Museum MACAN Gelar Pameran Global Melati Suryodarmo dan Julian Rosefeldt

Portal Teater – Akhir bulan Februari, publik ibukota akan disuguhkan pameran global dua seniman kontemporer terkemuka, Melati Suryodarmo dan Julian Rosefeldt, di Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta Barat.

Bertajuk “Melati Suryodarmo: Why Let the Chicken Run?” dan “Julian Rosefeldt: Manifesto”, pameran dua seniman lintas negara ini berlangsung selama tiga bulan, yaitu pada 28 Februari-31 Mei 2020.

Kedua pameran ini diadakan secara bersama berupaya untuk menyediakan platform dialog mengenai praktik seni kontemporer melalui cara yang masih belum lazim di Indonesia.

Seniman performans Melati adalah anak kandung dari maestro penata tari Suprapto Suryodarmo yang terkenal dengan aliran “Joget Amerta”-nya.

Darah seniman itu mengalir ke putrinya, yang kini sudah melalangbuana ke panggung pertunjukan internasional lewat karyanya yang menantang secara fisik.

Sementara Rosefeldt adalah seniman Jerman yang terkenal secara internasional karena karya seninya yang sangat visual dan sangat teliti, sering disajikan sebagai instalasi multi-layar yang kompleks. Karyanya “Manifesto” akan tayang perdana di Indonesia.

Direktur Museum MACAN Aaron Seeto mengatakan, seni performans dan seni video adalah fondasi bagi praktik seni kontemporer.

“Kami dengan bangga menampilkan dua perupa penting ini untuk audiens Indonesia. Kami berharap dengan mengembangkan dan mempresentasikan gagasan para perupa yang berpengaruh, dapat memperkuat dinamika medan seni Indonesia,” katanya dalam sebuah pernyataan tertulis.

Salah satu performans Melati Suryodarmo. -Dok. detik.com
Salah satu performans Melati Suryodarmo. -Dok. detik.com

Tubuh Publik

Pameran ini menjadi yang pertama kalinya Melati menggelar pameran tunggal di sebuah museum seni. Tahun ini, bertepatan dengan perayaan mengenang 20 tahun pengkaryaannya di bidang seni pertunjukan.

Dalam pameran ini Direktur Artistik Jakarta Biennale 2017 itu akan mempresentasikan karya termashyurnya: “Why Let the Chicken Run?” (2011).

Dalam performans ini, Melati akan mengejar seekor ayam jantan hitam di area galeri sebagai simbol proses manusia saat mengejar hal-hal yang diinginkan dalam hidup.

Terkenal sebagai seniman butoh, Melati juga akan menyuguhkan pertunjukan berdurasi 12 jam berjudul “I’m A Ghost in My Own House”, karyanya yang dihasilkan tahun 2012.

Di mana Melati menyediakan platform bagi pertemuan emosional dengan publik sembari mempertunjukkan daya tahan tubuh dan pikiran yang luar biasa.

Tubuhnya di sini tidak lagi menjadi miliknya pribadi, tapi sudah terlebur dan berpindah menjadi tubuh publik. Melalui performans ini Melati mengkolaborasikan karya teater dan seni rupa dalam satu ruang pertunjukan.

Dalam performans ini, Melati akan menampilkan secara langsung (live performance) aktivitas menghancurkan dan menggiling ratusan kilogram briket arang, masing-masing pada Sabtu (29/2) dan Minggu (1/3).

Melalui peragaan ini, publik dapat mengalami perjumpaan emosional dengan Melati yang juga akan menampilkan ketahanan tubuh serta mentalnya.

Performans ini mengingatkan kita pada bentuk pertunjukan yang lebih menantng oleh seniman perempuan asal Serbia, Marina Abramović.

Tahun 2010, Marina Abramović memandangi orang asing di MoMA. Banyak di antara mereka yang terharu hingga menangis . -Dok. BBC/Getty Images.
Tahun 2010, Marina Abramović memandangi orang asing di MoMA. Banyak di antara mereka yang terharu hingga menangis . -Dok. BBC/Getty Images.

Seniman kelahiran Beograd itu membuat penonton menggeliat ketika ia mengiris bentuk bintang ke perutnya dengan pisau dan mencambuk dirinya sendiri tanpa alasan sambil berbaring di balok es dengan tubuh telanjang.

Baru-baru ini, ia mengajak pengunjung untuk menatap matanya selama mereka bisa menahannya. Dan seniman kelahiran 1946 itu bertahan selama 736,5 jam.

Delapan tahun lalu, Melati pernah melakukan pertunjukan semacam ini ini dengan menaruh meja gerindra di tengah ruang pameran Lawangwangi Creative Space, Bandung.

