Mengagregasi Ruang Kultural Lewat Lakon “Pada Suatu Hari”

Dalam pementasan Kelompok Pojok, Minggu (24/11) malam.

Portal Teater – Dengan tirai panggung yang masih tertutup, pada ketiga sudut pandang mata penonton: sisi kiri, kanan dan depan, tersaji tiga layer berupa video dokumenter kesaksian beberapa perempuan tentang perkawinan mereka.

Umumnya, perempuan yang diwawancarai itu berusia tua, sehingga memberi kesan bawa mereka telah cukup matang dalam menjalani bahtera keluarga sebagai istri.

Penonton tidak pernah tahu, mengapa grup teater berbasis Jakarta Selatan ini hanya menyajikan kesaksian seorang istri, tanpa menghadirkan narasi seorang suami.

Apakah ada hembusan feminisme, atau memang, suami yang adalah laki-laki lebih sulit dipercaya untuk bersaksi. Adakah konstruksi gagasan lain yang mau dibawa sang sutradara.

Bersamaan dengan percakapan-percakapan itu, foto-foto pernikahan keluarga para perempuan itu pun ditampilkan. Dan sosok suami hadir saat-saat itu hanya dengan memberi jempol, seperti like dalam aplikasi media sosial.

Menggunakan video dokumenter sebagai bahan arsip, Kelompok Pojok sebenarnya ingin mengantar penonton ke alam pertunjukannya yang berjudul “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer, Minggu (24/11) malam di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon yang disutradarai Iqbal ini bercerita tentang kisah yang amat sederhana. Sepasang Kakek (diperankan Herisca) dan Nenek (diperankan Yasya Arifa) baru saja merayakan pesta ulang tahun emas pernikahan mereka.

Di ruang tamu keluarga, mereka duduk merayakan semua rasa yang membuncah di dalan sanubari: bangga, bahagia, haru, bercampur jadi satu.

Dengan memberi batas ruang tamu sebagai medan pemeranan sebenarnya bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Jika kita mengingat konsep Anthony Giddens tentang ‘ruang belakang’ dan ‘ruang depan’, maka kita bisa tahu mengapa pertunjukan ini hanya menggunakan ruang spasial “ruang tamu keluarga’.

Giddens membuat pembagian itu untuk mengilustrasikan divergensi dalam aktivitas sosial-spasial. ‘Ruang depan’ adalah tempat kita memasukkan ke dalam pertunjukan di atas panggung publik.

Sementara ‘ruang belakang’ adalah wilayah di mana kita berada di belakang layar. Pembagian ini bersifat kultural karena tiap kebudayaan, memiliki desain rumah dengan cara yang berbeda.

Dengan konsep ini, lakon surealis ini mau menggeser anggapan bahwa apa yang terjadi di sebuah keluarga tidak lagi menjadi milik privat, tapi sudah menjadi milik publik.

Seolah merayakan kebahagiaan purna dalam hidup, si Kakek dan Nenek saling menatap dan tertawa ceria, melepas semua duka dan lara yang pernah dilalui, bersama dengan kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalan kenangan.

Merayakan usia pernikahan 50 tahun dengan keutuhan sebagai suami-istri memang tidak mudah bagi sebuah keluarga. Tidak banyak keluarga yang merasakannya.

Bagi mereka, berkat itu mesti dirayakan selama mungkin. Mereka sadar, hidup adalah anugerah, dan tidak ada seorangpun yang berhak menentukannya selain Sang Khalik.

Berdansa, bernyanyi dan tertawa-tawa bahagia adalah cara mereka merayakan malam yang suci itu. Berupaya mengembalikan ingatan-ingatan masa lalu, si Kakek meminta si Nenek mencari album foto pernikahan mereka.

Sebaliknya, si Nenek meminta suaminya yang sudah uzur itu menyanyikan lagi lagu kesayangannya. Lagu ketika keduanya berpandangan pertama kali lalu saling jatuh cinta. Memang, cinta pada pandangan pertama jauh lebih kuat.

Sungguh sebuah pesta besar sedang dirayakan. Si Kakek yang diketahui bernama Ondang itu menyanyikan lagunya dengan tongkat di tangannya. Tubuh masalalunya seperti kembali ke masakininya.

Sementara itu, penonton yang menyaksikan konsernya itu berteriak-teriak menyebut namanya dari belakang dan dari depan panggung Teater Kecil.

Sebuah konsep yang begitu apik dikemas Kelompok Pojok dalam pementasan ini. Tidak hanya Ondang yang kembali ke masalalunya, tapi juga penonton. Dari arah tribun penonton, mereka turut bernyanyi dengan melambaikan light stick.

