Orang Betawi di Film (Catatan Penonton Non-Betawi)

Portal Teater – Apa film Indonesia pertama yang memperlihatkan orang Betawi? Dari telusuran di buku “Katalog Film Indonesia 1926-2007″[1] yang disusun JB Kristanto orang Betawi sudah muncul di layar perak sejak era film bisu. Ada Njai Dasima (1929), Si Ronda (1930) , Njai Dasima II (1930), Nancy Bikin Pembalesan (Njai Dasima III) (1930), serta Si Pitung (1931).

Kala itu, akhir 1920-an dan awal 1930-an, film nasional dikuasai peranakan Tionghoa. Semula, film yang dibuat kebanyakan menyasar golongan itu pula. Namun belakangan, seiring popularitas film sebagai media hiburan baru, penonton kalangan pribumi juga jadi target pasar. Karena filmnya diputar di Batavia, nama Jakarta dahulu, maka penonton pribumi yang jadi target pasar adalah suku asli Jakarta alias orang Betawi.

Contoh paling jelas bisa dilihat di film layar lebar Njai Dasima. Ceritanya sudah populer kala itu. Produser Tan Koen Yaw dari Tan’s Film membuat film itu untuk menarik perhatian “penonton-penonton Boemipoetra dari klas moerah” (Dunia Film, Th. I, No. 10, 15/11, 1929).

Sesuai cerita darimana filmnya berdasar, orang Betawi di film itu jadi tokoh antagonis. Ada Samiun, pria beristri dan tukang delman langganan Dasima yang menaruh hati pada si nyai, yang berkat tipu muslihat akhirnya berhasil merayunya. Ada Hayati, istri Samiun yang gila judi, serta Puasa, jagoan dan pemadat, bersekongkol dengan Samiun untuk merampok Dasima. Puasa juga yang membunuh Dasima.[2]

Melompat ke tahun 1970-an orang Betawi kian mendapat tempat di film nasional. Namun sebelum membahasnya lebih jauh, ada baiknya kita baca bagian pembuka artikel majalah Tempo edisi 5 Juni 1971. Di edisi itu Tempo memasang Benyamin S. di sampul muka disertai headline “Betawi Bangkit Lagi”. Begini paragraf-paragraf awal isi tulisan laporan utamanya:

“BETAWI kini sudah djadi sisa. Djakarta menggelembung, memadat, mengeras. Djakarta mengusir masa lalunja dalam proses metropolitanisasi ke pinggiran — dan ke kepunahan. Delman Saimun sudah praktis hilang. Helitjak mulai muntjul. Tukang pidjit buta diganti mandi uap dan massage. Warung mpok I’it menjelinap gelap ketika muntjrat tjahaja dari niteclub. Di djalanan kopiah mulai djadi minoritas dibandingkan rambut gondrong, sementara badju-badju komprang hitam tjuma dipakai pemain lenong dalam lakon-lakon “preman”. Kain dan kerudung tak terlihat lagi. Kini: mini atau tjutbrai. Meskipun demikian, setelah sekian puluh tahun berlangsung, meskipun “Djakarta mengalami perubahan” seperti dinjanjikan sebuah lagu populer tahun 50-an, restan-restan roh ke-Betawi-an nampaknja masih hidup terus. Paling sedikit itulah jang terdjadi di atas panggung dan di depan mikrofon.

Mula-mula adalah pertengahan bulan Nopember 1968. Di bawah langit di teater terbuka Pusat Kesenian Djakarta jang masih baru, berdjubel orang menonton lenong. Lakonnja Njai Dasima. Entah mengapa, tjerita tragis wanita “njai’ orang Inggeris itu tiba-tiba memikat orang lagi. Dan mereka bukan tjuma penonton-penonton dari pinggiran Ibu kota — jang masih menganggap lenong sebagian dari hidup, 12 djam dari 24 djam — tapi djuga orang-orang baru, jang hanja djadi orang Djakarta karena kartu penduduk. Sedjak itu, apa jang Betawi seakan-akan hidup kembali. Bukan sadja S.M. Ardan, pengarang jang terkenal karena tjerpen-tjerpennja jang berdialek Betawi itu, tapi djuga seniman dan peminat-peminat lain beramai-ramai datang mengerumuni lenong. Setelah Njai Dasima, sedjak 16 Nopember 1968 hampir tiap bulan teater rakjat Betawi itu mendjadi atraksi dengan kursi-kursi penuh terisi. Demikianlah sampai Mei tahun 1971, kurang lebih sudah 25 lakon dipentaskan. Dalam kata-kata Soemantri Sastrosuwondo, Sekretaris Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta jang djuga sebagaimana halnja D. Djajakusuma ikut aktif dalam menghidupkan kembali lenong: “Perhatian terus meningkat. Sekarang bukan sadja orang-orang di kampung jang djadi penonton tetap lenong, tapi djuga orang-orang terpeladjar”.

