseniannya dengan kegelisahan yang lebih besar, yaitu untuk menjadi bagian dari perubahan sosial.

Tukang pada tulisan tentang seni kriya, yang pada periode tersebut membedakan antara seni murni dan kerajinan.

Dalam praktik dan pendidikan seni yang masih memberi batas antara seni murni dan kriya, posisi hirarkis juga dikenakan pada pembedaan antara “seniman” dengan “pengrajin” atau “seniman” dengan “perancang”.

Pada halaman 233, Bambu menyebut kata “tukang” (yang anehnya tidak begitu muncul dalam nuansa teksnya, hanya konsep yang dipinjam untuk judul).

Ia terutama memberi sorotan tentang perlunya pengembangan konsep dan kurikulum yang lebih jelas untuk pendidikan seni kriya.

Kata “tukang” sendiri sepertinya dimaksudkan untuk merujuk pada mereka yang hanya mengerjakan pesanan sebagaimana rancangan yang sudah ada, tidak menunjukkan kontribusi pemikiran yang maksimal untuk terciptanya sebuah karya.

Pada masa-masa ketika skena seni semakin berkembang, kata “tukang” terasa sudah jarang digunakan. Muncul kata dan konsep baru yang lebih menangkap mata zaman: artisan.

Perluasan skena dan pertautan seniman Indonesia dengan pergaulan seni internasional membuat intensitas produksi semakin terasa, dan studio-studio seniman dikelola dengan lebih profesional.

Artisan menjadi profesi baru yang makna sosialnya lebih ketimbang tukang.

Brigitta Isabella, moderator Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa Briggita Isabella membedah buku dua kritikus seni rupa Indonesia: Bambang Bujono dan Oei Sian Yok, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Selasa (14/1). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Brigitta Isabella, moderator Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa Briggita Isabella membedah buku dua kritikus seni rupa Indonesia: Bambang Bujono dan Oei Sian Yok, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Selasa (14/1). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Profesi artisan (yang membantu merealisasikan gagasan seniman menjadi karya seni) menjadi titik penting dalam “industri seni” masa kini.

Selain bekerja tetap di studio seniman, para artisan juga membuka studio mereka sendiri, mengerjakan beragam hal: membuat patung, membuat elemen sablon, menjahit, bahkan hingga pelayanan pasca produksi seperti pengemasan.

Tukang-tukang tidak lagi berada dalam bagian bawah dalam lingkaran produksi seni, ia telah menjadi titik simpul yang sama penting dengan elemen lain.

Estetika: Teks dan Konteks

Apakah ada metode analisa yang khas Bambu?

Pemahaman atas proses, makna dan konteks penciptaan menjadi materi yang penting untuk penulisan kritik estetika. Pemahaman inilah yang menjadi modal bagi ‘penilaian’ dan ‘pembacaan’ bentuk, sehingga ada dialog antara teks dan konteks.

Dalam tulisan-tulisan Bambu, hal-hal yang lebih dekat dengan teks seperti garis, tekstur bahan, material sapuan kuas, warna, komposisi, dan keseluruhan penampakan, menjadi pokok pembahasan yang cukup penting.

Ibrahim Arimurti Rasha, pembicara dalam Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa Ibram yang membedah tulisan kritikus Oei Sian Yok, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Selasa (14/1). Dpk. Eva Tobing/DKJ.
Ibrahim Arimurti Rasha, pembicara dalam Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa Ibram yang membedah tulisan kritikus Oei Sian Yok, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Selasa (14/1). Dpk. Eva Tobing/DKJ.

Hal ini dirasakan penting untuk bisa membawa pembaca untuk memahami pula proses penciptaan, sehingga ada gambaran tentang bagaimana sebuah ide diterjemahkan dalam perjalanan penciptaan.

Setelah itu, Bambu akan mengarahkannya dengan kecenderungan praktik sang seniman, atau sesekali pada aspek personalnya, terutama jika ia telah memiliki relasi yang cukup dekat dengan seniman.

Konteks besar atau narasi besar, sesekali menjadi aspek tulisannya, tetapi biasanya jika memang tema berkarya sang seniman menyentuh konteks narasi yang tidak banyak diketahui orang.

Misalnya ketika ia mengaitkan karya Dolorosa dengan Kollwitz dan membicarakan bagaimana narasi politik Kollwitz dan Dolo menjadi bagian konteks penting karya mereka.

Meski demikian, tulisan-tulisan Bambu tidak memunculkan konteks itu dalam kerangka teori yang terlalu rumit atau dalam bahasa-bahasa yang berjarak dengan pemahaman umum.

Dalam perkembangan wacana seni rupa masa kini, tulisan atau esai seni kontemporer lebih banyak didominasi pada paparan teoretis atau pendekatan akademik.

Sementara dalam tulisan jurnalisme seni yang muncul di media massa, narasi besar lebih banyak disandarkan pada percakapan antara si wartawan dengan seniman, sehingga kita seringkali justru kehilangan nilai dialekstis antara seniman dengan penulis.

Wartawan lebih banyak memposisikan diri untuk menampilkan subjektivitas seniman.

Dalam tulisan Bambu, aspek subjektivitas itulah saya sungguh saya nikmati. Sebuah keberanian untuk menyampaikan pandangan dan pemikiran dengan jujur dan sedemikian adanya.

*Penulis adalah pembicara pada Diskusi Seri Wacana Kritik Seni Rupa membedah buku Bambang Bujono, “Rumpun dan Gagasan (2020)” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.

Baca Juga

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Merayakan Suara Melanesia yang Langka Lewat “Planet-Sebuah Lament”

Portal Teater - Pementasan kontemporer berbaju tradisi, "Planet-Sebuah Lament", karya Garin Nugroho selama dua hari pada akhir pekan lalu, Jumat-Sabtu (17-18 Januari), berhasil menghibur...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...