Membedah Naskah Drama “Ruang Riuh”, Mengendus Jejak Kekuasaan dan Ketakutan

Portal Teater – Umberto Eco membuat pembedaan yang jelas antara apa yang disebut teks terbuka dan tertutup. Sebagai teks terbuka, penulis teks atau naskah dianggap mati dan pembaca bebas menginterpretasi teks.

Sementara dalam teks tertutup, pembaca ditarik sedemikian ke dalam alur dan makna yang mau disampaikan penulis. Dengan struktur dan dan gaya tertentu, penulis mengikat pembaca agar masuk ke dunia kepenulisannya.

Demikian halnya dengan naskah drama. Setiap teks drama ditulis untuk ditafsirkan secara bebas oleh pembaca, ataupun malah tidak dapat dibaca bebas oleh pembaca. Setiap pembacaan tentu membutuhkan proses kerja tersendiri.

Naskah drama pada dasarnya ditakdirkan untuk dipentaskan dan bukan sekadar dibaca. Artinya, naskah-naskah drama ditulis selalu dengan kesadaran bahwa ia akan hadir di panggung pertunjukan. Dengan itu, teks-teks drama mesti keluar dari tubuhnya untuk ke arena pemanggungan. Dalam hal ini, teks drama dilihat sebagai teks terbuka.

Namun, tidak bisa dimungkiri, ada pula usaha-usaha untuk memproduksi naskah drama terpisah dari bentuk panggungnya, yang tertutup pada tubuhnya sendiri, misalnya dipublikasikan sebagai bahan bacaan. Hal ini menunjukkan, naskah drama tidak serta-merta melekat pada satu bentuk panggung saja; ia bahkan seharusnya bisa berdiri mandiri.

Sebagaimana Henrik Ibsen, Eugène Ionesco, dan William Shakespeare yang manjadi sastrawan terkenal hanya karena naskah dramanya ditulis dengan narasi yang kuat tanpa perlu diterjemahkan ke dalam pentas.

Meski demikian, sebagai sebuah naskah baru (buku/jurnal), teks itu tetap terbuka terhadap penafsiran baru yang lebih cair dan kontekstual. Itulah mengapa naskah drama memiliki kekhasannya tersendiri.

Pembacaan terhadapnya pun membutuhkan kemampuan kritis. Pembacaan itu, menurut Rebecca Kezia (28 tahun) bukan saja untuk terus-menerus mengkritik teks, tetapi juga untuk mengembangkan nilai heurisme teks-teks itu untuk menghadirkan karya-karya yang lebih baru.

Demikianlah yang dilakukan Rebecca dalam kurasi dan pembacaan terhadap naskah drama dari karya-karya yang dipamerkan di “Ruang Riuh” pada pagelaran Djakarta Teater Platform 2019.

Sebagai kurator muda, ia melihat kritisisme sebagai sesuatu yang penting dan nyaris hilang dalam produktivitas naskah drama. Minimnya akses pengetahuan terhadap naskah drama, membuat jarak yang lebar antara publik dengan karya-karya yang berkembang pada masanya.

Sehingga ia terus berusaha menulis dengan cara yang baru, untuk menyuguhkan ide-ide segar baru, untuk menghubungkan lagi karya-karya sebelumnya dengan karya-karya yang baru. Pembacaan naskah dibuat untuk menjaga tidak terjadi keterputusan antara satu karya dengan lainnya dalam suatu masa tertentu.

“Kalau kita tidak melakukannya, maka akan ada klaim dari penulis-penulis baru bahwa karyanya itu orisinal dan baru, tapi ternyata karya-karya itu barangkali mirip atau sama dengan karya orang lain sebelumnya,” ungkap Rebecca, Selasa (9/7).

Membangun jembatan antara publik dan dunia pertunjukan drama tentu dibuat untuk merawat ekosistem untuk keberlangsungan sebuah karya. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat pembacaan berulang dalam format diskusi penciptaan naskah drama, atau dengan menjadikan naskah itu sebagai bahan bacaan.

