Naskah Teater “PERTJA” Karya Benny Yohanes

Portal Teater – Naskah teater “PERTJA” karya Benny Yohanes, atau yang terkenal dengan sebutan “Benjon” ini telah memenangkan Sayembara Penulisan Lakon Realis 2010 yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara, Jakarta.

Naskah ini telah dipentaskan di mana-mana, termasuk yang terakhir oleh Sindikat Aktor Jakarta (SAJ) pada Kamis, 5 September 2019 di Gedung Kesenian Jakarta, di bawah sutradara Joind Bayuwinanda.

Berikut naskah lengkapnya:

DRAMATIS PERSONAE:

• ROSA, perempuan, 28 tahun
• PUPU, perempuan, 20 tahun
• SELASIH, perempuan, 16 tahun
• BROJO, lelaki, 50 tahun
• RIAN, lelaki, 24 tahun

SEPENGGAL LAKON DALAM 5 BAGIAN:

1. Mendung, saat baik memetik tomat
2. Penyakit itu Sehat
3. Meniti Karet Gelang
4. Gita
5. Kunang-kunang di jalan layang

1. Mendung, saat baik memetik tomat

Ext. Lewat tengah malam. Halaman rumah bagian belakang. Batas bagian belakang itu tidak bertembok, hanya dibatasi rumpun pohon bambu. Belasan tanaman tomat sedang berbuah. Satu dua tanaman nampak terlindas jejak kaki. Suara gerimis terdengar. Lampu bohlam agak redup menyala di ruang tengah. Dari pintu ruang tengah yang terbuka, nampak koridor sempit berakhir pada sebuah pintu. Itulah pintu depan.Di kiri dan kanan koridor itu, sejajar dengan batas luar ruang tengah, ada tiga pintu tertutup, menuju kamar lain. Sebuah pintu di sisi kanan, kamar ROSA. Dan dua pintu di sisi kiri, kamar PUPU dan SELASIH. Di antara dua pintu di sisi kiri, terdapat ruang dapur  terbuka. Perabotan di ruang tengah hanya meja kayu kehitaman. Tiga buah kursi ditumpuk di atasnya, disungkup kain hitam.Di dekat situ, televisi tua masih menyala. Gambarnya buruk. Seluruh lantai ruang tengah ditutupi tikar. Di atas tikar masih nampak piring-piring penganan yang belum dibersihkan. Suasana muram.

ROSA duduk menekuk dua kakinya di atas kursi goyang tua, tepat di depan daun jendela ruang tengah yang disekat tirai tembus pandang. Didepannya menghampar kebun tomat. Bajunya terusan warna gelap tanpa corak. Rambut panjangnya diikat satu ke belakang, ditutupi kerudung tipis berwarna merah tua. Kepalanya agak terkulai di atas dua dengkulnya. Di tangan kirinya, sebuah tomat. ROSA menggumamkan lagu, tapi tidak dinikmatinya. Suara seraknya lebih mirip orang menggigil.

PUPU menggeletak miring di atas tikar, di belakang pintu ruang tengah. Hanya setengah badannya yang muncul melintang di tulang pintu. Badannya dibungkus sarung abu-abu. Rambutnya pendek dan tipis, berkacamata minus.

PUPU :
Kak, sudah malam. (Melihat arlojinya) Hampir pagi…

ROSA :
(Meremas tomat. Bijinya dikucurkan ke daun daun tomat. Menikmatinya)

TERDENGAR PIRING YANG DIPECAHKAN DARI KAMAR SELASIH YANG TERKUNCI.

PUPU :
(Bangkit. Membereskan piring-piring. Menatap Rosa di tulang jendela)
Kalau dikurung terus, dia bisa nekat.

ROSA:
(Dingin, tanpa perasaan)
Lonte kemayu. Kepalanya harus kita gunduli. Ambilkan gunting!
PUP :
(Heran) Kak, jangan

ROSA:
(Menuju pintu, mengambil gunting dari kamarnya. Berhenti di depan kamar terkunci. PUPU menghalangkan badannya di depan kamar terkunci)

SELASIH:
Buka!!
(Terdengar jeritan Selasih dari balik pintu. Pukulan di daun pintu. Lalu tangisan)

ROSA :
(Bergegas ke halaman. Memotong batang batang tanaman tomat. Tangisan Selasih masih terdengar. Rosa membuang gunting. Melesapkan ke dua kaki telanjangnya ke gundukan tanah. Membuang nafas) Aku capek.

PUPU:
(Merapat di tulang pintu. Berlutut) Kita semua.

ROSA :
Aku lebih capek. Membungkus mayat. Lapor RT,RW. Memohon tetangga untuk datang menyolatkan. Salam-salaman. Pasang lagak duka. Tabur bunga. Nasihat- nasihat. Terima tagihan petugas makam. Capek! Hah, tatakrama kesedihan.

PUPU :
Saya sedih ditinggalkan.

ROSA :
Aku bukan darah dagingnya.

PUPU :
Dia ayah kita. Dua belas tahun ngejaga kita. Ngasih kita makan.

ROSA :
(Menampar Pupu dengan keras)

PUPU :
(Tidak melawan. Memasang kembali kacamatanya. Terisak, menggulung tikar tikar di lantai)

ROSA :
(Membuka kerudungnya. Mengikatkan kerudung itu ke tanaman tomat yang masih tegak, lalu menariknya dengan kuat. Tanaman yang tercerabut itu dipuntir- puntir ke udara, lalu dihempaskan lagi ke lantai keras).

Perempuan orang hukuman. Tapi jangan samakan kesedihan dengan air mata. Nangis itu kerjaan kerdil. Kamu cuma melacur dengan perasaan.(Melepaskan ikatan rambutnya). Laki laki lima puluh tahun masuk ke rumah ini. Dua belas tahun jadi sandaran hidup kalian. Dua belas tahun aku keluar masuk jalanan, karena rumah ini tidak lagi melindungi. Sekarang aku sanggup mengurus rumah tangga ini. Jangan ucapkan kata ayah lagi di depanku ! (Pergi ke kamarnya)

PUPU :
(Menyapu lantai. Mematikan tv)

SELASIH :
(Hanya terdengar suara.Menggedor-gedor pintu kamar)
Buka ! Pupu, buka! Aku mau lihat ayah. Di mana kuburannya?

ROSA :
(Muncul dari kamarnya.Mengisap cerutu.Memandang foto di atas kain hitam, lalu mengambilnya. Menghempaskan asap cerutu ke wajah berpici itu)

PUPU :
Saya pinjam kunci. Dia belum makan.

ROSA :
Sudah bilang siapa yang membuntingi?!

PUPU :
(Menggelengkan kepala)

ROSA :
(Menghempas foto ke lantai. Piguranya terlepas. Gonggongan anjing mendekat)

SELASIH :
(Tangisan Selasih dari balik pintu kamarnya)
Aku di sini. Dikurung seperti anjing. Ayah…

ROSA :
(Ke halaman. Menggebahkan tangannya ke kegelapan)
Laki-laki! Binatang cacat pengobral mani.
(Menghisap cerutunya lebih dalam. Suaranya berubah)
Kamu ingat Mama?

PUPU :
(Lemah) Ya…

ROSA :
Ingat wajahnya ?

PUPU :
(Ragu) Sudah lama sekali.

ROSA :
Aku selalu ingat. (Menerawang) Hari itu, kau dan adikmu dititipkan ke rumah haji Mualim. Sudah tengah hari. Mama tidak memasak. Cuma mengganti pakaianku. Seragam pelaut dari tetoron putih. Hadiah ulang tahun yang keenam. Kita kemana, ma ? Mama tidak jawab. Tangannya yang basah mencekal lenganku menyusur jalan. Perutnya sedang besar. Punggungnya melorot setiap kali melangkah. Mama berjalan tanpa alas kaki. Hari itu mendung. (Suara pukulan ke tiang listrik)

PUPU :
Pergi kemana ?

ROSA :
Ke toko emas kecil, di ujung pasar Andir. Mama jual cincin tipis satu-satunya. Cincin warisan dari nenek. Kami terima uang. Tapi Mama kelihatan sangat bingung. Tinggalkan toko emas tanpa bicara. Ketika kami melintasi rel kereta, Mama mendekapku. Pandangi aku, lalu bicara gugup : Kamu nanti pulang sendiri. Harus bisa sendiri. Lalu dia kepalkan semua uang ke tanganku. Mama peluk aku lagi. Pulang sendiri! Pulang sendiri! Suaranya serak. Dadanya turun naik. Tangannya terus mengusap-usap rambutku. Bau keringatnya tajam sekali. Matanya basah. Bibirnya kering. Aku mendengar peluit kereta. (Gonggongan anjing mendekat)

PUPU :
(Mengambil batu. Menimpuk sesuatu ke kegelapan) Huush!

ROSA :
(Berjalan terhuyung ke tanah, menginjak tanaman tomat)
Rel kereta yang kupijak bergetar. Mama mendorongku ke tepi. Aku tersungkur ke parit. Orang-orang di seberang menunjuk-nunjuk. Aku tak dengar. Cuma gemuruh itu. Kulihat Mama melangkah. Menghadapkan perut besarnya. Menyongsong suara gemuruh. Kereta seperti hantu buta. Melabrak. Menghempas. Aku masih mendengar gema jeritan Mama. Aku juga menjerit. Menjerit. Mamaa…!!! (Anjing anjing menyalak nyaring, makin mendekat. Tubuh Rosa luruh ke tanah )

PUPU :
Kak…( Pupu memeluk, menahan punggung kakaknya. Tubuh Rosa berguncang. Hening )

ROSA :
( Tenang. Tak ada air mata ) O…lihat kebun kita. Sudah waktunya memetik. Sayang, aku belum bisa meniru jeritan Mama. Aku akan terus berlatih. ( Rosa berdiri, ke luar halaman, menuju pintu depan )

PUPU :
Kak… jangan pergi.

ROSA :
Aku tak akan pulang sebelum malam. Kalau petugas makam datang, bilang, kita belum bisa bayar tagihan. Tagihannya terlalu tinggi buat ongkos laki laki impoten.

PUPU :
Selasih minta keluar. Dia perlu bersih-bersih, ganti baju.

ROSA :
Kasih anak bengal itu baju tipis dan lipstik bekas. Bakatnya jadi pelacur sudah nampak! ( Pergi )

SELASIH :
( Terdengar suaranya ) Buka! Pupu! Buka! Aku tidak hamil. Bukan bayi dalam perutku. Ini penyakit!