Pemburu & Benjamin. Sementara itu, pengaruhnjapun menjusup ke tempat-tempat lain. Teater modern Indonesia, jang selalu siap menampung segala pengaruh dan mentjari tjara-tjara pengutjapan baru, mendadak melihat teater-teater rakjat sebagai sumber inspirasi. Antara lain lenong. Begitulah drama terdjemahan “Pemburu Perkasa” oleh Arifin C. Noer pernah dimainkan dengan gaja lenong, dan berhasil. Lakon “Kapai-Kapai” djuga mengambil beberapa anasir Betawi itu ke dalamnja. Di samping itu menarik djuga apa jang terdjadi dalam film: tjerita-tjerita Betawi lama mendapatkan pasaran setjara menjolok — satu hal jang sebelumnja tak pernah terdjadi hingga Wim Umboh membikin Matjan Kemajoran ditahun 1967. Maka lahirlah Si Djampang oleh Lilik Sudjijo, lahir pula Dasima & Saimun oleh Hasmanan, dan tentu sadja Si Pitung oleh Nawi Ismail.

Di atas semua itu, lahir pula Benjamin. Namanja tjepat naik, meninggalkan landasan dengan sedjumlah besar p.h. dan kaset. Laki-laki berumur 31 tahun itu, Betawi tulen dalam arti ia dilahirkan di kampung Bugis Kemajoran, mungkin salah satu dari penjanji-penjanji penting di Indonesia kini. Modalnja: suara antara bariton dan bas jang tidak butut, lidah jang luwes, serta lagu-lagu jang kurang lebih bisa dikatakan sebagai lagu-lagu chas Betawi.”[3]

Menarik bagaimana suasana kebatinan masa itu menggambarkan masyarakat Betawi: orang Betawi telah tersisih, tapi di saat bersamaan yang serba Betawi mulai ditengok dan diminati publik kembali. Yang lebih menarik ditelisik sebetulnya Betawi sudah tersisih padahal usia Republik masih muda. Ini artinya, Betawi sudah terpinggirkan sejak lama.

Kenyataan ini memunculkan bagaimana orang Betawi menggambarkan dirinya
(digambarkan) hingga hari ini. Sebelum membahas lebih jauh, kata kunci yang harus diingat: identitas sebagai orang Betawi, eksistensi, dan pembuktian diri.

Selepas Orde Lama, cerita film berlatar Betawi juga diminati kembali. Trennya dimulai Wim Umboh lewat Matjan Kemajoran (1967) yang lalu berlanjut dengan film Djampang (1969), Dasima dan Samiun (1970), serta Si Pitung (1970) yang dibintangi Dicky Zulkarnaen. Berbeda dengan era 1930-an, orang Betawi pada film-film rilisan pasca-Orde Lama ditempatkan sebagai tokoh utama.

Tren itu berlanjut ke dekade 1970-an, yang dipelopori mencuatnya Benyamin S.. Dalam laporan utama Tempo tahun 1971, kelarisan lagu-lagu Benyamin diprediksi hanya tren sesaat:

“Barangkali kelarisannja jang sekarang tjuma karena suatu musim di mana lagu-Iagu berdialek Betawi sedang disukai. Barangkali dua tiga tahun lagi dia akan surut dari peredaran, bahkan uzur dari dunia piringan hitam sebagaimana galibnja penjanji-penjanji jang laris.”[4]

Kita tahu, prediksi Tempo salah. Nama Benyamin tidak berkibar hanya dua-tiga tahun, melainkan ia jadi seniman legendaris Betawi. Popularitas Benyamin sepanjang 1970-an pula yang membuat tren “yang serba Betawi” tidak surut. Film-film yang berkisah tentang orang Betawi terus dibuat di dekade itu.

