Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Oleh: Iwan Meulia Pirous*

Portal Teater – Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak ingin membuat pembacanya tersesat dalam metafor untuk kalangan terbatas.

Sanento tidak ingin menghujani kita dengan pameran pengetahuan, tapi dia selalu memancing kita untuk ingin tahu lebih banyak.

Ini adalah sebuah keahlian tulis yang membutuhkan disiplin dan kerelaan untuk tidak berlebihan. Sebuah kemampuan untuk menuliskan sekaligus membayangkan posisi sebagai pembaca.

Maka bisa jadi pembaca tidak merasa sedang membaca—kalaupun iya, sebutlah sebuah effortless reading—tapi sedang mendengarkan dan membayangkan ide-ide. Berikut ini adalah beberapa ide-ide yang terlontar setelah sejenak membacanya.

Diskusi buku "Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)" karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara:  Iwan Meulia Pirous  (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Diskusi buku “Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)” karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara: Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Identitas keindonesiaan adalah sesuatu yang obsesif bagi seniman?

Sejak 1920-an sampai sekarang intelektual mendiskusikan bagaimana seharusnya Indonesia dibayangkan.

Bingkai perdebatan adalah mencari batas-batas yang membingkai Indonesia menggunakan jargon kontras dikotomis “Barat-Timur”, “feodal- egaliter”, meneruskan rantai tradisi masa lalu (kontinuitas) atau menolaknya (anti tradisi).

Sanento merekonstruksi polemik anak-anak muda intelektual bersemangat tinggi di masa itu dalam banyak tulisan. Membacanya seakan kita sedang berlayar di arus perdebatan menuju zaman baru.

Ada dua arus besar. Arus pertama adalah menolak cita rasa estetik kolonial dengan membuang kebiasaan untuk melukis bentang alam yang indah.

Alasannya, pelukis- pelukis Eropa datang sebagai pelancong yang hanya mampu menggambarkan kulit yaitu keindahan dan bukan gejolak yang tersembunyi karena penderitaan akibat penjajahan.

Ketika Sudjojono mempopulerkan argumen di atas, segeralah menjadi sebuah gerakan.

Bukan saja kolonial yang dilawan namun feodalisme yang berada di masa lalu. Maka alam tradisi yang lekat dengan masa lalu dianggap tabu, dikatakan sebagai koleksi museum “berjamur oncom”.

Kemarahan ini mendapat respons yang tak kalah validnya yaitu dengan membela tradisi yang merupakan akar historis jauh sebelum kedatangan kolonial.

Seniman-seniman yang membela tradisi ini memunculkan citra-citra yang sesuai dengan gambaran stereotipikal tradisi “ketimuran” yaitu imajinasi tentang candi, batik, atau nuansa-nuansa etnis dalam karya yang dibuat pada zaman baru tersebut. Dalam aliran ini, misalnya Agus Djaja.

Arus ketiga turut mewarnai polemik. Keindonesiaan tercapai dengn merepons persoalan sosial yang lebih umum yaitu persoalan-persoalan dunia seperti pendapat Basuki Rasbowo.

Mengarah kepada tradisi etnis adalah suatu cara dengan rute yang dapat berbelok kepada “tradisi Barat”.

Simpang-menyimpang antara “Barat” dan “Timur” wajar terjadi karena yang penting bagi gagasan keindonesiaan adalah menyampaikan suasana masalah-masalah dunia sekarang sebagai pernyataan psikologi sosial dari seorang seniman tentang zamannya (hlm. 63).

Belum lagi perdebatan dalam periode 1950-an hingga 1960-an ketika Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) secara lantang menyatakan bahwa letak keindonesiaan dalam seni adalah ketika seniman membawakan ide-ide anti imperialisme asing.

Sebuah sikap reduksionis populer sebagai arus besar terakhir nomor 4 yang berumur pendek. Dengan rileks Sanento Yuliman menawarkan alternatif lain pada kita: “Anda bisa menambahkan sampai 10 atau selusin cara pandang jika rajin membedah perdebatan tentang kepribadian bangsa, tapi yang penting sebetulnya apakah yang kita maksud?”

Saya menyebut obsesif karena keindonesiaan jadi sebuah keharusan tiap seniman dalam arus kemodernan (modernity).

