Nadiem Makarim: Seni Penting untuk Pembangunan SDM Indonesia

Portal Teater – Presiden Joko Widodo pada periode kedua pemerintahannya menekankan pentingnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal itu bertujuan membangun manusia Indonesia yang unggul, produktif dan mampu bersaing di ranah global.

Salah satu sektor yang menjadi sasaran Presiden Jokowi adalah pendidikan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan Indonesia, sehingga belum menciptakan SDM yang unggul dan produktif.

Karena itu, sistem pendidikan bangsa kita memerlukan reformasi, bahkan revolusi besar-besaran.

Tonggak arah reformasi itu telah dipasang pada pundak Nadiem Makarim, pendiri GOJEK, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2019-2024.

Pemilihan Nadiem mengurangi banyak ekspektasi masyarakat dan pengamat karena Nadiem bukanlah orang pendidikan, baik akademisi atau praktisi pendidikan.

Namun siapa sangka, Jokowi tentu punya pertimbangan matang untuk menempatkan menteri perwakilan kaum milenial tersebut.

Yang dipikirkan sang “wong cilik” bukanlah apa yang akan terjadi dalam satu-dua tahun ke depan, tapi sebuah proses evolusi sistemik yang terukur dan prospektif bagi pembangunan bangsa ini puluhan tahun ke depan, terutama menyongsong “Indonesia Emas” pada 2045.

Dalam wawancara dengan Harian Kompas, Rabu (6/11), Nadiem mengatakan, dalam sistem pendidikan saat ini, ada ketidakcocokan antara konten pendidikan dengan kebutuhan industri di Indonesia. Karena itu perlu ada link and match antara keduanya.

Tidak hanya itu, Menteri berusia 35 tahun itu melihat ada problem pada pemenuhan kompetensi dunia riil. Sebab, dunia membutuhkan SDM yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan kreatif.

“Akan tetapi, pola pendidikan kita belum banyak berubah selama 20 tahun terakhir. Transformasi ini adalah proses evolusi yang perlu dipercepat,” katanya.

Seni Menjawab Problem

Nadiem menerangkan, dunia industri tidak mengeluhkan ketidakmampuan atau kekurangan SDM pada bidang pekerjaan dan hal-hal teknis lainya.

Yang dikeluhkan adalah ketersediaan SDM yang mampu bekerja sama, percaya diri dalam mengambil keputusan, inovatif, komunikatif dalam mengutarakan gagasan, dan disiplin waktu.

Di Indonesia, belum banyak manusia-manusia yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai ini. Masih ada ruang kosong yang belum terisi sepenuhnya.

“Padahal aspek-aspek ini kunci dari profesionalisme,” tuturnya.

Pada ruang kekosongan inilah seni hadir dan mencoba mengurai benang-benang kusut kebudayaan dan pembangunan SDM Indonesia.

Memang benar, sistem pendidikan sebelumnya telah berupaya menekankan pentingnya pendidikan karakter. Namun, karakter sebenarnya tidak terpisah dengan kompetensi individu.

Nadiem menyatakan, seni merupakan ekspresi manusia yang tidak bisa diabaikan begitu saja dari pendidikan karakter dalam sistem pendidikan di negara ini.

Sebab peran kreativitas sangat diperlukan dalam menyiasati revolusi industri 4.0. Di sekolah, seni dan kegiatan kreatif lainnya merupakan entitas penting untuk pendidikan karakter dan meningkatkan kompetensi siswa.

Begitu pula di lingkungan masyarakat umumnya. Seni menjadi wahana yang mampu membangkitkan daya kreatif, imajinasi dan inovasi-inovasi gagasan untuk pembangunan bangsa.

“Nah, metodenya banyak sekali. Kami sebagai pemerintah lebih baik memberdayakan masyarakat sipil saja, terutama dalam hal kebudayaan,” ungkapnya.

Hari ini, pemerintah terus mendorong komunitas, seniman, dan kreator untuk menyelenggarakan berbagai macam aktivitas budaya.

Kontribusi Seni (Teater)

Dalam sambutan penutupan Festival Teater Anak DKI Jakarta 2019, Gubernur Anies Baswedan pun mengatakan, seni merupakan sarana yang paling tepat dan strategis untuk membangun masa depan bangsa.

Melalui seni, khususnya seni peran atau teater, setiap orang diasah, dilatih dan dikondisikan untuk kreatif dan inovatif, baik dalam gagasan maupun dalam praksis.

Khusus dalam seni teater, Gubernur Anies melihat ada empat kontribusi yang mampu membentuk kompetensi seseorang, terutama seorang anak.

Pertama, kemampuan imajinasi. Ketika seseorang memainkan seni peran, maka kemampuan pertama yang bertumbuh dalam dirinya adalah kemampuan imajinasi. Yaitu bagaimana ia mengimajinasikan dirinya memainkan peran A, B, atau C.

Kedua, kemampuan untuk konsentrasi, yaitu bagaimana seseorang belajar berkonsentrasi untuk mengingat perannya dalam teater, baik itu naskah, keaktoran, blocking, dan sebagainya.

Ketiga, kemampuan kolaborasi. Kerja kolaboratif ini akan tumbuh karena teater bukanlah pekerjaan individu, melainkan pekerjaan bersama dalam tim.

Terakhir, kemampuan relaksasi, yaitu kemampuan untuk tampil lebih tenang dan percaya diri di atas panggung, termasuk menyampaikan gagasan secara komunikatif.

“Bapak ibu sekalian, mari kita tumbuhkan ini, tapi belum tentu dirasakan manfaatnya hari ini. Manfaatnya di masa depan. Ini adalah investasi yang tak ternilai harganya,” paparnya di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (15/10).

*Daniel Deha

Baca Juga

“Konser Seni” Kembali Gairahkan Aktivitas Kesenian di Bengkulu

Portal Teater - Aktivitas kesenian di Provinsi Bengkulu kembali bergairah. Akhir pekan lalu, ratusan seniman dari berbagai kota dan daerah di Bengkulu menggelar pentas...

Promosi Teater kepada Pelajar, Mahasiswa IKJ Pentaskan “Pinangan”

 Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta akan mempersembahkan drama komedi "Pinangan" karya Anton Checkov (saduran Suyatna Anirun)...

Teater Lorong Yunior Eksplorasi Kreativitas Anak Lewat Lakon “Sang Juara”

Portal Teater - Teater Lorong Yunior  mengeksplorasi kreativitas anak-anak lewat pementasan drama musikal "Sang Juara" pada Minggu (19/1) di Gedung Kesenian Jakarta. Lakon ini mengangkat...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...