Memintal Persatuan Lewat Atraksi Kesenian

Portal Teater – Indonesia saat ini sedang berada pada gelombang chaos. Salah satunya adalah kebangkitan konflik di wilayah paling timur, yaitu Papua. Konflik itu seolah menjadi titik kulminasi dari rentetan keterbungkaman masyarakat Papua akibat tekanan dan semacam ketimpangan yang dipraktikan elit di lingkaran politik, ekonomi dan bisnis.

Terlepas dari faktum tersebut, konflik itu berpotensi mengglembungkan pintal persatuan dan kesatuan Nusantara yang dirawat sejak lama. Termasuk misalnya sejak masa kerajaan Majapahit (1239-1500) yang berniat mempersatukan Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka dan berdaulat.

Indonesia punya memori kolektif tentang sejarah kelam masa lalunya, misalnya dalam kasus Timor Timur. Karenanya, ia tidak mau memori traumatik itu bangkit menjadi lebih buruk lagi ketika peradaban bangsa ini sudah memasuki periode milenium ketiga untuk menatap lanskap penghidupan yang lebih baik di masa depan.

Segenap aparat pemerintah, termasuk Presiden dan pembantu-pembantunya, baik di pusat maupun di daerah, menyerukan pekik perdamaian ketika konflik itu mengemuka sesaat jelang perayaan kemerdekaan RI ke-74, 16 Agustus lalu.

Rentetan konflik kemudian berurut-urutan datang dan “mendinginkan” kota-kota sentral di Papua. Aksi massa pun terus mengalir; tidak hanya aksi damai, melainkan aksi pembakaran hingga pembunuhan.

Sekiranya, hari-hari pasca perayaan kegembiraan sebagai bangsa yang merdeka pun redup ditindih menguatnya isu perpecahan atau separatisme di daerah penghasil tambang emas terbesar dunia itu. Bangsa kita sedang genting.

Memintal Persatuan Lewat Seni

Berniat merajut persatuan dan memintal kembali benang-benang integrasi yang patah, sekelompok artis dan musisi nasional di Jakarta menggelar konser musik, tari dan lagu-lagu daerah dari seluruh Nusantara di Silang Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Senin (2/9), pukul 18.30-21.30 WIB.

Panggung kesenian itu dirajut dalam tema “Merajut Nusantara”, bertujuan merespon situasi aktual bangsa hari ini; untuk meneguhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa serta menggugah nasionalisme publik.

Konser musik tersebut memang dibuat di ibukota (baca: Jakarta), pusat dari semua aktivitas politik, ekonomi, bisnis, kesenian dan kebudayaan. Barangkali atraksi kesenian itu terlalu jauh dari wilayah di mana sedang terjadi segregasi persatuan. Tetapi, di Jakarta sebenarnya hadir seluruh komunitas etnik Nusantara, dari Sabang sampai Merauke.

Jakarta sebagai kota, menjadi tempat di mana komunitas diaspora berkumpul. Karenanya, penguatan tali persatuan sudah semestinya dimulai dari pusat kota Jakarta, baru kemudian terdistribusi ke kota-kota lain di Indonesia.

Artinya, Jakarta menjadi simbol dan cermin di mana persatuan dan kesatuan itu terawat. Jika Jakarta goyah, seperti halnya dalam potensi perpecahan dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, maka seluruh kota lain di Indonesia mendapat getahnya.

Asumsinya, dari Jakarta, panggung suara-suara untuk merajut perdamaian dan persatuan kebangsaan jadi lebih menohok, dibandingkan jika pesan itu disampaikan di kota-kota lain. Karena “suara” dari Jakarta (pusat) sangat menentukan bagaimana kebhinekaan itu dirawat.

Membongkar Batas

Gagasan yang dibawa para artis dan musisi, representasi pekerja kesenian, akan menjadi panggung di mana refleksi akan persatuan dan kesatuan menjadi lebih kuat dan tersentuh, dibandingkan pangung-panggung lain yang kerap terkooptasi kepentingan (interest).

Kerja kesenian dianggap mampu membongkar batas atau sekat politik, kultur dan isu-isu sektarian.

Kita bisa berkaca pada pengalaman kesenian yang mampu menyatukan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur pada Oktober 1990. Salah satu kontribusinya adalah konser musik yang digelar David Bowie pada tahun 1987 dengan lagunya “Heroes” di Berlin Barat, dekat Reichstag.

