Norma Hidup Baru Selama dan Pasca Pandemi

Portal Teater – Pandemi virus corona telah menghantam jutaan manusia global. Ratusan ribu orang telah meninggal karena virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini.

Anjuran pembatasan sosial, jaga jarak, dan penguncian wilayah telah membentuk satu tatanan hidup baru masyarakat global.

Dari sebelumnya masyarakat terbiasa melakukan perjalanan internasional, berwisata, bekerja di luar rumah dan berkerumun, secara serentak dikondisikan untuk mengisolasi diri, berdiam diri, menghindari keramaian dan bekerja dari rumah.

Norma hidup baru ini tidak pernah dibayangkan oleh siapapun sebelumnya. Memang banyak teori konspirasi mengatakan bahwa ada cita-cita sekelompok elit global untuk membentuk satu tata-dunia baru (new world order), namun pandemi ini secara non-organik telah membentuk satu kultur baru masyarakat.

Pakar kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr. David Nabarro beberapa waktu lalu mengatakan bahwa pandemi Covid-19 memungkinkan masyarakat hidup dengan norma hidup baru.

Proses pengembangan dan penelitian vaksin, sekiranya 100 perusahaan pengembang vaskin, yang belum manjur dan aman mendorong masyarakat agar tidak terlalu berharap bahwa di suatu waktu akan mendapat vaksin corona, kata Nabarro.

Untuk menumbuhkan harapan, ia menganjurkan agar masyarakat global mulai beradaptasi dengan cara hidup baru sebagaimana menjadi protokol kesehatan yang diterapkan negara-negara saat ini.

Ia pun memperingatkan bahwa pandemi ini menjadi ancaman konstan bagi penduduk global.

Dan masyarakat perlu “untuk dapat menjalani kehidupan sosial dan aktivitas ekonomi dengan virus di tengah-tengah kita.”

Mengejutkan! WHO Klaim Vaksin Corona Tak Akan Pernah Ada
Dr. David Nabarro, pakar kesehatan WHO. -Dok. Fabrice Coffrini/Getty Images.

Hidup Berdampingan

Pejabat pemerintah Indonesia sejak pekan lalu pun mulai mengeluarkan pernyataan agar masyarakat menyesuaikan diri dengan pandemi saat ini, seolah menyerah dan “tak berdaya” menghadapi krisis terbesar abad ini.

Presiden Joko Widodo bahkan meminta agar masyarakat hidup berdampingan dan berdamai dengan virus yang menyerang sistem pernapasan, atau sepupu dari dari SARS ini.

Bagi Jokowi, pernyataan itu bukan ungkapan pesimisme bahwa negara telah kalah dalam menangani corona. Namun secara prinsipil ingin mengatakan bahwa masyarakat perlu memiliki harapan untuk terus bertumbuh meski terjebak dalam krisis hidup.

“Berdampingan itu justru kita tidak menyerah, tapi menyesuaikan diri. Kita lawan keberadaan virus Covid-19 tersebut dengan mengedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan yang ketat yang harus kita laksanakan,” katanya, Jumat (15/5) lalu.

Hal senada juga dikatakan juru bicara pemerintah Achmad Yurianto. Dalam beberapa konferensi pers virtual sejak pekan lalu ia senantiasa menggarisbawahi pentingnya adaptasi terhadap norma hidup baru, atau yang disebutnya “the new normal”.

Hal itu dikatakannya untuk merujuk pada argumentasi sejumlah pakar epidemiologi dan pejabat WHO yang mengatakan bahwa pandemi ini mungkin tidak akan pernah hilang dari bumi.

Ia akan menjadi satu kultur baru bagi masyarakat global untuk menjalani hidup mereka selama dan pasca pandemi.

“Inilah yang kemudian kita hidup sebagai normal baru. Oleh karena itu, satu-satunya cara agar kita bisa produktif dan aman dari Covid ini adalah hidup berdampingan dengan Covid-19,” katanya di Graha BNPB Jakarta, Minggu (17/5).

Menjaga jarak sosial akan menjadi salah satu norma hidup baru pasca pandemi corona. -Dok. MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.
Menjaga jarak sosial akan menjadi salah satu norma hidup baru pasca pandemi corona. -Dok. MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.

Ubah Perilaku

Bagi Yuri, hidup berdampingan tidak berarti kita harus menyerah, tetapi kita harus mengubah perilaku dan cara pandang kita.

Beberapa perilaku hidup baru seperti misalnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker ketika keluar rumah, tetap produktif meski harus bekerja dari rumah, menghindari tempat atau kerumunan orang, dan seterusnya.

Ia bahkan menyinggung soal budaya antre yang masih sulit diterapkan di Indonesia, tidak seperti di negara lain.

Dengan situasi pandemi, masyarakat dianjurkan untuk menjaga jarak aman, dan dengan itu menumbuhkan kebiasaan mengantre.

“Secara bertahap kita mampu berubah untuk menjadi bangsa yang bisa dan mampu melaksanakan budaya antre, hal yang sama juga pasti akan kita bisa laksanakan,” ungkap Yuri.

Ia menilai, kebiasaan baru tersebut sangat penting dalam interaksi sosial. Tidak hanya terkait dengan pandemi Covid-19, tapi juga berkaitan dengan penyakit menular lainnya.

Kultur Baru

Pada prinsipnya norma hidup baru ini tidak hanya terjadi selama masa pandemi. Sesudah pandemi, gaya hidup ini harus menjadi satu model baru manusia dalam bertemu dan berinteraksi.

Di beberapa negara seperti China, Hong Kong, dan Korea Selatan, atau Australia sudah menjalankan kehidupan normal baru setelah otoritas mencabut penguncian wilayah (lockdown).

Namun ternyata beberapa orang diantaranya kembali terinfeksi virus. Bahkan mereka tidak memiliki riwayat perjalanan sama sekali.

Hal itu memunculkan satu pesimisme bahwa pandemi ini, yang oleh beberapa pakar akan tetap ada, terus menghantui hidup manusia, bahkan setelah orang-orang menjalani hidup normal.

Menurut para analis, kemunculan virus gelombang kedua menjadi lebih berbahaya karena ia bergerak senyap di antara orang sehat.

Karena itu, cara hidup selama masa pandemi akan tetap menjadi satu model kultur dan etika baru dalam tatanan global.*

Baca Juga

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

GM akan Bicara tentang Manifesto Seni Indonesia

Portal Teater - Untuk terus bertumbuh selama krisis terbesar abad ini, pandemi virus corona, Goethe-Institut Indonesien lagi-lagi menyajikan rangkaian acara budaya daring melalui kanal-kanal...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...