Merekonstruksi Ruang Domestik Lewat “Naked House” Karya Dea Widya

Portal Teater – Ada yang unik pada ruang pameran tahun kelima Proyek Seni Perempuan Perupa (PSPP) kali ini. Di antara karya yang terpajang sepanjang lorong pameran Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ada karya instalasi Dea Widya, Naked House, yang unik dan tak mudah dan segera dipahami.

Karya instalasi itu dikatakan unik dan berbeda dari lainnya karena didesain menggunakan garis gestural kawat dan dianyam mengikuti tiruan mebel dan perabot rumah tangga lainnya; dari gerbang rumah hingga dapur.

Konstruksi tersebut, menurut Saras Dewi (kurator PSPP 2019), terinspirasi dari sebuah konstruksi rumah nyata gaya kolonial (Barat) di sebuah tempat di Yogyakarta yang ditinggalkan paca letusan Gunung Merapi.

Lewat karyanya, Dea menyusun kembali rumah-rumah yang terbengkalai, bercakap-cakap dengan roh yang bersemayam dan mendengarkan keluh kesah mereka.

Dea seolah ingin menciptakan bias batas antara ruang positif dan negatif. Komposisi instalasi seperti memperlihatkan sebuah areal negatif, membayangkan ruang domestik sebagai Atopos (tanpa tempat), sebuah dunia imajiner, tanpa tanda-makna.

Ketika pengunjung memperhatikan dengan saksama konstruksi tersebut, hampir tidak mendapatkan apa-apa, kecuali sebuah kekosongan, seperti ketelanjangan.

Benar, karya Dea tersebut seperti ingin menelanjangi sebuah realitas ruang domestik, melepas struktur hierarkis dan linier, supaya dapat dibayangkan ulang sebagai ruang yang lebih cair dan inklusif.

Karena itu, Dea menghilangkan dinding-dinding tebal yang menghalangi pandangan masyarakat (pengunjung) untuk melihat ksejatian konstruksi ruang domestik yang anti-hierarki, anti-dominasi dan tampak lebih terbuka dan egaliter.

Lebih dari itu, Dea ingin mengkritisi ruang perempuan yang makin terhimpit, terpojok dan disembunyikan oleh sistem patriarki yang kental pada masa kolonial.

Konsep dan paradigma tentang ruang domestik dalam kebudayaan masyarakat perlu direkonstruksi agar tidak ada segregasi atau pembedaan (bias) gender dalam ruang domestik.

“Karyanya memperlihatkan struktur atau konstruksi bangunan. Memang kritik yang ingin dilontarkan Dea adalah soal bagian yang terdiskriminasi, atau peran laki-laki dan perempuan,” kata Saras Dewi di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (15/10).

Konferensi pembukaan PSPP 2019 di Galeri Cipta II TIM Jakarta, Selasa (15/10). -Dok. Eva Tobing/DKJ
Konferensi pembukaan PSPP 2019 di Galeri Cipta II TIM Jakarta, Selasa (15/10). -Dok. Eva Tobing/DKJ

Estetika Feminis

Karya ini mengajak kita membayangkan sebuah estetika feminis pada ruang, ketika sebuah ruang domestik (rumah), dibentuk dari proyeksi innerself, yang imajinatif, puitik, berlawanan dengan dengan cara pandang yang mekanistik.

Karya ini akhirnya hadir memberi kritik atas praktik pembagian ruang domestik yang masih linier dan masih mengadopsi pemikiran kolonial yang membagi ruang secara tegas antara laki-laki dan perempuan, tuan-majikan.

Konsep ruang kolonial ini senantiasa menempatkan perempuan sebagai kaum yang bergantung pada tampilan depan, yaitu laki-laki; selalau berada di dapur dengan ruang yang sempit dan tersembunyi dari pandangan dunia.

Implikasinya, perempuan menjadi sulit mandiri, jika ruang personal saja dikonstruksi dengan logika maskulin, berdasarkan asas fungsi, representasi status, tanpa memikirkan kebutuhan tubuh dan psikologis perempuan.

Saras Dewi melihat ada konstruksi masyarakat yang keliru ketika melihat rumah hanya menurut fungsi praktis, misalnya hemat ruangan, tapi jarang berpikir tentang apakah rumah tersebut humanis dan merespon isu-isu senstitif terhadap perbedaan dan kesetaraan.

“Dan ini mengikuti konstruksi rumah kolonial. Kita punya standar yang sempit, bahwa rumah yang ideal itu adalah rumah dibangun oleh budaya Barat seperti ini,” ungkapnya.

Menurutnya, rumah tradisi Nusantara cenderung lebih memiliki kepekaan terhadap ekologis, misalnya rumah di Bali, atau rumah Sumba, dan rumah-rumah masyarakat adat, yang konsepnya sangat berbeda dengan konsep rumah kolonial.

Berpijak pada kerangka ekologis ini, Dosen Filasafat pada Universitas Indonesia itu memandang “yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu memisahkan dirinya dari alam” dan mendefinisikan dirinya terhadap alam sekitarnya, seperti yang terpatri dalam lukisan Prilla Tania.

“Jadi ruang di mana ruang itu dibentuk juga membentuk masyarakatnya,” tuturnya.

Saras Dewi memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang konsep karya Tita Salina "Anthropocentric Annual Ritual". -Dok. portalteater.com
Saras Dewi memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang konsep karya Tita Salina “Anthropocentric Annual Ritual”. -Dok. portalteater.com

Tentang Dea Widya

Dea Widya adalah seniman yang sering bereksperimentasi mengolah relasi seni dengan arsitektur. Eksperimennya banyak memunculkan relasi-relasi baru yang tak terlihat dari arsitektur.

Setelah bekerja pada sebuah lembaga konsultan desain arsitektural dan bergulat menemukan sisi artistik-estetik dari desain arsitektural, Dea memutuskan mengambil pascasarjana Seni Rupa dan mulai mengeksplorasi konsep ruang ke dalam instalasi.

Dea juga banyak mengeksplorasi karya-karya situs spesifik dan mixed media mendalam berkaitan dengan isu kota, ruang dan arsitektur. Metodenya adalah riset dan kolaborasi lintas disiplin.

Beberapa karyanya pernah dipamerkan di Jakarta Biennale (2015), Southeast Asia Triennale (2016), Power and Other Things dalam Europe-lia (2017), Artjog (2019).

Dea Widya. -Dok. Eva Tobing/DKJ
Dea Widya. -Dok. Eva Tobing/DKJ

Selain berkarya, Dea adalah pengajar Desain Interior pada salah satu universitas swasta, serta melakukan riset yang berfokus pada aspek narasi, ingatan dan memori terhadap ruang.

*Daniel Deha

Baca Juga

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...