Portal Teater – Nabila dan Seren beserta ketiga temannya tampak hilir mudik di sekitaran booth pameran Patjar Merah di Plaza Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis (22/8). Kelimanya masih duduk di kelas XIII SMPN 1 Jakarta. Sebagai anak ibukota, mereka terbiasa menyinggahi tempat-tempat ramai sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Letak sekolah mereka tidak jauh dari TIM, tempat digelarnya event sastra berskala internasional pertama di Jakarta, Jakarta International Literary Festival (JILF). Event ini berlangsung sepanjang 20-24 Agustus 2019.

Sejak hari pertama dibuka, Nabila (14 tahun) dan teman-temannya pun langsung mengunjungi bazar buku tersebut. Nabila sendiri tidak membeli buku pada dua hari pertama; ia hanya menemani teman-temannya. Baru pada hari ketiga, ia membeli tiga buku novel lawas yang dijual dengan harga murah, yakni Rp10.000.

Begitu pula dengan keempat temannya, mereka memboyong sebanyak mungkin buku-buku yang dijual murah, meski dari sisi kualitas pun tidak kalah dengan buku-buku populer dan terbaru.

Ketika ditanya soal minat pada bidang sastra, Nabila mengakui kegairahannya pada bidang seni tersebut. Meski ia sendiri belum tahu pasti kemana minatnya yang sebenanya. Namun hari-hari, ia terbiasa membaca buku-buku sastra atau fiksi.

Lain halnya dengan Seren. Remaja berusia 14 tahun itu mengaku tidak menyukai bidang sastra. Hal itu juga dikonfirmasi oleh ketiga temannya yang lain. Menarik, bahwa meski tidak menyukai sastra tetapi Seren dan teman lainnya memborong banyak buku fiksi (sastra) selama tiga hari berturut-turut.

“Kami hanya mau untuk baca-baca saja,” kata mereka.

Nabila (kiri) dan teman-temannya di pameran Patjar Merah, Kamis (22/8). -Dok. portalteater.com
Nabila (kiri) dan teman-temannya di pameran Patjar Merah, Kamis (22/8). -Dok. portalteater.com

Namun satu hal yang lebih menarik dari kelima anak milenial ini adalah bahwa mereka membaca bukan karena hobi atau minat. Mereka membaca karya-karya, atau buku-buku sastra, lebih untuk menumbuhkan kebiasaan literasi. Karena menurut pengakuan mereka, dengan membaca mereka mendapat banyak hal, termasuk, informasi, pengetahuan dan wawasan serta kesadaran baru.

Kisah kelima remaja SMP ini barangkali berbeda dengan kisah kebanyakan pengunjung selama pameran Patjar Merah, seperti kisah kedua mahasiswa asal Jakarta Timur sebelumnya. Mereka datang, lihat, dan membawa pulang buku-buku bukan karena sekedar minat, melainkan lebih sebagai pengalaman literasi.

Meski hidup keseharian mereka tidak jauh tsunami informasi yang terpapar melalui media-media online, Nabila dkk agaknya masih mencintai media cetak berupa buku untuk bahan bacaan mereka.

Internet dan Ketidaksetaraan

Simposium ketiga (#3) JILF 2019 membahas secara khusus tema ini dalam diskusi bertajuk “Ketidaksetaraan 4.0” di Teater Kecil, Kamis (22/8). Diskusi ini menghadirkan pembicara, antara lain: Eliza Victoria (Filipina)⁣, Amir Muhammad (Malaysia)⁣, dan Anya Rompas (Indonesia)⁣ yang dimoderatori Teddy W. Kusuma (Indonesia)⁣.

Simposium "Ketidaksetaran 4.0" menghadirkan pembicara, antara lain: Eliza Victoria (Filipina)⁣, Amir Muhammad (Malaysia)⁣, dan Anya Rompas (Indonesia)⁣ yang dimoderatori Teddy W. Kusuma (Indonesia)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Simposium “Ketidaksetaran 4.0” menghadirkan pembicara, antara lain: Eliza Victoria (Filipina)⁣, Amir Muhammad (Malaysia)⁣, dan Anya Rompas (Indonesia)⁣ yang dimoderatori Teddy W. Kusuma (Indonesia)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Simposium ini mencoba melihat apakah faktor kedekatan geografis dengan pusat-pusat budaya dan penerbitan masih berperan di era globalisasi saat ini. Untuk generasi penulis yang masih muda, apakah mereka masih percaya terhadap buku cetak, atau apakah platform digital baru (Storial, Wattpad) sudah cukup bagi mereka untuk mempublikasikan karya-karya untuk dibaca secara luas.

