Merayakan Suara Melanesia yang Langka Lewat “Planet-Sebuah Lament”

Portal Teater – Pementasan kontemporer berbaju tradisi, “Planet-Sebuah Lament”, karya Garin Nugroho selama dua hari pada akhir pekan lalu, Jumat-Sabtu (17-18 Januari), berhasil menghibur dan memukau warga Kota Jakarta dan sekitarnya.

Tidak hanya untuk menghibur, pentas perdana (world premiere) yang memadukan teater rakyat, musik, tari, nyanyian dan video mapping ini berniat mengeksplorasi kekayaan budaya Melanesia yang amat langka tampil di panggung nasional maupun internasional.

Sutradara pertunjukan Garin dalam pengantar singkat jelang pementasan mengatakan, selama ini kekayaan dan bakat-bakat masyarakat Indonesia Timur, terutama dari Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga Papua belum begitu banyak digali.

Padahal, ada begitu banyak unsur kesenian, terutama kesenian tradisi (rakyat) yang menjadi penanda indentitas kultural masyarakat di wilayah ini. Sebut saja, kekayaan musik, tari dan nyanyian.

Lewat karya terbarunya, maestro seni yang telah mendapat penghargaan di sejumlah ajang film internasional ini berikhtiar memberi ruang bagi pengeksplorasian “sura-suara” dari bakat dan kekayaan yang ada.

“Bagaimana melihat Indonesia Timur semestinya diberi ruang publik; tidak hanya menjadi jargon politik karena pada mereka ada bakat-bakat dan kekayaan budaya serta ekspresi yang luar biasa,” katanya di Teater Besar, Taman Ismail Jakarta, Jumat (17/1) malam.

Garin menuturkan, dalam pertunjukan tersebut, ada banyak lagu dan musik yang ditampilkan melalui aliran harmoni paduan suara Mazmur Chorale Choir asal Kupang, NTT, kelompok koor yang pernah memenangkan World Choir Games 2014 di Latvia.

Lagu-lagu berjenis pentatonis itu, kata Garin, telah ditransliterasikan ke dalam bentuk choir tertulis, karena sebelumnya merupakan sebuah tradisi lisan. Pengerjaannya memakan waktu hingga dua tahun lebih.

“Pentas ini merefleksikan bakat-bakat mereka yang begitu langka pentas di panggung yang lebih besar. Lagu-lagu ini dipilih dari wilayah Kupang di Provinsi Nusa Tenggara Timur, hingga Papua, dari desa-desa,” ujarnya.

Garin Nugroho foto bersama para pemain "Planet Sebuah Lament" di TIM Jakarta. -Dok. kompas.com
Garin Nugroho foto bersama para pemain “Planet Sebuah Lament” di TIM Jakarta. -Dok. kompas.com

Konsep Tablo “Semanta Santa”

Dalam tradisi Gereja Larantuka di Flores Timur, NTT, ada satu prosesi atau perayaan mengenang wafat Yesus (Kristus) yang disebut sebagai “Semana Santa”. Tradisi itu telah hidup dan dirayakan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Yang ikonik dari prosesi tersebut bukan hanya mengenai kesakralan ritual gerejawi, tapi juga satu adegan di mana para ibu meratapi jenazah Yesus yang telah meninggal pada tiap stasi atau perhentian jalan salib.

Pada tiap perhentian, terdengar ratapan suara keibuan penuh haru, seperti di tempat lain kita mendengar ratapan ketika orang-orang menangisi kematian seseorang yang dicintainya. Di NTT dan beberapa tempat lain masih terdapat tradisi semacam itu.

Garin pun mengambil referensi tablo perayaan “Semanta Santa” itu untuk memberikan kekuatan pada tubuh pertunjukannya. Di mana tiap babak dinarasikan melalui paduan suara yang harmoni, berirama dan indah.

Untuk memperdalam artistik pertunjukan, Garin juga menerapkan konsep visual dengan memasukkan unsur film pendek dengan masing-masing 3-5 menit.

Ada empat film pendek dalam pertunjukan ini yang berfungsi sebagai ruang dan waktu, simbolisasi jalan salib dan representasi bumi atau planet.

