Orang Betawi Dalam Film Kita: Masalah Stereotipe dan Akses

Portal Teater – Sampai sekarang, sukar buat saya menyelesaikan nonton film “Benyamin Biang Kerok” (2018) yang disutradarai Hanung Bramantyo. Film itu terlalu berisik, dan terlalu asing dari budaya serta keseharian Betawi yang saya alami sewaktu kecil hingga remaja di Cilandak, Jakarta Selatan. Salah satu yang terbersit sewaktu mencoba menonton film itu, pertanyaan: sejak kapankah orang Betawi jadi terasa bukan-Betawi di dalam perfilman kita?

Satu hal, dari segi teknis, saya menganggap film “Benyamin Biang Kerok” menampakkan keterampilan teknis yang tinggi sang sutradara: koreografi gerak kamera, pengadeganan di ruang terbuka, blocking pemain dan kendaraan, editing, semua terasa lincah dan lancar. Justru itu yang membuat saya merasa betapa ajib ketika film ini terasa ngeblangsak. Saya menyimpulkan, memang ini bukti bahwa keterampilan teknis yang tinggi akan percuma dan menjerumuskan film jadi sebuah produk budaya yang buruk ketika berdasarkan gagasan yang buruk.

Masalah besar film yang banyak dihujat oleh para pemikir dan tokoh masyarakat Betawi itu adalah gagasannya yang sungguh buruk tentang “orang Betawi” dan “kebetawian”. Di dalam film tersebut, tokoh “Benyamin” (dimainkan Reza Rahardian dengan ekspresi ditolol-tololkan secara berlebihan – saya kira ini murni kesalahan penyutradaraan) tampil dengan dandanan ala James Bond, rambut ikal funky, anak seorang konglomerat perempuan, dan nyaris di sepanjang film baik si Emak yang kaya raya maupun si “Benyamin” bicara dengan gaya berteriak, berisik, “muka kenceng”, dan sarapan jengkol.

Dalam sebuah adegan, si Emak (dimainkan oleh Meriam Belina – lagi-lagi seorang aktor watak yang tersia karena naskah dan penyutradaraan yang buruk) pergi ke dukun. Gambaran dukunnya pun tipikal klenik Jawa Barat atau Jawa Tengah. Dalam adegan itu, saya merasa betapa jauhnya gambaran orang Betawi dalam film tersebut dengan orang Betawi yang saya kenal sehari-hari.

Bahkan, terasa jauh benar sosok orang Betawi dalam film tersebut dengan sosok orang Betawi yang ada dalam lanskap imajiner “Betawi” dalam film-film yang saya tonton sejak kecil. Saya jadi paham, kenapa Roni Adi Tenabang, Ketua Umum Perkumpulan Betawi Kita, berujar kepada Medcom.id, “… mau mengambil Betawi dari planet mana?” Persis itu pula yang saya rasakan: orang-orang Betawi di film Hanung tersebut seperti dari planet lain. Bahkan, seluruh lanskap imajiner dalam film tersebut seakan menampilkan sebuah planet asing, ganjil, dan sukar dicari hubungannya dengan realitas orang Betawi di luar film.

Perasaan asing itu, saya pikir-pikir, telah saya rasakan saat saya melihat tayangan televisi seri “Lenong Rumpi”. Saya sejak awal merasa sukar melihat apa lucunya tayangan itu. Saya merasa bahwa gambaran orang Betawi di situ terlalu dibuat-buat. Salah satu aspek yang rasakan dalam menonton semua produk Lenong Rumpi, termasuk filmnya, adalah adanya semacam corak kelas menengah kota Jakarta tertentu (yang boleh jadi sepadan dengan konstruksi “anak Jaksel” di masa kini) dalam bercandaan mereka.

