Misswati Dance Teater Jakarta: “CUY – Gang X Tanah Tinggi”

Portal Teater – Ini adalah kali kedua kami seolah dijodohkan. Pertemuan pertama kami telah menghasilkan sebuah karya berjudul “CUY- gimana buat nolong elu pindah dari zaman bb ke zaman z” yang dipentaskan dalam penutupan Festival Teater Jakarta 2018.

“Dalam sebuah kolaborasi Tony Broer dengan Yola Yulfianti (koreografer), yaitu melalui pertunjukan “Cuy” sebagai penutupan Festival Teater Jakarta 2018, Tony memperlihatkan bagaimana tubuhnya merespon dramaturgi digital yang dilakukan Yola dalam pertunjukan ini, antara dunia virtual dan dunia nyata” (Afrizal Malna: 2019).

Kami berdua telah memiliki modal riset sebelumnya, tentang bagaimana tubuh hari ini yang bersinggungan dengan kehadiran teknologi.

Tubuh yang tidak terlalu banyak gerak, tubuh yang berbicara dengan mesin, tubuh yang tidak memerlukan tubuh orang lain, tubuh yang mesti update terhadap apa yang viral agar dianggap modern.

Skrip dalam pertunjukan lahir dalam dialog-dialog kami bersama tim pendukung lainnya.

Memang kemudian kami terkejut-kejut dengan respon penonton saat itu. Sepanjang pertunjukan penonton tertawa.

Kata Kunci: Lenong

Dalam pertemuan kedua ini kami berdua memegang satu kata kunci yaitu Lenong. Kesenian teater tradisional dari Betawi yang sudah ada sejak tahun 1920.

Pertanyaan dalam benak saya kemudian: Apakah lenong masih ada? Apakah lenong masih punya penontonnya? Lalu, apakah kesenian tradisional perlu dilestarikan?

Kesenian tradisi sebagai sejarah sangatlah penting. Kesenian tradisional memang selalu diupayakan dilestarikan oleh pemerintah dan juga pelakunya tentu, masih ada jika ditanggap, atau diada-adakan karena kebutuhan-kebutuhan khusus dari pemerintah menampilkan semacam acara-acara yang sifatnya kultural dan turistik.

Kesenian Lenong sesungguhnya sudah merasuk ke seluruh Indonesia secara tidak langsung melalui tokoh-tokohnya, yaitu seperti Benyamin Sueb (alm), Mandra, Bolot, Malih dan seterusnya. Spirit “ngelenong” mereka mainkan dalam perannya di layar televisi nasional.

Pertunjukan Lenong. -Dok. istimewa.
Pertunjukan Lenong. -Dok. istimewa.

Apa itu Lenong? Di dalamnya ada apa?

Sebuah ekspresi yang merefleksikan persoalan mulai dari keseharian masyarakatnya tentu. Upaya menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui medium yang komunikatif, interaktif dan menghibur.

Persoalan cerita dalam Lenong berkembang dari masa ke masa sesuai dengan zamannya. Yang tak pernah berubah adalah kekuatan spontanitas dan responsif dari para aktor maupun pendukungnya.

Artinya selama tokoh-tokoh tersebut memainkan kepiawaiannya seperti mereka melenong, maka, tradisi Lenong tak pernah mati. Setidaknya begitu menurut pendapat saya.

Tony Broer tampil sebagai aktor Ondel-ondel. -Dok. Misswati Dance Teater.
Tony Broer tampil sebagai aktor Ondel-ondel. -Dok. Misswati Dance Teater.

Kemunduran Tradisi

Bicara lagi soal tradisi, sebagai warga kota Jakarta walau ber-KTP Bekasi, saya melihat tradisi sepanjang waktu secara harafiah.

Yang dimaksud di sini adalah saya melihat Barongan atau lebih dikenal dengan Ondel-ondel berkeluyuran membawa kaleng cat bekas di tengah kota Jakarta sampai ke pinggiran Jakarta. Hal ini bagi saya merupakan sebuah perkembangan yang mundur.

Pasalnya saya lahir dan besar di Jakarta sekitar 38 tahun silam, sedari kecil tidak pernah saya melihat Ondel-ondel jadi pengamen atau pengemis.

Ondel-ondel hadir diarak lengkap dengan tanjidor pada saat-saat tertentu, yaitu saat ulang tahun Jakarta, lebaran Betawi, hari kemerdekaan dan lain sebagainya.

Nenek saya bercerita bahwa Ondel-ondel sebagai mitos mengenai kebaikan dan keburukan, maka topengnya memiliki dua warna yaitu yang putih dan merah.

Fenomena Ondel-ondel kemudian menjadi diskusi intens saya bersama Tony Broer. Entah sejak kapan Ondel-ondel dipakai menjadi medium untuk mengamen dan mengemis.