Ada semacam tanggung jawab yang membentuk imajinasi sekaligus menempatkannya dalam sebuah bingkai khas abad ke-20 yang membedakannya dengan bangsa dan negara lain.

Bahkan sampai tahun 1980-an perdebatan tentang wajah kebudayaan nasional Indonesia masih menjadi polemik seru seperti yang dimuat dalam terbitan Analisis Kebudayaan.

Sepertinya setiap orang yang berpikir punya tanggung jawab untuk mencari-carinya dengan gamang sampai ketemu.

Peserta memadati ruang diskusi buku "Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)" karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara:  Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Peserta memadati ruang diskusi buku “Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)” karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara: Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Keindonesiaan adalah Konstruksi Sosial

Perasaan gamang ini sebetulnya menghinggapi bidang studi lain di luar kesenian rupa yaitu ilmu sosial.

Kajian-kajian tentang sosiologi pengetahuan dalam tradisi Marxian membedah cukup dalam untuk keluar dengan kesimpulan bahwa konsep-konsep yang kita kenal tentang ras, etnis, bangsa adalah kategori label yang tidak terpisahkan dari usaha-usaha menyebarkan ilmu pengetahuan melalui kolonialisme di masa lalu.

Teori, konsep, dan metodologi yang kita gunakan sekarang mengandung bias politik masa lalu yang tidak terhindarkan, kecuali dengan mengkritiknya setajam mungkin.

Kita berhutang pada studi-studi kritis tentang eksotisme oriental (Said, 1979), rasialisme dan penjajahan (Fanon, 1963) dan bagaimana struktur kekuasaan membentuk pengetahuan akademik (Faucoult, 1980; Freire, 1980).

Dapat dibayangkan bahwa kegiatan memproduksi ilmu pengetahuan di kawasan pasca kolonial dapat menjadi usaha yang meletihkan bagi setiap sarjana kritis di negara berkembang (termasuk senimannya) apabila dia harus menyusun karya dengan berbagai catatan kaki di bagian metodologi untuk menjernihkan maksud bahwa konsep- konsep yang digunakannya tidak netral, sehingga harus dijelaskan panjang lebar.

Bagi antropolog yang membaca Foucault, ini adalah sebuah moral ethics, untuk menceritakan bahwa etika moral dalam metodologi ilmiah yang kita junjung pun merupakan hasil rezim akademik (Mattingly, 2012).

Maka, antropologi termasuk disiplin ilmu yang “paling menderita” karena hampir semua konsep-konsep sentralnya adalah warisan langsung kolonialisme.

Ironisnya teori-teori klasik antropologi justru lahir dari kerja lapangan yang dilakukan di Hindia Belanda dan Indonesia.

Kehadiran dan pembentukan ilmu-ilmu sosial di Indonesia terjadi ketika pegawai, guru serta cendikiawan kolonial berdatangan ke Hindia Belanda.

Ilmu sosial dari Barat pertama kali diajarkan tahun 1920 sebagai bagian dari ilmu hukum. Ketika itu Belanda merasa penting mengembangkan suatu kajian tentang hukum-hukum adat dan tenurial.

Kejadian ini tidak saja di Hindia Belanda tetapi di seluruh kawasan kolonial Eropa di Asia. Inggris mendidikan tiga universitas di Kalkuta, Bombay, dan Madras lebih awal lagi yaitu tahun 1856 yang kemudian menjadi model bagi pendidikan pola Inggris di kawasan jajahan.

Bahkan Filipina lebih awal lagi ketika Spanyol membangun Universitas Santo Tomas tahun 1611 yang mengajarkan filsafat, teologi dan ilmu sosial (Feliciano, 1984:469).

Peserta melakukan registrasi menjelang diskusi buku "Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)" karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). -Dok. portalteater.com
Peserta melakukan registrasi menjelang diskusi buku “Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)” karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). -Dok. portalteater.com

Meski demikian, kehadiran metodologi ilmu sosial baru ada setelah tahun 1900 (Bautista, 2000:94). Ilmu-ilmu yang diajarkan umumnya adalah geografi, antropologi, sosiologi, psikologi, ekonomi, dan hukum.

Istilah “Indonesia” sendiri diciptakan Adolf Bastian tahun 1884, maka sesungguhnya imajinasi kita tentang bangsa memang diciptakan orang lain dari masa lalu dan kita tidak pernah merasa perlu melawan label itu.

