Memelihara Penonton Teater

Portal Teater – Jika ditinjau dari frekuensi pertunjukan teater dibanding dengan kota-kota lainnya di Indonesia, barangkali di Jakarta-lah sebetulnya seni pertunjukan (performing arts) teater itu paling sering berpentas, bergerak, bergairah dan (mungkin) bertumbuh.

Dari pengamatan pada beberapa tempat pertunjukkan seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian Jakarta, dan Teater Salihara, hampir sepanjang tahun selalu saja ada pertunjukkan teater.

Ketika lampu dipadamkan dan pertunjukan dimulai, helaan nafas, tawa terbahak, perasaan haru-biru, dan pikiran penonton yang tergoda, pentas itu berlangsung hingga lampu kembali dinyalakan dan tepuk tangan berakhir.

Setelah itu, kemana perginya penonton? Akankah mereka kembali? Akankah mereka berganti?

Sebetulnya siapakah penonton teater kita?

Courchesne dan Ravanas (2015) mengutip Eric Joly, Director of Marketing and Communication TOHU (a Montreal Circus Arts Presenter), menyebutkan bahwa penonton teater itu ibarat kulit bawang yang berlapis-lapis [1].

Lapis terluar adalah suspect, kelompok penonton yang masih meragukan sebagai pelanggan; berikutnya prospect, kelompok penonton yang memberi harapan akan menjadi pelanggan; lapis terdalam customers, kelompok penonton yang sudah menjadi pelanggan; dan intinya adalah fans, kelompok penonton yang sudah menjadi penggemar fanatik.

Sudah barang tentu, yang kita harapkan adalah penonton sudah menjelma menjadi fans karena sudah pasti tidak akan ketinggalan untuk menonton teater dan ini merupakan bentuk loyalitas paling tinggi.

Tangga Loyalitas Penonton.
Tangga Loyalitas Penonton.

Memiliki pelanggan bahkan fans bukan pekerjaan gampang, apalagi memeliharanya. Ada banyak langkah yang harus dilakukan ketika mengubah penonton suspect menjadi fans.

Maka sebelum sampai pada tingkatan memelihara, memetakan penonton, menjadikannya target untuk diakuisisi menjadi pelanggan dan meningkatkannya menjadi fans memang menjadi tugas organisasi teater.

Hal yang dalam lingkup manajemen yang disebut pemasaran (marketing) lebih khususnya pemasaran strategik (strategic marketing).

Motivasi Penonton vs Produk Teater

Tentu menjadi perhatian kita apa yang menjadikan jumlah penonton bisa berbeda-beda, bahkan pada teater yang sama.

Bila dilihat pada posisi yang berbeda, penonton akan datang sesuai dengan motivasinya menonton, mencari sesuatu yang baru, mau belajar berimajinasi, melihat aktor tertentu berperan, atau mencari hiburan dan kesenangan.

Dari sisi yang lain, teater ingin menunjukkan eksistensi dirinya, menyampaikan sesuatu untuk khalayak, dan tujuan seni lainnya. Jika ini bisa dibilang “produk” maka kecocokan dengan motivasi penonton-lah yang membuat ruang pertunjukkan menjadi penuh.

Mencari kecocokan juga bukan perkara mudah. Di sini acapkali sering terjadi “peperangan” apakah teater mengikuti keinginan atau selera penonton atau pasar yang disebut market driven [2], artinya teater akan menyesuaikan produk pementasannya dengan (pasar) penonton yang ada.

Pilihan lain adalah teater tetap menjaga idealisme, genre atau aliran saat membuat pementasan atau disebut juga product driven, kemudian baru mencari (pasar) penontonnya.

Dalam dunia industri komersial memang telah terjadi pergeseran strategi yang semula dari product-driven strategy kini banyak menjadi market-driven strategy.

Memang jika teater masuk ke dalam ranah industri tentu berbeda dengan industri komersial pada umumnya. Teater yang penuh dengan penciptaan dan kreativitas lebih tepat masuk ke dalam industri kreatif (creative industries) atau industri budaya (cultural industries) yang memiliki karakater industri sendiri [3].

Penulis sendiri meyakini, dua hal ini saja: industri vs budaya, akan menjadi diskusi yang panjang di antara penggiat teater dan organisasi teater.

Penonton Masa Depan

Kembali lagi pada penonton, menaikkan jumlah penonton dengan membuat orang bergeser ke arah kulit bawang paling dalam dan inti bawangnya menjadi salah satu tujuan utama organisasi teater. Memahami karakter penonton menjadi tantangan tersendiri.

Survei penulis tahun 2018, menunjukkan bahwa penonton teater berbayar kini banyak pada usia di mana mereka masuk dalam golongan milenial [4].

Penonton milenial ini adalah penonton masa depan. Menarik mereka pada lapisan bawang paling dalam dan terus memeliharanya akan berpengaruh pada perkembangan teater dan organisasi teater.

Perlu upaya yang serius dan strategis untuk memasarkan teater agar masuk ke dalam ekosistem mereka.

Referensi:

[1] Courchesne, Andre and Philipe Ravanas, “Company Profile: How to Engage Audience with Increasingly Eclectic Taste: The Experience of TOHU, a Montreal Circus Arts Presenter”, International Journal of Arts Management, Vol. 18, No. 1, Special Issue: Cultural Audiences and Populations: New Challenges for Creation and Appropriation, FALL 2015, pp. 78-87.

[2] Armstrong, Gary M., Philip Kotler, Michael John Harker, Ross Brennan, “Marketing: Introduction”, Pearson, UK, 2018.

[3] Hirsch, Paul M., “Cultural Industries Revisited”, Organization Science, Volume 11, Issue 3, May-June 2000, pp. 263-361.

[4] Abdinagoro, Sri Bramantoro, “Riset pada Penonton Teater’, Riset Hibah BINUS, unplublised, 2018.

*Penulis adalah penikmat teater, salah satu juri Festival Teater Jakarta yang mewakili penonton awam. Saat menjadi dosen Program Manajemen pada Universitas BINUS Bisnis School Jakarta.

Baca Juga

Forum Seniman Peduli TIM Gelar Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI

Portal Teater - Sejak November 2019, sejumlah seniman, budayawan dan pelaku budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM (FSPT) menggelar aksi 'silet movement'...

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

FTP 2020: Ruang Bagi Generasi C Bereksplorasi

Portal Teater - Sepuluh tahun lalu, Dan Pankraz, peneliti dan Direktur Perencanaan/Strategi Pemuda pada DBD Sydney, Australia, pernah mengatakan, Generasi C (Gen C) bukanlah...

Terkini

FTP 2020: Ruang Bagi Generasi C Bereksplorasi

Portal Teater - Sepuluh tahun lalu, Dan Pankraz, peneliti dan Direktur Perencanaan/Strategi Pemuda pada DBD Sydney, Australia, pernah mengatakan, Generasi C (Gen C) bukanlah...

Lestarikan Budaya Betawi, Sudin Kebudayaan Jaksel Bina 60 Sanggar Seni

Portal Teater - Untuk memperkuat ekosistem kesenian kota berbasis komunitas, Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Selatan memfasilitasi pembinaan bagi 60 sanggar seni di Hotel...

Dewan Kesenian Jakarta Minta Anies Kaji Ulang Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menyusul polemik yang mengemuka di ruang publik, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akhirnya meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengkaji ulang proyek revitalisasi...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...