PUPU :
( Memetik tomat. Diremas, dilumat di tangan. Lelehannya dilulurkan ke wajah, leher dan dadanya. Menyanyi lirih ) Lihat kebunku, penuh dengan tomat. Ada yang merah, ada yang mentah. Setiap hari, kusiram semua. Mawar dan darah, semuanya indah… ( Tertegun, memandang ke kegelapan. Bicara untuk dirinya sendiri ) Aku ingin telanjang.

SOSOK TUBUH LELAKI MUNCUL DARI ARAH RERIMBUN POHON BAMBU. MENGENAKAN MANTEL PANJANG BERMOTIF BUNGA BUNGA BESAR DENGAN LATAR GELAP. WAJAHNYA TERTUTUPI TOPI LEBAR. LELAKI ITU MENARUH KARANGAN BUNGA DUKA CITA DI KEBUN TOMAT. TULISAN DI KARANGAN BUNGA MELELEH LUNTUR KARENA BASAH AIR HUJAN.

LELAKI :
Saya ikut sedih. ( Menghilang cepat ke balik rerimbun )

PUPU :
Siapa ?! ( Mengangkat karangan bunga. Menepiskan airnya. Ada sesuatu yang terjatuh. Pupu mengambilnya ) Kunci ?!

SELASIH:
( Terdengar suaranya ) Pupu!! Bukaaa!! Ayah, aku dengar suaramu. Aku dikurung. Aku dengar suaramu. Tolong, ayah. Pupu!!

PUPU :
( Menggenggam kunci, pergi ke kamar Selasih. Membuka pintu kamar. Tangan Selasih menyeruak, memukuli. Tangan Pupu menahannya. Lampu di ruang tengah padam. Pupu memeluk Selasih yang meronta. Tubuh keduanya saling bertaut dalam siluet. Sayup sayup terdengar suara adzan subuh).

2. Penyakit itu Sehat

Int. Ruang tengah. Meja kayu dikelilingi tiga kursi. Pagi hari. Hari cerah dan hangat.

PUPU muncul dari dapur dengan sepiring umbi-umbian matang dan segelas teh, ditata di atas meja. PUPU mengenakan seragam pegawai farmasi. Kemeja lengan pendek dan rok bawahan sebatas lutut, mengenakan rambut palsu potongan polwan sehingga rambutnya nampak lebih lebat. Sepatunya hitam tanpa hak.

SELASIH muncul dari kamarnya. Wajahnya kusut dan rambut masai. Matanya sembab. Mengenakan daster putih lusuh. Handuk kuning terkalung di lehernya. Jalannya agak sempoyongan, bahunya menumpu di tulang pintu.

SELASIH :
Antar aku ke makam ayah.

PUPU :
Sarapan. Kamu menanggung dua nyawa sekarang. Jangan egois. ( Pupu menuju pintu depan )

SELASIH :
Aku akan sembuh.
(Berjalan limbung menuju kebun tomat. Mengangkat daster, memperlihatkan perutnya, mengangkangkan kaki, lalu menjatuhkan seluruh tubuhnya ke tanah )

PUPU :
Asih !…( Menarik tubuh Selasih, ditelentangkan. Pupu membersihkan perut adiknya ) Apa-apaan kamu ?! Baru kemarin kita makamkan ayah. Sekarang, apa aku harus mandikan mayatmu lagi ? Ada apa dengan rumah ini ? Kematian seperti penyakit! Menular kesana kemari.

SELASIH :
( Posisi tubuhnya seperti sedang melahirkan. Selasih mengejan )
Kamu tahu obatnya! Beri aku obatnya. Aku bisa sembuh dari penyakit ini.

PUPU :
Kamu hamil! Beritahu siapa yang bikin ini ? Apa kamu diancam ?

SELASIH :
( Ke pintu depan ) Antar aku ke makam ayah…

PUPU :
( Mencegah )
Bicara pada yang hidup. Cuma yang hidup punya nasib.
SELASIH :
( Memandangi Pupu, memeriksa )
Jadi kamu masih hidup ?

PUPU :
Aku bekerja. Berpikir. Bertahan untuk tidak jadi benalu di rumah ini.

SELASIH :
Kakak berpikir? O, Ya… Dan kakak rajin sekali menulis. Arsenik sianida arsenik sianida arsenik sianida…Kakak habiskan buku harian untuk menghafal nama nama racun. Siapa yang sedang menghukum ?

PUPU :
( Bisu sesaat. Segera menyodorkan piring sarapan )
Ini kurebus sangat matang. Lumayan untuk vitamin bayimu.

SELASIH :
( Menatap galak ) Aku mau nanas mentah!

PUPU :
(Tidak menanggapi. Terdengar suara motor berhenti di pintu depan)
Aku kerja. Jangan ke luar rumah. Kak Rosa bilang pada tetangga, kau sedang kena cacar. (Terdengar ketukan di pintu depan)

SELASIH :
Jangan lupa buku harian. Kau tak bisa hidup tanpa itu.

PUPU :
(Tersenyum pahit. Mengeluarkan buku harian dari tas kerjanya. Membukanya )
Tulisanku jelek. Tapi belajarlah dari tanganku. Tulisanku menghasilkan uang. Itulah yang jadi nasi dan ikan goreng di mulutmu.
( Melemparkan buku hariannya ke kaki Selasih )

RIAN :
( Hanya tampak kepalanya dari balik rimbun pohon bambu.Menyapa Pupu )
Hai…euu… motorku di depan.

PUPU :
( Mengangguk ) Sebentar…( Masuk ke kamarnya )

RIAN :
Pagi Asih.

SELASIH :
Rian. Kalian jalan bareng?

RIAN :
(Mesem. Gugup) Euu… gimana ya… Rian cuma nganter Pupu ke tempat kerja. Kayaknya kamu… sakit?

SELASIH :
( Tertawa kecut ) Aku sehat. Aku… sedang belajar…

RIAN :
O… Belajar ?

SELASIH :
Bermain peran. Menghayati perasaan-perasaan perempuan… yang lagi bunting.
( Terbawa perasaan ) Mengorek lukanya. Sensasinya. Logika-logikanya. Dan….
hasratnya untuk melawan semua larangan. Semua kutulis di buku harian.

RIAN :
( Terkekeh. Bertepuk tangan )Wow… aktingmu lebih nyata dari sandiwara. Euu… dua jempol, Asih! Dan kamu lolos!

PUPU :
( Keluar dari kamarnya. Mengambil buku hariannya dari tangan Selasih. Memberikan buku lain ) Baca! (Pada Rian) Aku ke depan… ( Menuju pintu depan )

SELASIH :
Rian ! (Memandang tajam) Jangan sesatkan kakak Pupu!

RIAN :
( Terkekeh lagi ) Ok, bos. Euu…banyakin sayur dan makan sea food. Bayimu akan sehat. ( Pergi )

SELASIH :
( Membaca judul buku yang diberikan Pupu) Nutrisi Ibu Hamil… (Deru motor menjauh. Selasih merobek halaman halaman buku. Terhuyung ke daun pintu. Menemukan bingkai foto ayahnya yang hancur. Bicara pada foto)

Aku tidak perawan lagi, ayah. Aku sudah mengusirnya dari tubuhku. Ranjangku tidak lagi berkelambu. Aku kecewa, tapi hatiku lega. Di dalam perutku, tetangga-tetangga sedang riuh berkumpul. Mencari-cari hukuman di otak lempungnya untuk mereka paku di keningku. Mereka keliru. Keperawanan harus disudahi, supaya daging-daging perempuan bisa terus tumbuh, tanpa parut di dahi. Tapi sekarang aku merasa dingin. Bimbang di garis tepi. Ayah… ingin kulempar dagingku, jadi daging anak-anak lagi. Dan ayah akan dekap aku, seperti bantal gembur. Aku akan pulas dalam pelukan ototmu yang melindungi. ( Mendekapkan foto ayah ke perutnya. Selasih merasakan sensasi erotik. Lupa diri )

BROJO :
(Tiba tiba sudah muncul di ruang tengah. Berpici hitam dan baju serba hitam)
Saya rindu…

SELASIH :
(Terkesiap, tapi cepat menguasai diri )
Kamu masih pandai. Menyelinap di luar waktu bertamu.

BROJO :
Saya sangat rindu. Ke sini, Asih… (Memeluk Selasih)

SELASIH :
(Dingin. Menolak ) Aku kena cacar.

BROJO :
( Reflek, merenggangkan pelukan, menyelidik, sambil mencoba melepaskan lengan daster Selasih, berbisik menggoda )
Di tubuhmu, atau… di bagian itu ?

SELASIH :
( Melepaskan diri, menghadapi )
Pak Brojo kenapa datang? Saya belum perlu!

BROJO :
Sih, saya yang perlu. Saya perlu tahu, apa kau cukup sehat…

SELASIH :
( Menukas ) Untuk?!

BROJO :
( Merenggut pinggang Selasih dengan dua tangan kekarnya. Tubuh Selasih melengkung seperti tumbuhan layu )Selasih, tiga bulan kita tidak ketemu. Tak ada sms. Tak ada kontak lagi. HP-mu selalu off. Saya merasa dibuang. ( Merapatkan punggung Selasih ke dadanya )

SELASIH :
( Meraba perutnya )Saya tak tahu di mana letaknya rahim. Tapi pak Brojo sekarang di sini. Pikiran bapak, nasihat bapak, ramalan bapak, kelincahan bapak, semuanya terkumpul, seperti plastik dan limbah, tertahan di pintu air. Itu lebih dari cukup. Beri saya waktu untuk menjernihkan arti permainan kita ini.

BROJO :
(Menyisir rambut Selasih dengan jari-jarinya)
Asih, saya tidak ingat sudah menumpahkan sebanyak itu. Beri saya kesempatan lagi. ( Mencium pundak Selasih )

SELASIH :
Bapak membawa kuda?

BROJO :
Tidak. Kenapa?

SELASIH :
Saya dengar dengusnya, dekat sekali.

BROJO :
( Mengerti sindiran Selasih. Mundur, terduduk di kursi. Memandangi Selasih. Mulutnya menggumamkan kalimat-kalimat tanpa suara, seperti mantera )
Ada air. Haus, nih.Teh manis.

SELASIH :
( Menunjuk pada gelas teh )

BROJO :
( Minum, tapi dimuntahkan kembali)
Apa ini ? Ada asin-asinnya. Ini oralit ?

SELASIH :
Bapak selalu saja minta yang manis.

BROJO :
Hanya dari kamu, Selasih. Teh kamu lembut di lidah. Lembut seperti kulit dadamu.