Orang Betawi dalam Si Doel

Rano Karno, saat masih bintang cilik, memerankan Doel dalam Si Doel Anak Betawi (1973) karya Sjuman Djaya, seorang sutradara asli Betawi. Filmnya bercerita tentang suka-duka kehidupan Doel, seorang anak Betawi yang harus banting tulang membantu ibunya dengan berjualan kue. Doel anak yatim. Ayahnya (diperankan Benyamin) tewas dalam sebuah kecelakaan. Penderitaan Doel seakan tidak surut. Ia diganggu anak-anak sebayanya dari kelas gedongan.

Film tersebut hendak melawan stigma negatif yang melekat pada masyarakat Betawi. Terutama lewat lagu temanya yang menolak orang Betawi disebut “ketinggalan zaman” maupun “tak berbudaya”. Di filmnya juga, Doel sebagai representasi orang Betawi melakukan perlawanan kelas: si miskin mampu menaklukkan si kaya.

Kita juga melihat di film itu, Doel dibiayai sekolahnya oleh sang paman, Asmad (diperankan Sjuman) yang kemudian menggantikan s0sok ayahnya. Asmad ingin Doel tetap bersekolah karena ingin memutus lingkaran jelek kehidupan anak Betawi. Di akhir film, Doel menjadi anak yang akan jadi modern.

Lagi-lagi, suasana kebatinan masa itu—Betawi yang tersisih—memunculkan narasi orang Betawi menolak disebut ketinggalan zaman, terbelakang, miskin, belum modern, dll. Dalam sebuah perjuangan kelas, orang Betawi mampu keluar sebagai pemenang. Orang Betawi bisa pula jadi orang modern.

Cerita Doel ini di dekade yang sama melompat ke masa saat sang tokoh jadi orang sukses. Sjuman Djaya lalu mengangkat cerita Si Doel Anak Modern (1976). Doel (kali ini diperankan Benyamin S.) melompat dari Betawi kampung jadi “modern”. Rumah keluarga Doel bukan di Jakarta, tapi di Cibinong.

Kepindahan orang Betawi ke daerah pinggiran akibat pembangunan yang pesat di ibukota. Doel menolak jadi orang kampung. Ia mengubah penampilan berpakaian ala anak kota, lengkap dengan rambut kribo dan motor buatan Jepang model teranyar. Namun, kala tertimpa berbagai kesialan, Doel mengaku kapok jadi modern.

Ditulis JB Kristanto di buku Katalog Film Indonesia, tujuan Sjuman memang berniat mengejek sikap modern yang dilukiskannya dengan negatif: rebutan istri, memperistri gadis kawan anaknya dan lain sebagainya. Bahkan judul “Si Doel Anak Modern” juga dicoret dan diganti “Si Doel Sok Modern”.[5]

Walau pesan filmnya mengolok-olok gaya hidup modern yang kebablasan, menarik yang diangkat Sjuman sebagai corong pernyataannya adalah orang Betawi. Maka, bila dicermati, film itu bermasalah sejak dalam pikiran: orang Betawi dan modernitas tidak bisa disatukan dalam satu kalimat.

Ketika ada orang Betawi jadi modern, hal itu dianggap sebuah anomali sampai-sampai perlu diangkat jadi sebuah film. Bahkan, filmnya bisa disalah-kaprahi orang Betawi tidak cocok jadi orang modern. Mungkin untuk mendapat efek komedi, Doel digambarkan kelewat bodoh dan konyol. Ini memunculkan pertanyaan seperti di akhir resensi Salim Said atas film tersebut, “Begitu konyolkah anak Betawi dalam kota Jakarta yang modern ini?”[6]

Dirundung Stigma Negatif

Di kebanyakan film berlatar Betawi tahun 1970-an, orang Betawi disibukkan dengan persoalan identitas, melawan stigma negatif, maupun berupaya eksis di tengah modernitas. Karena sibuk mengurusi upaya untuk dianggap dan tak disisihkan, persoalan orang Betawi dalam budaya pop kita hanya berkutat di sekitar itu saja. Persoalan orang Betawi sebagaimana lazimnya manusia dengan segudang persoalan lain di luar ingin eksis, nyaris tidak disentuh.

