Model (Alternatif) Pembelajaran Pasca Pandemi

Portal Teater – Pandemi virus Corona belum dipastikan kapan akan mereda. Sementara roda kehidupan manusia terus bergerak. Segala lini membutuhkan enzim untuk berputar, tidak terhenti seperti kini.

Salah satu sektor dari seluruh dimensi kehidupan manusia yang kini ikut terhenti adalah dunia pendidikan, dalam hal ini sekolah.

Barangkali di kota-kota besar atau daerah dengan akses teknologi dan internet memadai memungkinkan sistem pembelajaran terus berjalan melalui sistem aplikasi online (daring).

Namun di kampung atau desa dengan infrastruktur telekomunikasi dan perangkat keras seperti komputer atau laptop yang terbatas, model pembelajaran daring tak mungkin dilaksanakan.

Dengan demikian, ketika terjadi pembatasan sosial dan interaksi, atau sekolah diliburkan, maka peserta didik juga libur sekolah, atau dalam terminologi baru disebut “liburan corona”.

Beberapa pengamat dan praktisi pendidikan pada umumnya mengatakan bahwa pandemi ini menjadi “portal” yang memicu kemunculan rekayasa sistem pendidikan model baru di masa depan.

Karena itu, kreativitas dan teknologi memainkan peran kunci dalam situasi seperti saat ini. Bila mungkin, menjadi terobosan baru.

Beberapa sekolah dan kampus sudah berhasil menjalankan kewajiban pembelajaran, sementara peserta didik dan mahasiswa sudah mendapatkan haknya telah terfasilitasi.

Namun, hak-hak peserta didik dan mahasiswa di kampung-kampung terisolir, masih banyak yang tak terpenuhi. Bahkan, jika pandemi ini tak urung usai hingga semester, mereka lulus/naik kelas tanpa ujian.

Beberapa siswa dan mahasiswa yang lulus ujian nasional atau lulus ujian skripsi harus memendam semua kerinduan untuk menggelar ritual syukuran, hal mana menjadi tradisi tahunan.

Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Menurun Signifikan Sepekan Terakhir
Gubernur Anies Baswedan. Dok. Merdeka.com

Tiga Alternatif

Mencermati perkembangan pandemi yang tak jua sembuh, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lantas mengambil langkah cepat untuk menawarkan model pembelajaran pasca pandemi.

Gubernur Anies Baswedan menawarkan tiga alternatif bagaimana harus merancang model pembelajaran pasca krisis terbesar abad ini.

Dalam rapat persiapan PPBD, Jumat (15/5), Anies menyatakan bahwa pembukaan sekolah di ibukota dimulai pada 13 Juli.

Ia mengungkapkan, ada beberapa alternatif kebijakan sudah disiapkan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Melansir Detik.com, adapun alternatif pertama adalah membuka pembelajaran sebagian sekolah dan semua siswa belajar di sekolah.

Kedua, sebagian sekolah dengan sebagian siswa belajar di sekolah. Terakhir, semua sekolah dengan sebagian siswa belajar di sekolah.

Namun Anies menandaskan, kebijakan tersebut harus melihat kondisi persebaran corona di lingkungan sekolah.

“Jadi sebaiknya ini mencerminkan, terutama untuk SD, mungkin kita harus lihat peta lokasi sekolah dengan sebaran Covid-19. Jadi, data sekolah dimasukkan di dalam sistem aplikasi kita untuk kemudian sekolah bisa ketahui seberapa tinggi risiko di wilayahnya,” katanya.

Selanjutnya, Anies meminta agar penerapan kebijakan disesuaikan dengan peta persebaran zona virus. Misalnya, untuk zona hijau, sekolah-sekolah dapat leluasa melakukan aktivitas pembelajaran.

Rorotan di Cilincing, Jakarta Utara adalah salah satu daerah yang masih hijau sehingga dapat membuka kembali aktivitas belajar.

Sementara untuk zona merah seperti Pondok Kelapa, Tanah Abang, atau Petamburan, perlu pendekatan berbeda. Namun untuk semua sekolah harus mengikuti protap yang ada.

Niscaya di Masa Depan

Barangkali pandemi ini sedang menguji ketahanan sistem dan infrastruktur pendidikan kita. Di mana lebih banyak yang kropos.

Karena itu, pasca pandemi, membangun sistem dan budaya pendidikan yang kuat menjadi tugas berat pemerintah. Termasuk misalnya mengubah paradigma dan retorika pembangunan.

Menurut Ketua Divisi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Smart Learning and Character Center Richardus Eko Indrajit, pembelajaran daring merupakan keniscayaan di masa depan.

Karena itu, ia memandang pentingnya kehadiran negara dan para pemangku kepentingan pendidikan untuk menciptakan ekosistem pembelajaran berbasis teknologi informasi.

