Portal Teater – Teater Garasi baru saja mendapatkan “Ibsen Scholarship 2019” dari Ibsen Award, lembaga yang dibentuk oleh Kementerian Kebudayaan Norwegia, Pemerintah Kota Skien dan Teater Ibsen.

Sebagai penyelenggara Festival Ibsen dua tahunan di Norwegia, lembaga ini memberikan hibah kompetitif “Ibsen Scholarship” untuk proyek-proyek teater dari seluruh dunia yang dianggap mengembangkan pemikiran-pemikiran Henrik Ibsen dan menempatkannya dalam konteks sosial-politik kontemporer.

Ibsen adalah dramatis Norwegia yang berpengaruh besar dalam perkembangan drama realistik. Ia dijuluki “bapak drama modern” karena karya dramanya paling banyak dipentaskan di dunia setelah William Shakespeare.

Bersaing dengan 149 proyek dari 60 negara, Teater Garasi (bersama keempat nominator lainnya dari India, Perancis, Libanon dan Cina) mendapatkannya untuk proyek “Multitude of Peer Gynts” pada Kamis (19/9).

Proyek teater ini diprakarsai Yudi Ahmad Tajudin (sutradara) dan Ugoran Prasad (dramaturg) dari Teater Garasi (Yogyakarta) dan akan berlangsung selama dua tahun hingga tahun 2021.

“Proyek ini sendiri akan terus berlangsung sampai tahun 2021, paling tidak,” ujar Yudi ketika dihubungi Portal Teater, Rabu (25/9).

Proyek Kolaborasi Inter-Asia

“Multitude of Peer Gynts” adalah proyek kolaborasi teater kontemporer antar-Asia (Indonesia, Jepang, Vietnam dan Sri Lanka), untuk mengeksplorasi ketakutan/kegelisahan” dan im/mobilitas” Asia kontemporer, berdasarkan bacaan dan interpretasi “Peer Gynt” karya Ibsen.

Proyek ini akan disusun melalui lokakarya kolaboratif yang dirancang dengan seniman-seniman utama seperti Takao Kawaguchi (koreografer-penari), Yasuhiro Morinaga (sound artist-komposer musik), Mikari Fukui (aktor-performer) dari Jepang, Venuri Perera (koreografer-penari) dari Sri Lanka, dan Nguyen Manh Hung (seniman visual) dari Vietnam.

Untuk mewujudkan pertemuan kolaboratif antara berbagai seniman di kota-kota Asia, proyek ini akan akan mengundang dan berkolaborasi dengan seniman lokal lainnya di kota atau negara setiap kali karya ini akan dipentaskan, antara lain Jakarta, Yogyakarta, Flores Timur, Saigon, Kolombo, Tokyo, dan Shizuoka.

Dimulai di Larantuka

Yudi menuturkan, proyek “Multitude of Peer Gynts” ini terinspirasi dari pertemuannya dengan sejarah kebudayaan dan kenyataan-kenyataan sosial politik Flores Timur, di Nusa Tenggara Timur, hari ini.

Terutama perihal kontak dan pertemuan (encounter) antar kebudayaan yang kemudian membawa perubahan-perubahan dan kompleksitas baru.

“Tahun 2017 akhir, setelah kami, Teater Garasi, beberapa kali berkunjung ke Maumere dan Flores Timur (Larantuka, Adonara, Solor),” katanya.

Untuk memperluas simpul kebudayaan inter-Asia, setahun berikutnya, kedua inisiator (Yudi dan Ugoran) pun menyelesaikan serangkaian penelitian di Jepang, Vietnam, dan Sri Lanka.

Proyek ini memandang “Peer Gynt” karya Ibsen relevan untuk konteks Asia karena menjadi petunjuk taktis mobilitas global, lintas batas, persinggahan atau yang tersesat di dunia yang menakutkan, gelisah dan resah dalam mencari “rumah”.

Melihat penyusutan dunia dan proteksionisme dari sudut pandang Asia yang beragam, “Peer Gynt” mendorong kita untuk melakukan perjalanan, mencari dan mempertanyakan, untuk mengungkap dan memetakan dunia dan politik global yang tampak tak tertata.