Disebut nyaris karena upaya untuk keluar dari persoalan yang itu-itu saja bukannya tidak pernah dicoba. Yang mencoba mendobraknya adalah Benyamin S. sendiri, sang ikon Betawi. Lewat bendera perusahaan film yang ia dirikan sendiri, PT Benyamin Betawi Film Corporation, Benyamin memproduksi film Bapak Kawin Lagi (1973).

Filmnya berkisah tentang cerita sebuah rumah tangga. Benyamin jadi Herman, tukang catut mobil yang mendadak kaya usai menjual mobil antiknya. Herman memiliki istri, Fatimah (Rima Melati). Namun, setelah jadi kaya, ia diam-diam menikahi janda muda.

Di sini, Benyamin mengajak penonton berdialog dengan stereotip pria Betawi (yang sebenarnya juga lazim terjadi pada suku mana saja): bila sudah kaya, kawin lagi. Tentu saja, kemudian si pria kena batunya. Anak si janda muda ternyata satu sekolah dengan anak Herman. Fatimah sendiri berkenalan dengan istri simpanan suaminya. Maka rahasia Herman terbongkar.

Pada 1973 itu, Benyamin, sebagai orang Betawi sebenarnya sudah selesai dengan persoalan identitas kebetawian dan eksistensi diri. Ia bukan lagi Ben yang baru mencuat dua tahun sebelumnya. Ia sudah punya uang banyak untuk memproduksi film sendiri. Dan film produksi pertamanya bukan lagi sarana untuk “minta dianggap” maupun menolak stigma kampungan, dll.

Masalahnya Belum Selesai

Masalahnya, bagi banyak orang lain, Betawi tetaplah sudah terpinggirkan dan perlu dimodernkan. Melewati dekade 1980-an ke pertengahan 1990-an persoalan identitas ini tidak kunjung selesai. Contoh paling jelas bisa dilihat di sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang pertama tayang di RCTI tahun 1993.

Hingga kini, sinetron itu dianggap salah satu puncak pencapaian serial TV yang tidak pernah terulang lagi, disukai dari segi komersial dan kualitas. Ia juga dipuja-puji karena mengangkat kembali budaya Betawi.

Rupanya, sebelum pertengahan 1990-an, budaya Betawi termarginalkan lagi. Berkat sinetron Si Doel Anak Sekolahan orang menaruh perhatian pada yang serba Betawi lagi. Di layar kaca, selain Si Doel, pada 1990-an populer juga tontonan Lenong Bocah. [O iya, perbincangan tentang orang Betawi ini terpaksa melebar ke TV karena pada 1990-an perfilman kita mengalami masa yang disebut “mati suri”—tanda petik karena sebutan itu bermasalah.]

Tabloid Nova yang menulis reportase di balik layar sinetron itu mengawali tulisan dengan pernyataan Rano Karno, pemeran Doel sekaligus produser: “Masyarakat Betawi bisa saja tergusur. Tapi cerita Si Doel tak akan pernah mati,” tandas Rano Karno.[7] Hm terasa dejavu dengan artikel laporan utama Tempo tahun 1971, ‘kan? Tahun 1971 Betawi tinggal sisa, di tahun 1993 sudah tergusur.

Maka, lagi-lagi persoalan yang diangkat produk budaya pop Betawi kembali berkutat pada identitas dan eksistensi kebetawian. Orang Betawi juga bisa jadi anak sekolahan. Dalam kasus Doel jadi “tukang insinyur”.

Cerita sinetronnya malah seperti mengamini stigma negatif Betawi. Di awal cerita sinetron, Sarah (Cornelia Agatha), mahasiswi antropologi yang hendak menyusun skripsi tertarik mendapati ada orang Betawi yang intelek. Ia yang semula hendak meneliti suku Asmat di Papua membelokkan topik jadi meneliti orang Betawi.

Lagi-lagi sejak dalam pikiran sudah bermasalah: intelek dan Betawi dalam satu kalimat adalah sebuah anomali. Belum lagi bila kita melihat sosok Mandra di sinetron itu yang tujuannya jadi pengundang tawa. Sebagai orang Betawi kampung ia gagap melihat berbagai sarana dan prasarana kehidupan modern. Contohnya saat ia terheran-heran melihat pagar bisa buka-tutup sendiri.