Hari ini, internet telah memainkan peran keseimbangan yang signifikan; medium yang memberi setiap orang kesempatan untuk membuat suara mereka didengar dan untuk mendapatkan akses ke kekayaan informasi universal yang sama seperti orang lain. Pada intinya, internet membuat semua orang sejajar.

Namun demikian, menurut laporan Bank Dunia (2016), keyakinan tersebut mungkin jauh dari realitas faktual: internet mungkin memperluas ketidaksetaraan. Teknologi digital menyebar dengan cepat, tetapi pertumbuhan, pekerjaan, dan layanan telah tertinggal.

Hal yang sama dapat terjadi pada kajian kesusastraan. Bahkan dengan tingginya volume pertukaran informasi dan kontak yang dibangun secara online, dengan semua berbagai platform bagi penulis untuk menampilkan karya-karya mereka, internet masih belum dapat menyamakan kedudukan dalam hal mendapatkan karya-karya penulis dari luar negeri atau negara berkembang untuk menembus pasar internasional.

Kita tentu saja dapat melihat penghargaan bergengsi National Biography Award di Australia untuk buku memoar Behrouz Boochani: “No Friend But the Mountains” baru-baru ini sebagai contoh bagaimana teknologi informasi dapat membuat suara kaum terasing terdengar di kancah dunia.

Boochani yang adalah penulis dan aktivis Iran berdarah Kurdi itu sebelumnya sudah memenangkan beberapa penghargaan sastra dan film, termasuk the Victoria Premier’s Literary Award, New South Wales Premier’s Literary Award dan Australian Book Industri Awards.

Dalam memoarnya “No Friend But the Mountains”, Boochani menceritakan perjalanannya setelah melarikan diri dari Iran tahun 2013. Antara lain mengenai penganiayaan yang dialaminya.

Melarikan diri melalui Indonesia, Boochani akhirnya sampai ke Pulau Natal Australia dengan kapal. Boochani kemudian dan ditahan di kamp tahanan imigrasi di Pulau Manus. Ia sudah ditahan di kamp penampungan itu lebih dari enam tahun dan mengalami kekejaman, penghinaan dan pengawasan terus-menerus, seperti yang dituliskan dalam bukunya.

Boochani menulis naskahnya lewat pesan-pesan media sosial dalam bahasa Fari dari Pulau Manus. Naskah itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh temannya Omid Tofighian.
Tim juri memuji buku itu karena “penulisan puitis dan epik,” dan menyebut buku Boochani “sangat penting, kesaksian yang menakjubkan dan bukti kekuatan semangat hidup untuk menulis sebagai bentuk perlawanan.”

Boochani tidak dapat menerima penghargaan itu secara langsung, dia mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara dan pendukungnya melalui WhatsApp dari kamp tahanan di Manus Island, Papua Nugini.

Generasi semisal Nabila, Seren dan teman-temannya, yang mewakili era milenial (generasi Z), barangkali hidup tidak seperti imigran Boochani. Mereka hidup secara nyaman di kota metropolitan.

Mungkinkah suatu waktu, generasi mereka, yang dapat saja mewakili penulis muda, memanfaatkan teknologi digital untuk kepentingan literasi dan suara-suara terbungkam Indonesia, khususnya komunitas Betawi, di kancah internasional.

Wahana Untuk Saling Membaca

Direktur JILF Yusi Avianto Pareanom sebelumnya pernah mengatakan, JILF dihadirkan sebagai wahana atau platform di mana para penulis dapat bertukar gagasan, dan terutama untuk mengenal satu sama lain.

Merujuk pada gagasan itulah pada Kamis (22/8), pukul 13.30-15.30 WIB di Teater Kecil TIM Jakarta berlangsung simposium keempat (#4) bertajuk “Membaca Satu Sama Lain”. Simposium ini menghadirkan pembicara: Momtaza Mehri (Somalia)⁣, Faisal Tehrani (Malaysia)⁣, dan Aan Mansyur (Indonesia)⁣ yang dimoderatori Nukila Amal (Indonesia)⁣.

Simposium #4 bertajuk "Membaca Satu Sama Lain" menghadirkan pembicara: Momtaza Mehri (Somalia)⁣, Faisal Tehrani (Malaysia)⁣, dan Aan Mansyur (Indonesia)⁣ yang dimoderatori Nukila Amal (Indonesia)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Simposium #4 bertajuk “Membaca Satu Sama Lain” menghadirkan pembicara: Momtaza Mehri (Somalia)⁣, Faisal Tehrani (Malaysia)⁣, dan Aan Mansyur (Indonesia)⁣ yang dimoderatori Nukila Amal (Indonesia)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Simposium ini mencoba menjabarkan apa yang seharusnya ada dan dilakukan sebelum kita mulai membaca karya satu sama lain. Selain itu, para pembicara juga berbicara bagaimana menjaga agar hubungan literasi antar negara dapat terjaga dan berpengaruh satu sama lain.