Tapi sejarah mencatat anomali di tempat lain sebagai perbandingan keindonesiaan.

Empat tahun setelah Bastian menerbitkan buku tentang istilah kartografi Indonesia, seorang “pribumi” Jose Rizal membaca buku berjudul Sucesos de las Islas Filipinas (Tahapan Sejarah Kepulauan Filipina) di London tahun 1888.

Buku itu membuka pikiran tentang kesadaran identitas sebagai bagian dari solidaritas Melayu Nusantara, bukan sekadar Filipina.

Buat saya, Filipina terlalu menarik karena selain memiliki universitas tertua (mungkin di Asia), juga memiliki gerakan nasionalisme modern yang paling awal ketika Jose Rizal mempopulerkan gagasan perlawanannya melalui novel.

Rizal pun adalah sosok yang khusus dengan kecenderungan polyglot (berbahasa sangat banyak, dia paham 22 bahasa). Juga seorang polymath karena dia menguasai berbagai bidang sains dan seni dengan kecakapan sempurna.

Pengembaraan Rizal yang bisa jadi hampir ke seluruh pelosok Eropa, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat mempertemukan dirinya dengan arus-arus besar isme-isme provokatif di masanya seperti nasionalisme, sosialisme, dan anarkisme.

Novelnya sendiri menjadi buku wajib revolusi melawan Spanyol. Menjadi kearifan lokal turun-menurun.

Namun revolusi tersebut patah. Filipina menjadi Amerika kecil untuk suatu alasan yang terlalu panjang untuk diuraikan dan membangun gerakan revolusi bawah tanah sampai hari ini.

Dalam periode 1970-an sampai akhir Orde Baru, di Indonesia, negara berperan besar dalam membentuk kecenderungan berpikir yang baru pasca 1965.

Intelektual dituntut untuk menjadi nasionalis yang berdiri dekat dengan agenda pembangunan.

Perkembangan pemikirannya dituntut mendukung program kebijakan nasional. Para intelektualnya menjadi pelayan kepentingan negara yang bekerja di kampus-kampus sebagai pegawai negeri.

Orientasi kebudayaan nasional adalah adalah kestabilan harga dan kestabilan sosial nasional.

Kita tidak akan lagi menemukan figur ilmuwan analitis yang masuk dalam ranah gerakan sosial seperti Tan Malaka yang melancong kemana-mana karena imigrasi belum ketat.

Kita masuk dalam periode para cendikia dibesarkan dalam harmoni teori-teori sistem sosial yang percaya bahwa bentuk masyarakat yang optimal terjadi dalam harmoni.

Mereka adalah intelektual yang sangat sadar akan potensi-potensi ekonomi pasar yang harus tumbuh, batas-batas imigrasi, profesi, sekaligus juga sadar sebagai subjek hukum negara dan sadar sebagai publik.

Struktur masyarakat Indonesia yang semakin jelas struktur kelasnya dan negara semakin dominan menimbulkan dampak baru.

Kesenian tidak lagi milik sanggar kolektif, tapi menjadi milik akademi yang elitis memilih-milih orang karena faktor dana sekolah sehingga terciptalah kelas dalam kesenian rupa sebagai “bawah dan “atas”.

Nilai sosial sebuah tradisi berubah menjadi nilai-nilai ekonomi karena pertukaran sosial antar orang semakin menyempit menjadi pertukaran ekonomi.

Membeli barang adalah sebuah kontrak jangka pendek; meminjam barang adalah jangka menengah. Sedang memberi adalah jangka panjang (sekaligus bernilai moral tinggi) karena kita tidak pernah tahu kapan budi baik ini dibalas.

Sanento meramalkan jauh hari bahwa seni tradisional teralineasi dari kehidupan sosial dan menjadi pengulangan-pengulangan reproduksi estetika yang bekerja seperti mesin.

Ekonomisasi tradisi terjadi ketika manusia bertukar dengan jangka pendek seperti jual beli barang; semua orang melakukannya dan didukung oleh kebijakan kebudayaan negara.

Perubahan selalu terjadi. Nilai, rasa, kepekaan sensorik tentang keindahan terbentuk dari memori-memori kolektif dan praktik-praktik sosial kultural politik yang dialami bangsa ini seperti yang diuraikan di atas.

