“Nyai Dasimah”, Cerita Rakyat Betawi yang Hidup

Portal Teater – Kelompok Kesenian Sandiwara Sunda Miss Tjitjih baru saja mementaskan lakon “Nyai Dasimah” pada Sabtu (3/8) pekan lalu. Lakon itu dipentaskan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Cempaka Baru Timur (Kabel Pendek) Jakarta, pukul 19.00 WIB.

Naskah pementasan ini digarap secara baru ke dalam bentuk pertunjukan oleh Imas Darsih, atau biasa disapa Mak Imas, seorang (seniman) perempuan yang cintanya begitu kuat kepada budaya bangsa, khususnya budaya Sunda.

Mak Imas adalah sosok luar biasa di balik setiap pertunjukan kelompok kesenian Miss Tjitjih sejak dulu. Sebagai seorang sutradara, aktor dan sekaligus penulis naskah, Mak Imas telah hidup sebagai sosok ibu yang begitu mengayomi semua seniman Miss Tjitjih.

Dalam pementasan kali ini, Mak Imas mencoba menyajikan bentuk baru dari cerita rakyat masyarakat Betawi, yang ketenarannya telah dibuktikan dengan kemunculan dalam berbagai bentuk: prosa (novel, bacaan anak-anak), puisi (syair, pantun), drama (Komedie Stamboel, Miss Riboet), film dan sinetron.

Apa yang membuatnya begitu populer adalah karena cerita ini bukan sebuah karya fiksi, tetapi merupakan cerita nyata masyarakat Betawi. Kisah ini memiliki kompleksitas konflik yang tinggi. Tokoh-tokohnya terikat satu sama lain dalam alur irama cerita dan progresi yang ketat untuk bersama-sama menuju titik klimaks, di samping plotnya sempurna. Isi cerita nyata ini dianggap berhasil sosok atau tipe Nyai yang klasik.

Cerita Nyai Dasimah

Nyai Dasimah adalah perempuan desa yang mempunyai seorang kekasih bernama Samiun. Namun hubungan mereka tidak direstui oleh orangtua mereka. Akhirnya ia menikah dengan laki-laki Belanda bernama Edward William dan dikaruniai anak bernama Nonsih.

Selang beberapa tahun kemudian, Dasimah bertemu dengan Samiun yang bekerja sebagai kusir delman yang suka mengantar anaknya ke sekolah. Karena besarnya rasa cinta Samiun yang terpendam sejak dulu, ia pun ingin memperistrikan Dasimah, meski ia sendiri sudah memiliki istri (Hayati). Sementara Dasimah pun sudah mempunyai suami orang Belanda.

Akhirnya, Samiun pun mencari akal dengan memperkerjakan Mak Buyung yang kesehariannya suka menjajakan telor ke rumah Dasimah. Ia mengatur strategi agar Dasimah jatuh ke pangkuannya.

Intrik itu berhasil. Dasimah akhirnya menceraikan suaminya dan meninggalkan kediaman suaminya sambil membawa serta harta karun laki-laki Belanda tersebut.

Di rumah Samiun (yang sudah beristri), harta Dasimah dihabiskan oleh istri pertamanya, Hayati. Merasa diperas, Dasimah pun menuntut Samiun agar segera menikahinya secara resmi.

Samiun bukannya menikahi perempuan yang dicintainya sejak lama itu, tetapi malah menyuruh seorang jawara bernama Bang Puasa membunuh Dasimah dan mayat wanita itu dibuang ke sungai. Tempat pembunuhan Dasimah adalah jembatan Kwitang (depan toko buku Gunung Agung sekarang).

Keesokan harinya mayat Dasimah tersangkut di tempat mandi mantan suaminya. Polisi pun mengusut kejadian itu. Dengan kesaksian beberapa orang, maka para pelaku pembunuhan ditangkap. Samiun dan Bang Kuasa dijebloskan ke penjara.

Menurut Bascom (Dananjaya, 1991), legenda ini adalah prosa rakyat yang dianggap pernah benar-benar terjadi dan hidup, ditokohi manusia, tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal sekarang di kota Jakarta.

Bangunan yang melingkupi latar fisik cerita Nyai Dasimah merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada abad ke-19.

Menurut penuturan warga, rumah Nyai Dasimah dan suaminya Edward William berada di Pejambon, tepatnya di belakang Gereja Immanuel, dekat Stasiun Gambir.

Dari Opera hingga Film

Dalam khazanah cerita rakyat Betawi, cerita Nyai Dasimah semakin bertambah popular karena adanya lintas budaya. Cerita ini tidak saja terdapat dalam budaya Betawi dengan ditampilkan dalam pertunjukan lenong, misalnya, tetapi juga dalam budaya Sunda (Gending Karasmen), dan budaya Jawa (Rombongan Sandiwara Lokaria).

Dalam pementasan berupa opera oleh Sandiwara Lokaria di Jawa Timur pada tahun 1960-an, misalnya, cerita “Nyai Dasimah” mendapat sambutan hangat penonton yang notabene adalah masyarakat Jawa Timur. Bahkan cerita ini dipentaskan selama beberapa hari atas permintaan masyarakat setempat.

Cerita ini sebenarnya sudah mulai populer di Indonesia sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ketika ada beragam kelompok tonil maupun sandiwara yang sudah mementaskannya, seperti Komedi Stamboel, Dardanella, Riboet’s Orion, Orphius Opera, Dewi Mada, Pantjawarna, Bintang Timoer, Kintamani, Srimoelat Review, hingga Lokaria.

Pada tahun 1896 G. Francis menerbitkan novel yang diberi judul “Tjerita Njai Dasima”. Henry Chambert – Loir dalam “Malay Literature in the 19th Century” menyebutkan bahwa di Leningraad terdapat cerita “Nyai Dasimah” dalam koleksi Akhmad Beramka tentang syair nomor 68.

Tidak disebutkan tahun penciptaan manuskrip ini, namun Akhmad Beramka aktif menulis antara tahun 1906 sampai dengan tahun 1909.

Lie Kim Hok dan O.S Tjiang pun pernah menyadur cerita “Nyai Dasimah” ini dalam bentuk syair yang disadur dari karya G. Francis (Oetomo, 1985). Kemudian A. Th. Mausamana membuat cerita “Nyai Dasimah” dalam bahasa Belanda pada tahun 1926.

Dalam perkembangannya, cerita ini muncul sebagai bacaan anak-anak dalam Cerita Betawi (Ali, 1995). Selanjutnya pada tahun 1965, Ardan pernah mengarang “Njai Dasimah” dalam bentuk naskah drama.

Seiring dengan perkembangan teknologi, cerita nyata ini pada tahun 1929 diangkat ke layar lebar dengan judul “Njai Dasimah 1”. Setahun kemudian, berturut-turut tayang “Njai Dasima 2” dan “Nancy Bikin Pembalesan”. Ketiga film itu adalah film bisu.

Barulah beberapa tahun kemudian dibuat film yang lebih modern berjudul “Nyai Dasimah” (1932), “Dasimah” (1940), “Dasimah dan Samiun” (1970) sebagai film bicara. Tahun 1996, film “Nyai Dasima” pernah ditayangkan sebagai salah satu sinetron di RCTI. (Dari berbagai sumber)

*Daniel Deha

Baca Juga

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Pesta Kesenian Bali 2020 Ditiadakan

Portal Teater - Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan peniadaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2020 menyusul penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...