Ketika pagar dan perbatasan dibuka oleh globalisasi, di mana manusia dan barang-barang bergerak, tetapi tidak terjadi dengan kisah dan narasi mereka. Kerap kita tidak membaca cerita mereka, tidak mengetahuinya, dan tidak memahaminya. Hal itu memunculkan kesadaran akan ketakutan baru, di mana kita takut terhadap apa yang tidak kita ketahui.

Itulah sebabnya akhir-akhir ini kita melihat begitu banyak kesalahpahaman, kecurigaan terhadap orang asing yang mendesak manusia sepertinya lebih protektif dan menginginkan dunia yang tertutup dan sempit bagi pribadi, komunitas atau negaranya (bdk. Brexit, perang dagang, dll).

Dalam konteks kesusastraan Negeri Selatan, dan lebih khusus di antara negara-negara Asia Tenggara, perlu ada upaya sadar untuk saling membaca, menerjemahkan dan mendistribusikan karya masing-masing.

Hal itu tentu membutuhkan konektivitas dan literasi bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris, di mana masing-masing penulis dapat bercakap-cakap dalam rasa dan pikiran yang sama.

Bagi Aan Mansyur, JILF adalah salah satu dan pertama, ekosistem di mana para penulis dapat terlibat lebih jauh untuk sharing dan pembacaan karya mereka.

Penulisan dan Identitas Queer

Sebagaimana menjadi program utama JILF, selain simposium, digelar pula rangkaian diskusi tematik untuk membahas topik-topik khusus dalam dunia kepenulisan. Seperti diskusi tematik #2 yang terjadi kemarin di Plaza Teater Besar TIM Jakarta.

Diskusi bertajuk “Penulisan dan Identitas Cair” itu menghadirkan pembicara: Akhil Katyal (India)⁣ dan Hendri Yulius (Indonesia)⁣, yang dimoderatori Hetih Rusli (Indonesia)⁣.

Diskusi "Penulisan dan Identitas Cair" menghadirkan pembicara: Akhil Katyal (India)⁣ dan Hendri Yulius (Indonesia)⁣, yang dimoderatori Hetih Rusli (Indonesia)⁣. -Dok. Wienda Patwitasari/DKJ.
Diskusi “Penulisan dan Identitas Cair” menghadirkan pembicara: Akhil Katyal (India)⁣ dan Hendri Yulius (Indonesia)⁣, yang dimoderatori Hetih Rusli (Indonesia)⁣. -Dok. Wienda Patwitasari/DKJ.

Hendri Yulius adalah salah satu penulis Indonesia yang komit pada kajian budaya dan gender, khususnya bidang queer. Ia menyelesaikan program magister pada University of Sidney, Australia.

Menurut Hendri, queer bukanlah LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Teori queer dapat digunakan sebagai alat untuk membongkar seksualitas kita, baik heteroseksual maupun LGBT. Artinya, queer merupakan alat untuk membongkar kedua klaim tradisionalisme seksualitas untuk menolak idetitas seksual secara sosial.

Di beberapa bahasa yang bergender, para penulis queer sedang mencoba mendobrak kekakuan-kekakuan identitas seksual yang terbakukan dalam bahasa, misalnya dengan memain-mainkan kata sandang feminin dan maskulin atau memunculkan kata ganti yang netral gender atau mencakup peralihan antar gender.⁣

Misalnya, mereka menukar fonem maskulin dan feminin dengan menciptakan kata ganti baru untuk merangkul transgender, seperti shim.

Di Indonesia, hampir tidak ditemukan bahasa bergender, layaknya Latin, Yunani, Inggris atau Spanyol. Karenanya, tidak ditemukan kesulitan untuk menulis dan menjadi penulis queer di Indonesia.

Namun yang masih terjadi, fakta bahwa masih banyak penulis Indonesia yang belum merangkul secara inklusif golongan trans tersebut ke dalam bahasa tulisan mereka; masih ada stereotipe yang melekat di beberapa penulis. Literasi sastra queer Indonesia masih jauh dari inklusivitas.

Selain itu, digelar pula diskusi bertajuk “Bersama Penulis” di Plaza Teater Besar TIM Jakarta, pukul 18.30 WIB. Diskusi ini akan menghadirkan Adania Shibli, penulis muda Palestina.

Hampir semua yang kita tahu tentang Palestina berasal dari penggambarannya di media. Tetapi apa yang benar-benar kita ketahui tentang keanekaragaman dan literasi sastra di daerah konflik tersebut.

