Merawat Ketahanan Budaya Lewat Etno Musik Festival

Portal Teater – Seorang laki-laki paruh baya, berusia sekitar 50-an, duduk berlipat kaki di tengah-tengah panggung pertujukan musik Ensemble Mebran yang dibawakan oleh Banten Ensemble Percussion (BEP) asal Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dengan microphone di depannya, Satra memekikkan “beluk” dengan artikulasi “o”, “a” dan “i” yang kian melengking. Sedang ketujuh pemusik perkusi yang semuanya adalah anak-anak muda mengiring-iringi perlahan seni suara khas Sunda tersebut.

Sesekali seorang pemusik muda lainnya terlihat begitu atraktif memukul bedug dan dan gendang yang ada di depannya. Irama-irama musik perkusi: rebana, bedug, dan kendang diperagakan dengan apik para pemusik.

Seperti sedang mendengar azan, penonton yang memenuhi Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada Minggu (8/9) dibuat terpukau oleh kepiawaian kolaboratif antara sang penyanyi dengan pemusik yang dipimpin oleh Endang Suhendar tersebut.

Itulah pentas kedua pada malam pembukaan Etno Musik Festival yang digagas Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, setelah sebelumnya ada pentas Keroncong Irama Jakarta oleh Irama Jakarta (DKI Jakarta)⁣.

Pentas musik tradisi Keroncong Irama Jakarta oleh Irama Jakarta (DKI Jakarta)⁣. -Dok. Eva Tobing dan Rosa Panggabean/DKJ.
Pentas musik tradisi Keroncong Irama Jakarta oleh Irama Jakarta (DKI Jakarta)⁣. -Dok. Eva Tobing dan Rosa Panggabean/DKJ.

Dalam pentasnya, Irama Jakarta melantunkan enam tembang keroncong khas Betawi yang dibawakan oleh vokalis Sri Agustina dan Firda Isnain Nabila. Permainan selo (Tan Kim Sian), gitar (Fajar Bagus), biola (Konco), ukulele (Nicolaus Ola), contra bass (Yunus Kailuhu) dan flute (Kelik S. Ponco) mengiringi dengan harmoni lagu-lagu tersebut.

Keroncong Irama Jakarta yang lahir dari rasa keprihatinan akan eksistensi Keroncong Betawi di era modern, terbentuk pada tahun 1996. Keroncong Betawi sendiri adalah musik keroncong yang berirama riang, dengan tempo yang lebih cepat dan enerjik dibandingkan musik-musik keroncong yang berkembang di Jawa selama ini.

Pada zaman penjajahan Belanda, keroncong Betawi didominasi oleh kalangan tertentu karena instrumen musiknya adalah suatu barang mahal kala itu.

Pertunjukan kedua kelompok musik tradisi asal Banten dan Jakarta tersebut berlangsung pada pukul 20.00-21.30 WIB. Seusai pentas terdengar tepukan tangan meriah dari penonton untuk memberikan dukungan dan apresiasi terhadap penampilan masing-masing.

Seni Suara Beluk

“Beluk” sendiri adalah suatu jenis  nyanyian yang terdapat secara luas dalam wilayah budaya Sunda. Beluk banyak dinyanyikan laki-laki, dengan banyak memakai “suara kepala”, sehingga perpindahan antara suara normal dan suara kepala itu menciptakan liukan melodi atau loncatan-loncatan nada dan timber (warna suara) yang sangat kentara.

Lengkingannya panjang, yang umumnya dilakukan dalam satu tarikan nafas. Para penyanyi seolah berlomba untuk bisa mencapai nada setinggi-tingginya dengan nafas yang sepanjang-panjangnya.

Pertunjukan beluk adalah peristiwa komunal, bersifat sosial atau kekeluargaan yang khas dalam sistem kehidupan pedesaan, terutama di masyarakat petani di daerah Sunda. Biasanya beluk diselenggarakan di dalam rumah, berupa kenduri kecil untuk syukuran panen, khitanan, kelahiran bayi, dll.

Seorang laki-laki menyanyikan beluk dalam pentas musik Ensemble Membran Banten.-Dok. Eva Tobing dan Rosa Panggabean/DKJ.
Seorang laki-laki menyanyikan beluk dalam pentas musik Ensemble Membran Banten.-Dok. Eva Tobing dan Rosa Panggabean/DKJ.

Selain di Sunda, beluk juga sebenarnya terdapat di pelbagai wilayah lain, seperti yang disebut “bujangga” di Indramayu, “macapat” di Cirebon, di Jawa Tengah dan Yogyakarta, “mocoan” di Banyuwangi, “kakawin” di Bali, “cepung” di Lombok, dan masih banyak lagi.

Dengan ini, warisan leluhur berupa beluk agaknya masih terawat baik di banyak kebudayaan, meski kehadiran teknologi sedikit menggeser pola konsumsi masyarakat Indonesia modern.

Demikian pula dengan visi pembentukan BEP pada tahun 2017, yang bertujuan mengeksplorasi karya-karya agar seni tradisi tetap ada di hari nurani generasi milenial yang terkesan “gengsi” dengan budaya daerah.

Untuk Ketahanan Budaya

Etno Musik Festival 2019 resmi dibuka pada Minggu (8/9), pukul 19.30 WIB di Lobby Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Deputi Gubernur Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DKI Jakarta Oswar Muadzin.

Seusai pemukulan gong, penampilan oleh 16 grup partisipan yang diberi tajuk “Rampak Nusantara” turut memeriahkan seremoni pembukaan tersebut. Berikut dua pentas musik oleh Banten Ensemble Membran dan Irama Jakarta.