Barangkali, tayangan itu pula yang saya lihat untuk pertama kalinya menampilkan orang Betawi tanpa orang Betawi “asli”. Ada semacam apropriasi kultural di situ. Representasi Betawi yang lebih otentik tentu saja bisa kita lihat pada periode itu dalam tayangan seri “Si Doel Anak Sekolah” (1994) karya Rano Karno. Sementara, Lenong Rumpi yang pertama kali tayang pada 1989, dimasak oleh Harry De Fretes dan kemudian jadi film layar lebar oleh Yazman Yazid pada 1991. Keduanya bukanlah orang Betawi “asli”. Harry keturunan Ambon, dan Yazman keturunan Sumatera Barat.

Di sini, saya bukan sedang mengajukan tesa bahwa hanya orang Betawi asli yang mampu menampilkan orang Betawi secara otentik dalam film (atau karya seni lainnya). Contoh yang baik, sampai titik tertentu, adalah keberhasilan Aris Nugraha (kelahiran Garut) menggambarkan orang Betawi dalam seri Bajaj Bajuri. Tapi, harus diakui bahwa representasi orang Betawi di dalam Lenong Rumpi di televisi maupun film tampak mengandung keasingan tersendiri terhadap budaya Betawi dalam dunia nyata. Lenong Rumpi adalah contoh bagaimana orang Betawi diperangkap dalam sebuah straw man (orang-orangan), dan kemudian kita sebagai penonton diminta merespon sosok orang-orangan Betawi itu sebagai orang Betawi “sungguhan”.

Muasal orang-orangan Betawi dalam film (dan media lain seperti novel atau cerpen) tentu berakar dari stereotipe orang Betawi sejak masa Hindia Belanda. “Batavia” dalam khasanah literatur Belanda dan Hindia Belanda yang dominan mungkin mengacu pada sebuah kota di wilayah Khatulistiwa yang mengalami eksotisasi orang Eropa. Dalam lanskap imajiner yang dominan dalam bacaan resmi masa itu, orang Betawi adalah liyan, pribumi di pinggir arena.

Tentu saja, posisi imajiner orang Betawi itu berkaitan dengan stratifikasi sosial dan sistem kelas yang berlaku secara resmi di Hindia Belanda, dengan kaum “pribumi” berada di kelas terbawah masyarakat. Dalam struktur ruang bioskop pada masa itu, misalnya, orang pribumi hanya boleh menonton di tempat yang biasa disebut “kelas kambing”. Dalam bacaan resmi saat itu, muncul sebuah sosok orang Betawi yang menjadi sangat terkenal, tapi sesungguhnya hasil rekaan orang non-Betawi. Sosok itu adalah “Si Doel”.

Pada 1932, Balai Pustaka menerbitkan novel remaja “Si Doel Anak Betawi”. Novel itu dikarang oleh Aman Datuk Modjoindo, seorang kelahiran Solok, Sumatera Barat. Tidak seperti terbitan Balai Pustaka lain yang menggunakan bahasa Melayu Tinggi, Aman menulis novel ini dengan menyertakan dialog-dialog dalam bahasa Betawi. Tujuan Aman adalah mengenalkan bahasa Betawi ke masyarakat. Saya menduga, ketertarikan Aman menggunakan bahasa Betawi adalah bagian dari pandangan bahwa bahasa Betawi adalah sebuah varian dari bahasa Melayu.

Sosok “Si Doel” dalam novel tersebut hidup dalam suasana kampung di tanah Betawi. Pada 1932, Batavia telah mengalami urbanisasi yang gencar, dan wilayah di luar area “Benteng Batavia” telah menjadi sebuah dunia yang sedang tumbuh menjadi sebuah kota. “Si Doel” bermain dalam alam, nakal, kerjanya lebih banyak bermain dan bukan bersekolah. Ayahnya, si “Babe”, adalah sopir bus kota. Suatu hari, Babe kecelakaan dan meninggal. “Si Doel” jadi anak Yatim, ia dan Nyak-nya harus hidup prihatin. Nyak-nya kehilangan semangat hidup, dan “Si Doel” harus mengambil alih tanggung jawab menjaga penghidupan keluarga.