SELASIH :
Saya tak manis lagi. Saya kena penyakit.
( Menahan mual, lalu muntah )

BROJO :
Selasih, kamu lagi…

SELASIH :
Ngga! Ini bukan hamil. Saya kena cacar. Ini penyakit. Menular…

BROJO :
( Tidak menggubris. Memangku tubuh Selasih dengan sigap, lalu di telentangkan di atas meja. Nada suaranya mengancam )
Selasih, kamu mulai main umpet di depanku. Kamu sembunyiin sebagian dari milik aku. Kamu kira, Brojo akan lepas tangan?!

SELASIH :
Saya bergaul dengan banyak orang. Tidak cuma bapak.

BROJO :
( Suaranya meninggi )
Tidak mungkin kamu bergaul, selain dengan aku! Cuma Brojo bisa kembaliin semangat hidupmu. Selasih! Ingat, tiga kali sudah kamu coba-coba nekat. Nenggak pil. Minum miras oplosan. Dan terakhir, menjelang tahun baru, kamu kirim sms linglung, buat narik perhatianku. Kamu bilang…

SELASIH :
( Tenang ) Saya mau gantung diri.

BROJO :
Jiwa kamu itu labil. Selalu labil.

SELASIH :
Gantung diri, bagi saya romantis. Saya merasa sendirian, tapi begitu intim. Saya benar-benar bisa mendengar nafas yang gelisah ini. Nafas yang ingin menunjukkan kebebasannya. Melepas tali kekang dan bebannya. Memacu, untuk bersatu lagi dengan udara bebas di langit luas, kembali ke semesta tanpa rupa. Tali adalah penyelamat saya.

BROJO :
( Mengeluarkan sapu tangan. Membasahi dengan botol wewangian yang dibawanya. Menyeka wajah Selasih )
Semua itu rendah, dangkal dan sesat. Bangun, Sih! Brojo akan menuntunmu. Menyehatkan pikiranmu. Brojo selalu datang untuk kamu. Olala, cah ayu…cah ayu… pandang mataku. (Memastikan) Tidak. Tidak mungkin kau akan menyerahkan dirimu, selain kepadaku. (Memeluk Selasih dengan erat)

SELASIH :
(Menangis di pundak Brojo. Kedua kakinya menghentak-hentak permukaan meja )
Ayah… ayah…

BROJO :
( Menenangkan Selasih. Mengelus kakinya. Mengecup kaki Selasih dengan lembut )
Sssh… Kamu sehat. Kamu sedang sehat. Bapak minta tanganmu.

SELASIH :
( Menjulurkan tangannya )
Pikiran saya rusak. Pelipis saya seperti terus mengelupas. Apa dunia masih bersama saya?

BROJO :
Kamu masih di dunia. Tak ada tempat lebih baik selain ini. Bayimu akan sehat. Dia laki-laki. Tapi kamu… harus lakukan sesuatu.

SELASIH :
( Melihat tangannya yang sedang dibaca Brojo )
Kenapa ? Bapak melihat apa ?

BROJO :
Ada yang mau hancurkan hubungan kita. Garis di tanganmu terputus, berubah jadi serabut. Hmm, kamu akan dihancurkan lebih dulu. Orang ini kejam, tapi sebenarnya rapuh. Bapak bisa atasi. Di mana kamar mandi ?

SELASIH :
Mau apa ?

BROJO :
Bapak perlu mandikan kamu dengan air kembang.

SELASIH :
Sekarang?

BROJO :
He.eh. Bapak juga belum mandi sejak kemarin.

SELASIH :
Tapi…

BROJO :
Kenapa cah ayu ? Orang kejam ini tinggal di rumah. Kamu harus diberi kekuatan secepat bapak bisa.

SELASIH :
Tapi saya sedang kena cacar, tak boleh kena air ?

BROJO :
( Senyuman hasrat )
Tak perlu air. Air kembang ada di lidahku.

SELASIH :
( Gugup. Mundur. Menolak )
Saya sedang sakit !

BROJO :
Sakit?!.. .O ya, kamu ini sakit. Tapi siapa bilang penyakit ini buruk ?! Penyakit ini telah membikinmu jadi wanita yang lengkap dan sesungguhnya. Kedua kakakmu, sepanjang hidupnya tidak akan pernah jadi wanita seperti kamu. Mereka hanya tumbuh jadi daging yang dingin. Terkurung oleh adat, moral, tabu… dan oleh kepanikan mereka sendiri. Akhir-akhirnya jadi sepah. Rahimnya kering, sekering jiwanya. Dibikin mandul, karena kepongahan yang disebut keperawanan. Hidup itu intinya cuma dua, cah ayu : melepas dan memberi. Laen-laennya cuma takhyul dan reklame bikinan.

SELASIH :
Apa tindakan saya benar, pak Brojo ?

BROJO :
Selasih, setiap keperawanan harus diuji coba. Dicoba efektif tidaknya. Itu tahap yang mesti dilalui, buat mengalami dan menguji, apa perempuan memang punya kodrat. Pilihanmu sudah betul, tinggal fokus.

SELASIH :
Kakak mengurung saya. Muka saya penuh aib. Kenapa bapak bilang saya wanita sesungguhnya? Saya sudah merusak martabat wanita.

BROJO :
O lala… Itu licik dan tidak manusiawi. Orang-orang seperti itu cuma mentahyulkan anggapan, kenikmatan sebagai korupsi moral. Tak ada hubungan nikmat dengan moral. Nikmat itu hak insting, hak daging. Lebih bersih karena purba. Moral cuma bikinan pasar…cah ayu. Menarik sesaat, karena bumbu. Kau akan sanggup melawan pikiran pasar itu, dengan perlindunganku.
(Memeluk dari belakang dengan menyilangkan dua tangan Selasih ke punggung )
Sudah tiga bulan bapak tidak melindungimu. Kau hampir sempurna sebagai wanita. Jangan mundur lagi.

SELASIH :
( Menyerah ) Saya tidak punya siapa-siapa…ayah…

BROJO :
Sssh…jangan selewengkan pikiran. Tetap pada fokus. Konsentrasi. Kita akan mandi. Ada kisah yang hangat di lidah bapak. Cah ayu mau dengar?

SELASIH :
( Kedua lengan dasternya terkuak ke sisi )
Saya butuh… saya butuh… (Ambruk di dada Brojo)

BROJO :
( Membopong Selasih dari depan, seperti menggendong bocah)
Bapak memang bawa kuda. Nikmati perjalananmu. Pacu! Pacu!

SELASIH :
(Kepalanya lekat di leher Brojo. Kedua lengan melingkar di bahu Brojo. Kedua kakinya mengait silang di pinggang Brojo )
Bawa saya pergi. Saya ingin jauh. Jauh dari daging ini.

BROJO MELANGKAH TEGAS MENUJU PINTU DEPAN. MENENDANG DAUN PINTU. MENEROBOS. SUARA KESIBUKAN DI JALAN RAYA DAN YEL-YEL UNJUK RASA BERBAUR DENGAN KALIMAT-KALIMAT RETORIS BERITA TELEVISI.SIANG YANG SIBUK.

3. Meniti Karet Gelang

Int. Ruang tengah. Malam. Ruangan gelap. Lampu belum dinyalakan.Terdengar suara serangga malam dari pohon pohon bambu dihalaman belakang.

ROSA muncul dari pintu ruang depan. Cahaya bulan dari pintu depan yang terkuak membersit ke lantai koridor. ROSA mengenakan kemeja longgar lengan panjang, dengan tangan yang digulung. Celananya juga longgar terbuat dari bahan halus, dengan garis setrika tajam. ROSA berjalan dengan gaya lelaki gendut setengah baya. Melewati ruang tengah, dia berjalan mondar-mandir dengan kepala tegak, memperhatikan detil bangunan, lalu seperti mempertimbangkan sesuatu yang kurang memuaskan, dia mengangkat bahu. ROSA menuju halaman kebun belakang, dan memandang keadaannya dengan wajah congkak.

ROSA :
( Suaranya berat seperti lelaki )
Kotor sekali. Kasihan adik-adikmu. Tak mungkin kamu mengurusnya. Sekolahmu terhenti. Dan umurmu baru enam belas tahun. Aku sudah dengar tentang ibu kalian. Kejadian yang sukar kau pahami. Tapi aku mengerti beratnya jadi ibu, dan ayah sekaligus. Putus asa harus diakhiri. Dan manusia tak selalu paham akan perbuatannya. Sudah enam tahun kalian hidup begini. Hidup dari belas kasihan orang.Tapi aku di sini sekarang. Dan aku terpanggil untuk merawat kalian. Kau bisa menerimaku sebagai ayah. Mungkin masih sukar untuk kamu. Tapi adik-adikmu memerlukannya. Rumah tangga ini harus kembali. Api di dapur harus dinyalakan lagi. Jendela jendela terbuka. Kau akan sekolah lagi. Dan lihat nanti, adik-adikmu akan tertawa kembali, tidur pulas di ranjang, di samping pelukan seorang ayah. Mungkin masih sukar. Tapi kalian lebih punya harapan. Aku akan perbaiki kamar-kamar ini. Dan tidak ada lagi anak-anak tetangga, yang lancang mengintip tidur kalian di malam hari.

( Rosa membuka pintu kamarnya.Ditutupnya dengan cepat. Terdengar pintu dikunci. Suara radio dibesarkan volumenya. Dan beberapa barang pecah terdengar terjatuh di lantai. Terdengar suara Rosa meronta dari balik kamar )

Jangan…aku tidak mau. Tidak!, jangan begini ayah. Ini memalukan. Oh, lepaskan! Jangan, ayah. Setan kamu. Tidak, jangan! Tetangga akan dengar. Ayah, aaaa……hh ( Rosa melolong ) Pupu! Pupu!! Tolong! Tidak, aku tidak mau! Setan! Anjing! Pergi!

TERDENGAR DERU MOTOR. PUPU MUNCUL DI PINTU DEPAN. BERLARI KE RUANG TENGAH. MENYALAKAN LAMPU. PINTU KAMAR ROSA TERBUKA. ROSA KELIHATAN MERANGKAK KELUAR DENGAN PUNGGUNGNYA. MEMANGGIL-MANGGIL PUPU. CELANA LONGGAR YANG DIPAKAINYA MELOROT SAMPAI DENGKUL. KE DUA PAHANYA MENGANGKANG. KANCING KEMEJANYA TERBUKA. PUPU MENATAP KAKAKNYA. ROSA MEMALINGKAN WAJAH, MENGKERUTKAN BADANNYA. ROSA MENGGIGIL. PUPU MENDEKAT HENDAK MENENANGKAN ROSA. TANGAN ROSA MEMBERI ISYARAT MENOLAK. SEPI.