Melalui acara ini, Shibli menempatkan dirinya dalam lanskap budaya bangsanya serta pandangan internasional. Shibli mengeksplorasi tema-tema seperti pilihan dan pengalamannya dalam menulis untuk membentuk “suara”-nya, dan apa yang ingin dilakukan dengan suara tersebut.

Diskusi dan Pentas Sastra

Gelaran JILF 2019 menghadirkan 21 komunitas sastra dari sekitaran Jakarta. Beberapa komunitas sastra tersebut sudah menggelar kegiatan diskusi sejak hari kedua JILF.

Sementara pada Kamis (22/8), hadir pula dua komunitas sastra lainnya, yaitu Komunitas Baca Betawi dan Satwika Pustaka. Komunitas yang beranggotakan anak-anak muda ini menampilkan musikalisasi puisi dan pembacaan puisi, sedang komunitas Baca Betawi hadir dengan dua pembicara, Aba Mardjani dan N. Syamsuddin Ch. Haessy.

Komunitas Baca Betawi hadir dengan dua pembicara, Aba Mardjani dan N. Syamsuddin Ch. Haessy. -Dok. Irene Barlian/DKJ.
Komunitas Baca Betawi hadir dengan dua pembicara, Aba Mardjani dan N. Syamsuddin Ch. Haessy. -Dok. Irene Barlian/DKJ.

Dalam diskusi itu, Aba Mardjani bercerita tentang proses kreatif dalam membuat cerpen Kue Gemblong Mak Saniah. Cerpen itu pernah dimuat pada harian Kompas pada tahun 2010 dan masuk buku Cerpen Pilihan Kompas di tahun 2011.

Selain berdiskusi, komunitas Baca Betawi juga mengadakan kegiatan pembacaan puisi.

Hari ini, Jumat (23/8), hadir pula dua komunitas lainnya, yakni Sajak Liar, Pena Kota dan Stomata.

Di bawah terik mentari yang membakar ruang pameran terbuka Patjar Merah, komunitas ini mengadakan diskusi dan pembacaan puisi. Darah penulis muda mereka seolah memayungi kulit mereka dari temperatur Jakarta yang hari-hari ini melonjak tinggi. Bagi mereka, literasi sastra lebih urgen dibandingkan sekedar membincangkan perubahan iklim ibukota.

Rangkaian Acara Malam

Masih seperti hari sebelumnya, JILF hari ketiga masih menghadirkan acara pembacaan karya di Plaza Teater Besar TIM Jakarta. Malam pembacaan karya ini menampilkan: Aan Mansyur (Indonesia)⁣, Hendri Yulius (Indonesia)⁣, Bejan Matur (Turkey)⁣, Shenaz Patel (Mauritius)⁣ dan Prabda Yoon (Thailand)⁣.⁣

Aan Mansyur dalam Malam Pembacaan Karya di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. Wienda Patwitasari/DKJ.
Aan Mansyur dalam Malam Pembacaan Karya di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. Wienda Patwitasari/DKJ.

Setelahnya, pertunjukan musik oleh Sal Priadi di Plaza Teater Besar TIM Jakarta menyemarak pengunjung yang memadati galeri pameran Patjar Merah di Plaza Teater Jakarta.

Sal Priadi dengan apik membawakan lagu-lagu terbaiknya, seperti “Amin Paling Serius”, “Kultusan”, dan “Ikat Aku di Tulang Belikatmu”.

Sal Priadi adalah nominasi Best Male Pop Act dari Indonesia Music Award 2018. Ia menulis lirik emosional dan lagu-lagu romantis dengan sentuhan balada pop.

Sal Priadi membawakan lagu-lagu terbaiknya dalam pertunjukan musik di Plaza Teater Jakarta. -Dok. Wienda Patwitasari/DKJ.
Sal Priadi membawakan lagu-lagu terbaiknya dalam pertunjukan musik di Plaza Teater Jakarta. -Dok. Wienda Patwitasari/DKJ.

Sementara pada hari ini, Jumat (23/8), penonton ibukota bakal disuguhkan pembacaan karya dari Sharlene Theo, Stephanos Stephanides, Akhil Katyal, Zen Hae, dan Clarissa Goenawan. Pembacaan karya ini masih berlangsung di tempat yang sama pada pukul 19.15-20.00 WIB.

Mengakhiri hari ini, JILF bakal menampilkan pementasan teater dari Teater Satu Lampung dan pemutaran film Atheis yang disutradarai Sjumandjaja (1974), masing-masing pada pukul 20.00-21.00 dan 21.00-23.00 WIB.

*Daniel Deha