Mohammad Sunjaya: Bersetia Jadi Aktor hingga Akhir Hayat

Portal Teater – Aktor kawakan Mohammad Sunjaya, akrab disapa Yoyon, meninggal dalam usia 82 tahun di kediamannya di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/2).

Salah satu pendiri Studieklub Teater Bandung (STB) itu berpulang setelah dirawat intensif selama tiga bulan akibat sejumlah penyakit, terutama jantung dan paru-paru, yang diidapnya selama 2-3 tahun terakhir. Juga karena usia yang menua.

Yoyon diketahui bertahan hidup dengan oksigen tambahan selama lima tahun. Ada pembengkakakan pada jantung membuatnya sulit bernapas.

Suaranya tak lagi kencang seperti ketika menjadi seorang aktor teater. Demikian pula, pendengarannya sudah menurun beberapa tahun sebelum meninggal. Satu-satunya alat yang menyanggah perjalannya adalah tongkat.

Berbagai pengobatan telah dilakukan oleh keluarga, namun sakit yang dialami dan juga penuaan tak dapat lagi memperpanjang usia sang aktor.

Delapan tahun lalu, di usia yang cukup renta bagi seorang aktor, Yoyon pernah tampil memanggungkan karya Anton Chekov “Nyanyian Angsa” sebagai Svietlovidoff di Gedung Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Bandung.

Selama hidupanya, Yoyon terkenal sebagai seniman yang humoris namun sangat perfeksionis. Tidak suka berbicara bertele-tele, pendiri Actors Unlimited (1995) itu juga dikenal sebagai pribadi yang sosialita, tidak mementingkan diri sendiri.

Mohammad Sunjaya. -Dok. kumparan.com
Mohammad Sunjaya. -Dok. kumparan.com

Lahir di Cikalong, Kabupaten Bandung, 28 Agustus 1937, Yoyon tidak hanya bermain teater atau menjadi penyiar radio. Ia juga adalah penulis. Ada beberapa buku atau naskah teater yang dihasilkan semasa hidupnya.

Diantaranya: Yang Berdiam Dalam Marahnya, Sikat, Sikut, Sakit (2010), Tarian Terakhir (2009), Dalam Bayangan Tuhan atau Interogasi Bagian I (2008), Kehidupan di Teater (2007), Pembunuhan di Katedral Keadilan (2006), dan Sketsa-sketsa yang Tersisa (Kumpulan Puisi).

Di dunia keaktoran sendiri, Yoyon memulai debutnya secara otodidak, tidak melalui pendidikan formal, ketika ia bermain pada lakon “Di Langit Ada Bintang” pada 1955 karya Utuy Tatang Sontani besutan sutradara Noor Asmara, saat ia masih mengenyam pendidikan SMA.

Memiliki potensi keaktoran yang bagus, tiga tahun berselang, ia turut andil dalam pendirian STB tahun 1958 dan bermain dalam beberapa produksi.

Namanya lantas mulai dikenal melalui karya-karyanya berupa naskah drama dan penyutradaraan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan.

Tahun 1995, bertepatan dengan HUT kelahirannya, Yoyon mendirikan grup teaternya sendiri, Actors Unlimited atau AUL, di Bandung.

Bersamaan dengan pengkaryaannya di dunia kesenian, Yoyon juga bekerja sebagai penyiar Radio Mara di Bandung sejak 1971.

Ia juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Pusat Pemberitaan Radio Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia pada PRSSNI Jawa Barat tahun 1979.

Akhir November 1991, Yoyon dipecat lantaran menugaskan seorang reporter untuk meliput demonstrasi mahasiswa menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) di Bandung. Selain dipurnatugaskan, rezim juga menjadikannya tahanan kota.

Api pemberontakan di dalam dadanya tak pernah surut. Tahun 1994, ketika Majalah Tempo, Editor dan tabloid DeTik dibredel, Yoyon muncul di paggung untuk menyerukan perlawanan bersama dengan beberapa kerabatnya.

Selama proses pembredelan, ia merekam semua pemberitaan dari berbagai radio asing seperti BBC London, Radio Nederland, Radio Australia, Voice of America, Deutsche Welle dan CNN tentang tindakan meredam ‘suara pers’ itu.

Alhasil, setelah dua tahun, Yoyon memiliki sekitar 39 kaset yang masing-masingnya berdurasi 90 menit, merekam semua berisi berita, komentar, wawancara, laporan mengenai pembredelan ketiga media nasional tersebut.

Goenawan Mohamad dan Tim Redaksi Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta, sekarang bernama Komunitas Utan Kayu, yang juga didirikannya, memintanya untuk menebitkan hasil transkrip rekaman itu.

Pada 21 Juni 1996, dokumentasi tersebut diterbitkan menjadi buku berjudul “Breidel di Udara” dan diluncurkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kecintaannya pada teater membuatnya menghabiskan seluruh hidupnya bagi kelompok yang didirikannya, AUL Bandung. Bahkan, ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan swasta demi mendukung pertunjukan AUL “Paman Vanya” karya Chekov.

Sepanjang pengkaryaannya, Yoyon tak pernah berpikir menjadi seorang sutradara, meski ia telah mengagas pendirian AUL Bandung. Namun ia memilih jalan sunyi dengan bersetia menjadi aktor teater. (dari berbagai sumber)

Selamat jalan Kang Yoyon!*

Baca Juga

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

HUT Ke-46 Teater Keliling: Bermula di TIM Jakarta

Portal Teater - Empat puluh enam tahun lalu, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada sebuah rumah yang merupakan perumahan penjaga Kebun Binatang Raden...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...