PUPU :
( Pelan dan hati-hati ) Ada roti bakar. Di meja. ( Pupu membuka rambut palsunya, lalu masuk ke kamarnya )

ROSA :
( Sambil menggigil, dia meloloskan celana dan kemeja lelaki yang dipakainya, lalu dibuang sembarangan ke kebun halaman belakang. Kini dia hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek, lalu meringkuk di kursi goyang )

SELASIH :
( Muncul dari pintu depan, memakai jeans stretch merah menyala dan kemeja ketat yang ditalikan kedua ujungnya di depan pusar. Riasan wajahnya tebal dan mencolok. Dia tampak bahagia, ringan dan tanpa beban. Sambil bernyanyi kecil, menuju meja ruang tengah, lalu membuka bungkus roti bakar, memakannya sepotong, dengan dua kaki selonjor ke atas meja )

ROSA :
( Menatap adiknya )

SELASIH :
( Menurunkan kedua kakinya, membuang wajah )

ROSA :
Darimana kamu ?

SELASIH :
Keluar. Ngeliat orang hidup.

ROSA :
Lancang!

SELASIH :
Aku punya hak.

ROSA :
Hak apa?! Jual diri?

SELASIH :
Aku bukan lonte, kak!

ROSA :
Kamu bunting! Dan tidak ada laki-laki datang meminangmu!

SELASIH :
Ya. Lalu kenapa?

ROSA :
Lalu kenapa?!

SELASIH :
Aku bisa selesaikan.

ROSA :
Kamu harus menikah!

SELASIH :
Kalau perlu.

ROSA :
Omongan apa itu?! Lonte kemayu!

SELASIH :
Aku bukan lonte! Aku perempuan. Aku akan atur hidupku sendiri.

ROSA :
Angkat kaki dari sini. Kemasi barangmu. Pergi!

SELASIH :
Ini bukan rumahmu. Ini rumah ayah.

ROSA :
Ini rumah ibu!

SELASIH ;
Ini rumah ayah!

ROSA :
O ya ?!… dan ayah kebanggaanmu itu mati sudah. Kau akan terima warisannya dari bank, rumah sakit dan petugas makam. Tagihan tagihan!! Pergi ke mereka. Kumpulkan warisanmu. Lalu umumkan ke orang banyak, bahwa kau sudah dibesarkan oleh seorang ayah yang bertanggung-jawab.

SELASIH :
( Menyelidik )
Kenapa, kakak selalu beringas kalau bicara soal ayah? Apa ini menyakitimu?!

ROSA :
Hah ! Lonte kecil. Bicara soal kesakitan? Apa yang kau tahu? Selama ini kau hidup dengan merengek. Minta ini. Merajuk itu. Dan kau merasa berhak mendapat semua keistimewaan, hanya karena kau anak bungsu. Buka mata, lonte kecil. Ayah kebanggaanmu adalah benalu keluarga. Dia mati sudah. Tapi akar benalunya tumbuh lagi di otakmu.

SELASIH :
Ayah sudah kau kuburkan. Tapi kakak tidak bisa mengubur rahasia. Itu akan menghantuimu sepanjang hidup. Aku bunting. Ya! Tapi aku tak akan sembunyikan itu sebagai rahasia. Aku tak bisa hidup bersama hantu-hantu.

ROSA :
Kaulah sekarang hantu untuk keluarga ini. Dan kau mau terus gentayangan, sambil memamerkan perut buncitmu. Lalu kau akan dengan enteng berkata : Aku akan atur hidupku sendiri. Huh! Kau tak bisa hidup tanpa martabat, lonte kecil! (Sepi)

SELASIH :
Lalu kau hidup dengan apa? Apa kakak punya bank martabat? Yang setiap kali bisa nyodorin pinjaman martabat baru, setelah martabat kakak hilang semalaman?

ROSA :
Kau anggap apa aku ini?!

SELASIH :
Kau selalu pergi menjelang malam. Lalu tidur sepanjang siang. Di sakumu selalu ada gulungan uang diikat karet merah. Di mana kakak berdagang?

ROSA :
( Rosa menampar, tapi ayunan tangannya tertahan oleh tangan Selasih. Rosa menepiskan tangannya, mengambil gulungan uang dari sakunya, lalu tertawa )
Karet merah. Karet ini yang selalu kau tunggu bukan ? Ikatannya selalu lebih kendur sewaktu aku bangun. Aku tak pernah memergokimu, karena aku tak ingin mergokin kamu. ( Menggerai rambutnya. Melumuri bibirnya dengan lipstik keunguan ) Aku selalu kembali dengan gulungan karet merah, karena aku seorang mami. (Keduanya saling berpandangan) Puas sekarang ? Kakakmu seorang germo di tikungan jalan. Mengendap di warung remang. Dipelototin mata iseng dan lidah berlendir. Ini bukan dagang. Ini bukan kerjaan. Ini caraku merendahkan kodrat, karena aku harus bisa menarik lembar recehan dari saku-saku kusutnya. Aku bikin rumah tangga lain, menjual omongan yang isinya cuma asap, ketawa palsu, untuk menghidupi keluarga benalu ini. Puas sekarang?!

SELASIH :
( Melepaskan kemejanya, lalu berpose sensual) Kenapa kau tak pernah ajak lonte kecilmu ini, kak ?

ROSA :
Aku nggak serendah itu!

SELASIH :
Kenapa ? Kita bisa pulang dengan gulungan karet merah yang lebih tebal. Dan siangnya, kita bisa ke pasar, beli sirloin, tenderloin. Kita bakar steak, mengganti daging anyir yang habis terjual semalam? Rekreasi keluarga yang menyenangkan. Dan kita akan kelihatan lebih bermartabat.

ROSA :
Otak binatang!

SELASIH :
Kamu pembuat kandang!

ROSA :
Aku rela begini buat jaga martabat. Tapi kau bunting, menjual perawanmu, lebih rendah dari harga banting. Lonte kecil, aku rela terperosok ke rawa, buat mengangkat kakimu. Tapi kamu malah ceburkan diri di lumpur laki-laki.

SELASIH :
Aku tak peduli martabat. Aku hidup dengan dagingku. Aku merayakannya, kapanpun aku bisa. Kapanpun aku suka!

ROSA :
Lonte kamu!

SELASIH :
Kamu peternaknya!

ROSA :
Kotor mulutmu!

ROSA MENGANGKAT KURSI. SELASIH MENGANGKAT KURSI. KEDUANYA HENDAK SALING MELEMPAR.

PUPU MUNCUL. HANYA MEMAKAI BAJU DALAM. RAMBUT PALSUNYA DIPASANGI GULUNGAN PENGERITING. MENUMPAHKAN KEROSENE KE LANTAI. MENYALAKAN ROKOK. MENGHISAPNYA DENGAN CEPAT.JONGKOK DI ATAS MEJA, DIANTARA ROSA DAN SELASIH. CAIRAN KEROSENE DIGELONTORKAN KE SEKELILING BADANNYA

PUPU :
( Suaranya datar) Hentikan. Atau kubakar rumah ini. Aku tak punya pilihan.

ROSA DAN SELASIH SALING TERTEGUN. MELIHAT KAKI KAKINYA BASAH TERSIRAM KEROSENE. ROSA MUNDUR, MENGAMBIL BAJU DAN CELANA YANG TADI DIBUANGNYA. SEBUAH DILEMPARKAN KE KAKI SELASIH. TANPA BICARA, KEDUANYA MENGERINGKAN LANTAI. PUPU MENGAWASINYA, SAMBIL MENGHISAP ROKOKNYA, CEPAT DAN FOKUS PADA LANTAI. KOREK GAS DI TANGANNYA MENYALA.

SUARA BURUNG GAGAK MELINTAS DARI ARAH POHON BAMBU. CAHAYA DI RUANG TENGAH MEREDUP. TUBUH TUBUH MENGHITAM DALAM SILUET.

4. Gita

Int. Di dapur. Awal pagi. Hari minggu. Pupu memasak sesuatu di dapur, sedang memotong seekor ayam, dengan pisau daging. Air yang dimasak nampak sudah mendidih. Ruangan lain gelap. Pintu kamar Rosa dan Selasih tertutup.

PUPU membelah dada ayam. Gerakannya perlahan berubah menjadi pukulan, lalu gerakan tangannya makin cepat, dengan dua tangannya mencincang daging itu. Wajahnya kusut dank keras. Pupu melepaskan rambut palsunya, dan nampaklah kepalanya yang tidak berambut.

Muncul RIAN dari balik rerimbun pohon bambu. Pakaiannya bersih dan necis. Di tangannya sebuah buku.Pupu melihatnya, gugup. Menutupi serpihan ayam dengan kain lap dapur. Membersihkan tangannya. Memasang tergesa rambut palsunya. Rian hati-hati mendekati.

PUPU :
Hai…

RIAN :
Pagi…

PUPU :
(Menyodorkan kursi) Duduk.

RIAN :
Maaf, Putri. Kayaknya… Rian datang terlalu awal.

PUPU :
Nggak…emh (Mencoba tersenyum) Ya. Masakanku belum siap.

RIAN :
Putri masak apa? (Tangan Rian mencoba menyingkap kain lap dapur )

PUPU :
( Sigap menahan tangan Rian. Memohon) Jangan…

RIAN :
Kenapa?

PUPU :
( Membuang nafas. Lalu tenang ) Ini kejutan.

RIAN :
O..euuu…baik. Rian menunggu titah tuan Putri.

( Rian mencium punggung tangan Pupu. Pupu tertawa. Rian tersenyum. Sepi. Keduanya berpandangan. Sepi. Nafas Pupu turun naik, matanya tajam menggoda Rian. Rian mengalihkan perhatian, membuka buku yang dibawanya)

PUPU :
Buku apa?

RIAN :
Euuu…Gita.

PUPU :
(Membaca cover buku) Bhagawadgita.

RIAN :
Buku penuntun Rian.

PUPU :
Penuntun? Hmm, bukankah mestinya kau baca Alkitab?

RIAN :
( Berdiri. Menggosokkan kedua tangannya. Memandang langit )
Putri, maaf…ya. Rian tidak tertarik lagi pada agama. Rian ingin ada teman bercakap, bukan ngapalin perintah-perintah yang mengancam. Gita membantu Rian untuk mengembara di wilayah yang jamak dan berubah-ubah.

PUPU :
Hmm…Menarik.

RIAN :
Kita tidak diminta…(Bersemangat. Tiba-tiba mendekati Pupu. Pupu terkejut. Tangannya menarik kain lap. Rian melihat cabikan ayam mentah, lalu memandang Pupu ) Kita tidak diminta… (Tanpa diduga, Rian mengambil cincangan ayam mentah, lalu mengunyahnya dengan tenang )

PUPU :
Rian, itu mentah!