Memastikan akses internet dan teknologi komputer bagi guru dan siswa di semua sekolah, termasuk di daerah pelosok adalah kewajiban negara untuk mengayomi semua masyarakat.

”Dasar hukumnya adalah karena setiap warga negara berhak atas pendidikan yang berkualitas. Untuk itu, infrastruktur pendidikan modern (internet) perlu disiapkan bagi para guru dengan model pembiayaan yang efektif,” kata Eko kepada Kompas, 3 Mei lalu.

Dalam hal pemenuhan infrastruktur telekomunikasi, peneliti sosiologi pendidikan pada Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Anggi Afriansyah, melihat bahwa tantangan itu tidak hanya ada di daerah pelosok.

Namun di beberapa daerah di Pulau Jawa, bahkan belum memiliki akses internet dan komunikasi yang merata.

Lebih jauh, yang dibutuhkan dalam ekosistem digital tidak hanya para siswa/mahasiswa, melainkan juga guru/dosen.

Sebab kapasitas guru/dosen untuk mengoperasikan berbagai perangkat digital juga akan sangat berpengaruh pada pembelajaran.

Pengajar yang kreatif dan melek digital akan dengan mudah menyerap program-program pada aplikasi daring seperti Zoom, Google Hangout, Webex, dan Google Classroom dan Google Form.

Namun pengajar yang belum memiliki kompetensi digital akan sulit beradaptasi ke dalam platform tersebut, sehingga fungsi pembelajaran tidak berjalan efektif.

“Tetapi, lagi-lagi ini bergantung kapital sekolah, baik akses internet maupun perangkat teknologi digital,” kata Anggi.

Masa Depan Pembelajaran Daring

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nizam pekan lalu mengatakan bahwa saat pandemi hampir seluruh kampus melaksanakan pembelajaran daring.

“Menurut survei yang dilakukan April lalu, 95 persen perguruan tinggi melaksanakan pembelajaran daring,” ungkapnya, 7 Mei lalu.

Menyoal antisipasi jika pandemi tak segera mereda, Nizam menyatakan telah menyiapkan beberapa skenario antisipasi.

Namun demikian ia menegaskan pemerintah tidak perlu menyiapkan kurikulum darurat selama pandemi ini.

“Tinggal bagaimana perguruan tinggi memanfaatkan teknologi secara efektif dan efisien untuk pelaksanaan pembelajaran daring baik secara sinkronis maupun asinkronis,” tegasnya.

Selain tidak adanya perubahan kurikulum, Ketua Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Jamal Wiwoho menegaskan belum ada rencana perubahan kalender akademik untuk tahun ajaran baru 2020/2021.

Namun ia menandaskan bahwa pandemi telah menggeser budaya tatap muka dalam sistem perkuliahan di perguruan tinggi menjadi model pembelajaran online yang tidak terjadi sebelumnya.

Karena itu, Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, mahasiswa S3 Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang, menilai bahwa pandemi mendorong Kemendikbud untuk merumuskan kembali kurikulum yang lebih relevan dengan tuntutan ketrampilan abad ini.

Ia menyebut, misalnya kurikulum yang bisa mengedepankan lebih banyak pembelajaran campuran antara tatap muka dan pembelajaran digital (blended learning).

Syarat lain yang perlu dikembangkan pemerintah adalah menyiapkan regulasi dan infrastruktur pengembangan sumber belajar digital.

Pemerintah dapat memanfaatkan platform yang menyediakan kelas daring seperti Massively Open Online Courses (MOOC).

Metode ini dapat dilakukan secara masif dan terbuka karena menjadi tren praktik pembelajaran daring paling efektif saat ini.

Beberapa contoh MOOC ternama adalah Coursera, EdX, dan Khan Academy. Untuk kelas bahasa Indonesia ada MOOC Universitas Terbuka, Indonesia X, atau Learning Center milik Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMOLEC).

Dengan platform MOOC nasional, nantinya diharapkan dapat memuat perpustakaan kualitas materi ajar yang lengkap dan terakreditasi dan dapat diakses di seluruh Indonesia secara terbuka.

Orangtuan kembali berperan penting dalam model pembelajaran daring yang tengah bergeser lantaran pandemi Covid-19. -Dok. bimbeltikitaka.com.
Orangtuan kembali berperan penting dalam model pembelajaran daring yang tengah bergeser lantaran pandemi Covid-19. -Dok. bimbeltikitaka.com.

Dan yang terpenting dari itu, bilmana model pembelajaran sudah bergeser, maka peran orangtua semakin relevan.

Jika selama ini orangtua cenderung menganggap pendidikan anak-anak menjadi urusan lembaga pendidikan (sekolah/kampus), maka pembelajaran digital mengembalikan peran kunci orangtua.*

Baca Juga

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...