Begitu pula penonton dari belakang panggung. Kelompok penonton ini adalah juga aktor yang bermain pada malam itu. Didesain menggunakan layar pembatas tembus pandang, mereka sekaligus menjadi penonton masa lalu Ondang.

Sekejap, panggung disulap sebagai tempat konser. Ada interaksi kreatif antara penyanyi dan penonton yang membuat pentas ini enak ditonton dan terhibur.

Di tengah perayaan yang begitu romantis, kebahagiaan mereka berubah sekejap ketika Nyonya Wenas (diperankan Miftahul Jannah), wanita dari masa lalu si Kakek datang ke rumah mereka.

Ia hadir seperti ‘pohon kaktus’ yang siap menancapkan durinya kepada bunga flamboyan, yaitu si Nenek. Simbol ‘kaktus’ dan ‘flamboyan’ dalam lakon ini mau memperlihatkan dua karakter yang bertentangan kedua perempuan lanjut usia itu.

Kita tidak tahu seperti apa awal mula perkawinan antara Kakek dan Nenek, tapi dengan kehadiran Nyonya Wenas menjadi jelas bahwa perkawinan kedua pasangan itu tidak pernah seindah perayaan mereka malam itu.

Sebab bagi si Nenek, bayangan Nyonya Wenas senantiasa menghantui suaminya, seperti ‘kaktus yang disimpan di dekat kakus’. Ia tahu dan sadar, bahwa suaminya tetap menyimpan rasa dengan mantan pacarnya yang kini sudah janda dan tidak memiliki anak itu.

Yang mengejutkan lagi, baru ia tahu ternyata si Kakek selalu bercerita tentang Nyonya Wenas, selain dirinya, juga kepada pembantu laki-laki mereka yang bernama Joni (diperankan Joseph Viar Suhendar). Hal itu diketahui si Nenek karena si Joni menghidangkan es susu yang menjadi kesukaan Nyonya Wenas.

Kecemburuannya bertambah ketika si Kakek bersikap romantis dengan Nyonya Wenas di depan matanya. Ia marah dan meminta cerai sesegera mungkin selepas kepergiaan Nyonya Wenas dari rumah mereka. Semua kebahagiaan mereka sirna.

Seperti ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’, keluarga Kakek dan Nenek dirundung berita yang tidak menggembirakan. Putri mereka, Novia, juga ingin bercerai dengan suaminya.

Meski sudah beranak tiga, ia juga menaruh cemburu pada perempuan yang adalah pasien suaminya yang bernama Vita. Ia merasa ada yang berbeda dari mata perempuan itu dibandingkan pasien-pasien lainnya.

Meski ia sendiri tidak memergoki apa yang sebenarnya terjadi antara perempuan itu dengan suaminya. Semuanya adalah dalam pikiran dan fantasinya.

Sulit membayangkan bagaimana Arific C. Noer menyajikan adegan-adegan ini. Sepasang suami-istri yang sudah tua tapi masih cemburu pada wanita yang pernah dicintai suaminya di masa lalu; 50 tahun lalu.

Atau seorang pasangan yang sudah beranak tiga tersulut api cemburu hanya karena bayangan-bayangan liar di kepalanya.

Dalam kehidupan nyata, memang kita sulit menemukan kisahnya, selain hanya terjadi dalam roman-roman picisan. Bagi pasangan yang sama sekali muda, barangkali cerita ini bisa kita saksikan dari segala sumber mata angin. Ingin cerai, dan kawin lagi, seperti yang kita lihat di layar-layar televisi dan sekitar kita.

Lantas, apa yang mau disampaikan dari lakon ini? Tentu banyak penafsiran dari mata penonton. Salah satunya adalah bahwa dalam kehidupan ini, tidak ada yang kekal dan abadi.

Nilai-nilai yang mapan dalam hidup bisa saja segera runtuh. Segala sesuatu terus berubah dan dinamis. Begitu pula dengan kebudayaan. Ia terus berkembang agar bisa masuk ke dalam ekosistem yang kini hadir di hadapannya.

Karenanya, lakon ini meski terlihat realis dan sederhana, tapi begitu absurd untuk mencerna wacana dan narasi yang tertangkap dalam dialog-dialognya.

Seperti halnya dengan seekor anjing bernama Bison milik Nyonya Wenas, seperti juga seekor anjing bernama Tony dalam lakon “Kisah Cinta Dan Lain-Lain”, adalah representasi ke-anjingan perilaku manusia yang ingin ditampilkan dalam lakon ini.

Bagi Nyonya Wenas, Bison itu adalah si Kakek. Meski ia terlihat bahagia bersama istrinya, si Nenek, tapi sebenarnya si Kakek juga diam-diam memperlakukannya sebagai wanita simpanan. Dan menurutnya, tindakan itu seperti ‘anjing’.