Ruang Riuh

Bagi Rebecca, “Ruang Riuh” lebih merupakan ruang representasi pertarungan isu-isu, alih-alih sekedar pertarungan penulis naskah drama beda generasi. Perbedaan isu, bahasa dan konteks di mana karya itu ditulis merupakan sebuah wujud pertarungan tekstual bagaimana karya-karya tersebut kemudian diberi tema.

Karena naskah drama adalah sebuah bahasa, maka bahasa oleh Stuart Hall (2003) dilihat sebagai alat komunikasi dan konstruksi makna sebuah realitas.

Dalam pameran kali ini, Rebecca, yang dipilih Komite Teater sebagai kurator, memilih dan memilah kumpulan karya yang diterbitkan setelah krisis moneter 1998, atau periode Reformasi. Keterpilihan periode ini merupakan sebuah upaya yang tidak hanya ingin memetakan topik di mana teks itu hidup serentak mengendus jejak artefaknya.

Pada masa ini, latar dan isu yang ditulis lebih merupakan representasi pergolakan subjek manusia setelah menghirup udara kebebasan akibat tekanan otoriter, serentak menyemburkan sebuah paradigma baru budaya kontemporer yang memusatkan kekuasaan pada individu.

Teks-teks pada masa ini, diceritakan sebagai perubahan struktur sosiologis dan psikologis manusia menyongsong era digital.

Ini berbeda dengan pemilihan karya-karya periode sebelum dan sesudah kemerdekaan oleh Komite. Naskah-naskah tersebut dikurasi untuk melakukan studi antara sejarah dan cerita; memetakan perubahan ruang yang dialami penulis karena konteks menjelang dan sesudah kemerdekaan.

Dengan demikian, ruang penciptaan karya dikondisikan sebagai pertarungan ideologi, terutama perlawanan terhadap ideologi modernisme dan kolonialisme.

Sebagai ruang riuh, Rebecca dan Komite sepakat untuk menempatkan kedua ruang itu dalam dinding yang berhadap-hadapan, layaknya keduanya sedang saling membaca dirinya sendiri: Dindingsatu dan Dindingdua. Dindingsatu dipilih oleh Rebecca sedangkan Dindingdua oleh Komite Teater.

“Pada Dindingdua ada dalam buku Rawayan Forum (2019). Dindingsatu yang saya pilih sendiri. Saya melihat isu-isu ini yang dibicarakan dan berbeda dari sebelumnya,” paparnya.

Sumber naskah pameran pada Dindingsatu, antara lain: TigaLapis Kesedihan: Shohifur Ridho’i; Shinta Febriany: Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, Gila Orang Gila, Beri Kami Pantai yang Hilang (2017-2018); Joned Suryatmoko: B3RTIGA (2009); Teater Garasi: Je.Jalan (2015); Ari Pahala Hutabarat: Siapa Nama Aslimu (2007); Yustiansyah Lesmana, Ipeh Cupachabra, Imam Maulana: 47:17 SIDE B (2017-2018); Riyadhus Shalihin: Cut Out (2017).

Sementara, pada Dindingdua, ada karya-karya dari Shinta Febriany: Politik Hantu Perempuan dalam Ruang Liminal; Zen Hae: Ruang Tunggu (atawa Peninjauan Kembali Terhadap Nyai Dasima); Imas Darsih & Dadang Badoet: Si Manis Jembatan Ancol; Soekarno: Koetkoetbi; Irfan Palippui: Pembangkangan, Revolusi dan Yang-Lain; Bambang Sularto: Domba-Domba Revolusi; Utuy Tatang Sontani: Bunga Rumah Makan; Muhammad Abe: Tiga teks, tegas, segera, sekarang dan para pembuat jembatan.

Selain itu, ada juga karya-karya sastrawan lama, seperti Sutan Takdir Alisjahbana: Semboyan Yang Tegas; Soekarno: Pidato Lahirnya Pancasila; Taufik Darwis: Percakapan Menjadi Warga di Ruang-Ruang Minor; W. S. Rendra: Orang-Orang di Tikungan Jalan; Iwan Simatupang: RT NOL RW NOL; Riyadhus Shalihin: Petaka Batas; Andjar Asmara: Dr. Samsi; Sitor Situmorang: Jalan Mutiara; Arifin C. Noor: Pada Suatu Hari, Max Arifin: Badai Sepanjang Malam.