Sosok kenakalan “Si Doel” rupanya memikat dan melekat dalam imajinasi pembaca dalam berbagai generasi. Otentisitas sosok dan hidup orang Betawi dalam kisah Si Doel itu tampak direpresentasikan ulang dalam film “Si Doel Anak Betawi” (1972) oleh Sjuman Djaja . Sang sutradara, putera Betawi asli yang mendapat pendidikan film di Rusia, merasa perlu mendekonstrukti sekaligus merekonstruksi kembali sosok orang Betawi dalam film “Si Doel Anak Modern” (1976). Sjuman Djaja seolah menemukan sosok paling tepat untuk proyek representasi, dekonstruksi, sekaligus rekonstruksi orang Betawi dalam film-filmnya: Benyamin S.

Tapi, ada satu segi dari film-film Sjuman tentang orang Betawi, yang merupakan penanda sebuah situasi struktural kehadiran orang Betawi dalam film Indonesia pada era 1970-an hingga 1980-an: banyaknya orang Betawi berkiprah dalam perfilman nasional. Di samping Sjuman dan Benyamin, ada Soekarno M. Noer dan Rano Karno (dan anak-anak Soekarno M. Noer lainnya), Deddy Mizwar, Jaja Miharja, Nawi Ismail, Bokir, Nasir, Ida Royani, Zainal Abidin Domba, Hamid Arief, Ali Shahab, dan banyak lagi. Mereka bukan hanya hadir, tapi cukup menentukan corak perfilman Indonesia pada periode itu.

Pada saat itu, memang ada aktor kelahiran non-Betawi yang sering jadi orang Betawi dalam film. Misalnya, Wolly Sutinah (Mak Wok) dan Aminah Cendrakasih yang kelahiran Magelang. Atau Mansyur Syah yang kelahiran Binjai. Perwatakan orang Betawi yang mereka mainkan mungkin masih berangkat dari semacam stereotipe orang Betawi: berisik, lucu, pemalas, spontan, religius (Islam), dan tidak lekat dengan dunia pendidikan (jika sukses, biasanya sebagai pedagang). Tapi, tampilan mereka masih terasa dekat dengan kenyataan orang Betawi yang saya jumpai sehari-hari pada masa itu. Mungkin karena kehadiran orang Betawi asli dalam perfilman nasional turut menjaga para aktor itu tidak melenceng dari pakem dan perwatakan orang Betawi asli.

Hal itu yang saya lihat semakin berkurang sejak era Lenong Rumpi. Tentu saja, Rano Karno dengan seri “Si Doel Anak Sekolahan” berhasil menghadirkan kembali tema dan orang Betawi dalam televisi dan, sampai titik tertentu, dalam dunia film layar lebar. Masih ada Mandra, Mat Solar, Mpok Nori, Mali Tongtong, dan Bolot. Tapi, secara umum, di luar Rano Karno dan seri “Si Doel” yang berhasil memaksa korporasi televisi tunduk pada terma-terma kreativitasnya yang mempertahankan otentisitas orang Betawi, tampak para bintang Betawi itu harus masuk ke dalam dunia hiburan dalam posisi yang tak lagi menentukan.

Dan gejala keterpinggiran orang Betawi dalam perfilman (dan pertelevisian) kita berpuncak pada film “Benyamin Biang Kerok” karya Hanung. Saya kira, gagasan buruk – atau, katakanlah, konstruksi tanda yang ofensif – tentang “orang Betawi” dalam film tersebut adalah sebuah penanda lain sosiologi film Indonesia saat ini: minimnya kehadiran dan pengaruh orang Betawi dalam perfilman kita sekarang. Segi sosiologis ini menurut saya cukup berpengaruh terhadap keputusan-keputusan estetis menggambarkan orang Betawi dalam film kita.

