Merayakan Hari Teater Dunia Di Tengah Corona

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Keprihatinan yang mendalam saya sampaikan kepada seluruh rekan teater Indonesia yang sejak Februari 2020 harus membatalkan atau mengundurkan waktu pertunjukkan.

Hal itu mengingat adanya aturan pemerintah yang mewajibkan warganya menjaga jarak dan menghindari keramaian/kerumuna akibat wabah virus corona (Covid-19) yang sedang menyerang dunia.

Tanpa mengurangi rasa khidmat hari ini yang telah dijadikan Hari Teater Dunia (Hatedu), saya sejak bangun tidur dan berjemur matahari sambil merenungi perjalanan hidup saya di jagad teater sejak mengenal teater di tahun 1959.

Ketika itu saya duduk di Kelas 2 SMP Bintang Laut Solo, Jawa Tengah. Lebih dari 50 tahun saya aktif hingga kini tiada henti. Teater telah menjadi kehidupan saya bagai nafas sepanjang hidup.

Model novel virus corona (Covid-19). Virus ini lebih mematikan daripada influenza, SARS, MERS atau Ebola. -Dok. msn.com
Model novel virus corona (Covid-19). Virus ini lebih mematikan daripada influenza, SARS, MERS atau Ebola. -Dok. msn.com

Teater adalah Pilihan

Tiap tahun memperingati Hatedu selalu yang saya rasakan adalah rasa bangga dan prihatin masih mampu berkarya tanpa mengeluhkan keadaan negeri saya.

Berkarya teater sudah menjadi pilihan tanpa ada yang menyuruh kenapa harus menyalahkan pihak lain jika kita banyak kesulitan untuk berkarya?

Saya selalu ingat betapa bangsa ini memiliki daya juang untuk merebut kemerdekaannya dari penjajah ratusan tahun. Terasa sekali kita memiliki jiwa “petarung” yang tangguh.

Kesadaran inilah yang membuat saya harus bekerja sekuat tenaga memandang ke depan hingga mencapai tujuan.

Bicara soal tujuan, saya sering merenung dan bertanya pada diri saya; apakah kini sudah tercapai tujuanmu? Belum; jawab hati kecilku lirih. Maka saya masih harus terus bergerak menuju titik keemasan itu.

Sedang Bangkit

Namun saya sudah bisa melihat bahkan menikmati sebuah kehidupan teater yang sedang bergerak di tanah air.

Hampir tiap hari ada pementasan di kota-kota di Indonesia baik dalam skala kecil hingga besar. Pertunjukkan dengan gratis tiketnya hingga yang dijual jutaan rupiah. Yang tanpa sponsor hingga yang bersponsor besar.

Kita bisa baca kabar gembira ini di media mainstream dan media sosial tiap hari. Lebih sekadar pentas masih banyak juga yang membuat festival atau lomba-lomba pentas teater mulai dari tingkat pelajar hingga umum.

Ini sungguh menggembirakan mengingat sepanjang pemerintahan Orde Baru begitu susah payah sebuah karya teater bisa dipentaskan.

Saya masih ingat ketika tahun 1980-an bertemu Farida Syuman, Direktur Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), meminta kami pentas di GKJ.

Saya menjawabnya: kan Jakarta banyak grup teater. Dia menimpali: Jakarta justru sangat sepi pentas teater apalagi untuk anak anak. Saya terkejut sekali. Akhirnya saya pun pentas di GKJ khusus untuk penonton anak anak.

Ini barangkali salah satu keprihatinan saya betapa zaman itu memang sangat tidak mudah berproduksi teater hingga bisa naik panggung.

Wahyu Sihombing. -Dok. indonesianfilmcenter.com
Wahyu Sihombing. -Dok. indonesianfilmcenter.com

Awalnya Masih Sepi

Pada masa lalu, di sekolah belum ada yang berani membuka ekskul teater. Ketika Wahyu Sihombing memulai adakan Festival Teater Remaja tahun 1970-an masih sangat sepi peminatnya karena memang masih awal dan belum eksis kegiatan tersebut.

Saya melatih teater Sebul (SMAN 11 Bulungan, Jakarta Selatan) dengan sutradara Saraswaty Sunindyo yang kini menjadi profesor di sala satu perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Yang membanggakan, Saraswaty lulus FISIP Universitas Indonesia dengan juudl skripsinya diambil dari drama Mega Mega karya Arifin C. Noer yang membuatnya tertarik selepas pulang keliling pertama Teater Keliling.

Demikian pula ketika melatih teater di SMAN 21 Jakarta, juga menjadi sebuah kegiatan di luar sekolah. Latihan pun di lapangan memanah Pulomas, di depan sekolah.