Di tahap itu tulisan kritik seni gaya Sanento Yuliman menceritakan jauh lebih banyak dari apa yang terlihat.

Pengunjung membaca tulisan-tulisan Sanento Yuliman yang dipamerkan di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). -Dok. portalteater.com.
Pengunjung membaca tulisan-tulisan Sanento Yuliman yang dipamerkan di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). -Dok. portalteater.com.

Pendapat-pendapat Sanento Yuliman yang berkisar dalam cerita tentang ketegangan- ketegangan akibat perubahan sosial di atas tidak pernah disampaikan dengan romantis dan mengasihani keadaan.

Dia tidak ingin jadi estetik. Tapi lebih kepada cerita tentang konsekuensi-konsekuensi kita menjadi modern dan alternatif untuk memahaminya.

Dalam hal ini metodenya mirip seorang antropolog namun dengan kekuatan deskripsi sensorik seorang kritikus seni.

Kalaupun ada kekurangannya, Sanento Yuliman terlalu melihat Indonesia sebagai fakta sosial esensial yang sudah terberi (given) dan tidak perlu diutak-atik.

Dia juga kurang melihat violence sebagai kontinuitas kultural dalam pembentukan bangsa ini yang banyak termanifestasikan dalam karya-karya kontemporer sebagai tema.

Demikian pula pendapatnya tentang kesenirupaan dalam pameran-pameran ASEAN. Padahal ada saja hal yang dapat ditanya misalnya elitisme ASEAN dalam kesenian sebagai showcase negara.

Apakah cukup kita memahami kondisi sosial budaya lewat pameran-pameran itu, atau bagaimana pun juga ASEAN belum memberikan kesempatan dalam menciptakan solidaritas selain sebuah ajang adu kekuatan.

Juga selalu ada gairah untuk bertanya tentang akar, keaslian, esensi dan kepastian.

Mungkin saya berbeda pendapat dengan Hendro Wiyanto, dkk., sebagai penyunting. Masalah-masalah identitas dan otentifikasi yang selalu dianggap perlu.

Untuk masa 1980-an mungkin ini sebuah tuntutan, namun pada masa kini justru kita harus bertanya lagi urgensi desakan itu.

Atau dalam hari ini kita perlu kepekaan sensorik yang baru melalui seni rupa?

Tidak lagi kepada urusan-urusan ideologi bangsa, kebinekaan dan keberagaman kultural tetapi kepada isu-isu krusial lain yang mengancam peradaban secara paripurna misalnya bencana karena perubahan iklim atau yang lain lagi?

Referensi:

Bautista, M. (2000). “The Social Sciences in the Philippines: Reflections on Trends and Developments”. Philippine Studies, 48(2), 175-208. Retrieved January 14, 2020, from www.jstor.org/stable/42634400.

Feliciano, Gloria D. (1984) “Philippines’, in Social Sciences in Asia and the Pacific”. Paris: UNESCO, pp. 468–501.

Fanon, Frantz. (1963). The Wretched of the Earth. New York : Grove Press.

Foucault, M., & Gordon, C. (1980). Power/knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977. New York: Pantheon Books.

Freire, Paulo. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Seabury Press.

Mattingly, C. (2012). “Two Virtue Ethics and the Anthropology of Morality”. Anthropological Theory, 12(2), 161–184.

*Penulis adalah antropolog yang mendalami ekspresi kultural masyarakat dalam relasi-relasi sosial historis yang melibatkan kehadiran sistem ekonomi, teknologi, dan kebijakan politik negara. ⁣Saat ini Iwan aktif sebagai peneliti di Forum Kajian Antropologi Indonesia dan mengurus Yayasan Serami Pirous sebagai ruang pamer dan diskusi Kesenian yang berada di Bandung. Tulisan ini merupakan paparan Iwan pada diskusi buku Sanento Yuliman, “Estetika yang Merabunkan”, Wacana Kritik Seni Rupa DKJ, Rabu, 15 Januari 2020, di Galeri Cipta II, TIM Jakarta.

Baca Juga

“CAGAK”: Berani Memilih Jalan yang Benar

Portal Teater - Jika seorang anak manusia dikondisikan untuk memilih salah satu dari dua pilihan beroposisi biner: kebaikan atau keburukan, maka ia akan memilih...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...