Meruntuhkan Estetika Seni Rupa ala Ugo Untoro

Portal Teater – Pada tahun 1990-an, kawasan Nitiprayan di selatan Yogyakarta “diserbu” (meminjam istilah kurator Hendro Wiyanto) gambar-gambar mural berpotongan besar. Terutama di pojok-pojok kampung, corat-coret itu seperti subkultur baru di ‘kota gudeg’.

Fenomena merambatnya potongan mural ke seantero Yogyakarta oleh beberapa perupa senior dijuluki sebagai “komik melayang”, mengutip tulisan Hendro pada pengantar kuratorial pameran Ugo Untoro di Galeri Nasional Indonesia, 20 Desember-12 Januari 2020.

Menurut Hendro, persis dua dekade lalu itulah Ugo, perupa eksentrik asal Yogyakarta memulai karyanya dengan men-corat-coret, seolah menjadi peniru yang baik.

Ugo sendiri lebih melihat fase awal pengkaryaannya sebagai “corat-coret” ketimbang menjadi “pelukis sejati” seperti yang diidamkan kebanyakan perupa lainnya. Tesisnya itu dilontarkan 24 tahun lalu (1995) ketika ia menggelar pameran tunggalnya.

“Banyaknya corat-coret yang menghiasi dinding kota, jembatan penyeberangan, kertas-kertas bekas, torehan di batang-batang pohon yang sering memaksa kita untuk tersenyum, jengkel, jengah, menggerutu, terharu ataupun mengerutkan kening ketika melihatnya, membuat saya tidak merasa sendirian,” ungkap Ugo.

Mengapa disebut “corat-coret” karena Ugo sendiri menyakini bahwa karya lukisnya tidak memerlukan pesan, tema, atau isi.

Sebab menurut “Presiden Perupa” (julukan oleh perupa di Yogyakarta) itu, semua seniman jenial sudah mendahului dan mengajari banyak cara kepada generasi sesudahnya perihal melukis.

Karena itu, dia perlu “memilih jalan lain” dengan lebih fokus pada alam dan Romantisme; mencurahkan suasana batin dan personalitas diri.

“Tak perlu lagi saya mengejar bentuk, sebab sudah ada David, Rembrandt, Vermeer, Cezanne, ataupun Basuki Abdullah. Tak perlu saya mengejar warna, sebab sudah ada Delacroix, Manet, Monet, atau Seurat. Tak perlu lagi saya mengejar garis, sebab sudah ada Durer, Mattise, Miro, maupun Oesman Effendi. Tak perlu lagi saya mengejar isi, sebab sudah ada van Gogh, Gauguin, Dali, ataupun Rusli dan Amang Rahman,” kata Ugo, mengutip tulisan Hendro.

Hendro menandaskan, aksi “corat-coret” ala Ugo bukanlah limpahan manerisme sketsa-isme yang melembagakan kesatuan atara gerak motorik ketangkasan dan kecepatan menggores dan pencerapan kilat.

Selain itu, “corat-coret” Ugo tidak berbekalkan kejeniusan membaca teks sejarah seni rupa (atau traktat suci agama) yang rinci.

Tapi lewat aksinya, Ugo menolak dua sisi koin sekaligus: institut seni sebagai kopian belaka dari “institut seni modern”, dan institut seni modern yang sekian lama tak lebih sebagai penjejalan dari institut seni (di) Barat.

Karya Ugo Untoro yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jakarta. -Dok. portalteater.com
Karya Ugo Untoro yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jakarta. -Dok. portalteater.com

Estetika ala Ugo Untoro

Konsep lukisan sebagai “corat-coret” dalam pengalaman berkarya Ugo memiliki kedalaman arti tersendiri.

Malah pemahaman itu terlihat seperti “pemberontakan”, jika merujuk pada penilaian kurator Jim Supangkat terhadap karya Eko dan koleganya pada era 1970-an. Atau sebagai “anti-konvensi” menurut penggambaran kurator Hendro Wiyanto.

Namun, dalam sebuah kegiatan tour jurnalis di Galnas Jakarta, Jumat (20/12) lalu, Portal Teater berkesempatan menilik deretan 70-an karya Ugo yang dipamerkan.

Dari penjelasan dan pajangan-pajangan karya yang ditampilkan, tampak bahwa Ugo tidak saja memberontak atau ingin keluar dari konvensi, tapi bahkan seperti “meruntuhkan estetika seni rupa” itu sendiri.

Betapa tidak, dalam beberapa instalasi dan karya berupa objek, Ugo secara artistikal ingin memperlihatkan “ruang belakang” pengkaryaannya. Atau dalam istilah yang lebih subtil, ia ingin “membongkar dapur produksi” selama puluhan tahun ia berkarya.