RIAN :
Ya. Dan Rian boleh memakannya. (Rian terus mengunyah, menggigit ayam mentah)

PUPU :
Nggak! Berhenti Rian. Aku mual.

RIAN :
( Bersungguh-sungguh) Putri, mengembara di wilayah jamak dan berubah-ubah, kita tidak diminta memecahkan persoalan kepatutan hidup. Gita mengajarkan tindakan yang dituntut dari kita, dan melaksanakan tindakan untuk mengatasi peliknya hidup.

PUPU :
( Menggeleng ) Maksud kamu?

RIAN :
Ayam sepatutnya dipotong layak, dan dimasak matang. Tapi kenapa ayam tidak bisa dicincang, dan dinikmati selagi mentah. Ini tindakan, Putri.

PUPU :
Ngeri.

RIAN :
Enggak. Ini seperti puisi. Janggal, tak patut, tapi membebaskan.

PUPU :
Membebaskan?

RIAN :
Gita…mengajarkan tidak hanya berani melakukan tindakan. Gita mengajarkan kita melepaskan diri…(Berpikir sesaat)…dari perbudakan tata-cara. ( Mengangkat cincangan ayam mentah dengan nampannya. Begaya ) Saya hidangkan menu baru olahan chef Rian… chicken-sushi. Tuan putri berkenan mencicipi?

PUPU :
( Tertawa kecil, mengambil buku hariannya, lalu menulis, memunggungi Rian)

RIAN :
( Meneruskan demo masaknya, seperti peragaan di depan penonton)
Morning chicken-sushi, sebaiknya dinikmati sesaat sesudah bangun pagi. Sebelum mandi, sebelum gosok gigi, sebelum sembahyang pagi, itu saat paling baik untuk memahami hidup. Yang suka aroma masam, tambahkan irisan limau. Untuk pecinta asin dan pedas, taburkan sisa-sisa doa yang tak terpakai lagi. ( Rian memotong ayam dengan terampil, ditempatkan di piring oval, lalu merajang bawang daun mentah, ditabur, menghirup baunya, puas) Ah, morning chicken-sushi…penghilang depresi,menjaga stamina lelaki !(Memberikan sajiannya pada Pupu. Pupu tertawa renyah. Rian memperhatikan Pupu lagi ) Nulis apaan sih?

PUPU :
( Wajahnya menjadi lebih cerah. Memandang wajah dan tubuh Rian dengan seksama, lalu tangannya menyentuh pipi, leher dan dada Rian. Rian membuang nafas, berusaha tersenyum ) Rian…tindakan apa yang harus dilakukan dua tubuh, yang gagal sarapan pagi? Dua tubuh, yang ingin melepaskan diri dari perbudakan tata-cara?

RIAN :
( Berpikir sungguh-sungguh, sambil berusaha memahami elusan tangan Pupu)
Euuu…bercinta…haha…membiarkan daging saling bercakap…emh…menemukan lagi bahasa purba…untuk…

PUPU :
( Mengatupkan bibir Rian, menelentangkan tubuh Rian di meja dapur ) Ssshh…Aku ingin melihat daging telanjang…

RIAN :
( Menolak dengan halus) Putri…emm…Rian tidak…

PUPU :
(Menukas) Shut up! (Mengeluarkan kemasan kondom dari saku bajunya) Kau tidak bawa ini? Aku tidak perlu ini! (Membuang kemasan kondom) Aku mau sushiku!!

DENGAN PENUH HASRAT PUPU MEMBONGKAR KEMEJA RIAN, LALU MENINDIHNYA. RIAN TERSENGAL, BERUSAHA MELEPASKAN DIRI. TAPI TANGAN PUPU BEGITU KUAT. PUPU MENGHUNJAMKAN DAGINGNYA KE TUBUH RIAN. SAAT ITULAH, TELEPON GENGGAM DI SAKU CELANA RIAN BERDERING NYARING. PUPU TERPERANGAH, MELONCAT DARI MEJA DAPUR. MELAMPIASKAN KEKECEWAANNYA DENGAN KEMBALI MENCABIK CABIK DAGING AYAM MENTAH DENGAN PISAU DAGING. KALI INI LEBIH GANAS.

RIAN :
(Bangkit tergesa. Merapihkan pakaiannya, menjauh. Menjawab panggilan) Hei…ya…he..emh…aku datang…bisa… ya. bisa…aku lagi…siap-siap…dua kosong delapan…ya…aku tahu. Lantai dua, atas nama Brojo. Ya…aku datang…bye. (Menyudahi panggilan, membereskan lagi kemejanya)

PUPU :
(Menulis lagi di buku hariannya) Siapa?

RIAN :
(Ragu) Klien.

PUPU :
Baru kudengar. Kau cuma petugas pelayanan doa. Kenapa kau sebut klien ?

RIAN :
Aku ada kerjaan lain.

PUPU :
O…kau hidangkan sushi di tempat lain?

RIAN :
Mengemas. Aku pandai mengemas. Bisakah Rian pamit?
PUPU :

(Menyodorkan buku hariannya) Maukah kau baca tulisanku ? Ayolah, sambil aku menyudahi nasib ayam ini?

RIAN :
(Ragu, tapi kemudian menerima buku harian Pupu. Matanya menajam)

PUPU :
( Kembali mengerat ayam dengan tenang ) Bacalah. Perintah tuan putrimu. Akan kuhidangkan opor berkuah, di hari minggu yang cerah. Bacalah.

RIAN :
(Membaca tulisan Pupu)
Wahai Gita, tindakan apa yang harus dilakukan dua tubuh, yang ingin melepaskan diri dari perbudakan tata-cara ? Bercintalah, tuan. Bercinta dengan sungguh.(Berkomentar) Aha, ini dari aku. (Meneruskan) Seperti koki ulung mengolah daging. Kau akan membelah daging pahanya, lurus dan melintang sampai batas pinggang. Darahnya kau tampung dalam mulutmu, lalu kau muntahkan ke mulutnya yang menganga. Nafas yang tersedak. Lalu lonjakan yang kuat dari jantungnya. Wahai Gita, itulah saat kau mulai mengiris… (Terhenti. Menahan mulutnya, merasa mual)

PUPU :
Kau ahli mengemas. Ada masalah dengan caraku mengemas? (Garang) Teruskan!

RIAN :
Itulah saat kau mulai mengiris… daging lehernya sampai tepi liang tenggorok. Kau lihat matanya yang nyalang akan mengerjap. Benaknya akan berhenti berpikir. O Gita… Kenikmatan yang hampir matang. Dan hendaknya segeralah kau garap dinding perutnya sekarang. ( Duduk terkulai di lantai, nafasnya tersengal)

PUPU :
Klienmu menunggu. Selesaikan! Selesaikan!

RIAN :
(Membaca cepat dengan nafas pendek,seperti energi pelari mencapai garis finis)
Kau buat lingkaran penuh dengan pisaumu. Sebuah rongga besar terkuak. Jeroan yang lunak, otot yang menegang, dan kelenjar kelenjar yang terputus, bertumpahan, berlarian membangunkan induk berahi. O Gita…O Gita…kau hampir sampai ke puncak titian. Genggamlah dengan kukuh. Sebuah phallus ungu membiru, yang harus kau tegakkan, seperti mengocok pusat magma. Dan erangan terakhir yang kau dengar, wahai Gita, puisi daging paling perih…celupkan kini ke air paling mendidih… (Terkulai di lantai, muntah)

PUPU :
(Riang. Mengucurkan air mendidih ke cincangan ayam) Yihuu…oporku matang.

RIAN :
( Meringkuk di lantai. Bicara lirih) Putri….aku seorang gay.

PUPU :
( Sepi. Menggeleng) Begitu ?

RIAN :
(Suaranya melonjak. Menangis) Aku gay! Aku mengembara di dunia yang berubah-ubah. Aku harus bertahan! Aku lain. Tak bisa di sisimu. Tak bisa tolong kamu!

PUPU :
(Nafasnya meledak. Melepaskan rambut palsunya. Berjalan tergesa, mondar-mandir dengan langkah cepat namun labil) Sudah kudengar. Harusnya kuduga dari awal. Aku bukan untuk siapa-siapa. Aku tak layak. Sampah di comberan. (Melemparkan buku Bhagawadgita ke tubuh Rian) Dan kamu berhasil! Merobek kulit tipisku. Membenamkan borok bernanah. Dan aku harus mencungkil sendiri mata bisul ini, dengan buku sial penuntunmu! Aku bahkan sudah sepah. Aku sepah sebelum dimamah. (Mengambil cincangan daging ayam mentah, lalu diguyurkan ke tubuhnya) Tindakan apa lagi yang berarti ? (Tangisnya meledak)

MUNCUL SELASIH DARI ARAH PINTU DEPAN. DIA MEMBAWA KOPOR BESAR KOSONG.
MELIHAT YANG TERJADI DI DEPANNYA, BERUSAHA MEMAHAMI.

SELASIH :
(Mendekati Pupu)
Wow…Hari yang hebat. Sebuah pesta. Dan kegilaan yang meriah. Aku harus bertepuk tangan.(Bertepuk tangan) Bravo! Bravo!

PUPU :
(Menguasai dirinya lagi) Hentikan.

SELASIH :
Rian, bawa kakakku pergi. Selamatkan kalian. Tak ada cinta di rumah ini. Cuma hantu-hantu amarah, gentayangan dari dinding keropos masa lalu. Pupu, pergilah! Pergilah untuk hidup.

PUPU :
Ini rumah aku dibesarkan. Di sini hidupku.

SELASIH :
Kau dihukum di sini. Aku ngga ngerti, kenapa kau mau terus menerimanya. Pergilah dengan Rian. Belajar cara orang lain hidup. Sebuah keluarga.

PUPU :
(Tersenyum pahit) Kau tidak mengerti. Tak akan mengerti. Kau belum cukup…

PUPU :
(Menukas) Oke. Satu minggu lagi, aku perempuan enam belas tahun. Hari itu, aku akan ambil keputusanku. Hak hidupku. ( Pergi dengan kopor besar ke kamarnya )

RIAN :
(HP-nya berdering lagi. Rian membiarkannya)
Putri, bisakah Rian pamit?

PUPU :
(Mengangguk, tanpa memandang wajah Rian) Klienmu menunggu.

RIAN :
(Mencoba mendekat, tapi urung)
Aku tak bisa di sisimu. Tapi Rian tak akan tinggalkan kamu.

