Menonton Penonton

Oleh: Danton Sihombing, Plt. Ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Portal Teater – Bercermin adalah sebuah aksi melihat dan dilihat, skala terkecil sebuah pertunjukan—mempertontonkan diri dihadapan cermin untuk ditonton oleh dirinya sendiri.

Teknologi mentransformasi praktik kecil ini menjadi ruang baru bagi individu untuk membangun citra dan persepsi di ruang publik, maka terbitlah selfie.

Cermin diri diunggah ke media sosial dengan sudut pandang yang direka sendiri guna memenuhi hasrat persepsi yang diharapkan. Tentu, menuai likes dan comments menjadi agenda utama.

Munculnya konsep ruang ketiga—antara rumah dan tempat bekerja atau belajar, mendorong interaksi sosial yang lebih luas, bukan lagi secara virtual, kehadiran fisik seseorang di sebuah ruang ketiga melahirkan gairah melihat dan dilihat yang sedikit banyak beralam “panggung” sebutlah di kafe, mal atau pusat kebugaran.

Tak jarang tempat-tempat tersebut menjadi ruang pertempuran ragawi, semacam laga penentuan siapa yang layak berkilau-kilau di atas panggung dan yang tumbang harus rela bertekuk lutut duduk di bangku penonton.

Entitas pertunjukan teater adalah sebuah operasi menonton dan ditonton yang telah dikonstruksikan. Entitas tersebut memiliki kandungan-kandungan empirik dan menawarkan pengalaman inderawi yang melahirkan konsep, tafsir, dan kesimpulan.

Modal kognisi dan bobot budaya dari penonton teater menentukan keberlangsungan interaksi antara lakon panggung dan penonton yang diikat oleh rentang waktu sebuah pertunjukan.

Apakah itu selanjutnya mampu mendistribusikan sebuah produksi pengetahuan atau proses perolehan pengalaman estetik, itu bergantung pada bagaimana penonton melibatkan peran kognitif secara aktif.

Festival Teater Jakarta (FTJ) yang lahir pada tahun 1973 dengan nama awal Festival Teater Remaja Jakarta, digagas oleh Wahyu Sihombing melalui Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Ikhtiar festival teater ini adalah pembinaan kelompok-kelompok teater di Jakarta secara simultan dalam jangkauan aspek kuantitatif dan kualitatif.

FTJ kini telah berusia tahun dan dalam perjalanannya melahirkan pembacaan-pembacaan baru, seperti di wilayah penonton teater, oleh karenanya keputusan kurasi FTJ meneropong tema “Drama Penonton” patut diapresiasi.

Mencuplik tulisan Wahyu Sihombing yang dipublikasikan dalam surat kabar harian Berita Yudha, edisi 25 Maret 1972, “Suatu kerja teater baru bisa berjalan apabila kontribusi artistik manusia ini disatupadukan dalam suatu kesatuan, yang dinamai pertunjukan…”

Sebagai ilustrasi bisa juga disebutkan di sini ucapan Gordon Graig, salah seorang pelopor teater modern yang mengatakan, seorang sutradara adalah seorang ahli ilmu kimia yang baik… Ia mengambil analogi dengan bahasa ilmu kimia dengan pengertian, seorang sarjana kimia yang baik harus pandai membuat perbandingan unsur-unsur kimia untuk memperoleh persenyawaan kimia yang baik”.

Cuplikan tulisan tersebut merepresentasikan praktik teater untuk sebuah pertunjukan dalam struktur kerja yang hirarkis, sutradara pemegang tampuk pimpinan.

Kelompok kerja tersebut mengambil posisi sebagai internal stakeholder dalam sebuah medan teater. Bergesernya pranata-pranata sosial maka kemudian praktik teater menempatkan penonton sebagai external stakeholder, menjadi organisme penting dalam ekosistem teater.

Akibat-akibat yang timbul adalah peralihan relasi struktural dan interdependensi antara pelaku teater dan penontonnya, beranjak dari hirarkis menjadi heterarkis, tak lagi piramidal namun berjejaring, terjadi sirkulasi yang fleksibel, transparan, dan akuntabel.

FTJ yang basis geografisnya adalah wilayah administrasi kota Jakarta selayaknya memang menginisiasi pembacaan kota Jakarta dalam konteks aspirasi-aspirasi masa lalu (hindsight), kini (insight), dan masa depan (foresight).

Pembacaan tersebut sebagai modal yang akan memperkokoh variabel-variabel survei penonton, terutama yang terkait dengan tingkat awareness (pengetahuan dan pemahaman), persepsi hingga loyalitas penonton terhadap genre-genre teater tertentu dan kelompok-kelompok teater.

Bagaimana kini FTJ melakukan penggalian mendalam terhadap segmen geografis, demografis, psikografis, dan perilaku penonton akan turut menentukan dinamika dan keberlangsungan ekosistem teater selanjutnya.

*Artikel ini telah dimuat pada Katalog Festival Teater Jakarta 2019.

Baca Juga

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Mohammad Yusro Kembali Terpilih Jadi Ketua Itera

Portal Teater - Musyawarah Besar Ikatan Teater Jakarta Utara (Itera) 2020 kembali menunjuk Mohammad Yusro menjadi Ketua Itera periode 2020-2023. Sebelumnya jabatan ini dipegang...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Terkini

Jelang Pameran, Julian Rosefeldt Kuliah Umum “Manifesto”

Portal Teater - Tiga hari menjelang pameran, seniman dan pembuat film asal Jerman Julian Rosefeldt akan memberikan kuliah umum bertemakan "Manifesto", judul dari karya...

FTP 2020: Ruang Bagi Generasi C Bereksplorasi

Portal Teater - Sepuluh tahun lalu, Dan Pankraz, peneliti dan Direktur Perencanaan/Strategi Pemuda pada DBD Sydney, Australia, pernah mengatakan, Generasi C (Gen C) bukanlah...

Lestarikan Budaya Betawi, Sudin Kebudayaan Jaksel Bina 60 Sanggar Seni

Portal Teater - Untuk memperkuat ekosistem kesenian kota berbasis komunitas, Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Selatan memfasilitasi pembinaan bagi 60 sanggar seni di Hotel...

Dewan Kesenian Jakarta Minta Anies Kaji Ulang Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menyusul polemik yang mengemuka di ruang publik, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akhirnya meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengkaji ulang proyek revitalisasi...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...