Teater Garasi memandang “Peer Gynt” memanggil dunia yang berbeda dan proyek ini bertujuan untuk mempelajari panggilan tersebut. Petunjuk tersebut ditemukan, terutama dengan mengumpulkan Bagian IV dan V dari “Peer Gynt” milik Ibsen.

Mengikuti asumsi teruji dari temuan penelitian artistik ke seluruh Asia pada 2018 dan 2019, proyek ini mendasarkan pertunjukannya pada penggambaran Asia sebagai tempat pertemuan globalisasi; ia bersembunyi di bawah penyamaran institusi mental, tempat semua orang berpikir, berbicara dan menari sebagai “Peer Gynt”.

Dua kata kunci pasangan mobilitas-imobilitas dan ketakutan-kegelisahan menjadi dasar pendekatan tematik dalam proyek ini. Tema-tema ini muncul dalam berbagai bentuk selama perjalanan penelitian pada 2017-2018.

Melihat Kota dan Pagar

Proyek ini selanjutnya dimulai pada tempat-tempat di mana “rumah” (baca: kota) hanya untuk beberapa orang tapi menjadi pembatas bagi yang lain. Ini akibat meningkatnya kebijakan proteksionisme di beberapa negara.

Di Tokyo tampaknya semakin tak terbendung, di mana bagian utara Jepang memperlambat waktu; Saigon dibangun seperti raksasa yang tertidur; Hanoi berbaris maju melalui lorong-lorong belakang; dan Kolombo baru saja memanggil dunia karena kesedihan akibat terorisme.

Setiap tempat atau kota memiliki pagar dan setiap pagar tidak hanya memiliki kunci, tetapi juga warna tersendiri. Di satu sisi seperti “Tuhan”, petugas perbatasan, milisi perbatasan, agen imigrasi, dan juga drone. Di sisi lain terdiri dari institusi, rumah sakit, pasar, politik identitas, sekolah, dan bandara.

“Kedua sisi ini memberi tahu kami jalan mana yang harus masuk atau keluar,” tulis Yudi dalam proposal kepada Ibsen Scholarship.

Yudi melihat, masing-masing kota ini adalah tempat istimewa dengan kepiawaian yang khas. Secara komprehensif, kota-kota ini menggambarkan keterhubungan dunia yang luput dari pemahaman.

Fakta sekarang ini proteksionisme dan isu perbatasan nasional kembali menciptakan ketegangan-ketegangan baru, seperti halnya isu agama, ras, serta politik gender.

Ketegangan-ketegangan ini turut memperumit teritorialisasi ruang dan tempat sosial, untuk meminjam istilah Immanuel Kant, sebagai implikasi dari arus kosmopolitan global.

Dalam dunia yang makin kompleks dan saling terhubung saat ini, mobilitas dan imobilitas terbentur dalam satu medan wacana. Sementara ketakutan dan kecemasan kian diperkuat.

Hal ini turut menentukan bagaimana kita memandang dan memposisikan “kekitaan” seperti kita mengidentifikasi dan mendefinisikan “yang lain”.

Melalui proses pembuatan teater transkultural, kerja kolaborasi ini bertujuan menciptakan ruang kerja antarbudaya di antara seniman untuk bertukar pengalaman menurut perspektif dan pandangannya tentang globalitas.

Karena itu, dalam konteks abad ke-21, pencarian proyek teater ini bukan untuk subjek tunggal dan otonom dari “Peer Gynt” di Asia, tetapi untuk “Multitude of Peer Gynts”.

Lima Strategi Dramaturgi

Dalam metodologi kerjanya, Teater Garasi dan seniman kolaborasi tidak berupaya mensintesis dan mencampurkan banyak “tradisi” yang berbeda untuk menciptakan tahap produksi bentuk hibrida secara budaya.

Proyek ini berusaha untuk melihat lebih dekat di Asia sebagai kehidupan, situs pertemuan yang sedang berlangsung dan bagian dari sejarah global. Pun memahami bagaimana orang-orang Asia berjuang dengan sejarah global, bersama dengan politik dan sirkulasi modal ekonominya.

Karena itu, proses pembuatan “Multitude of Peer Gynts” ini didekati dengan lima strategi dramaturgi, seperti berikut:

Pertama, didasarkan pada kata kunci tematik dan bacaan masing-masing terhadap “Peer Gynt” Ibsen, para seniman merancang, mengeksplorasi, dan melatih proyek berdasarkan pendekatan modular.