SELASIH :
(Memberi isyarat dengan tangannya agar Rian pergi)

RIAN :
(Pergi sambil mendekap Bhagawad Gita di dadanya, menembus pohon bambu)

SELASIH :
(Duduk di meja dapur. Mengeluarkan botol berisi bubuk dari saku bajunya. Dimasukkan ke dalam kotak bingkisan kecil yang sudah disiapkan. Pupu menulis surat. Saat menulis, apa yang ditulis Pupu dapat didengarkan oleh penonton, seperti sebuah solilokui)
Selasih, adikku, selamat ulang tahun. Kakak ingin kau bahagia. Ah, ungkapan ini klise dan rutin. Kakak tak punya hadiah yang cukup. Tapi kakak ingin memberikan semua yang tersisa ini. Kau memintaku untuk hidup. Kakak merasa inilah pintuku menuju pembebasan. Hari ulang tahunmu, akan jadi hari yang lain sekali. Untuk kakak.Juga untukmu.

SETELAH MENULIS, PUPU MEMASUKKAN SURAT DAN BINGKISAN KECILNYA KE BALIK GUNDUKAN TANAH DI KEBUN TOMAT, LALU MENGURUGNYA. DENGAN BERJINGKAT, PUPU MASUK DAN MENUTUP PINTU KAMARNYA.

TANPA DIKETAHUI PUPU, SELASIH MENGAMATI YANG DILAKUKAN KAKAKNYA. KE RUANG TENGAH, DIA NYALAKAN TELEVISI. LALU DIAM-DIAM DIA MENGAMBIL BINGKISAN YANG DISEMBUNYIKAN PUPU. MERAPIKAN LAGI GUNDUKANNYA, DAN KEMBALI KE KAMARNYA DENGAN BINGKISAN KECIL ITU.

DI LAYAR TELEVISI TAMPAK KOTBAH YANG DISAMPAIKAN SEORANG PENDETA DENGAN GAYA BERAPI-API. PERLAHAN LAMPU MEREDUP.

5. Kunang-kunang di jalan layang

Ext. Di kebun belakang. Malam hari. Satu minggu kemudian.Tanah kebun tampak menggunduk, seperti pusara baru. Batang-batang tanaman tomat dan daun layunya, terserak di atas gundukan itu. Lampu ruang tengah tidak menyala.

SELASIH berlutut di gundukan pusara, mengenakan baju tipis berwarna hijau tua. Bibirnya berlipstik sangat merah, dan garis hitam yang tebal di bawah mata. Rambutnya yang keriting digerai, sehingga tampak lebih dewasa. Di lehernya berkalung MP3 mungil, terdengar lagu It’s a Wonderful World.

SELASIH:
(Tersenyum, memandang pusara)
Ayah, enam belas tahun aku hidup. Malam ini aku ingin ayah melihatku sebagai perempuan. Yang kubanggakan dari hidupku adalah, aku pernah dibesarkan dengan dekapan, ciuman dan sapaan yang hangat. Aku tidak peduli, kau ayahku atau bukan. Tapi hidup bersamamu terlalu menyenangkan untuk dilupakan. Sudah kupastikan, aku akan pergi dari rumah kenangan ini. Buku yang lama akan ditutup. Di depanku, jalanan masih hitam. Dan pancang-pancang tiang beton makin mendekat. Rumah ini akan terkubur, kelak berganti menjadi lintasan jalan layang. Sebuah lagu akan sampai di akhirnya. Sebuah rumah akan selesai juga mengikatku.

BROJO :
(Tanpa suara muncul dari pintu depan. Di tangannya sebuah kue tart dengan lilin menyala berangka enam belas. Brojo menerobos ruang tengah. Dia mengenakan setelan lengan panjang berwarna hijau lumut, dan pici hitam)
Tiup lilinnya… Tiup lilinnya…tiup lilinnya sekarang juga…sekarang juga…sekarang juga…

SELASIH :
Bapak…

BROJO :
Cah ayu…(Mencium kening Selasih)

SELASIH :
(Tangannya merentang manja, memberikan dadanya dirangkul hangat oleh Brojo)

BROJO :
Tidak kamu tiup lilinnya?

SELASIH :
(Menggeleng, membawa kue tart, ditaruh di meja ruang tengah)

BROJO :
Di mana Rosa? Pupu?

SELASIH :
(Menggeleng) Kenapa ?

BROJO :
Asih, sudah kutimbang-timbang dengan masak, bapak akan mengikatmu.

SELASIH :
Mengikatku?!

BROJO :
Cah ayu, mari pergi dari sini. Kamu akan jadi ibu untuk bayi laki-lakiku. Sudah kusiapkan tempat. Kamu akan hidup di sana, sampai bayi ini lahir.

SELASIH :
(Mundur, memunggungi, memegangi dua kepalanya, meremas rambutnya)
Bapak…mau mengikatku sebagai apa?! Aku bukan lonte!

BROJO :
(Memburu Asih, membalikkan badannya, lalu direngkuh tubuh tipis itu dengan dua tangan kekarnya) Asih!….kamu…

PINTU DEPAN TERBUKA. DI AMBANGNYA NAMPAK PUPU MEMBAWA KOTAK HADIAH. LAMPU RUANG TENGAH MENYALA. PUPU MELIHAT BROJO. BROJO MELEPASKAN RENGKUHANNYA, LALU MUNDUR KE SUDUT. SELASIH DUDUK DI KURSI DI DEPAN KUE TART YANG MASIH MENYALA LILINNYA. PUPU MENDEKATI ADIKNYA, MATANYA TERUS MENYELIDIK BROJO.

PUPU :
Selamat ulang tahun. Kakak belikan hadiah. Bukalah.

SELASIH :
(Membuka kotak hadiah, sebuah lingerie warna magenta)

PUPU :
Warna kesukaanmu…(Pupu mencium pipi adiknya)

SELASIH :
(Merentangkan lingerie di atas meja, meraba dengan perut tangannya)
Kainnya lembut. Makasih, Pupu.
(Telunjuknya bergerak mengitari api lilin tanpa mematikannya)
Kue ini hadiah pak Brojo.

PUPU :
(Menatap Brojo) Aku ke kamar dulu.

SELASIH :
(Menahan tangan kakaknya) Tunggu. Duduklah. Pak Brojo mau bilang sesuatu.

BROJO :
(Mengambil tempat duduk. Menatap Selasih. Mengambil nafas) Begini…

PINTU DEPAN DITENDANG DENGAN KASAR. ROSA MUNCUL DENGAN LANGKAH LIMBUNG. MABUK. DI TANGANNYA SEBOTOL MINUMAN KERAS. GERAKANNYA LIAR. MENGENAKAN CELANA PENDEK DAN JAKET JEANS TANPA LENGAN, SEPATUNYA BOOT TINGGI. RAMBUTNYA DIANGKAT TINGGI. DUA TELINGA DIHIASI ANTING BESAR. RIAS WAJAHNYA KACAU. BERUSAHA MENYANYIKAN FRASA DARI LIRIK ‘Dengan menyebut nama Allah’ BROJO MUNDUR LAGI KE SUDUT RUANGAN.

ROSA :
(Ambruk di kursi di meja ruang tengah) Ah…Terima kasih Tuhan. Akhirnya tugasku selesai. (Melihat kue dan lilin, meniupnya dengan kasar)

PUPU :
Selasih ulang tahun.

ROSA :
O…ho, adik kecilku. Akhirnya kau perempuan sekarang! (Berusaha merangkul Selasih. Selasih kaku) Dan ini dia, hadiah terbaik dari kakakmu. (Mengeluarkan tiga amplop tebal dari balik saku jaketnya, lalu membagikannya kepada Selasih dan Pupu) Ini untukmu. Ini punyamu, Pupu. Dan kuambil bagianku.

PUPU :
(Membuka amplop, mengeluarkan isinya) Uang apa ini?!

ROSA :
Hah?! Tidak kau dengar deru mesinnya ? Paku bumi yang gegap. Jalan layang, jalan layang yang gagah akan terbentang. Rumah rumah di tanah rendah akan terkubur. Kita terusir. Dan kalian harus terima warisannya.

PUPU :
Kita tidak punya pilihan?

ROSA :
Ada. Kalau tanganmu sekuat monster. Melawan muntahan tanah-tanah dari perut truk.Tapi aku tak mau sekarat disumpal kehendak mesin. Kita harus pergi.

SELASIH :
Kapan?

ROSA :
Besok semua alat berat akan mengurung. Rumah ini akan seperti sangkar burung
dikepung moncong moncong satwa hutan. Seluruh kaki yang masih punya mata harus mencari jalan baru. Mungkin buntu. Tapi aku akan pergi tanpa membalik punggung lagi. Semua yang pernah berbekas akan membusuk jadi nanah. Rumah ini, kalian tahu, apa yang kupikirkan dari rumah ini? Ini bisul yang harus pecah!!
(Rosa terhuyung ke sudut dimana Brojo berdiri. Saat menatap Brojo, halusinasi Rosa muncul kembali. Ganas dan gentar sekaligus)
Pergi! Pergi Lu! Lu mau ancurin gue. Apa yang lu liat ? Hah! Lu belum puas.Lu pake daging gue! Lu pake kedok Lu! Lu coba jadi ayah! Lu tengik! Lu gerayangin daging gue ! Lu isep tetek gue! Bandot! Lu ancurin hidup gue! (Memecahkan botol minuman, lalu ditudingkan ke wajah Brojo. Selasih dan Pupu serentak menahan dua tangan Rosa. Pupu membuang botol minuman ke tanah kebun. Selasih memeluk tubuh kakaknya. Brojo membuka picinya)

PUPU :
Kak Rosa! Kak Rosa!, dia teman Selasih. Dia datang untuk bicara.

PUPU :
Bapak, bicaralah…

ROSA MUNDUR MERAPAT KE DINDING. MEMASANG KACAMATA GELAP. BROJO DUDUK DI KURSI. SELASIH DUDUK DI HADAPANNYA DENGAN TATAPAN MENUNGGU. PUPU MERAPAT DI DINDING, MEMEGANGI TANGAN ROSA YANG MASIH GEMETAR. BROJO HENDAK MEMULAI BICARA, TAPI TENGGOROKANNYA SEPERTI TERCEKIK.