Seperempat abad kemudian sejak sinetron Si Doel pertama tayang persoalan orang Betawi masih belum beranjak juga. Tahun 2018, Falcon Pictures, sebuah rumah produksi yang sukses mengangkat ikon film jadoel (contoh: Warkop DKI) buat penonton masa kini, merilis Benyamin Biang Kerok versi anyar. Sutradaranya Hanung Bramantyo, sedang Reza Rahadian menjadi Benyamin lengkap dengan menirukan gerak-gerik sang ikon Betawi itu.

Alih-alih buat ulang (remake) film lawas Benyamin S. tahun 1972, versi anyarnya hanya meminjam judul saja. Ceritanya sama sekali lain. Yakni tentang Pengki (Reza) dkk menyabotase kasino ilegal di Jakarta untuk menyelamatkan orang Betawi pinggiran yang akan digusur. Filmnya tidak taat asas. Tidak jelas pula setting waktu zaman modern mana yang disajikan, futuristis dan serba campur aduk. Di sini pula Pengki digambarkan sebagai anak Betawi kaya yang manja dan suka menghambur-hamburkan uang.

Penggambaran macam begitu mengundang protes komunitas dan intelektual Betawi. Filmnya dinilai tidak menampilkan unsur budaya Betawi dan hanya meminjam bahkan menjual nama Benyamin Sueb.[8] Dikatakan juga, gestur Reza justru membuat Benyamin tampak seperti idiot dengan komedi slapstick yang ia bawakan.

Yang luput dari berbagai protes atas film itu, ada persoalan identitas dan eksistensi kebetawian juga di sana. Di film itu sebuah keluarga Betawi digambarkan kaya raya, hidup dengan gadget canggih. Seolah sebuah anomali ada orang Betawi hidup teramat berkecukupan.

Beberapa bulan setelah Benyamin Biang Kerok tayang, rilis Si Doel the Movie yang melanjutkan cerita sinetron tahun 1990-an. Inti ceritanya memang seputar kisah cinta segitiga Doel (Rano Karno), Sarah (Cornelia Agatha), dan Zaenab (Maudy Koesnaedi) yang belum kunjung usai. Namun, menarik bagaimana orang Betawi direpresentasikan lewat tokoh Doel dan sepupunya, Mandra di film ini dari sisi persoalan identitas dan eksistensi kebetawian.

Bertahun-tahun setelah sinetronnya tamat, Doel telah jadi manusia Betawi modern sepenuhnya, sedangkan Mandra tetaplah Betawi kampung yang gagap pada kecanggihan kehidupan modern. Memang sih, berhasil mengundang tawa, tapi di saat bersamaan terngiang lagi akhir tulisan Salim Said dahulu.

Filmnya yang menampilkan setting Belanda juga bisa dimaknai: orang Betawi juga bisa bepergian sampai ke luar negeri nun jauh ke Eropa sana, ke negeri yang dulunya menjajah tanah orang Betawi.

Masalahnya kemudian, kenapa hampir lima puluh tahun, sejak 1971, persoalan orang Betawi di film-filmnya berkutat di seputar masalah yang itu-itu saja? Kenapa orang Betawi selalu menggambarkan dirinya (digambarkan) gagap dengan modernitas, dan seakan ketika ada orang Betawi yang modern, kaya, maupun intelek dirayakan lantaran sebuah anomali? Kenapa wacana yang diangkat bukan sisi pelik melik kehidupan orang Betawi sebagai manusia yang punya berbagai persoalan lain?

Melihat Perbandingan

Sebagai perbandingan, mari tengok bagaimana suku lain menggambarkan diri mereka dalam film. Contohnya, suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Seiring tumbuhnya perfilman daerah lahir Uang Panai tahun 2016 yang disutradarai Asril Sani dan Salim Gani Safia.

Filmnya mengisahkan tradisi uang panai alias mahar pernikahan dalam adat suku Bugis-Makassar. Sang tokoh utama, Anca (Ikram Noer) berjuang memenuhi mahar dalam jumlah fantastis demi meminang pujaan hatinya.

Atau contoh lain, tentang silariang sebutan untuk praktek kawin lari di suku Bugis-Makassar. Praktek ini dilakukan ketika cinta tidak direstui, biasanya oleh salah satu pihak keluarga atau kedua-keduanya karena perbedaan kelas sosial.

