Menyeruaknya Isu Kapitalisasi Ruang Kesenian

Portal Teater – Belakangan isu kapitalisasi ruang kesenian oleh pemerintah dan pihak-pihak non-kesenian menyeruak ke permukaan. Isu tersebut tampak berhembus makin kencang karena sudah menyebar dan melanda beberapa daerah di Indonesia.

Di ibukota negara, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengkapitalisasi ruang kesenian dengan berencana membangun hotel bintang lima dalam proyek revitalisasi yang digagas sejak tahun 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM).

PT. Jakarta Propertindo (Jakpro) ditunjuk untuk mengelola revitalisasi TIM, sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur No.63/2019.

Pembangunan revitalisasi pusat kesenian yang didirikan pada 1968 oleh Gubernur Ali Sadikin ini menghabiskan dana sebesar Rp1,8 triliun.

Secara politik, pembangunan ini menunjukkan kehendak politik Gubernur Anies untuk menopang aktivitas kesenian di ibukota dengan menyediakan fasilitas yang lebih lengkap.

Selain itu, Gubernur Anies juga memiliki mimpi besar untuk menjadikan TIM sebagai hub kesenian Asia Tenggara.

Namun demikian, gagasan dibangunnya hotel mewah di TIM dianggap tidak wajar oleh sejumlah seniman yang kemudian tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM.

Bagi para seniman, keberadaan hotel mewah di TIM justru menciptakan stratifikasi dalam kerja kesenian, di mana seniman yang manula dan “on progress” akan tidak memiliki tempat di TIM.

Yang kemudian bergiat di TIM dan menikmati fasilitas mewah seperti hotel, menurut mereka hanya dinikmati oleh seniman lokal atau mancanegara yang bermodal besar.

Apalagi, manajemen pengelolaan TIM diserahkan kepada Jakpro yang adalah perusahaan plat merah daerah, yang tentu berorientasi pada industri dan bisnis.

Itu berarti, seniman yang berkantong tipis, baik dari Jakarta maupun dari kota lain di Indonesia, tidak bisa menyewa fasilitas hotel dan barangkali lebih memilih tinggal atau menginap di lokasi terdekat TIM.

Sebagai bentuk penolakan, para seniman menggelar beberapa aksi di sekitaran TIM pada beberapa event yang digelar Pemprov DKI Jakarta dan juga Dewan Kesenian Jakarta sejak akhir tahun lalu.

Dalam aksinya, para pegiat seni mengusung tajuk #Save TIM dan menutup sebelah mata, untuk menunjukkan bahwa Pemprov DKI Jakarta memandang ‘sebelah mata’ kegiatan kesenian di TIM.

Terakhir, para seniman menggelar aksi massa yang lebih besar di Balai Kota Jakarta pada akhir tahun lalu.

Sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar aksi massa di Balai Kota Jakarta beberapa waktu lalu. -Dok. Tewel Seketi.
Sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar aksi massa di Balai Kota Jakarta beberapa waktu lalu. -Dok. Tewel Seketi.

Pemprov Gagal Paham

Salah satu seniman dari Froum Seniman Peduli TIM, Madin Tyasawan, menilai, kebijakan revitalisasi TIM merupakan “kehendak politik” Gubernur Anies yang patut diapresiasi.

Tapi ketika disertai pembangunan hotel dan menyerahkan pengelolaan TIM ke Jakpro, itu berarti Gubernur memiliki niat untuk mengkomersilkan TIM.

“Menganggap TIM sebagai pos, sebagai beban biaya, yang perlu balik modalnya dan mendapat keuntungan,” katanya dalam sebuah video yang diunggah pada Sabtu (21/12/2019).

Menurut mantan Ketua Komite Teater DKJ itu, Gubernur Anies tidak pernah memahami TIM sebagai investasi peningkatan sumber daya manusia yang beradab dan berbudi luhur, demi menjaga peradaban kemnausian dan pelestarian kebudayaan.

Termasuk juga Gubernur Anies gagal memahami peta perkembangan kesenian dan ekosistemnya di Jakarta.

“Di sinilah gagal pahamnya seorang Gubernur yang tidak mengerti sejarah berdirinya TIM, bagaimana marwah TIM dan tidak paham bagaimana orientasi aktivitas kesenian di TIM,” tandasnya.