BROJO :
(Bolak balik menatap Selasih, lalu menatap Rosa)
Saya…sudah pikirkan…saya mau…( ragu, menelan ludah)

SELASIH :
(Beranjak ke tempat minuman. Menuangkan teh pada cangkir. Mengaduk perlahan. Sementara terdengar suara dentum paku bumi di kejauhan. Selasih menyodorkan teh racikannya pada Brojo) Teh manis

BROJO :
(Menatap Selasih. Mengangkat cangkir, menyeruputnya)

SELASIH :
Bapak, sampaikanlah…

BROJO :
(Menatap Rosa dan Pupu)
Saya…sudah putuskan…mulai malam ini…saya mau…
(Tangan Brojo memegangi lehernya. Nafasnya satu-satu. Kakinya menegang. Tangannya mencoba menggapai tangan Selasih. Brojo ambruk. Nafasnya berhenti. Wajahnya menghempas kue tart)

SELASIH :
(Tenang. Mengeluarkan botol kecil dari saku bajunya. Diletakkan di depan tangan Brojo yang kini kaku. Tersenyum)

PUPU :
(Mengenali botol kecil itu. Mengambilnya. Bergegas mendekati gundukan tanah. Membongkar tanah, tidak menemukan yang dicarinya. Menangis, menyesali)

SELASIH :
Maaf, Pupu.

PUPU :
Aku remuk. Kau tidak pernah memberi kesempatan untuk membebaskanku.

SELASIH :
Kau tidak pantas, kak… Brojo pantas mendapatkannya. Racun itu bukan untukmu.

PUPU :
(Meledak) Kau tidak ngerti. Tidak pernah! Kau tahu apa yang pantas untuk aku?!
Aku perlu drama, Selasih. Sebuah drama yang sungguh-sungguh kualami. Kau tahu apa yang kuidamkan berhari-hari ini ? Aku sangat ingin melihatmu dibalut lingerie merah. Menatap tubuh mudamu yang sesegar darah. Lalu kupeluk kamu, kuambung wangi dagingmu. Merasakan gairah kemudaan yang tak pernah bisa kualami. Botol itu Selasih! Botol itu akan bebaskan nafasku. Seharusnya kuteguk malam ini. Malam ketika kamu menjadi seorang perempuan. Akan kuteguk nikmat dan ikhlas, saat ragaku ambruk di pelukanmu. Melelehkan nafas terakhir di lingerie merah itu. Itu hadiah terbaikku. Itu juga dramaku Selasih ! Aku perlu goncangan, untuk membuatku tuntas. Tapi kau tak pernah membebaskanku…

PUPU :
(Memeluk kakaknya) Aku lemah, kak. Adikmu lemah.

ROSA :
Seluruh keburukan milik lelaki. Ditularkan lewat kebiasaan. Dan perempuan harus memahaminya sebagai kelaziman. Laki-laki mati. Tapi keburukannya di dunia makin hidup. (Mengambil dompet Brojo, memeriksa isinya) Orang ini pegawai pemerintah. Bangkainya tak bisa dimusnahkan, seperti pemerintahnya. (Telepon genggam di saku baju Brojo berdering. Semua terpaku)

PUPU :
(Merogoh saku baju Brojo. Melihat nama pemanggil di layar HP) Rian?!!…

SOSOK RIAN MUNCUL MENEROBOS DARI RIMBUN POHON BAMBU. MASIH MENYALAKAN SELULERNYA. PAKAIANNYA MERIAH SEPERTI KOSTUM PEMAIN BAND. RIAN JUGA MENJINJING SEBUAH TAPE-RECORDER BESAR.

RIAN :
Dia mengundang Rian datang. Katanya ada ultah di rumah ini. Rian penasaran…

SELASIH :
Dia mati, Rian. Orang ini urusan kami. Pulanglah.

RIAN :
Tidak. Rian harus sampai akhirnya. (Sepi) Kenapa tidak ada musik? (Menyalakan tape recorder)

PUPU :
(Mematikan tape) Siapa dia?

RIAN :
(Mendekati mayat Brojo. Membersihkan wajah Brojo yang dilengketi kue, dengan sapu tangan merah muda) Dia pegawai pajak. (Merogoh saku lain di kemeja Brojo) Lihat, apa yang dibawanya malam ini. Kunci apartemen. Seharusnya ini bisa berakhir bahagia.

PUPU :
Apa hubungannya dengan kamu?! Aku ingat kau pernah menyebut namanya.

RIAN :
Brojo? Dia klienku.

SELASIH :
Klien?!

RIAN :
(Menelentangkan tubuh Brojo di atas meja) Brojo tidak bahagia di rumahnya. Tapi duitnya melimpah. Dia kuda pengeruk uang, karena kereta-kereta sudah tewas saisnya. Dia bilang, di sini seluruh aturan bisa dibeli. Dia ahli transaksi. Gajinya rendah, tapi rekeningnya melimpah. Brojo jadi kuda hasrat. Memacu, menerabas. Dan Rian memberi dia kolam, menampung yang meluap yang tidak dipahami orang.

PUPU :
Dia gay?

SELASIH :
Bukan!

RIAN :
Dia gay, Selasih. Hanya kau telah membuatnya bermimpi jadi laki-laki. Dan malangnya, dia mulai percaya itu. Kau sendiri tahu, bukan Brojo yang menitipkan janinnya di rahimmu. Brojo juga tahu, tapi dia menikmati permainan ini.

SELASIH :
Kau tahu semua ini?!

RIAN :
Dia klienku. Dia buka semua bukunya.

ROSA :
Huh! Roman picisan! Jeruk makan jeruk! Selasih, barangkali hidungku berlebihan. Tapi bangkai ini cepat baunya. Besok, rumah ini harus runtuh. Tugasku sudah selesai. Kaulah sekarang yang tentukan arti bangkai tambun ini!

TERDENGAR DENTUM PAKU BUMI, LALU SUARA BERDERAK YANG KUAT.

PUPU :
Seharusnya aku bebas malam ini.

RIAN :
Pupu, Rian tidak bisa di sisimu. Tapi tidak tinggalkan kamu.

ROSA :
Hah? Rahasia apa lagi ini?!

RIAN :
Brojo tanggung-jawabku.

PUPU :
Apa?!

RIAN :
Percaya padaku, Pupu. Jika kalian harus pergi, tinggalkan sebuah kopor dan peralatan di dapur. Berikan padaku! Cepatlah! Waktu tidak menunggu! Itu cukup! Dan musik… (Menyalakan tape) Beri yang kuminta!

PUPU MENUJU DAPUR. SELASIH KE KAMARNYA.

ROSA :
(Mendekati Rian. Bicara pelan) Kamu jagal?

RIAN :
(Tersenyum)
Tanganku pandai mengemas. Orang orang akan mengenangku, karena tangan ini.
PUPU DAN SELASIH MUNCUL KEMBALI DI RUANG TENGAH. PUPU MEMBAWA SEJUMLAH PISAU. SELASIH MENGGERET KOPOR BESAR.

RIAN :
(Memilih hanya pisau daging. Yang lain dibagikan kepada ketiga perempuan)
Untukku cukup ini. Pemotong yang sederhana. Dan sebuah kopor yang lega. Yang lain bawalah pergi. Kalian perempuan, wajib berjaga. Pergi!

SELASIH :
Kenapa Rian? Aku yang bunuh Brojo. Mestinya aku.

RIAN :
Kenapa? (Terkekeh. Membuka kostumnya. Memakai lingerie, lalu tubuhnya mulai meliuk di depan mayat Brojo. Roman wajahnya berubah keras) Tidak semua perbuatan akan memberimu jawaban. Kalian yang perempuan, selalu menuntut dunia memberi jawaban. O, jawaban cuma serpihan kertas. Di dunia yang jamak dan berubah-ubah, biar tangan ini saja yang bekerja. Otak harus kau tidurkan di kamar gelap. Supaya hasratmu tumbuh. Dan di tengah kegelapan ,dunia juga akan ikut tumbuh…menerobos kelaziman…memberimu penglihatan. Pergilah bersama malam! Hanya saat malam, dunia memberimu lebih banyak pilihan. Pergi perempuan! Biar tanganku menuntaskan pesta ini. (Rian menarik tirai ruang tengah)

LAMPU DI RUANG TENGAH MEREDUP. SUARA MUSIK BERGELOMBANG. DALAM SILUET, TAMPAK TANGAN RIAN CEKATAN MENCABIK PAKAIAN KORBAN. DENTUMAN PAKU BUMI TERDENGAR LAGI.

ROSA, PUPU, SELASIH, BERJALAN MENUJU RIMBUN POHON BAMBU. DI LANGIT YANG HITAM, MELINTAS TERBANG TIGA EKOR KUNANG-KUNANG. SUARA SUARA HANYA TERDENGAR DALAM GELAP.

SELASIH :
Kunang-kunang…

PUPU :
Mereka juga pergi…

ROSA :
Tak bisa hidup di jalan layang…

SELASIH:
Kita kemana?

PUPU :
Kita terkurung di jalan layang…

SELASIH :
Siapa kita?

ROSA :
Kita tinggal perca.

PUPU :
Bisakah kita hidup setelah ini?

SELASIH :
Setelah membunuh, aku merasa lebih pulih.

ROSA :
Kita harus terjaga. Perempuan harus terjaga.
Lihat kunang-kunang itu!

PUPU :
Mereka kembali.

ROSA :
Kita harus kembali!

SELASIH :
Ya. Kita sudahi pesta ini.

UCAPAN ‘Kita harus kembali. Kita sudahi pesta ini.’ TERDENGAR SEPERTI ARUS GEMA. MAKIN LAMA GEMA ITU MERAYAP MAKIN KERAP DAN JELAS SUARANYA.

DALAM BERSITAN CAHAYA, MATA MATA PISAU BERKILAP MENGACUNG MENUSUK KEGELAPAN. DERU LALU LALANG KENDARAAN DI JALAN LAYANG NAMPAK MAKIN KERAP. BERSITAN CAHAYA LAMPUNYA MEMBERKAS PESAT DARI BERBAGAI ARAH. DENTUM PAKU BUMI MAKIN NYATA.
DALAM SILUET, SOSOK TUBUH TIPIS DALAM BALUTAN LINGERIE BERDIRI MEMBEKU DI ATAS MEJA. DARI SELA KOPOR BESAR DIPAHANYA NAMPAK TANGAN BEKU TERSEMBUL. SILUET ITU SEPERTI MONUMEN TUMBUH, MAKIN LAMA MAKIN MEMBESAR. DAN DI LANGIT YANG GELAP RATUSAN KUNANG-KUNANG BERDENYAR.

SELESAI.
MEI-JUNI 2010

Hak Pengarang Dilindungi Undang Undang
Mementaskan naskah ini wajib meminta ijin pengarang
Alamat kontak :
Benny Yohanes/BenJon
Komplek Griya Bandung Asri I Blok D no 176-177
Bojongsoang Bandung 40288
Telp : 022 7500692 Mobile : 0818200206
Email : bennyyohanes@yahoo.com/benjon@bdg.centrin.net.id/

KONSEP KARYA

Naskah PERTJA ditulis oleh BenJon. Naskah ini menjadi Pemenang Utama dalam Sayembara Penulisan Lakon Realis 2010, diselenggarakan oleh Komunitas Salihara.