Pada pendekatan ini, semua kolaborator memunculkan ide dan repertoar masing-masing, berdasarkan studi dan pengalaman di sekitar isu/kata kunci: mobilitas dan imobilitas dan ketakutan dan kecemasan serta keterlibatan kontekstual dengan ide “rumah”.

Kedua, proyek akan disusun berdasarkan berbagai kecenderungan dan pendekatan pelaku-kolaborator serta dialog kontekstual dengan kota tempat pertunjukan berlangsung. Sehingga proyek ini relevan diberi judul “Multitude of Peer Gynts.”

Karya ini diyakini dapat menjembatani keberagaman kolaborator dan konteks spasial spesifik dengan menciptakan ruang pertemuan yang menerapkan “Peer Gynt” sebagai kerangka kerja dramaturgi dalam pencaharian keanekaan “Peer Gynts” dari Dunia Selatan.

Ketiga, melalui pertunjukan kolaboratif terstruktur, para seniman kolaborator mengadakan beberapa lokakarya pengembangan pertunjukan selama tahun 2019.

Lokakarya pertama kali dibuat di Larantuka (23 Juni-6 Juli), kemudian di Tokyo (23 Agustus-6 September), dan Shizuoka (16 Oktober-4 November), sebelum pemutaran perdana karya kolaboratif di Shizuoka Performing Arts Center (SPAC) pada 4-19 November.

Keempat, berusaha melepaskan diri dari proyek pertunjukan yang didorong oleh faktor produksi, pertunjukan lintas budaya ini memerlukan cara yang berbeda untuk bernavigasi dan bereksperimen dengan perbedaan.

Dalam proyek ini, platform sirkulasi pertunjukan teater bekerja melawan prinsip persamaan sirkulasi dari pijakan antar budaya.

Karena itu, pertunjukan ini menawarkan strategi yang sedikit berbeda, di mana sambil mengidentifikasi pertunjukan di Shizuoka sebagai yang spesifik bagi konteks Jepang, proyek ini akan mendekati pertunjukan pada Mei 2020 juga sebagai spesifik untuk konteks Indonesia.

Pendekatan serupa akan dilakukan dalam pertunjukan di Sri Lanka (2021) dan Vietnam (2022), sambil memusatkan proyek sebagai percakapan khusus dengan audiens masing-masing.

Kelima, ketika mementaskannya, kolaborator tidak hanya akan melihat bagaimana karya ini dipertunjukkan, baik diucapkan, dilakonkan, atau ditarikan.

Audiens juga akan melihat berbagai alur cerita untuk menolak, mengubah atau bahkan memindahkan “orisinalitas” karya ke dalam konteks Asia.

Dengan berpikir secara modular, proyek ini serentak memindahkan, mengubah, merestrukturisasi, dan mengubah model karya para seniman agar memiliki kontak yang lebih kontekstual dengan para penonton di lokasi spasial spesifik mereka.

Kemitraan Proyek

Pada tahun 2018, Japan Foundation-Asia Center dan Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mendanai penelitian utama proyek ini.

Japan Foundation pun menyarankan Teater Garasi untuk mengajukan aplikasi pembaruan untuk putaran program hibah berikutnya.

Sementara Pemerintah Kabupaten Flores Timur pun mengkonfirmasi untuk membiayai dan menyelenggarakan lokakarya pengembangan pertunjukan teater di Indonesia, pada pertengahan tahun ini.

Selain itu, proyek ini mendapat sambutan dari Shizuoka Performing Arts Center (SPAC) yang menyatakan ikut memproduksi dan menjadi tuan rumah pemutaran perdana “Multitude of Peer Gynts” di Shizuoka Arts Theatre.

Untuk mendanai biaya produksi, biaya perjalanan para pemain dan kru, biaya seniman, dan proyek pengembangan pertunjukan di tahun-tahun berikutnya, Teater Garasi berupaya memperluas co-produser dan mitra di berbagai jejaring kerja.

Selain proyek kolaborasi ini, tahun ini Teater Garasi juga akan menjalankan program-program lain, seperti Cabaret Chairil dan Majlis Dramaturgi.

*Daniel Deha