Instalasi berupa bingkai dengan kanvas yang sudah rusak karya Ugo Untoro di Galeri Nasional Jakarta. -Dok. portalteater.com
Instalasi berupa bingkai dengan kanvas yang sudah rusak karya Ugo Untoro di Galeri Nasional Jakarta. -Dok. portalteater.com

Alur pembongkaran itu dapat dilihat dari struktur penempatan karya-karyanya yang dihasilkan selama delapan tahun terakhir (2011-2019) tersebut.

Di ruang depan galeri, dipamerkan karya-karya terbarunya. Salah satunya lukisan Delacroix, maestro seni rupa Prancis yang berlairan Romastisme; seniman yang banyak menginspirasi penciptaan karyanya.

Bergerak makin ke belakang, karya-karya yang ditampilkan terlihat makin keruh dan usang. Beberapa karyanya itu, seperti disebutnya, direkonstruksi ulang dari karya yang sudah jadi sebelumnya.

Tidak hanya karya-karya yang lebih lama dan usang, tapi di sana Ugo juga memperlihatkan potongan-potongan karya yang seperti “sudah rusak”, yaitu berupa bingkai kayu dengan kanvas yang sudah tergulung, atau tersibak, robek dan rapuh.

Bingkai kayu penopang kanvas tidak hanya satu, tapi ada beberapa. Bingkai-bingkai itu digantung seperti menelanjangi dirinya sendiri.

Jika ia perempuan maka akan menarik “mata keranjang” publik untuk menatap lekat-lekat. Tapi hanya karena ia batangan kayu, maka dirinya seolah tidak diindahkan, diabaikan dan seolah “tak berarti” bagi publik.

Semua bingkai telanjang itu dipajang pada satu ruang pameran di Galnas, atau ruang keempat jika mengikuti alur konstruksi galeri pameran Galnas. Di sanalah spektrum estetik pendiri Museum dan Tanah Liat (MDTL) berbasis Yogyakarta itu.

Instalasi berupa bingkai kosong tanpa kanvas, salah satu karya Ugo Untoro di Galnas Jakarta. -Dok. portalteater.com
Instalasi berupa bingkai kosong tanpa kanvas, salah satu karya Ugo Untoro di Galnas Jakarta. -Dok. portalteater.com

Diperlihatkan sebagai “latar belakang” kanvas lukisan, Ugo sepertinya ingin membawa publik/pengunjung untuk masuk ke dalam “dapur produksi” sebelum sebuah lukisan jadi dan dipamerkan secara sakral dan estetik di sebuah galeri.

Beberapa jurnalis dan pengapresiasi yang hadir pada saat itu, ketika mendengar penjelasan sang maestro, menggeleng-gelengkan kepala: atau terkesima dengan imajinasi liar sang pelukis, atau bertanya-tanya apa arti semua itu.

Bergerak sedikit keluar dari ruang pameran ke samping kanan Galnas, ada tampilan objek berupa tiga mobil sedan yang dibungkus dengan karpet berwarna perak. Bunyi hujan mengguyur dari atas loteng garasi, seperti bukan hujan buatan.

Dalam penuturannya, Ugo mengatakan, objek itu diberi nama “Seri Hujan”. Mobil bagi Ugo juga merupakan sebuah lukisan karena dihasilkan dari tangan manusia dengan garis, warna dan komposisi tertentu.

Sementara bunyi guyuran hujan mengingatkan kita kondisi alam, terutama di Jakarta (Ugo selalu merefleksikan kondisi kekinian ibukota), yang menjadi polemik dan bencana, di mana ketika hujan menimbulkan banjir.

"Rain", lapis resin, 2019. Karya pameran objek beru[a mobil Ugo Untoro di Galnas Jakarta. -Dok. portalteater.com
“Rain”, lapis resin, 2019. Karya pameran objek beru[a mobil Ugo Untoro di Galnas Jakarta. -Dok. portalteater.com
Tampilan tiga objek mobil ini mengingatkan kita pada karya instalasi jasad kuda yang dipamerkan Ugo tahun 2007 dan menggegerkan publik hingga ia diberi atribut “man of the year” oleh Majalah Tempo.

Di setiap petak di mana lukisannya dipajang, Ugo dengan sabar menjelaskan konsep-konsep yang dibawanya dalam karya-karya itu.

Menyinggung perihal estetika seni rupa, Ugo meyakini bahwa keindahan adalah hal yang amat sederhana, yaitu sesederhana kemampuan meminimalisir ragam rambu dalam lukisan.

Dalam menggores keindahan, ia selalu melewati proses reduksi data, yaitu dengan memperkecil ruang persepsi tentang sesuatu yang besar hanya sepotong garis, titik atau sebercak warna.

