Mikroskop Kota dalam Puisi-puisi Panji Gozali

Portal Teater – Pustaka Pandawa bekerjasama dengan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Pusat menggelar Diskusi Buku bertajuk “Menyoal Tiga Kumpulan Sajak” karya Panji Gozali, Sabtu (29/2), di Aula Sudin Pusip Jakarta Pusat.

Ketiga buku karya sutradara Teater Moksa itu ditulis selama periode 2015-2018, berisikan 90 puisi, dengan masing-masing berisikan 30 puisi. Judul buku-buku tersebut, yakni Abstraksi Kehidupan, Balada Buaran dan Sukma Mawar.

Hadir dalam diskusi ini empat pembicara (pengulas), yaitu Panji Gozali, Arung Wardhana Elhafifie (Pengamat Teater), Dendi Madiya (Sutradara Artery Performa), dan Aflaha Rizal (Penulis Buku “Kenangan Tidak Terbuka”).

Diskusi dimoderatori Hardian Indra Rukmana (Penulis Buku “Bidara Dedaunan”). Selain diskusi, juga ada deklamasi puisi oleh Raqilbiru Solihin (Ketua Ikatan Teater Jakarta Timur/Ikatamur) dan Syahruljud Maulana (Pimred Buletin Lintang).

Pembicara dan peserta Diskusi Buku bertajuk "Menyoal Tiga Kumpulan Sajak" karya Panji Gozali, Sabtu (29/2), di Aula Sudin Pusip Jakarta Pusat. -Dok. Teater Moksa.
Pembicara dan peserta Diskusi Buku bertajuk “Menyoal Tiga Kumpulan Sajak” karya Panji Gozali, Sabtu (29/2), di Aula Sudin Pusip Jakarta Pusat. -Dok. Teater Moksa.

Mikroskop Kota

Sebagai penulis muda yang hidup di kota sekompleks Jakarta, Panji lewat puisi-puisinya melakukan pengamatan yang cukup jeli terhadap persoalan Jakarta.

Dendi Madiya menilai, puisi Panji seperti mikroskop yang meneliti unsur-unsur terkecil dari kehidupan di sebuah kota. Di mana ia menyinggung banyak tokoh-tokoh yang terpinggirkan dalam kehidupan, seperti tukang sketsa, tukang parkir, dll.

Selebihnya, lewat puisi-puisinya, Panji juga menggambarkan kondisi-kondisi sosial yang abai dari perhatian umum. Misalnya dalam puisi Menonton Pelem Setan.

Puisi itu melukiskan pengalaman sepasang anak muda yang berpacaran ketika menonton sebuah film di bioskop.

Mereka tidak hanya menonton film, tapi juga bermesraan di tribun penonton. Suasana gelap memungkinkan mereka melakukan aksi mesum di dalam gedung bioskop.

Dendi menambahkan, teknik penjudulan puisi-puisi Panji umumnya menggelitik, dengan ilustrasi naratif yang dipadukan dengan potensi interpretatif, elemen kejutan dan kepadatan serta efisiensi kata.

Bersikap anti-Mainstream

Panji Gozali dalam sebuah tulisan mengatakan, perjalanan menulis buku puisi tersebut merupakan pengalaman keterlemparannya untuk mengenal kesenian dan kebudayaan secara lebih dalam.

Berupaya memperlawankan niatnya dengan pandangan umum masyarakat (mainstream) tentang dunia kesenian yang dianggap ‘sesat’, Panji melalui puisinya ingin meniupkan satu anggapan bahwa kesenian penting dalam dunia aktual kini.

Ia melihat, seni, khususnya puisi, mampu menjadi medium alternatif yang jitu untuk menjembatani manusia melalui dialog dengan cara-cara khas dan unik dalam mencapai kebenaran dalam hidupnya.

Bagi penulis, puisi merupakan ekspresi terdalam jiwa seorang anak manusia. Melalui puisi, seorang penyair menyampaikan suara-suara jernih dari dalam jiwa dalam melihat dan menilai dunia.

Untuk itulah dalam puisinya, ia menulis dengan amat sederhana. Menurut Aflaha Rizal, Panji menggunakan bahasa sehari-hari, sehingga memudahkan segala isi terkomunikasi dengan jelas.

Puisi-puisi Panji merupakan wujud kegelisahan dan kemarahan seorang pekerja seni terhadap realitas yang tidak ingin diterimanya.

Seni dan Ekosistem

Arung dalam uraiannya mencoba menghubungkan puisi-puisi Panji dengan ekosistem kesenian. Ia mempertanyakan, “apakah hari ini sastra hanya untuk sastra dan seni untuk seni?”

Karena baginya, pada praktiknya banyak penyair yang memperlakukan sastra untuk buruh pabrik, tani, penambang besi, maupun dokter dan astronot.

Begitu juga dengan seni, pada praktiknya sudah dilakukan di penambangan pasir, tempat pembuangan sampah, korban gempa, jeruji, kompleks pekerja seks komersial dan lain sebagainya.

Mahasiswa Jurusan Penciptaan Seni Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta itu merujuk pada penyair Rusia Boris Pasternak, dan beberapa penyair lainnya, yang sistem lingkungan keluarga turut andil dalam karya-karya mereka.

Dalam puisi-puisi Panji, Arung melihat bahwa penulis ingin sekali mempertanyakan kembali ekosistem itu lewat keharmonisan kata, lewat musik dalam kata-katanya.

Pada Abstraksi Kehidupan ada kata-kata seperti: obat-obat yang penuh warna, kerak bir yang kian mengering, dendam, amarah, iblis, nabi, malaikat, generasi, Tuhan, lapar, mau nikah, tujuan manusia, tokoh yang mempengaruhi, dosa, dll.

Pada Balada Buaran ada cerita buruh, pelukis, bulan puasa, lebaran, ngomongin negara, 17 Agustus-an, dll. Sementara dalam Sukma Mawar ada tema cinta, pacaran, nonton film, ke bioskop, ciuman, dll.

Ketika mempertanyakan hubungan sastra dengan ekosistemnya, kita juga akan balik bertanya; apakah sajak lebih menarik dari android keluaran terbaru? Atau sajak lebih menarik dari berbagai makanan siap saji di restoran-restoran mewah? dan seterusnya.

Afrizal Malna, salah satu penyair yang cukup berpengaruh, menceritakan bahwa setiap puisinya selalu dibakar bertahun-tahun, sampai akhirnya ia merasa kangen dengan puisinya lalu dibaca berulang-ulang. Baru ia mengaitkannya dengan lingkungannya.

Arung melihat ketiga kumpulan sajak Panji sedang menyensor batasan dirinya dengan lingkungan privatnya, menjadi etnografer terhadap sajaknya sendiri; berada di antara ruang-ruang kebudayaan kampung Buaran di Jakarta Timur.

Bagi Arung, permasalahan sosial budaya kampung Buaran itu sangat kompleks, mirip seperti kampung-kampung lain di Jakarta: Glodok, Kwitang, Tanjung Priok, Ciliwung, Kebayoran, Cawang, Ragunan, Menteng, hingga Marunda dan Cilincing.

“Panji Gozali sedang merespon tubuhnya sebagai sajak, bagaimana imajinasi dosa yang mungkin juga kalau ditimbang sudah sama dengan luasnya Buaran. Ia semacam mewawancarai lingkungan terdekatnya lewat sajak, lewat perempuan-perempuan yang dicintainya, maupun lewat kenakalan-kenakalan remaja Buaran,” tulis Arung.*

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...