Naskah Abstrak Terlihat Menarik di Tangan Hendra Wijaya

Dalam pementasan "Bulan Bujur Sangkar" oleh Lab Teater Lumbung

Portal Teater – Barangkali penonton terpana dan bertanya-tanya: apa maksud pertunjukan ini? Apa artinya bagi kita? Adakah bulan berbentuk bujur sangkar? Bukankah ini absurd dan nihil?

Demikianlah rentetan pertanyaan eksistensial yang timbul ketika Lab Teater Lumbung mementaskan naskah “Bulan Bujur Sangkar” karya Iwan Simatupang (1957), yang diadaptasi dan disutradarai Hendra Wijayaputra.

Iwan Simatupang menggarap naskah berlatarkan kondisi politik Indonesia tahun 1960-an, di mana terjadi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) atau Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang disebabkan oleh ketidakharmonisan antar satu sama lain.

Dengan “Bulan Bujur Sangkar”, Iwan Simatupang menggambarkan secara metaforis perlawanan terhadap sistem sosial. Sebuah harapan, keinginan, kebebasan dan kematian dengan bahasa pemajasan, tuturan idiomatik, dan peribahasa yang diramu dalam balutan dialektika filsafat eksistensialisme.

Sartre, salah satu tokoh eksistensialis, mengklaim bahwa salah satu konsep sentral eksistensialisme adalah bahwa eksistensi mendahului esensi.

Ini berarti, kehidupan aktual seorang individu disatukan dalam eksistensi nyata mereka, dan bukan esensi yang diatribusikan orang lain kepada mereka. Melalui kesadarannya sendiri, individu menciptakan dan menentukan nilainya sendiri.

Naskah ini digarap kembali oleh Hendra Wijaya selama tiga tahun dan dipentaskan pada hari hari kedua Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (13/11) malam.

Kiranya metode alienasi yang diciptakan Bertold Brecht dianggap cukup relevan untuk mengungkapkan makna pementasan tersebut. Di mana efeknya, atau sering disebut juga dengan V-Effect secara gamblang mencoba memisahkan penonton dari peristiwa pertunjukan agar penonton dapat melihat panggung dengan kritis.

Artinya, ada ruang disparitas yang tak terjembatani antara penonton dengan tubuh pertunjukan. Penonton tidak dibiarkan masuk ke dalam pertunjukan, tapi sekedar melihat, menatap, dan kemudian memahaminya sesuai sistem nilai yang dianutnya.

Yang menarik, meski naskah ini terlihat sangat berat dan abstrak, seperti karakter penulis naskahnya, tapi justru dimainkan oleh aktor-aktor yang kebanyakan adalah pelajar. Kecuali aktor utama, seorang laki-laki tua, yang diperankan Aldi Mutiara, seorang mahasiswa.

Ini menunjukkan kemampuan sutradara yang dapat menggarap potensi keaktoran para pemainnya secara baik dan terpola.

Watak keremajaan memang masih sangat tampak dalam pertunjukan ini, meski menurut sutradara Hendra, kehadiran beberapa prajurit (diperankan para pelajar) itu hanya sengaja ditambahkan.

Bunyi vokal, ekspresi dan watak umur juga masih sangat “hijau”, sehingga secara tekstual belum sungguh-sungguh merepresentasikan karakter prajurit yang gagah sebagaimana konteks sosial politik penulisan naskah ini di era pemberontakan 1960-an.

Namun, sosok pemberontak dengan sangat baik diperankan Aldi Wahni Wahyudi. Yang kemudian ditunjang oleh keaktoran Aldi Mutiara yang sangat matang untuk memerankan laki-laki tua sebagai algojo.

Latar waktu, tempat dan pencahayaan didapuk dengan cukup baik. Desain panggung menyerupai sebuah hutan belantara, tempat laki-laki tua hidup di lereng bukit benar-benar dihidupkan.

Suara-suara burung penanda kematian pun membuka pentas ini untuk mengantar penonton kepada situasi di mana batas antara kehidupan dan kematian seperti setebal awan.

Seorang algojo tua masuk ke tengah panggung dari arah belakang. Ia mengenakan pakaian serba putih, seperti kebanyakan prajuritnya.

Ia tertawa terbahak-bahak, senang karena setelah 60 tahun cita-cita membuat sebuah tiang gantungan akhirnya tercapai; di sebuah lereng bukit. Baginya, tiang gatung itu adalah sebuah penentu awal dan akhir: apakah kita yang akan dimatikan atau mematikan dalam tiang itu.

Tidak tahu, untuk siapa tiang itu didirikan. Atau untuk dirinya, atau untuk kaum pemberontak yang menentang ketentuan dan kekuasaannya.

Tiang gantung itu tidak persis terlihat, tapi tali gantungan berukuran besar berseloyor dari atas pohon, barangkali. Mula-mula tali gantungan itu tertutup dedaunan hijau.