Yang menarik, pementasan ini menggabungkan secara baik konsep tradisi dengan multimedia yang diperkuat dengan pendekatan keaktoran. Penggalian-penggalian interteks pun cukup kuat untuk mempertebal wacana yang mau disampaikan.

Demikian halnya dengan sirkulasi ruang, yaitu antara ruang depan sebagai medan pemeranan dengan ruang belakang sebagai tempat pergantian pemain.

Ruang belakang seperti pantulan dari ruang di depannya, atau seperti realitas simulakra, sehingga apa yang terjadi di ruang belakang terlihat seperti apa yang terjadi di ruang depannya.

Memindahkan beberapa adegan ke ruang belakang, sebetulnya merupakan upaya penyutradaraan untuk memperlihatkan bahwa ruang belakang bukanlah ruang domestik dan terbelenggu seperti dalam konstruksi gender.

Kelompok Pojok lewat lakon ini ingin menghembuskan sebuah wacana lain, yaitu untuk mengagregasikan ruang kultural dalam rumah, sekaligus menghindari ketimpangan relasi kuasa akibat konstruksi sosial dan budaya masyarakat.

Tim Produksi

Sutradara: Iqbal
Penata musik: Didit Alamsyah
Penata panggung: Arif Ocklay
Penata cahaya: Nasrullah
Penata busana: Monalia W
Penata Rias: Rahayu Dwi Septianingsih
Penata Suara: Sentanu
Multimedia: Septian Lancip
Design Grafis: Kiki Rizkiya
Stage Manager: Melani Astim

Pemain

Aktor utama perempuan: Yasya Arifa
Aktor utama laki-laki: Herisca
Aktor peran pembantu perempuan: Miftahul Jannah
Aktor peran pembantu laki-laki: Joseph Viar Suhendar
Aktor lainnya: Randy, Susi

Tentang Kelompok Pojok

Kelompok Pojok didirikan pada 10 Oktober 2010. Pada awalnya merupakan anggota ekstrakurikuler teater dari berbagai SMA di Jakarta.

Setelah menamatkan pendidikan SMA, anak-anak muda ini sepakat untuk membentuk satu wadah bersama, tempat di mana mereka bisa berkegiatan teater.

Selama sembilan tahun terakhir, mereka sudah menghasilkan 24 produksi. Tidak hanya produksi teater, tapi juga menggelar parade dan kerjasama dengan beberapa perusahaan sebagai pengisi acara.

Grup teater berbasis Jakarta Selatan ini memiliki seorang sutradara bernama Iqbal, yang juga merupakan salah satu pendiri Kelompok Pojok dan ketua pertama kelompok ini.

Pengalaman Iqbal di teater dimulai ketika ia masih duduk di SMAN 97 dan bergabung dengan ekstrakurikuler Teater Topeng.

Setelah lulus dari sekolah menengah, ia melanjutkan studi teater bersama dengan dua kelompok senior di Bulungan, Jakarta Selatan, Kelompok Siluet dan Teater Tetas.

Berbagai prestasi telah diraih, antara lain: Sutradara Terbaik Festival Teater Sekolah (FTS) 2012, Nominator Penulis Naskah Terbaik FTS 2012, Sutradara Terbaik FTS 2013.

Selain bergelut di festival teater pelajar, Iqbal juga menyutradarai Kelompok Pojok dalam keikutsertannya pada Festival Teater Jakarta Selatan (FTJS).

Pada tahun 2012 dan 2017 ia masuk dalam nominasi Sutradara Terbaik FTJS. Selain itu, dinominasikan menjadi sutradara terbaik untuk festival teater pemuda nasional pada tahun 2013 dan sutradara terbaik dalam acara festival dramakala tahun 2016.

Di samping berkarya sebagai sutradara, Iqbal juga menjadi bartender, di mana telah menangani beberapa acara seni, di antaranya: Grup Mahagenta: Present To the World 2011 dan 2012, Project Officer Festival Teater SLTA 2016.

Iqbal juga bergerak ke level produksi yang lebih tinggi dengan menjadi Project Officer FTJ Selatan tahun 2017, Project Officer Pesta Raya SINTESA 2017 dan 2018, dan Project Officer peluncuran buku puisi 2 Buku 1 Malam karya Yoyik Lembayung dan Lukman SH tahun 2018.

*Daniel Deha

Baca Juga

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Penyebaran Virus Corona di Indonesia Terus Meluas

Portal Teater - Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meluas sejak pertama kali teridentifikasi melalui dua pasien di Depok, Jawa Barat, awal Maret...

Terkini

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...