Portal Teater – Firdaus (29 tahun) punya ekspektasi tinggi untuk memfilmkan karya anak-anak binaannya di komunitas Penerbit Mutiara Pena. Karena itu, ia datang jauh-jauh dari Madura, di Jawa Timur ke Jakarta untuk mengetuk pintu hati para produser film ibukota agar melirik karya anak-anak itu.

Sebagai editor naskah pada komunitas yang giat di bidang pendidikan bagi anak-anak putus sekolah dan kaum lansia itu, Firdaus berkeyakinan, di tahun kedua lahirnya komunitas mereka, anak-anak didik itu bisa menghasilkan karya-karya terbaiknya. Alasannya cukup sederhana, karena selama ini mereka telah berjerih payah membimbing dan mengedukasi komunitas pendidikan non formal itu.

“Saya bahkan sudah kirim surat ke Presiden, untuk dibuat lomba yang melibatkan anak-anak se-Indonesia, sehingga dari situ kami bisa kumpulkan karya mereka untuk diterbitkan,” katanya saat wawancara dalam acara workshop “Penulisan Skenario Drama Betawi” di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Rabu (7/8).

Workshop ini merupakan salah satu kegiatan di antara beragam acara yang diselenggarakan selama Pekan Sastra Betawi pada 5-8 Agustus 2019 di TIM Jakarta. Kegiatan ini diinisiasi oleh Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta TIM Jakarta.

Untuk menambah wawasan dan khazanah pengetahuannya, Firdaus bersedia diutus oleh komunitasnya kemanapun, terutama ke tempat-tempat di mana seminar dan workshop bertemakan penulisan naskah drama atau film diadakan.

“Saya sering ikut seminar yang berkaitan dengan penulisan naskah-naskah,” katanya.

Seperti hujan tiada mendung, Firdaus akhirnya cukup terkejut, malah shock, ketika seniman dan sutradara Yamin Azhari dan Guntoro Sulung katakan, bahwa tidak semua karya sastra, baik itu fiksi maupun non-fiksi dipakai sebagai naskah drama atau film. Padahal ia berharap, agar semua karya fiksi anak-anaknya bisa difilmkan.

Guntoro juga katakan, ada perbedaan mendasar antara kerja sastra dengan film. Seseorang barangkali dapat menulis karya sastra, novel misalnya, dengan sangat baik, tapi tidak semua novel tersebut layak untuk difilmkan. Karena kerja industri perfilman tidak semudah yang dibayangkan masyarakat awam.

“Dalam penulisan karya fiksi, penulis tidak pernah memikirkan konsep ruang dan waktu secara sempurna, tapi dalam penulisan skenario (drama/film), penulis harus jelas mengkonfirmasi ruang dan waktu,” katanya.

Meski secara pribadi ia mendapat pengetahuan baru, tapi secara konseptual, Firdaus merasa tersandra oleh pernyataan kedua sutradara veteran itu. Baru ia sadar, ternyata karya sastra yang ditulis berbeda sama sekali dengan skenario drama atau film.

Firdaus (29 th) bersama Guntoro Sulung dan Roni Adi dalam workshop "Penulisan Skenario Drama Betawi", Rabu (7/8).
Firdaus (tengah) bersama Guntoro Sulung (kiri) dan Roni Adi (kanan) dalam workshop “Penulisan Skenario Drama Betawi”, Rabu (7/8).

Di antara kedua medan seni tersebut ada batasan keahlian masing-masing yang hampir tidak pernah dimiliki oleh semua orang. Ada sutradara yang juga adalah penulis naskah, tapi belum pernah ada sutradara yang adalah penulis novel.

“Sebagai pengetahuan baru, ternyata kebanyakan novel itu sulit untuk dijadikan sebagai film. Kan ada kriterianya,” ungkapnya.

Meski begitu, ia tidak pernah kendur. Di tahun kedua, ia dan komunitasnya berkomitmen untuk membuat semacam katalog agar bila dibutuhkan untuk diterbitkan jadi lebih siap.

Nilai Mesti Tetap

Mala (24 tahun), Guru Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah Citra Cendekia, Jakarta Selatan, pun mengakui keterkejutannya. Selama ini, ia menulis karya sastra dengan sekedar menulis atau membuat karakter tertentu.

Namun ternyata kelihaian dan kecerdasan seorang penulis sastra adalah bagaimana ia menempatkan dan mengembangkan konflik di sepanjang ceritanya: dari awal hingga akhir. Ketajaman mengolah konflik inilah yang menjadi kekuatan penulis agar menghasilkan karya yang tidak hanya bermutu, tapi juga laris terjual, bahkan difilmkan.

Dalam konteks penulisan skenario drama/film, Mala mengamini apa yang dipaparkan kedua narasumber, bahwa konsep dan latar (ruang dan waktu) cerita sebuah drama atau film bisa diubah, tapi nilai yang mau disampaikan dalam cerita tersebut mesti tetap dan konsisten.

Misalnya, ketika sebuah cerita (dalam novel) menggambarkan tentang seorang anak yang jatuh di sungai, bisa di-setting sekian dengan mengambil gambar/film tidak di sungai tapi di kolam renang. Lokus penceritaan mungkin berubah, tapi nilai bahwa anak tersebut jatuh ke sungai mesti tetap dipertahankan.

Begitu pula halnya dalam sekop penulisan sastra Betawi. Bagi Mala, latar maka penulisan itu harus menyentuh nilai dari kompleksitas permasalahan masyarakat Betawi, meski latarnya diambil dari sampel situasi atau kondisi tertentu di komunitas Betawi.