Beragam cara orang-orang mengais rejeki di Jakarta, sempat juga di era di mana topeng monyet menjamur lalu dilarang oleh pemerintah setempat. Demam topeng monyet hilang lalu muncul pengamen dengan ‘boneka goyang kepala’ berjoget dengan iringan musik dangdut.

Lalu kini para pengamen menggunakan medium Ondel-ondel sebagai alat ngamen, dalam rangka melestarikan kebudayaan, menurut mereka.

Foto: Tony Broer mengikuti Ondel-Ondel ngamen dalam bajaj. Foto: Miisswati Dance Teater

Dalam diskusi saya dan Tony, “gue mau juga ngarak tuh, jadi pengamen ondel-ondel,” ujar Tony.
“Gue pengen badan gue ngerasain langsung”.

Ondel-ondel Betawi. -Dok. metro.tempo.co
Ondel-ondel Betawi. -Dok. metro.tempo.co

Gang X Tanah Tinggi

Tubuh yang terperangkap dalam Ondel-ondel kemudian riset kami lanjut namun bukan persoalan Lenong, tapi persoalan Ondel-ondel.

Salah satu tempat persewaan Ondel-ondel yang saya tahu ada di daerah Tanah Tinggi, di dekat Pasar Senen masuk ke wilayah pusat Jakarta.

Kebetulan saya punya teman salah satunya bernama Cile yang tinggal di daerah sana, maka dapat dengan mudah saya mendapat akses ke pengamen ataupun sanggarnya.

Tanah Tinggi adalah kampung tengah kota dengan populasi manusia yang padat. Tentu tingkat kekerasan juga tinggi, pernah di tahun 2011 dalam sehari tawuran terjadi sebanyak 11 kali di kampung itu. Saya bersahabat dengan beberapa teman di sana, karena pernah mengajar tari di sana.

Di gang-gang sempit dan padat, orang-orang berusaha bertahan hidup di kota dan menjadi pengamen Ondel-ondel merupakan salah satu opsi sumber penghasilan mereka.

Saya, Tony, Purbo Wahyono (kameramen), Arham Aryadi (komposer) dan Satria Agus (aktor) datang ke kampung itu.

Hari itu adalah hari-hari biasa di Tanah Tinggi. Kami memang berencana untuk menemani Tony menjadi pengamen Ondel-ondel. Saya sudah menyiapkan kostum Tony yaitu ketika ia berperan menjadi Cuy di karya kami sebelumnya.

Singkat cerita Tony menjadi pengamen Ondel-ondel bersama Amin dan Yani. Amin dan Yani teman baru kami, pasangan muda dan saat ini Yani sedang hamil 5 bulan.

Biasanya mereka mengamen ke daerah Ciputat, mengangkut Ondel-ondel dengan menggunakan angkot. Amin dan Yani tinggal di Gang X Tanah Tinggi; mereka adalah tetangga Cile.

Kampung Tanah Tinggi di Jakarta. -Dok. metro.tempo.co.
Kampung Tanah Tinggi di Jakarta. -Dok. metro.tempo.co.

Biasanya Amin yang masuk di dalam barongan dan menjadi Ondel-ondel, lalu Yani yang menarik speaker yang mengeluarkan musik alunan musik khas Betawi sambil membawa kaleng cat bekas.

Di depan saya mereka berdua lebih banyak diam dan senyum-senyum saja tak banyak bicara, merespon bila diminta atau disuruh.

Tubuh mereka bukan tubuh yang terlatih sebagai performer, mereka memang menyetel tubuh mereka sebagai pengemis, tubuh yang minta dikasihani, tubuh yang fragile, tubuh yang merunduk, tubuh yang melas.

Saat kami menggunakan Ondel-ondel ada dua orang pemuda yang bolak balik memanggil Amin, ”woy udeh belom itu kan barongan gue, mau gue pake, cepet dong.”

Tony bersama Amin (di dalam Ondel-ondel) dan Yani, “ngakak” keliling gang X menghibur warga di gang tersebut.

Sebuah respon yang jarang saya temui, warga tertawa bergembira, bahkan sekelompok anak-anak kecil ikut juga “ngarak”.

Biasanya memang Ondel-ondel segera diusir kalau lagi ngamen, karena memang sangat mengganggu dengan bentuk yang besar serta suara speaker-nya keras dan pecah, lalu biasanya tiba-tiba menodongkan kaleng minta duit.

Tony memegang kaleng bekas cat itu dan beberapa orang menaruh duit, bahkan ada seorang ibu dan anak mengejar-ngejar Tony hanya untuk memasukkan duit ke kaleng.

Setelahnya, pengalaman ini membuat kami berdiam dan berpikir.