Lalu datanglah pemuda pemberontak yang melihat tiang besar itu dengan pertanyaan-pertanyaan heran. Terjadi perdebatan panjang antara keduanya. Si laki-laki tua mengeluarkan pistolnya dan membidiknya, namun tidak mengarahkannya kepada pemuda.

Si pemuda menuduhnya akan membunuh jiwanya. Lantas, si pemuda menaruh permusuhan dengan laki-laki tua. Anak muda mencoba membunuhnya, namun laki-laki  tua mencoba mengelaknya dengan cara meyakinkan dan mempengaruhi pikiran anak muda.

Si laki-laki tua berhasil menjejakkan kata-kata penuh mantra ke pikiran si pemuda. Akhirnya ia pun berpikir bahwa hidup sesungguhnya adalah tidak penting. Sebab kematian adalah kemutlakan. Karenanya, ia memilih untuk mati atau dimatikan.

Sebuah kehidupan telah berakhir. Si pemuda dan kemiliterannya mati di tali gantungan laki-laki tua.

Barangkali bagi si pemuda, kematian di tiang gantungan adalah awal mula bagi kehidupan. Dalam tradisi agama-agama, “rela mati demi kehidupan baru” telah banyak ditafsirkan secara keliru.

Faktanya, banyak orang yang terindoktrinasi, layaknya si pemuda pemberontak, lalu mati demi sebuah janji kebahagiaan di akhir kehidupannya di dunia.

Pada titik ini, naluri psikologis dan keimanan Iwan Simatupang begitu gamblang. Di mana ini sekaligus menunjukkan berpindahnya keimanannya dari Islam ke Katolik. Apakah ia sungguh-sungguh menemukan kebermaknaan hidup dalam agam barunya?

Fragmen ini juga memperlihatkan transisi pekerjaan Iwan Simatupang yang melepaskan pakaian ketentaraannya dengan mempelajari kebudayaan hingga ke Eropa. Ia “menggantungkan” kemiliterannya pada tiang pancung, dan bercita-cita membangun kebudayaan di negeri ini.

Hal itu memang fakta karena apresiasi terhadap karya-karya Iwan Simatupang yang cerdas itu tidak hanya datang dari seniman Indonesia, tapi juga dari luar negeri. Dia dianggap sebagai salah satu seniman yang, meski mati muda, berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia pada masanya.

Atas berita kematian si pemuda, kekasihnya, yaitu seorang perempuan cantik (diperankan Yunita Sari) menemui laki-laki dan bertanya mengenai keberadaan pacarnya. Ia seperti mencari bulan bujur sangkar yang tidak pernah ada, baik mitologi bangsa-bangsa maupun dalam khazanah filsafat.

Si laki-laki tidak mengelak dari pertanyaan-pertanyaan di perempuan, dengan mengatakan bahwa pacarnya mati di tiang pancung. Si perempuan tidak bisa menerima keadaan akhirnya hilang dari hadapan laki-laki tua seperti bayangan.

Merasa seperti berada di sebuah alam gaib, laki-laki tua berupaya menghadirkan kembali sosok perempuan dalam imajinasinya. Ia menelanjangi diri sendiri dan bertindak seolah sedang menyetubuhi perempuan cantik itu.

Fantasi-fantasi seks yang dihadirkan ini sungguh menggambarkan pemikiran-pemikiran Iwan Simatupang yang sebagian hidupnya hilang dari kemesraan dengan perempuan. Istri pertamanya meninggal setelah mereka menikah, kemudian istri keduanya bercerai.

Namun, pada akhirnya laki-laki tua tahu bahwa kematian sesungguhnya merupakan awal kehidupan baru. Itu mutlak seperti adagium filsafat terkenal dari Descartes: cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).

Akhirnya, ia pun bunuh diri dengan mati di tiang gantungan yang dibuatnya. Baginya, yang menunjukkan eksistensinya adalah tindakan pembunuhannya: “Aku membunuh maka aku ada”.

Ungkapan ini sengaja disisipkan Iwan Simatupang untuk menggambarkan kondisi pemberontakan dan pembunuhan yang dialami bangsa Indonesia pada masa itu.

Kiranya, ungkapan itu masih relevan hingga saat ini, ketika aksi-aksi pembunuhan telah menjadi sebuah pembenaran oleh sekelompok masyarakat.

Lampu berpendar lalu pentas pun selesai. Riuh penonton yang terpana dengan lakon ini melesat-lesat di gedung pertunjukan.

Tiga Metode Latihan

Sutradara Hendra mengatakan, ada tiga metode yang dilakukan untuk menanamkan karakter keaktoran para pemainnya, yaitu ekspedisi, aksi dan reaksi.

Melalui ekspedisi, setiap aktor pertama-tama harus mengenal tokoh-tokoh teater melalui buku-buku, diskusi, dan sharing dari seniman-seniman teater senior. Dengan kata lain, para pemain harus melakukan pengembaraan intelektual.