“Menurut saya keindahan adalah sesuatu yang tidak terlalu banyak rambu-rambu, tapi sebuah penyederhanaan. Ada proses reduksi,” katanya.

Selama proses kreatif, seorang seniman harus mencapai tahap itu. Karena pada fase itulah ia menemukan apa itu keindahan yang sesungguhnya.

“Karena keindahan bukan hanya soal keindahan visual, tapi juga keindahan yang spiritual,” imbuhnya.

Pameran karya Ugo Untoro di Galnas Indonesia Jakarta sepanjang 20 Desember-12 Januari 2020. -Dok. portalteater.com
Pameran karya Ugo Untoro di Galnas Indonesia Jakarta sepanjang 20 Desember-12 Januari 2020. -Dok. portalteater.com

Ingin Kembali Melukis

Ugo selalu bertanya-tanya tentang apa itu melukis. Secara sederhana ia menemukan jawaban, bahwa melukis berarti ada garis, warna dan komposisi. Sesederhana itu.

Di lain permenungan, ia justru menemukan sebuah fakta yang sama sekali lain. Tidak hanya ada tiga unsur pokok itu, tapi untuk merespon realita, ia memahami bahwa melukis adalah seni untuk melambatkan diri.

Perlambatan diri adalah langkah meditatif. Memilih jalan sendiri di tengah tsunami mesin teknologi saat ini. Dalam cerita kuno tentang Kancil dan Bekicot, kita bisa melihat bagaimana Bekicot berjalan lambat, tapi toh dia lebih dulu mencapai garis finis.

Salah satu karya yang representatif menggambarkan proses tersebut adalah “Seri Sleeping Buddha” (cat minyak pada kanvas, 2019). Lukisan itu hanya berupa tapak-tapak Buddha (seperti kaki langit) tanpa anggota tubuh lainnya.

Umumnya kaki-kaki itu dilukis dalam satu warna (merah, hijau, hitam) yang menurut Goenawan Mohamad disebut sebagai “karya-karya meditatif paling plastis dalam seni rupa Indonesia mutakhir”.

Sebagai esais pameran, GM dalam catatannya mengatakan: “Di kanvas-kanvas Ugo Untoro saya membayangkan seorang yang melukis seperti perupa Zen: dengan hening mengakrabkan diri dengan gerak waktu, dalam hening menerima yang melintas, “ephemeral.”

Ketika ditawarkan untuk menggelar pameran kali ini, Ugo menemukan insight bahwa upaya melambatkan diri yang dimaksudkannya adalah dengan menggali dan menyelami segala peristiwa dan pengalaman karya yang sudah dilaluinya bertahun-tahun.

“Di tengah percepatan ini, saya berusaha melambatkan diri saya. Melambatkan dalam arti memahami benar apa yang saya inginkan, kejar dan ingin saya temukan. Dan itu kemudian saya temukan, yaitu bahwa saya pernah merasakan sebuah keasyikan dan kenikmatan, sebuah rasa yang tidak tertandingi oleh apapun ketika tangan saya bergerak untuk menggaris, mewarnai,” tuturnya.

Karena itulah Ugo berusaha melepaskan dari segala yang telah dicapainya saat ini, lalu kembali melukis. Tanpa pesan, isi atau makna. “Saya hanya ingin merasakan bagaimana tangan ini bekerja, menyentuh media, dan berkomunikasi dengan media lukis,” ungkapnya.

Dengan melukis, ia tidak hanya ingin berjalan lambat, tapi juga mengekspresikan kekecewaaan dan ketidakpuasan terhadap segala realitas mutakhir yang terjadi.

Pengalaman kenikmatan itu seperti hadir secara alamiah di dalam dirinya. Karena itulah Ugo berpendirian untuk bertindak melawan arus dan menekuni apa yang menjadi pilihannya.

Membiarkan kenikmatan itu merasuk di tubuh-personalnya, seperti terpampang dari tajuk pameran: “Rindu Lukisan Merasuk di Badan”.

“Delacroix pun mulai melepaskan diri dari gaya seni lukis klasik yang menekankan warna, komposisi artsitik, estetika. Dia mulai dengan seni yang lebih menekankan emosi, alam dan personalitas manusia,” ujar Ugo.

Sebagai pengagum Romantisme, dalam karyanya kali ini Ugo memasukkan lebih banyak unsur komedi yang kemudian mendorongnya untuk merekonstruksi ulang karya-karya sebelumnya agar terlihat lucu dan humoristik.

“Kita juga bisa berbicara dengan cara humor lewat lukisan,” cetusnya, untuk merujuk pada karya-karya “ganjil” dan “telanjang” yang dipamerkannya di Galnas Jakarta.*

Baca Juga

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...