Tim Kerja

  • Sutradara: Yola Yulfianti
  • Cuy: Tony Broer
  • Suara Jali: Satria “Towel” Agus
  • Pemain pendukung on screen team ondel-ondel: Elisabet, Amin, Yani
  • Tukang bajaj: bang Johan
  • Script develop dan manajer produksi: Fachrizal Mochsen
  • Komposer: Arham Aryadi
  • teknis visual dan musik: Yohanes Kelvin
  • Lighting desainer: Anisa Kresna Megumi
  • sinematografer: Purbo Wahyono
  • Admin Sosmed: Damar Rizal Marzuki
  • Unit : Cille dan Rizal

Yola Yulfianti. -Dok. Misswati Dance Teater.
Yola Yulfianti. -Dok. Misswati Dance Teater.

Tentang Yola Yulfianti

Lahir di Jakarta tahun 1981, Yola adalah seorang penari dan koreografer lulus dari jurusan tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2004, Pascasajana Seni Urban dan Industri Budaya IKJ tahun 2011.

Tahun 2017, Yola menyelesaikan Doktoral Program Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Selain itu ia mengembangkan kemampuannya dengan aktif mengikuti workshop, juga bekerja bersama koreografer dan sutradara dalam maupun luar negeri.

Yola mengembangkan minatnya pada musik setelah mengikuti workshop soundscape (2001) oleh Otto Sidharta.

Sejak itu Yola menggarap sendiri musik untuk mengiringi koreografinya, sehingga menunjukkan kecenderungan kreatif yang berbeda dari koreografer Indonesia yang segenerasi dengannya.

Menjadi Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta periode 2015-2018, dan menjadi pengajar di Pascasarjana IKJ sejak tahun 2011 hingga kini. Ia mengagas Dance Circle Lab, sebuah laboratorium tari.

Tahun 2011 karya Dance Film berjudul “Suku Yola” mendapat penghargaan ‘Pearl’ (salah satu dance film terbaik) dalam ajang Dance Film Internasional di Berlin, Jerman.

Awal tahun 2013 Salma a little escape dalam program residensi artis di Bangalore India Attakkalari Biennial Festival 2013. Tahun 2014 dan 2015 mendapat dukungan dari Program Hibah Seni Perempuan Yayasan Kelola dengan karya “I Think Tonk” dan #Ibuibuibukota.

Karya “Angkot the Melting Pot” dipentaskan di Salihara tahun 2017 dalam platform Helatari. Dan karya video instalasinya “Kampung Melayu Pasar Senen PP” telah menjadi bagian dari Jakarta Biennale 2017 dan Institute Contemporary of The Arts Lassale Collage Singapore 2018.

Adapula “Cuy” (Penutupan FTJ 2018), “Sementara Belum Ada Judul” dan Misswati on Frame (Switch and Mix Atawa Nomager) di Teater Kecil TIM (2019).

Ketertarikan Yola adalah isu tentang problematika kota. Riset terbarunya yaitu “respon tubuh terhadap kota”, tentang pengalaman berada di dalam realitas kehidupan urban.

Dalam mengungkap ekspresi artistiknya, ia mengembangkan kemampuan tubuh sebagai media ekspresi berelasi dengan medium lain, menghasilkan karya pertunjukan karya tari multimedia yang inovatif, yang tumbuh secara organik, seiring proses penggalian ide.

Tony Broer. -Dok. Misswati Dance Teater.
Tony Broer. -Dok. Misswati Dance Teater.

Tentang Tony Broer

Tony Broer baru saja menyelesaikan Program Doktoral Penciptaan di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Lahir di Jakarta tahun 1966, bernama asli Tony Supartono.

Dari tahun 1988-2005 ia belajar sebagai aktor di Teater Payung Hitam, Bandung, pimpinan Rachman Sabur. Ia juga pengajar di Jurusan Teater ISBI Bandung di bidang Olah Tubuh.

Sebagai pemai, kurang lebih 30 naskah dalam dan luar negeri sudah dimainkan.

Tahun 1997 mulai kerjasama dengan luar negeri. Dengan Black Swan Theatre-Australia (Perth), Tony memberi workshop tubuh dari eksplorasi pementasan “Kaspar” karya Peter Handke bersama Teater Payung Hitam Bandung.

Ia pentas bersama Teater Payung Hitam Bandung membawakan naskah “Kaspar” karya Peter Handke di Kampagnel-Jerman dalam Festival Teater Internasional; kolaborasi dengan CIOF Japan-Tokyo; membawakan naskah tradisi Jepang kolaborasi 3 negara Jepang, Filipina dan Indonesia.

Dengan Rinko Gun Theatre Company Japan-Tokyo, ia membawakan naskah “Pemburu Ikan Paus” karya Yoji Sakate, kolaborasi 4 negara (Jepang, Indonesia, Filipina dan Amerika) dipentaskan di 4 kota di Jepang.