“Ternyata kondisi-kondisi disesuaikan dari skenario awal dengan kondisi di lapangan, tapi yang penting tidak menghilangkan nilainya,” ungkapnya.

Perkuat Pembelajaran Kontekstual

Mala tidak datang sendirian ke acara workshop ini. Tetapi bersama dengan para guru dan utusan siswa kelas XI yang berjumlah 26 orang, terdiri atas 6 orang guru dan 19 siswa. Para guru dan siswa ini kemudian dibagi merata agar bisa mengikuti dua kegiatan yang diadakan secara bersamaan (pada jam yang sama), yaitu penulisan skenario drama dan penulisan feature.

Rekan guru Mala, namanya Ibu Rika (35 tahun). Ia katakan, saat ini sekolahnya sedang memperkuat penerapan sistem pembelajaran kontekstual. Sistem pembelajaran ini dimaksudkan agar para siswa dan guru lebih dekat untuk mengenal realitas sehari-hari di sekitarnya.

Kedatangan para guru dan siswa dari sekolah keagamaan itu tentu dalam kerangka itu. Sehingga para siswa dapat belajar lebih dekat dan langsung belajar dari ahlinya. Saat ini, siswa kelas XI sedang mendapatkan pembelajaran tentang karya sastra. Untuk menjangkau kontekstualisasi pembelajaran, field study semacam ini menjadi penting.

“Ini merupakan bagian dari pembelajaran mereka. Jadi ini menjadi lebih menarik karena mereka bisa belajar dari ahlinya, karena kalau guru di kelas kan tidak terlalu menarik,” katanya.

Para siswa MA Citra Cendekia Jakarta Selatan foto bersama narasumber, moderator dan peserta lain seusai workshop "Penulisan Feature", Rabu (7/8).
Para siswa MA Citra Cendekia Jakarta Selatan foto bersama narasumber, moderator dan peserta lain seusai workshop “Penulisan Feature”, Rabu (7/8).

Dalam mata pelajaran lain, misalnya Sosiologi dan Pendidikan Kewarganegaraan, para siswa pun sering terjun ke lapangan, misalnya mengunjungi Kantor DPR atau kampung Betawi yang letaknya persis berdekatan dengan sekolah.

Namun demikian, kedua guru tersebut mengakui, belum cukup ada wadah terbatas yang disediakan khusus untuk mengembangkan kahzanah kebudayaan dan sastra Betawi, meski hampir semua peserta didik adalah orang asli Betawi.

Yang ada hanyalah sebentuk festival intra sekolah bernama “Festival Cicen” (merujuk pada nama Citra Cendekia), yang biasanya diadakan setiap tahun. Festival menghadirkan beragam kegiatan, antara lain: lomba menari, story telling, cerdas cermat, dll, tapi latar artistik panggung biasanya didesain dengan konsep budaya Betawi.

Eksplorasi Metode Penulisan

Mita (25 tahun), guru Geografi di MA Citra Cendekia, adalah juga adalah rekan guru Rika dan Mala. Mita punya kesan unik selama keikutsertaannya dalam workshop penulisan feature bersama narasumber Muhammad Sulhi, mantan wartawan dan Intisari yang saat ini menjadi anggota/sekretaris Dewan Perpustakaan DKI Jakarta (2019-2022).

Mita mengaku sangat suka membaca dan menulis, misalnya di buku harian dan blog pribadi. Dalam blog pribadinya, ia fokus pada penulisan sastra, puisi dan cerpen khususnya. Di sekolah, ia terbiasa menulis artikel saduran untuk dipajang pada dinding-dinding kelas.

 

Muhammad Sulhi memberikan materi dalam workshop "Penulisan Feature" di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Rabu (7/8).
Muhammad Sulhi memberikan materi dalam workshop “Penulisan Feature” di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Rabu (7/8).

Dalam kelas penulisan feature, ia mendapat insight baru, bahwa ada perbedaan tegas antara artikel, yang biasa ditulisnya, dengan apa yang disebut sebagai feature. Wawasan itu seolah membongkar mindset-nya untuk lebih mengeksplorasi metode pembelajaran dengan tidak lagi menulis artikel baku, tapi mencoba beralih kepada jenis penulisan feature.

Ia berkeyakinan, dengan metode penulisan yang baru itu, para siswanya dapat lebih mencerna materi yang disajikan, sekaligus membedakannya sebagai suatu karya tulis yang baru dan segar.

“Itu sih info yang aku dapat, keren sih,” katanya singkat.

Demikian halnya dialami Nelson Astari (37 tahun), seorang penulis lepas, yang selama aktif menulis di laman media sosial. Nelson adalah lulusan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, jurusan filsafat.

Nelson Astari (37 tahun), seorang penulis lepas.
Nelson Astari (37 tahun), seorang penulis lepas,

 

Sebagai anak Jakarta, Nelson sering mengikuti kegiatan di TIM Jakarta, baik seminar, workshop, pameran, pertunjukan dan berbagai program lainnya. Terakhir, ia mengikuti kegiatan pameran foto JIPFest dan Lintas Media yang diadakan bulan Juni 2019 lalu.

Bagi Nelson, metode penulisan feature ini sangat positif dalam pengembangan dirinya sebagai penulis lepas; untuk lebih mendalami metode penulian yang cair dan segar.

*Daniel Deha