Ruang-ruang ini merupakan bandul yang terus menciptakan masa kini kita bersama, setiap kita mencoba masuk ke dalam medan reposisi identitas. Dijadikan sebagai tatapan utama untuk untuk meretas kunci-kunci identitas dalam pameran naskah drama ini.

Kekuasaan dan Ketakutan

Representasi kekuasaan dan ketakutan pada ruang riuh, selain berbeda pada medan pertarungan politik dan kebudayaan, juga berbeda dalam konstruk dan paradigma berpikir masyarakat. Pada kedua ruang ini (era kemerdekaan dan reformasi) simbol-simbol atau bahasa kekuasaan dan ketakutan begitu gamblang tergambar.

Menurut Rebecca, bahasa kekuasaan yang terpampang selama penciptaan naskah drama pada Dindingdua terekam melalui simbol-simbol yang dipakai penulisnya.

Misalnya, pada masa menjelang kemerdekaan, kekuasaan disimbolkan sebagai milik penjajah (kolonial), sementara pada setelah kemerdekaan, kekuasaan disimbolkan sebagai penggunaan instrumen negara untuk membungkam rakyat. Hal itu terlihat dari karya-karya pada masa rezim Soeharto.

Pada masa Soekarno, kekuasaan itu direpresentasikan sebagai pertarungan ideologi sayap kiri dan kanan, antara nasionalisme dan islamisme, antara sosialis dan komunis, dan seterusnya.

Selain itu, konteks penulisan naskah drama pada masa-masa ini juga menyimbolkan kekuasaan sebagai milik kaum kapital, modernisme, dan westernisasi.

Hal itu berbeda dengan simbol-simbol kekuasaan yang dipakai penulis naskah drama setelah Reformasi. Di sana kita akan lebih banyak melihat paparan atau gambaran tentang pergolakan masyarakat post-modernisme. Seperti dalam karya Shinta Febriany yang mendemonstrasikan bunuh diri, atau karya Riyadhus Shalihin: Cut Out (2017).

Dalam karya-karya itu, posisi subjek telah diletakkan pada suatu posisi yang ingin berdiri sendiri, terasing dari dunia sosial, dan hidup menurut dunianya sendiri. Itulah gambaran masyarakat menjelang era digital yang terpapar teknologi.

Kekuasaan pada masa ini, tidak lagi didefinisikan sebagai relasi yang tidak seimbang, tetapi kekuasaan itu diperoleh ketika manusia mendapat pengakuan dari orang lain. Maka, ketika terpapar teknologi, manusia menjadi ketakutan akan kehilangan kekuasaan itu, dan berusaha meraihnya dengan lebih banyak hidup di dunia virtual, atau yang disebut sebagai viral.

Ketakutan ini berbeda dengan periode pada Dindingdua. Pada masa itu, manusia takut bukan pada dirinya sendiri, tetapi pada seperangkat alat yang digunakan penguasa untuk melindas hidupnya.

Rebecca Kezia

Rebecca seniman teater lulusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia pada tahun 2014. Ia melanjutkan kerja di bidang seni pertunjukan terutama teater dengan beberapa grup dari Jakarta, seperti Stock Teater, Pagupon, Teater Pandora serta penelitian mandiri yang dilakukan atas naskah drama dan grup teater Indonesia Mutakhir.

Saat ini ia bekerja di Komunitas Salihara sebagai pengelola program dan penanggung jawab program pendidikan dan wacana.

Pada awal tahun 2018, ikut serta dalam program Curators Academy yang digagas Goethe Institut Singapura dan Theatreworks. Pada November 2018, diundang sebagai kurator tamu Indonesia Dramatic Reading Festival di Yogyakarta.

Sepanjang karirnya, ia telah menjadi kurator sebanyak empat kali, sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Terkahir, ia diundang sebagai kurator pada perhelatan Festival di komunitas Salihara.

Di tengah-tengah kesibukannya, ia giat melakukan pembacaan terhadap naskah-naskah drama Indonesia.

*Daniel Deha

Baca Juga

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...