Dewan Juri Sayembara (Iswadi Pratama, Seno Joko Suyono, Zen Hae) menuliskan pandangannya terhadap naskah ini, sebagai berikut : “…Dramaturgi Pertja dibangun di atas ketegangan antar-tokoh sampai kepada klimaks yang meski tidak menyelesaikan masalah tapi konflik itu sendiri telah berkembang sedemikian rupa, menyisakan sejumlah pertanyaan buat penonton kelak. Pertja bertahan tetap realis, meskipun kelihatan mencoba melepaskan diri dari realisme Indonesia kebanyakan…Pertja menyuguhkan manusia urban yang tergencet, antara ‘perbudakan tata cara’ dan kehendak bebas, kemiskinan dan impian kekayaan, kebangkrutan dan penyelamatan, keterceraiberaian dan keutuhan sebuah keluarga… Naskah ini juga menyajika tatapanggung yang menarik. Bukan hanya karena petunjuk dramatiknya yang cukup jelas dan rinci, juga karena rancangan interior dan eksterior panggung yang bisa digarap dengan kontras tinggi. Antara ruang keluarga yang penuh kematian dan penistaan, dan halaman rumah, kebun belakang, yang menjanjikan kehidupan, tapi juga rentan dan misterius; antara kebun tomat dan rumpun bambu dan deru paku bumi di luar sana. Setiap rinci dirancang dengan kesadaran seni rupa yang cukup kuat. (Petikan Pertanggung jawaban Dewan Juri Sayembara Penulisan Lakon Realis Salihara 2010).

Naskah PERTJA akan digarap lewat konsep Realisme Urban. Konsep ini merupakan bentuk reapresiasi dan sekaligus redefinisi terhadap konsep realisme tahun 50-60’an. Teater modern Indonesia mutakhir, yang cenderung mengesplorasi spektakel tubuh, sensasi rupa dan multi-media, berimplikasi pada melemahnya seni peran para aktor.

Naskah PERTJA secara khusus hendak memberi imbangan kreativitas untuk memperkuat kembali konsep seni peran realis, yang sudah ditinggalkan peteater di Indonesia hampir sepanjang tiga dekade. Konsep Realisme Urban akan memperlihatkan bentuk dan bobot permainan sublimatif, yang membayangi aspek-aspek skisoprenik dari kompleks persoalan yang khas manusia urban: kegoyahan dan keperihan dalam identitas yang bertopeng.

INOVASI KARYA

Inovasi yang akan dicapai lewat lakon PERTJA adalah mewujudkan META-NARASI DI RUANG URBAN. Pengertian Meta-narasi adalah : Berbagai cara ungkap pernyataan berkedok, sebagai tanggapan atas konflik tersembunyi manusia urban. Pernyataan berkedok itu muncul dalam bentuk kode jamak komunikasi, yang membentuk pertahanan diri manusia urban. Bentuk-bentuk pertahanan diri manusia urban itu mengembangkan sejumlah motif motif psikologis baru, seperti motif : Penopengan, Kompromi, Penyesuaian Diri, Perlawanan, Mimpi, Pengalihan Tujuan, Pengaburan Identitas, Pelarian, Kepedihan, Keterasingan, Kegembiraan, Kenikmatan, Keterbelahan, Kegilaan, Hasrat dan Petualangan.

Menggarap meta-narasi dalam bentuk Realisme urban, akan diwujudkan melalui karakterisasi, skeneri dan interpretasi dialog. Karakterisasi akan digarap lewat permainan berlapis, memperlihatkan kontras antara front-stage karakter dengan wilayah back-stage-nya. Skeneri akan ditampilkan sebagai enigma ruang.

Skeneri bukan lagi latar fisik peristiwa, tetapi juga membahasakan beban persoalan yang disembunyikan karakter. Skeneri akan menampilkan familiarisasi sekaligus alienasi. Interpretasi dialog adalah mengubah makna literal ucapan menjadi penanda skisoprenik. Artinya, dialog akan menampilkan sisi verbal (ucapan tokoh) sekaligus meta-verbalnya (isyarat psikis yang tidak diucapkan) Realisme urban akan berbeda secara kualitatif dengan realisme konvensional, karena dimunculkannya elemen meta-narasi tersebut.

Inilah unsur inovasi yang ingin dicapai dalam PERTJA, yang akan memberi kekuatan sublimatif sekaligus menegaskan psike subversif pada seni-peran realis, tapi dengan tetap memperlihatkan kekuatan emosi natural, dan tidak terjebak pada distorsi atau stilisasi.

YANG DIHARAPKAN DENGAN MENGGELAR KARYA

Pertunjukan PERTJA akan menunjukkan kembali esensi dan kekuatan estetik teater yang dibangun oleh kemampuan keaktoran dan seni peran yang sublim dan intim.

Bagi saya pribadi, ini merupakan usaha menemukan kembali kekuatan empatis seni peran, yang sejauh ini telah dihanyutkan dan dikamuflase oleh spektakel tubuh, sensasi rupa dan multi-media. Kekuatan natural manusia sebagai media ekspresif dan sumber komunikasi psikis akan digunakan untuk mewujudkan kemampuan seni peran yang lebih utuh dan jujur.

Teater tidak diarahkan menjadi medan pemanggungan yang atraktif, tapi lebih impulsif dan reflektif. Karakter akan menjadi kekuatan internal pertunjukan, dan kekuatan estetiknya dipusatkan pada pengungkapan lapis demi lapis meta-narasi. Inilah orientasi seni peran yang akan digarap, yaitu menganyam wilayah sublimatif dan wilayah subversif perasaan, untuk membuka berbagai pernyataan berkedok yang khas manusia urban.

KEGIATAN UNTUK MEMPERSIAPKAN KARYA

Sesuai dengan tujuan dasar dari penggarapan naskah PERTJA, yaitu reapresiasi dan sekaligus redefinisi terhadap konsep realisme, para aktor dan pengarah peran akan melakukan sejumlah sesi latihan dan diskusi intens, untuk memperoleh kembali pengalaman yang lebih natural dalam pengungkapan emosi.

Workshop pra-produksi ini akan diarahkan untuk memperkaya ekspresivitas natural para aktor dalam menampilkan sisi verbal (ucapan tokoh) sekaligus meta-verbalnya (isyarat psikis yang tidak diucapkan).

Sejumlah pendekatan dasar dari seni peran realisme, seperti latihan ingatan-emosi, penciptaan ruang, memasuki momen sublim, pendetilan motif-motif psikis, dan menggali intensitas, akan menjadi rangkaian topik-topik workshop untuk memperkuat stimulus internal para aktor dalam menghidupkan peran. Sedang stimulus eksternal dilakukan dengan memperlakukan teks(naskah) bukan sebagai instrumen teknis, tapi sebagai media rapprochement (pemulihan hubungan) antara dunia epistemik teks dengan dunia biografis para aktor.

Targetnya adalah memadukan episteme teks (pandangan etik penulis teks) menjadi pengalaman emik ( kesadaran biografis) para aktor. Dengan kata lain, pencapaian teater realis ini terletak pada keberhasilan rebiografisasi teks.

Naskah PERTJA akan digarap lewat konsep Realisme Urban. Konsep ini merupakan bentuk reapresiasi dan sekaligus redefinisi terhadap konsep realisme tahun 50-60’an.

Teater modern Indonesia mutakhir, yang cenderung mengesplorasi spektakel tubuh, sensasi rupa dan multi-media, berimplikasi pada melemahnya seni peran para aktor. Naskah PERTJA secara khusus hendak memberi imbangan kreativitas untuk memperkuat kembali konsep seni peran realis, yang sudah ditinggalkan peteater di Indonesia hampir sepanjang tiga dekade.

Inovasi yang akan dicapai lewat lakon PERTJA adalah mewujudkan META-NARASI DI RUANG URBAN. Pengertian Meta-narasi adalah : Berbagai cara ungkap pernyataan berkedok, sebagai tanggapan atas konflik tersembunyi manusia urban.

Menggarap meta-narasi dalam bentuk Realisme urban, akan diwujudkan melalui karakterisasi, skeneri dan interpretasi dialog. Karakterisasi akan digarap lewat permainan berlapis, memperlihatkan kontras antara front-stage karakter dengan wilayah back-stagenya. Skeneri akan ditampilkan sebagai enigma ruang.

Skeneri bukan sekadar latar fisik peristiwa, tetapi juga membahasakan beban persoalan yang disembunyikan karakter. Skeneri akan menampilkan familiarisasi sekaligus alienasi. Interpretasi dialog adalah mengubah makna literal ucapan menjadi penanda skisoprenik.

Artinya, dialog akan menampilkan sisi verbal (ucapan tokoh) sekaligus meta-verbalnya (isyarat psikis yang tidak diucapkan) Realisme urban akan berbeda secara kualitatif dengan realisme konvensional, karena dimunculkannya elemen meta-narasi tersebut. Inilah unsur inovasi yang ingin dicapai dalam PERTJA, yang akan memberi kekuatan sublimatif sekaligus menegaskan psike subversif pada seni-peran realis, tapi dengan tetap memperlihatkan kekuatan emosi natural, dan tidak terjebak pada distorsi atau stilisasi.

Teater tidak diarahkan menjadi medan pemanggungan yang atraktif, tapi lebih impulsif dan reflektif. Karakter akan menjadi kekuatan internal pertunjukan, dan kekuatan estetiknya dipusatkan pada pengungkapan lapis demi lapis meta-narasi. Inilah orientasi seni peran yang akan digarap, yaitu menganyam wilayah sublimatif dan wilayah subversif perasaan, untuk membuka berbagai pernyataan berkedok yang khas manusia urban.

*Terbitan naskah ini atas persetujuan Joind Bayuwinanda, sutradara dan aktor Sindikat Aktor Jakarta (SAJ).

*Daniel Deha

Baca Juga

Komite Tari DKJ Gelar “IMAJITARI” sebagai Ajang Sosialisasi Dance Film

Portal Teater - Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar IMAJITARI "International Dance Film Festival" sepanjang 12-13 Desember 2019 di Art Cinema FFTV...

“Mengingat-ingat Sanento Yuliman” di Galeri Cipta II TIM Jakarta

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di penghujung tahun ini akan menggelar pameran maestro Indonensia bertajuk "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)"...

Dahlan Iskan Minta Aktivitas Teater di Surabaya Kembali Bergairah

Portal Teater - Seusai menonton pementasan "Para Pensiunan" oleh Teater Gandrik di Ciputra Hall, Surabaya, Sabtu (7/12) malam, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...