Ruangan itu sekelebat berubah menjadi kolam arang. Baginya, arang adalah simbol energi kehidupan. Meski ia sendiri menyadari, bahwa energi itu dapat saja berpendar dan punah.

Adapula performans “The Black Ball” (2005), di mana sang seniman menantang tubuhnya secara fisik dan psikologis dalam pencarian pribadi akan kesadaran spiritual yang lebih dalam dari diri.

Selain pertunjukan, Melati juga akan menampilkan dokumentasi video, karya foto, artefak dari pertunjukan sebelumnya, dan memvisualisasikan karya-karyanya itu.

Secara umum, panggung pertunjukan Melati menghadirkan pengaruh artistik utama dan pilihan arsip pribadinya untuk menggambarkan proses kreatifnya yang menarik, yang mana sebagian besar dipengaruhi oleh Butoh, dan pendidikan seni formalnya di Eropa bersama dengan tradisi budaya Jawa.

 Manifesto karya Julian Rosefledt. -Dok. radio.cz

Manifesto karya Julian Rosefledt. -Dok. radio.cz

Tayang Perdana di Indonesia

Selain menghadirkan seniman kontemporer Indonesia, Museum MACAN dalam pameran ini juga akan meluncurkan karya perdana seniman Jerman Julian Rosefeldt: “Manifesto” yang dibuatnya sejak tahun 2015.

“Manifesto” merupakan sebuah instalasi 13 layar video multimedia yang menampilkan aktor Australia Cate Blanchett dengan 13 peran berbeda, seraya mengucapkan secara monolog beberapa manifesto seniman terpenting dari abad ke-20.

Setiap karakter menghuni layarnya sendiri, dengan masing-masing monolog berjalan sekitar 10 menit.

Dengan menggali dan mempresentasikan gagasan-gagasan berpengaruh para tokoh tersebut, Rosefeldt menghembuskan kehidupan baru penghormatan pada tradisi manifesto sembari menyoroti peran seniman dalam masyarakat.

Manifesto sebelumnnya tayang perdana pada Melbourne’s Australian Centre for the Moving Image (2015) dan telah ditampilkan di seluruh Eropa dan Amerika Serikat termasuk Hamburger Bahnhof, Berlin dan Park Avenue Armory, New York.

Karya ini diproduksi bersama oleh Burger Collection Hong Kong dan Ruhrtriennale, yang terwujud berkat dukungan dari Medienboard Berlin-Brendenburg dan bekerja sama dengan Bayerischer Rundfunk.

Mengisi sela-sela pameran, akan ada kegiatan talk show, tur, dan program publik lainnya. Beberapa program tersebut akan memberikan ruang bagi publik untuk berdialog langsung dengan para seniman dan ide-idenya.

Seperti misalnya program edukasi interaktif bernama ‘Kolase Pikiran’ dan Wicara Seniman dengan gaya angkringan bersama Melati.

Selain itu, kuliah terbuka dengan Rosefeldt dan program baru yaitu seri debat terbuka yang mengajak audiens berdebat secara publik mengenai isu-isu penting dalam seni kontemporer, dan lokakrya montase video.

Tentang Seniman

Melati Suryodarmo, lahir pada 1969, saat ini tinggal di Surakarta. Ia lulus dari Hochschule für Bildende Künste Braunschweig, Jerman, dengan kualifikasi Meisterschüler dalam Seni Pertunjukan pada tahun 2003.

Karya-karya seni pertunjukannya yang menantang fisik dan tahan lama adalah hasil dari penelitian berkelanjutan dalam gerakan tubuh dan hubungannya dengan diri dan dunia.

Melati telah mempresentasikan karyanya di berbagai festival dan pameran internasional. Pada 2017, ia ditunjuk sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale.

Sejak 2007, ia telah menyelenggarakan Undisclosed Territory, sebuah acara seni pertunjukan tahunan di kota kelahirannya, Surakarta.

Rosefeldt adalah seniman berbasis di Berlin (lahir di Jerman, 1965) terkenal secara internasional karena karya seni gambar bergeraknya yang sangat visual dan sangat teliti, sering disajikan sebagai instalasi multi-layar yang kompleks.

Terinspirasi oleh sejarah film, seni, dan budaya populer, Rosefeldt menggunakan kiasan sinematik untuk membawa penonton ke dunia nyata, sebuah teater di mana masyarakatnya diserap oleh ritual kehidupan sehari-hari.

Rosefeldt sering menggunakan humor dan sindiran untuk merayu penontonnya ke dunia yang aneh. Karya-karyanya telah ditampilkan secara internasional di berbagai museum dan festival film. (dari berbagai sumber)

Baca Juga

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...