Sebelumnya, ada Press Gathering yang menandai pembukaan Etno Musik Festival. Pada kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan turut hadir dan menyapa para penampil yang telah berpartisipasi dalam event perdana tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyapa para penampil Etno Musik Festival. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyapa para penampil Etno Musik Festival. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Gubenur Anies tidak bisa mengikuti seremoni pembukaan dan pemukulan gong karena sedang menghadiri konser Jakarta Simfonia Orchestra & Jakarta Oratorio Society di Monumen Nasional Jakarta.

Dalam sambutannya, Oswar Muadzin menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap penyelenggaraan Etno Musik Festival yang diprakarsai Komite Musik DKJ tersebut.

Sebab event tersebut pada dasarnya merupakan salah satu bentuk apresiasi kesenian yang bertujuan untuk melestarikan, mempromosikan, serta mempopulerkan musik tradisi Nusantara, baik di dalam dan luar negeri. Dengannya, pemusik Nusantara dapat bertukar pengalaman satu sama lain dan diperkaya.

Oswar pun berharap, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kebanggan dan keperdulian insan seni dan budaya Nusantara, termasuk generasi muda dan masayarakat terhadap kesenian tradisional,  termasuk juga kesenian tradisional Betawi.

“Dalam pameran, misalnya, kita bisa melihat musik-musik tradisi dapat meningkatkan pengetahuan dan edukasi pada generasi muda,” katanya.

Pemilihan Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta, bagi Oswar sangat tepat, karena TIM menjadi salah satu benteng pelestarian dan pengembangan khazanah musik tradisional, termasuk musik Betawi.

Lebih dari itu, sebagai perwakilan pemerintah, Oswar pun berharap agar event ini memberikan kontribusi positif terhadap “ketahanan budaya” warga Nusantara, dan khususnya Jakarta.

Karena Jakarta merupakan pusat dari semua kegiatan kesenian Nusantara, ibukota dan serta pusat budaya nasional dan juga internasional.

“Kami berharap event ini dapat dipertahankan dan menjadi agenda penting dan bisa dijalankan tiap tahun, tidak saja di Jakarta tapi juga di kota-kota lain di Indonesia,” ungkapnya.

Hal yang sama dituturkan Ketua Komite Musik DKJ Otto Sidharta dalam sambutannya, yang berharap agar event ini dapat dilakukan secara berkala dan menjadi event tahunan agar semua musik dari seluruh wilayah Nusantara mendapatkan kesempatan untuk tampil.

Hadirkan Paradewa Instruments

Untuk mengisi galeri pameran, Komite Musik DKJ bekerjasama dengan Paradewa Instruments, sebuah lembaga profit yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN).

Di sepanjang lorong Lobby GBB TIM Jakarta terpajang aneka produk alat musik hasil koleksi punggawa Paradewa Instruments, Endo Suanda, mulai dari bedug, gitar, kecapi, violin, dan ragam alat musik lainnya dengan bahan dasar produksinya dari bambu.

Sementara pada lantai dua Gedung GBB TIM Jakarta dipajang hasil koleksi Anusirwan dengan bahan dasar produk alat musiknya berasal dari kayu.

Pajangan-pajangan tersebut seolah membawa dua nuansa sekaligus, natural sekaligus kultural.

Para pengunjung pun tidak hanya melihat-lihat bentuk varian alat musik tersebut, tetapi juga berfoto selfie di depan alat-alat musik. Ada kesan pergeseran dan sublimasi identitas, bukan hanya dalam diri pengunjung, melainkan juga pada alat-alat musik tersebut.

Bahwa ada pengalihan hasrat psikologis yang bersifat primitif dari pengunjung ke perilaku konsumsi baru oleh kehadiran teknologi. Begitu pula, alat-alat musik itu telah berubah identitasnya di hadapan pengunjung; ia telah mengalami perubahan ke arah yang lebih tinggi dari sekedar instrumen menjadi objek konsumsi publik.

Seorang pengunjung sedang melihat-lihat pameran alat musik tradisi di Lobby GBB TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com
Seorang pengunjung sedang melihat-lihat pameran alat musik tradisi di Lobby GBB TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com

Staf Marketing LPSN Octo Ahadi menuturkan, Paradewa Instruments adalah salah satu bengkel alat musik yang fokus pada penggunaan bambu sebagai bahan pembuatan alat-alat musik, baik tradisional maupun internasional.

Bambu memang terkenal memiliki kelebihan dari segi kelenturan dan kekuatan bila dibandingkan dengan bahan lain seperti kayu. Sekaligus, kata Octo, bambu adalah bahan yang paling ramah lingkungan dibandingkan kayu.

Dengan asumsi bahwa dalam setahun ada 1 miliar produk alat musik yang terbuat dari kayu, maka bisa dibayangkan berapa banyak hutan yang dirusak untuk kepentingan industri musik tersebut.

“Itu berbeda dengan bambu, yang proses regenerasinya berlangsung lebih cepat, yaitu memakan waktu hanya 8 tahun. Sedangkan kayu memakan waktu hingga ratusan tahun,” paparnya.

Berbasis di Kota Bogor, Paradewa Instruments atau yang dikenal dengan nama Bengkel Alat Musik Bambu (BAMB), memproduksi ragam alat musik dawai seperti gitar akustik, gitar elektrik, biola, kecapi, ukelele, cak cuk, gitar gambus, selo hingga bedug.

Sebenarnya usaha pembuatan alat musik dari bambu tersebut sudah berjalan beberapa tahun belakangan, namun tidak untuk dikomersilkan karena fokusnya lebih kepada edukasi dan kampanye terhadap lingkungan.

Tahun ini, Paradewa Instruments baru mulai menjajal pasar industri musik untuk menjual karyanya secara komersil.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...