Mengendus Jejak Infantil Kehidupan Manusia di Ruang Rahim

Portal Teater – Apa yang pernah kita bayangkan ketika masih terbentuk sebagai seonggok janin di rahim sang ibu. Atau, pernahkah kita merenungkan bagaimana kehidupan selama 9 bulan di ruang rahim, sebelum kita benar-benar menjadi manusia utuh dengan keberadaan seperti sekarang ini. Bahkan, kehidupan jauh sebelumnya, persis ketika proses pembuahan itu dimulai.

Barangkali deretan pertanyaan inilah yang juga menjadi ikhtiar permenungan Gema Swaratyagita sebagai seorang komposer dan Laring Project selama penggarapan karya teatrikal musik mereka: “Ngangon Kaedan: Dari Ruang Rahim”.

Pertunjukan itu dipentaskan pada malam keenam Djakarta Teater Platform (DTP) 2019 di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (13/7) malam.

Meski dipentaskan dalam durasi waktu yang pendek, yaitu sekitar 40 menit, tetapi pertunjukan membuka tirai kesadaran publik untuk membayangkan ruang kehidupan paling infantil dari seorang anak manusia, yaitu ketika berada di dalam rahim ibu sebagai janin.

Sejak awal pertunjukan, Gema dan Laring Project menghadirkan aneka bunyi melalui dokumentasi bunyi ruang rahim, mulai dari bunyi persenggamaan, aliran sperma, aliran darah, plasenta hingga air ketuban. Bunyi-bunyi dihadirkan untuk memberi tanda bahwa kehidupan telah dimulai di ruang rahim ibu.

Dalam pertunjukan ini, rahim direpresentasikan melalui gelantungan kain putih di tegah panggung. Di dalam kain itu, terdapat tujuh pemain yang berperan sebagai janin/bayi.

Namun jauh sebelum kehidupan dimulai, ada banyak kisah yang bisa disampaikan dari dalam perut seorang ibu, mulai dari awal proses pembuahan hingga pertemuan sel telur dan sperma, mulai kemunculan embrio hingga menuju perkembangan janin yang kerap berkomunikasi dengan sang ibu. Misalnya, dari mulai detak jantung, perputaran nafas, pembesaran rahim hingga pembentukan otot, dan seterusnya.

Semakin lama, janin itu terus berkembang dan membesar. Demikianlah terjadi perubahan fisik dan psikologis pada sang ibu. Penggambaran pada masa ini ditunjukkan melalui gerakan-gerakan yang dilakukan si janin di dalam rahim, misalnya dengan menendang dinding rahim. Gelantungan kain pun ikut bergerak.

Sementara bayi-bayi itu bergerak-gerak, Dida Fisandra bergerak dari arah penonton menuju tengah panggung sambil memainkan alunan melodi seruling untuk memberikan kegembiraan kepada si janin. Semakin lama, janin pun kian bergembira dan menusuk-nusuk perut ibu.

Saking girangnya, janin pun beryanyi gembira dari ruang rahim. Mian Tiara, seorang penyanyi, melantunkan nyanyian itu dari dalam gelantungan kain.

Sementara di luar, Gema dan Dida beserta seorang pemusik duduk bersila di tengah panggung sambil memainkan kulintang dan seruling mengiringi nyanyian Mian. Itulah momen ketika ibu menceritakan dongeng “Ngangon Kaedan” kepada si janin, sebuah dongeng tua yang kini sudah hampi punah.

Menurut beberapa referensi, salah satu cara yang paling efektif untuk menstimulasi kepekaan dan kecerdasan janin adalah dengan sesering mungkin melantunkan alunan musik klasik, baik dari seorang ibu atau yang diperdengarkan melalui media.

Gema dan Laring Project sadar betul akan hal itu.

Bertumbuh makin besar, akhirnya sang pun dilahirkan. Nyanyian dan lantunan musik masih terus bergema.

Kemudian merangkaklah bayi-bayi itu keluar sambil mengucapkan kata-kata yang mereka rekam selama proses kehamilan. Benar apa yang dikatakan dalam ilmu psikologi perkembangan, bahwa selama masa kehamilan, janin akan menangkap lebih banyak stimulan yang diberikan seorang ibu dan orang-orang terdekat.

Di luar, bayi-bayi itu mulai mengungkapkan bahasa-bahasa yang mereka tangkap, misalnya: “Semoga anaknya baik-baik ya!” “Semoga anaknya lahirnya normal!” dan seterusnya.

Itu adalah rentetan bahasa harapan yang tidak saja mendoakan sang ibu dan anak, melainkan juga menginginkan seorang anak bertumbuh dan menjadi manusia yang baik di kemudian hari.

Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa apa yang mereka rekam selama berada dalam ruang rahim sangat kuat mempengaruhi kehidupan mereka sebagai anak manusia di luar dinding rahim.

Namun dalam harapan itu, ada juga terselubung bahasa kekuasaan yang mengontrol kehidupan si anak di kemudian harinya.

Selain Gema, Dida dan seorang pemusik, ada tujuh pemain yang tampil sebagai representasi janin dalam pertunjukan itu, antara lain: Tessa Prianka, Yanthi Sitompul, Ruth Priscilia, Mian Tiara, Andri Hidayat, Ajeng Friensiana, dan Yova Tri Wahyuni.

Ngangon Kaedan

Ngangon Kaedan merupakan karya on progress Gema yang dimulai dari komposisi musik “Dongeng Polifoni” (2018), sebuah fragmen awal karya yang menggunakan dongeng anak nusantara, hingga menuju “Dari Ruang Rahim”.

Ide Ngangon Kaedan series ini berasal dari Dongeng Anak, yang oleh Gema dirasa sebagai keresahan bahwa dongeng maupun lullaby sudah jarang menjadi komunikasi penting antara ibu dan anak, ketika itu lebih banyak digantikan media pintar.

Sementara pada“Dari Ruang Rahim”, karya ini akan memadukan para pesuara, bunyi, tubuh, dan visual dalam satu ruang imaji baru sebuah komunikasi ibu dan janin dari dalam rahim. Pertunjukan ini merupakan sebuah kerja kolaborasi dengan berbagai disiplin maupun medium yang digunakan.

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...