Jenis lain dari stereotipe orang Betawi dalam film kita dari masa ke masa adalah stereotipe orang Betawi yang lekat dengan kejawaraan, jago kelahi, tapi jarang ditampilkan sebagai lekat dengan ilmu pengetahuan. Orang Betawi punya banyak khasanah cendekiawan, pakar, budayawan, dan ilmuwan dalam sejarah Indonesia. Tapi, jarang sekali muncul sosok orang Betawi yang intelektual. Hal ini dikeluhkan oleh JJ. Rizal dalam sebuah wawancara.

Menurut Rizal, penggambaran miring terhadap Betawi sudah terjadi sejak 1970-an. Kemunculan film-film laga seperti “Si Pitung” dan “Jampang” menurutnya adalah representasi a-historis dari kebudayaan Betawi. Stereotipe itu terus dihidupkan di media, film, sinetron.

Ada pengecualian. Dalam film “Tiga Cinta Dua Dunia Satu Hati” (2010) yang diangkat dari novel Ben Sohib, Da Peci Code, sosok Rosid beranjak sedikit lebih jauh dari sosok “Si Doel” dalam “Si Doel Anak Sekolahan”. Rosid digambarkan sebagai seorang pemikir, penyair, dan jelas pembaca sastra. Novel Ben Sohib memang punya misi mengenalkan sastra Indonesia modern ke anak muda. Itu sebab, pendekatannya adalah cerita humor. Pendekatan humor itu pula yang membuat sosok nyastra Rosid seakan harus dilunakkan oleh komedi.

Apakah pelunakan ini masih merupakan sebuah stereotipe yang mengendap di bawah permukaan – bahwa orang Betawi yang suka sastra dan jadi penyair, bagaimana pun, adalah sosok aneh dan hanya masuk akal jika menjadi sebuah komedi? Hal ini perlu ditelisik lebih jauh. Ben Sohib sendiri adalah seorang intelektual Betawi yang otentik, dan karya-karyanya setelah Da Peci Code berhasil secara lebih “serius” menampilkan sosok dan lanskap Betawi yang lebih kompleks dan tidak stereotipikal.

Percobaan lain yang menarik adalah film animasi “Si Juki: The Movie” (2017). Film ini adaptasi komik karya Faza Meonk, dan ia langsung menangani penyutradaraan film animasi 2D produksi Falcon ini. Dalam film ini, ada satu aspek yang jarang saya jumpai dalam film Indonesia: sosok orang Betawi sebagai ilmuwan fisika. Kakek Si Juki digambarkan sebagai ahli roket kelas dunia. Sepanjang film, logat dan gaya bicara Betawi kampung dipertahankan, sembari pada saat yang sama tampak penguasaan cukupan atau lumayan memadai dari Faza (yang asli Betawi) terhadap pakem science fiction.

Di luar segi cerita, fakta bahwa Faza bisa dipercaya produsen untuk menyutradarai sebuah film animasi layar lebar tanpa pernah ada pengalaman membuat film animasi atau film apa pun sebelumnya adalah hal penting. Buat saya, itu berarti Faza punya semacam posisi tawar yang kuat di hadapan industri film. Dalam posisinya yang kuat itu, kita bisa melihat bahwa visi Faza tentang orang Betawi bisa dipertahankan, dan tak begitu saja tunduk pada kuasa produser.

Mungkinkah diperlukan lagi kehadiran yang kuat, banyak, serta menentukan orang-orang Betawi dalam perfilman Indonesia? Ini, tentu, terbuka bagi diskusi lebih lanjut.

Hikmat Darmawan adalah kritikus dan pakar komik Indonesia. Saat ini menjadi Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta. Naskah ini disampaikan dalam Seminar “Stigma Negatif Orang Betawi Dalam Film” pada kegiatan Pekan Sastra Betawi”, Selasa, 6 Agustus 2019 di TIM Jakarta.

Baca Juga

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Kadisbud Iwan Henry: Teater Jadi Medium Literasi Anak

Portal Teater - Teater Lorong Yunior sukses mementaskan dua kali lakon "Sang Juara" karya dan sutradara Djaelani Mannock di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (19/1)....

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...