Dalam tradisi suku Bugis-Makassar silariang sangat tabu dilakukan. Pelakunya bisa dihukum bahkan sampai dibunuh pihak keluarga wanita yang dilarikan. Praktek silariang ini tentu sangat memenuhi unsur drama sampai-sampai orang Makassar membuat dua film bertema ini pada 2017 dan 2018 (Silariang: Menggapai Keabadian Cinta dan Silariang: Cinta yang [tak] Direstui).

Kenapa orang Bugis-Makassar tak mempersoalkan identitas atau eksistensi di zaman modern dalam produk budaya pop mereka? Jawaban singkatnya, film-film itu dibuat semula oleh dan untuk warga kalangan sendiri. Uang Panai bertahan lama di kota Makassar, Sulsel. Jauh dari pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi di Jakarta, orang Bugis-Makassar (mungkin) tidak memiliki persoalan tersisih oleh roda pembangunan. Atau setidaknya eksistensi kesukuan mereka tak terancam.

Berbeda dengan orang Betawi yang secara fisik maupun mental tersisih dan terpinggirkan. Rasanya belum ada film tentang orang Betawi yang kawin lari atau orang Betawi yang harus berjuang memenuhi mahar pernikahan sesuai syarat adat/tradisi. Sebab, utamanya, buat orang Betawi wacana yang maha penting adalah pengakuan eksistensi mereka, gugatan mereka pada pembangunan dan modernitas yang justru menyisihkan mereka.

Andai kampung-kampung Betawi lama tetap lestari di pusat kota yang kini jadi Jalan Sudirman atau kawasan Kuningan, mungkin tidak akan lahir film Si Doel Anak Betawi, dll.

Lantas, apakah sepanjang hayat ini akan jadi persoalan abadi masyarakat Betawi? Sepanjang suasana kebatinan kita menganggap Betawi tersisih, tergusur, terpinggirkan merasa ingin eksis dan dianggap itu akan selalu ada. Jadi jangan heran bila nanti bakal lahir film Si Doel Jadi Presiden, seakan ada orang Betawi jadi presiden adalah, lagi-lagi, sebuah anomali yang patut dirayakan.

________________________________________

[1] JB Kristanto, Katalog Film Indonesia 1926-2007, Penerbit Nalar, Jakarta, 2007.
[2] Cerita Njai Dasima dibukukan oleh G. Francis pada 1896. Sinopsis singkat di atas berdasar ringkasan cerita yang dimuat dalam Misbach Yusa Biran, Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009, hal. 99-100.
[3] Lihat Tempo No. 14, /Tahun I, 5 Juni 197, “Benyamin: Nostalgia untuk Humor …”
[4] Ibid.
[5] Lihat JB Kristanto, Katalog Film… hal. 143.
[6] Lihat Salim Said, Pantulan Layar Putih: Film Indonesia dalam Kritik dan Komentar, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1991, hal 172.
[7] Lihat “Si Doel Beraksi Lagi! Kisah Anak Betawi yang Dijadikan Obyek Skripsi”, artikel tabloid Nova edisi September 1993 dimuat ulang Intisari Online, 3 Agustus 2018, di tautan: https://intisari.grid.id/read/03911041/si-doel-beraksi-lagi-kisah-anak-betawi-yang-dijadikan-obyek-skripsi?page=all (diakses 28 Juli 2019).
[8] Lihat antara lain “Kritik Pedas Betawi Kita dan JJ Rizal terhadap Film Benyamin Biang Kerok: Menipu!” dimuat Medcom.id, 24 Maret 2018, di tautan: https://www.medcom.id/hiburan/film/1bV4Z0LK-kritik-pedas-betawi-kita-dan-jj-rizal-terhadap-film-benyamin-biang-kerok-menipu (diakses 29 Juli 2019).

*Ade Irwansyah, wartawan dan penulis. Bukunya antara lain Seandainya Saya Kritikus Film: Pengantar Menulis Kritik Film (2009). Makalah ini pertama kali disajikan dalam seminar Stigma Negatif Orang Betawi Dalam Film pada Pekan Sastra Betawi di TIM Jakarta, Selasa, 6 Agustus 2019.

Baca Juga

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...