Pertunjukannya itu sangat keras, di mana kerumunan massa berkumpul di sisi timur Tembok Berlin untuk lebih mendengar konsernya. David sendiri bisa mendengar warga Jerman Timur beryanyi di belakang Tembok Berlin.

Pada saat itu, dia tidak tahu apakah itu akan menjadi katalisator bagi awal dari akhir penghancuran tembok yang dibangun pada tahun 1961 untuk menjaga penduduk Berlin Timur (dan semua warga Jerman Timur) sekaligus untuk mengusir warga Barat.

Konser-konser lain bersusulan, antara lain: Crosby, Stills & Nash pada tanggal 21 November 1989. Saat itu mereka membawakan lagu “Chippin ‘Away” dari Graham Nash (1986) di depan Gerbang Brandenburg.

Konser musik lainnya terjadi di Berlin pada tanggal 25 Desember 1989, di mana Leonard Bernstein  merayakan akhir Tembok Berlin (Wall), termasuk 9 simponi Beethoven (“Ode to Joy”) dengan kata “Joy” (Freude) berubah menjadi “Freedom” (Freiheit) dalam liriknya.

Kemudian, pada malam tahun baru 1989, David Hasselhoff menyanyikan lagunya, “Mencari Kebebasan”, sambil berdiri di atas tembok yang sebagiannya dibongkar.

Dengan konser-konser musik itu, masyarakat yang sedang terbelah mendapat panggung untuk merajut kembali perdamaian dan harmoni kehidupan mereka. Melalui kesenian, mereka melompati pagar-pagar yang melingkungi kebebasan dan benang persatuan yang terpelihara lama.

Demikianlah, aktivitas kesenian, semisal konser musik, tari dan lagu-lagu daerah yang digagas para seniman Indonesia tersebut menjadi panggung untuk merawat dan menjali kembali segregasi dan konflik yang mengusik kebersatuan bangsa.

Hal itu misalnya dipresentasikan secara simbolik oleh para pembawa acara, penari, dan para musisi yang bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Bendera. Lalu, satu per satu melontarkan kalimat peneguh kepada penonton untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Tidak lupa pula, dalam kesempatan itu, mereka menyerukan kecintaan mereka kepada warga Papua yang saat ini sedang berkonflik.

Bendera Merah Putih dengan panjang sekitar 60 meter sebagai simbol persatuan pun dibentangkan di depan kerumunan penonton pada saat-saat akhir acara.

Pentaskan Ragam Kesenian Daerah

Gelaran “Merajut Nusantara” setidaknya menampilkan tiga medley kesenian tradisional yang mewakili beberapa daerah se-Nusantara. Yaitu Tari Kecak, FU Papua (Tiup Kerang), Dayak dan Udog, Ratoh Jaro, Tari Rampak Gendang dari Jawa Timur, dan tarian lain dari Jawa Tengah dan NTT.

Kesenian tradisional seperti Japin Melayu, Pakarena, Gaba-gaba Maluku dan Marbona Taon Batak serta Japin Melayu pun dipentaskan dalam malam kesenian tersebut.

Total penari yang berpartisipasi dalam event kesenian itu berjumlah 180 orang, sementara musisi tradisional sekitar 30 orang.

Para musisi dan band yang tampil pada malam konser persatuan itu, antara lain: Candil, Netral, The Rain, Kikan dan Inul Daratista. Seniman asal Papua seperti Edo Kondologit, Nobo Sasamu, Nowela, Kekhe Hilapo K. dan PO Papua Original pun ikut melantunkan lagu-lagu persatuan.

Dipandu oleh artis-artis terkenal semisal Yosi Project Pop, Nirina Zubir, Ria Ricis, Ari Dagienk, Putri Neke asal Papua, Ivi Batuta dan Imam Wibowo, konser ini makin menarik karena semua peserta mengenakan pakaian adat Nusantara.

Pada puncak acara, para seniman dan musisi nasional mendeklarasikan persatuan Indonesia dan berharap seluruh rakyat Indonesia kembali berdamai.

*Daniel Deha

Baca Juga

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Sambut Imlek, Mahasiswa UNJ Pentaskan Seni dan Budaya Tionghoa

Portal Teater - Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Sabtu (25/1) akhir pekan ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa...

Merayakan Suara Melanesia yang Langka Lewat “Planet-Sebuah Lament”

Portal Teater - Pementasan kontemporer berbaju tradisi, "Planet-Sebuah Lament", karya Garin Nugroho selama dua hari pada akhir pekan lalu, Jumat-Sabtu (17-18 Januari), berhasil menghibur...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...