Selain itu, Garin juga membetuk ruang pertunjukan membentuk sebuah laptop besar, penanda dunia yang terkomputerisasi, sementara pada papan keyboard-nya (lantai panggung) para pemeran beraksi.

Selebihnya, berbalutkan tubuh Melanesia yang didominasi oleh ratapan atau lamentasi, Garin bermaksud mengetuk nubari manusia untuk merenungi, mengisahkan dan membangkitkan kesadaran untuk merawat alam, bumi tempat berpijak.

“Pementasan ini adalah sebuah lament, nyanyian duka, yang patut kita renungi bersama,” tuturnya.

Adapun naskah pertunjukan ditulis oleh Michael Kantor, sutradara teater dan opera kenamaan Melbourne, Australia, yang mengangkat isu lingkungan hidup.

Paduan suara mazmur Chorale Choir asal Kupang melantunkan ratapan penuh harmoni dalam pentas "Planet Sebuah Lament" karya dan sutradara Garin Nugroho di TIM Jakarta. -Dok. kompas.com
Paduan suara mazmur Chorale Choir asal Kupang melantunkan ratapan penuh harmoni dalam pentas “Planet Sebuah Lament” karya dan sutradara Garin Nugroho di TIM Jakarta. -Dok. kompas.com

Kombinasi Tubuh, Musik dan Tari

Pertunjukan ini mengusung perpaduan budaya Melanesia dengan mengkombinasikan elemen pergerakan tubuh, tari dan musik dari tradisi NTT hingga Papua dengan gerak tablo dan tubuh kontemporer yang dikoreografi Otniel Tasman dan Boogie Papeda.

Ada enam penari dalam pentas, yaitu Boogie Papeda, Douglas D’Krumpers, Pricillia EM Rumbiak dan Bekham Dwaa dari Papua; dan Rianto (Solo) dan Galaby Thahira (Jakarta).

Sementara itu, tiap gerakan ritmik para penari diiringi musik yang digarap oleh tiga komposer muda, yaitu Septina Layan, Taufik Adam, dan Nursalim Yadi Anugerah.

Musik tersebut kemudian dilengkapi dengan lantunan suara merdu dari Mazmur Chorale Choir yang dipilih melalui proses seleksi sejak akhir tahun 2018. Anggota paduan suara ini berjumlah 14 orang: 7 laki-laki dan 7 perempuan.

Dalam penampilan mereka, para penari mengenakan kostum tradisional khas Indonesia Timur, khususnya Papua, yang digabungkan dengan elemen kontemporer.

Sementara anggota paduan suara mengenakan kostum yang ditata khusus untuk menggambarkan ekspresi yang terjadi pada lakon di atas panggung. Kostum mereka merupakan pakaian sehari-hari sehingga tampak tidak seragam.

Kostum para pemain ini digarap oleh Anna Tregloan dari Australia yang sekaligus juga berperan sebagai skenografer dalam pertunjukan ini.

Properti lain yang digunakan sebagai narasi pertunjukan diproyesikan di telur raksasa yang menjadi milik seorang anak manusia yang luput dari dera bencana. Telur itu merupakan simbol kekuatan untuk menggabungkan imaji dan kata.

Adegan ketika pemilik telur raksasa diselatkan oleh seorang peri dari amukan musuh yang buas yang ingin merampas telur itu daripadanya. -Dok. kompas.com
Adegan ketika pemilik telur raksasa diselatkan oleh seorang peri dari amukan musuh yang buas yang ingin merampas telur itu daripadanya. -Dok. kompas.com

Diektahui, pementasan ini diselenggarakan oleh Garin Workshop dan didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.

Karya ini akan menjadi karya pembuka dalam ASIA TOPA (Asia-Pacific Triennial of Performing Arts) pada Februari 2020 mendatang di Melbourne, Australia.

Karya ini juga dijadwalkan akan dipentaskan di Dusseldorf, Jerman dan Amsterdam, Belanda, pada pertengahan tahun ini.*

Baca Juga

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Mohammad Yusro Kembali Terpilih Jadi Ketua Itera

Portal Teater - Musyawarah Besar Ikatan Teater Jakarta Utara (Itera) 2020 kembali menunjuk Mohammad Yusro menjadi Ketua Itera periode 2020-2023. Sebelumnya jabatan ini dipegang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...