Dengan Gekidan Kaitasha Japan, membawakan naskah Dream Regime (proyek Asia-Eropa) kolaborasi 5 negara (Jepang, Korea, Jerman, Inggris dan Indonesia) dipentaskan di Cardiff-Inggris UK dan Brollin-Jerman.

Tahun 2002 -2003 mendapat beasiswa Bunka Cho untuk mempelajari teater tradisi Jepang (Noh) dan Teater Modern Jepang (Butoh). Belajar Noh dari Shimada Sensei alian Noh Kongo. Lalu Butoh pada Yoshito sensei (anak Kazuo Ohno), Waguri sensei, Moto Fuji sensei (istri Tatsumi Hijikata) dan Shimimaru sense Sankai Juku.

Tahun 2005 sampai sekarang menyutradarai dan sebagai pemain dalam Ruang Tubuh, mengambil tubuh sebagai eksplorasi aktor.

Karya yang telah dipentaskan seperti “Pita Terakhir” karya Samuel Beckett dan “Tubuh Lahir Tubuh Perang dan Tubuh Kata Tubuh” karya Tony Broer.

Selain pentas monolog tubuh juga memberikan workshop tubuh aktor, yang sudah diadakan di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Serang, Surabaya dan Padang.

Muhammad Arham Aryadi. -Dok. Misswati Dance Teater.
Muhammad Arham Aryadi. -Dok. Misswati Dance Teater.

Muhammad Arham Aryadi

Muhammad Arham Aryadi adalah komposer Indonesia, founder dan music director Indonesian Contemporary Gamelan Ensemble (ICGE).

Ia menyelesaikan sarjana musiknya di Universitas Pelita Harapan dibawah bimbingan Dr. Otto Sidharta dan menyelesaikan studi pascasarjana di Institut Kesenian Jakarta.

Aryadi telah mengikuti beberapa workshop komposisi musik dengan Slamet Abdul Sjukur (Indonesia), Dieter Mack (Jerman), Carlos Michans (Argentina), Johannes Schollhörn (Jerman), Manfred Stahnke (Jerman), Magnus Andersson (Swedia), Chong Kee Yong (Malaysia) dan Pow Ensemble Members Guy Harries (UK), serta Luc Houtcamp and Wiek Hijmans (Belanda).

Ia pernah bekerjasama dengan Franki Raden membentuk Indonesian National Orchestra (INO) dan konser perdananya di Melbourne, Canberra dan Sydney, Australia (2011).

Pernah bekerja sebagai pengajar di sekolah seni Sarasvati, sekolah Tinggi Seni Musik Cantata (STSMC) dan di SMA Avicenna Jagakarsa, dan membentuk Dance Circle Lab, laboratorium tari bersama Yola Yulfianti.

Karya-karya musiknya telah dipentaskan, baik dalam maupun luar negeri. Karya terbarunya berjudul berjudul “Demokrasi Di Atas Pasir” dalam Switch and Mix Atawa Nomager di Teater Kecil tahun 2019.

*Naskah ini diambil dari Katalog Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda, 20-26 September, dengan penyuntingan seperlunya. “CUY-Gang X Tanah Tinggi” dipentaskan Misswati Dance Jakarta pada Selasa (24/9).

Baca Juga

31 Film Hollywood Terdampak Virus Corona

Portal Teater - Hollywood sebagai simbol bisnis hiburan terbesar dunia sepenuhnya merasakan efek pandemi virus corona (Covid-19) yang kini sedang melanda dunia. Setidaknya ada 31...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Penyebaran Virus Corona di Indonesia Terus Meluas

Portal Teater - Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meluas sejak pertama kali teridentifikasi melalui dua pasien di Depok, Jawa Barat, awal Maret...

Terkini

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Merayakan Hari Teater Dunia Di Tengah Corona

Portal Teater - Keprihatinan yang mendalam saya sampaikan kepada seluruh rekan teater Indonesia yang sejak Februari 2020 harus membatalkan atau mengundurkan waktu pertunjukkan. Hal itu...

Cegah Covid-19 Baru, China Batasi Akses Wisatawan Asing

Portal Teater - Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, otoritas China sementara waktu akan menutup perbatasannya untuk sebagian besar wisatawan asing. Penutupan akses tersebut...

Transmisi Virus Corona Tak Terbendung, AS Terbanyak

Portal Teater - Transmisi virus corona terus meluas. Ini menunjukkan bahwa penyebaran corona makin tak terbendung di tengah ketidaksiapan dan kelambanan negara-negara untuk mencegahnya....

Dewan Kesenian Inggris Luncurkan Rp2,9T Untuk Sokong Industri Seni

Portal Teater - Dewan Kesenian Inggris atau Arts Council England (ACE) telah meluncurkan paket tanggap darurat senilai £160 juta atau setara Rp2,9 triliun (kurs...