Lewat metode aksi, setiap aktor membayangkan karakter-karakter yang akan diperankan. Yaitu dengan masuk ke dalam pengembaraan Iwan Simatupang dengan menjadi tokoh seperti apa.

Sementara lewat metode reaksi, para pemain harus mampu memperistiwakan naskah tersebut dan bukan untuk mementaskannya.

“Bukan untuk memainkan, atau mementaskan, tapi pementasan itu ada peristiwa nggak di situ?” katanya.

Lebih dar itu, ia juga memanajemen kualitas diri para aktornya sehingga secara tidak langsung mereka mendapat tiga kekuatan: kekuatan hati, kekuatan pikiran dan kekuatan tindakan.

Naskah ini, kata Hendra, digarap selama kurang lebih tiga tahun, sejak para pemainnya masih sangat remaja. Dalam proses itu, ada banyak referensi yang dipakainya untuk memperdalam dan memperluas perepektif pertunjukan.

Tentang Lab Teater Lumbung

Lab Teater Lumbung adalah wadah terbuka bagi pegiat teater yang ingin berproses kreatif bersama menuju pencapaian artistik dan diskursus tertentu. Berdiri pada 5 Mei 2005 di Kemanggisan Raya, Palmerah, Jakarta Barat.

Lab Teater Lumbung hadir sebagai pusat kajian, penelitian dan penciptaan karya-karya teater berskala lokal, nasional maupun internasional.

Teater Lumbung juga berkonsentrasi pada studi dan penelitian teater, naskah dan artistik teater.

Hal itu dicapai melalui diskusi, workshop dan penelitian terhadap warisan tradisi (urban, etnik) dari berbagai daerah untuk kemudian mempertemukannya dalam suatu sintesis kreatif dengan arus-arus baru penciptaan teater dari berbagai penjuru dengan tetap berpijak pada prinsip-prinsip kebebasan kreatif.

Lab Teater Lumbung didirikan oleh Hendra Wijaya Putra (Hendro Temble) yang didukung oleh Chair Gusti Mayani, M. Fikri (Ketua Karang Taruna Kelurahan Kemanggisan Kecamatan Palmerah), Sutarno SK, Ibu Nani Tandjung, Rizal Nasti, Hj. Amin (Om Jin), Herman Yagya, Anto Ristargie dan beberapa seniman teater lainnya.

Hendra Wijaya lahir pada 19 Mei 1971 di Jembatan Jiung Kemayoran dan besar di Kemanggisan, Palmerah Jakarta Barat. Lulusan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1998) ini pertama kali berteater di Teater LHO pimpinan Almarhumah Chair Gusti Mayani.

Lalu, berlanjut di Teater Kail 79 Pimpinan Sutarno SK. Tidak puas mengintip dan berproses dalam medan teater, Hendra kemudian hijrah ke Teater Mandiri, Satu Merah Panggung, Bengkel Teater Cipayung Depok, Studi 24.

Sehari-hari Hendra mengajar di Teater Gema Kesosi, Teater Este Manis Bina Nusantara, Teater Syahid, Tonggak dan Altar.

Pada tahun 1996, ia mendirikan Teater Songo di Joglo Jakarta Barat, yang kini berubah menjadi Lumbung Actor Laboratory atau Lab Teater Lumbung yang diresmikan pada 5 Mei 2005 di Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat.

Untuk memperluas kinerja perteateran, Hendra mendirikan Teater Lumbung di daerah-daerah seperti Bekasi, Karawang dan Purwakarta. Lebih dari 68 Judul sudah disutradarai, beberapa kali menyandang Aktor Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Penata Artistik Terbaik.

Pada tahun 2017, Lab Teater Lumbung menjuarai Festival Teater Pelajar dan mendapat tiket lolos ke Festival Teater Jakarta Barat. Namun atas beberapa pertimbangan khusus yang membuat Lab Teater Lumbung tidak bisa mengikuti festival teater kategori umum.

Dengan mengusung visi “Hijaukan Teater Kita”, Lab Teater Lumbung membangun jejaring teater di beberapa kota, antara lain di Karawang, Purwakarta, Subang, dan Bekasi. Para anggota di grup teater ini pun saling berinteraksi dan bertukar gagasan.

Adapula terjadi pertukaran anggota di dalam kelompok-kelompok tersebut. Di beberapa kota tersebut, mereka tetap memakai nama yang sama, yaitu Lab Teater Lumbung.

Untuk membina pertumbuhan teater, para anggota Lab Teater Lumbung mengikuti pendidikan dan pelatihan secara periodik, terutama untuk menjadi anggota tetap.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

“Konser Seni” Kembali Gairahkan Aktivitas Kesenian di Bengkulu

Portal Teater - Aktivitas kesenian di Provinsi Bengkulu kembali bergairah. Akhir pekan lalu, ratusan seniman dari berbagai kota dan daerah di Bengkulu menggelar pentas...

Terkini

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...