Selain di Jakarta, baru-baru ini, isu yang sama terjadi di Jawa Barat ketika Gubernur Ridwan Kamil menggagas dibangunnya waterboom di Pondok Seni di kawasan wisata Pangandaran.

Kang Emil berniat menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kegiatan ekonomi kreatif yang dapat memberi pemasukan bagi masyarakat dan juga Pemprov Jabar.

Namun rencana tersebut mendapat penolakan dari kalangan seniman dan budayawan Jabar yang beranggapan Pemprov telah mengintervensi kegiatan kesenian masyarakat.

Para pegiat seni meminta agar Kang Emil berbincang terlebih dahulu mengenai konsep yang tepat dalam membangun wisata air tersebut.

Selain di Jabar, di Sulawesi Selatan pada akhir pekan lalu, sejumlah seniman juga menolak rencana pengalihfungsian Gedung Kesenian Societeit Royale de Harmonie menjadi Sekretariat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulsel.

Rencana tersebut dihembuskan oleh KNPI Sulsel yang berniat menjadikan pusat kesenian Kota Daeng tersebut sebagai markasnya.

Meski isu tersebut kemudian ditepis Gubernur Nurdin Abdullah, para seniman mencurigai gagasan tersebut berasal dari pihak-pihak yang berafiliasi langsung dengan Pemprov Sulsel.

Seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar aksi penolakan terhadap revitalisasi TIM dengan dibangunnya hotel bintang lima. -Dok. Tewel Seketi.
Seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar aksi penolakan terhadap revitalisasi TIM dengan dibangunnya hotel bintang lima. -Dok. Tewel Seketi.

Kapitalisasi Ruang untuk Industri

Menurut Barker (2009), ruang adalah konstruksi dan materialisasi relasi sosial yang mengungkapkan asumsi dan praktik budaya.

Dalam lingkungan perkotaan, tidak jarang negara, atau dalam hal ini melalui pejabat pemerintahan, merekstrukturisasi ruang untuk perluasan kapitalisme industri.

Karena itulah Harvey (1989) memandang, negara atau pemerintah telah memainkan peran dominan dalam reproduksi kapitalisme dan pembentukan lingkungan perkotaan.

Melalui strategi geografis, pemerintah andil dalam menentukan siapa yang memiliki hak untuk mendiami gambaran dominan kota.

Apa yang dilakukan, baik oleh Gubernur Anies di Jakarta, maupun Ridwan Kamil di Jabar dan Nurdin Abdullah di Sulsel, merupakan salah satu bentuk strategi geografi yang dimainkan untuk memperluas kapitalisme industri dan politik.

Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran simbolis dalam benak masyarakat bahwa pemerintah pada struktur dominasi berhak menguasai segala ‘ruang’ dalam kehidupan masyarakat.

Yang belum terpikirkan adalah apakah kapitalisasi ruang tersebut akan memberdayakan pelaku seni, atau malah mendiskriminasikan kegiatan kesenian yang justru menjadi peletak dasar investasi sumber daya manusia.

Jika tidak, maka gagasan-gagasan tersebut bertolak belakang dengan rancangan jangka panjang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang menekankan pentingnya aktivitas kesenian bagi pembangunan SDM Indonesia.

Menteri perwakilan milenial itu pun berniat mengembangkan lebih banyak ruang kesenian, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat, agar indeks pembangunan manusia Indonesia kian membaik.

Bilamana ruang-ruang kesenian telah dikapitalisasi dan dikerdilkan oleh pemerintah sendiri, bagaimana nasib proses kreatif kesenian di masa depan?

Dan yang lebih penting, bagaimana dengan prospek pembangunan SDM menyongsong perayaan emas kemerdekaan sebagaimana menjadi visi pemerintah pusat saat ini?*

Baca Juga

Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater - Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap...

Bamsoet Ajak Milenial Nonton “Panembahan Reso” Mahakarya Rendra

Portal Teater - Masterpiece dramawan WS Rendra, "Panembahan Reso", akan dipentaskan ulang oleh kolaborasi GenPI.Co, JPNN.Com, Ken Zuraida, dan BWCF Society. Lakon yang menjadi buah...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Terkini

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...