Saya terharu ketika siswa peserta yang cukup banyak jumlahnya, lebih dari 15 siswa siswi, patungan uang untuk membantu biaya transport saya dan guru pembina mereka di bidang Bahasa Indonesia yang masih status guru honorer.

Guru tersebut menangis ketika ikut lomba teater se-Jakarta Timur dan keluar sebagai juara pertama, pemain wanita terbaik, dan artistik terbaik. Usaha keras siswa bersama sang guru menghasilkan nilai yang membanggakan.

Boleh dikatakan itu semua adalah usaha para siswa dan bukan usaha sekolah mereka.

Begitu juga ketika melatih di SMAN III Jakarta yang dimotori dua putri Takdir Alisyahbana yang hanya berjalan setahun dan selanjutnya hilang karena memang tak ada dukungan sekolah.

Dari keadaan Orde Baru itu saya belajar untuk hidup yang sabar dan tetap bergerak walau harus lambat karena selalu mencari jalan yang tidak menyakiti siapapun.

Bukan berarti tidak peduli pada keadaan politik yang mencekam saat itu. Kritik tetap dilakukan di panggung namun dikemas dalam bahasa yang indah karena seni teater adalah keindahan betapapun kerasnya kritik namun daya sentuhnya tetap dengan kasih sayang sehingga tumbuh kesadaran.

Dari Djajakusuma saya banyak belajar ilmu pewayangan khususnya tokoh punokawan yakni Semar Gareng Petruk Bagong.

Dewa yang dikirim ke dunia untuk menjadi pembantu para pandawa dan selalu muncul membawa pesan-pesan kemanusiaan dalam gaya komedi situasi yang lucu namun penuh sentuhan kritik yang cukup tajam.

Saraswaty Sunindyo. -Dok. youtube.com
Saraswaty Sunindyo. -Dok. youtube.com

Kembali Kepada Kebersamaan

Hatedu tahun 2020 menjadi hari peringatan yang membawa pesan kemanusiaan yang mulia. Bersama wabah corona mengingatkan bahwa yang namanya bersama dalam kebersamaan perlu kembali dilakukan.

Tak perlu penelitian, seminar berhari-hari karena keputusan hidup gotong royong harus secepatnya dilakukan. Orang seberang bilang “Now or never”.

Pesan untuk semua melakukan jaga jarak, kerja-belajar di rumah, cuci tangan adalah pesan yang mudah diucapkan, namun ternyata tidak mudah mendisiplinkan diri untuk itu. Alhasil begitu besar korban kematian harus terjadi.

Renungan Hatedu tahun ini bagi saya sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi, politik ternyata tidak sulit diatasi. Justru yang paling sulit rumit dan berat tantangannya adalah yang menyangkut “kultur”.

Petugas medis merawat seorang pasien yang terinfeksi virus corona atau COVID-19 di sebuah rumah sakit di Teheran, Iran, Minggu (1/3/2020). -Dok. Ali Shirband/Mizan News Agency via AP.
Petugas medis merawat seorang pasien yang terinfeksi virus corona atau COVID-19 di sebuah rumah sakit di Teheran, Iran, Minggu (1/3/2020). -Dok. Ali Shirband/Mizan News Agency via AP.

Salah satu contoh dalam keadaan corona yang mengganas masih saja dengan mudah menyalahkan orang lain atau penguasa hanya karena lawan politik.

Satu contoh yang sedang melanda kita di tengah peperangan melawan Covid-19, yaitu ketika para polisi harus mengawasi dan berusaha menangkap para penebar kebencian dengan berita hoaks tentang corona.

Saya mohon berhentilah cari kesalahan tapi bantu cari solusi dan jika tidak mampu minimal kirim doa. Ingatlah yang berjibaku di garis depan yakni para dokter dan perawat yang rentan tertular namun tetap siap “mati” menjalankan tugas.

Kini dari rumah isolasi saya, karena termasuk barisan lansia, saya berteriak nyaring kepada seluruh teman-teman yang masih bergerak di teater ataupun yang sudah perlu pensiun: “banggalah bahwa teater Indonesia sedang bangkit”.

Salam jabat erat. Merdeka teater.

Selamat merayakan Hari Teater Dunia 2020.

*Penulis adalah pendiri dan sutradara Teater Keliling berbasis Jakarta. Sahabat teater dapat menghubungi beliau lewat email: pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

Membaca “Ditunggu Dogot”: Berkhidmat dan Mengakrabi Penonton

Portal Teater - Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno, membacakan naskah “Ditunggu Dogot” ditemani penulis naskah Sapardi Djoko Damono dan Yola Yulfianti (sutradara). Pembacaan...

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...