“Outsider Artpreneur” Libatkan 9 Seniman Disabilitas

Portal Teater – Pameran “Outsider Artpreneur” yang digagas Ciputra Artpreneur dan Komunitas Kapal Lepas melibatkan 9 seniman berkebutuhan khusus. Diadakan di Ciputra Artpreneur Gallery, pameran ini menampilkan total 100 karya seniman disabilitas hasil kurasi Jean Couteau.

Di tahun perdananya, pameran ini mengusung tema “Pasung Kapal Lepas” bertujuan meningkatkan kapabilitas para seniman disabilitas sekaligus wadah bagi para seniman difabel untuk berkarya menunjukkan prestasi mereka kepada publik.

Berikut profil karya para seniman disabilitas hasil binaan seniman terkenal Indonesia, Hanafi.

1. Anfield Wibowo

Anfield Wibowo bersekolah di SMP SLB B Pangudi Luhur Jakarta. Ia adalah remaja yang mengidap sindrom Asperger dan tuna rungu.

Anfield melukis dengan macam-macam gaya: figuratif, abstrak, ekspresionis, maupun naturalis. Pada November 2017 Anfield diminta oleh pihak Kepresidenan melakukan live painting di Istana Bogor untuk melukis wajah Perdana Menteri Denmark dan keluarganya sebagai souvenir sewaktu mereka datang ke Indonesia.

Selain lukisan, jejak Anfield ada di bis Transjakarta dan mural kantin Galeri Nasional. Anfield sudah sering menyumbangkan lukisannya dengan cara lelang untuk panti asuhan, gereja, dan yayasan sosial lainnya.

Sudah 4 kali Anfield melakukan pameran tunggal: “Imajinasi Tanpa Batas” tahun 2013 di Galeri Cipta III, TIM, “My Faith” tahun 2014 di Galeri 678 Kemang, “Rentang Masa” 2017 di Galeri Cipta III, TIM, dan “Amazing World” pada tahun 2018 di Balai Budaya Jakarta.

Anfield juga telah ikut belasan pameran bersama di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. Motto melukis Anfield adalah: Bebas, Bergembira dan Bermain.

2. Aqillurachman Prabowo

Biasa disapa Aqil, ia adalah seorang seniman berusia 14 tahun. Ia didiagnosa dengan disleksia yang membuatnya sulit menulis dan membaca. Namun ini tidak menghalanginya melimpahkan energi, imajinasi, dan waktunya kedalam seni, sambil menjalani sesi terapi yang panjang dan melelahkan dengan semangat.

Aqil gemar berjalan-jalan dan mendengarkan kisah hidup orang yang ia temui. Ia menjadikan pengalaman dan kisah-kisah ini menjadi subyek karyanya; menggunakan corak dan warna untuk menciptakan dunia-dunia kecil dengan naratif yang dramatis dan penuh perasaan.

Aqil bercita-cita menjadi pelukis professional agar bisa menyuarakan batin orang-orang yang tertindas.

3. Audrey Angesti

Audrey mulai menggambar ketika ia berusia 6 tahun dan melukis dengan cat akrilik sejak tahun 2010 dibimbing oleh fasilitator. Audrey memulai sketsa tiap lukisanya secara langsung di kanvas tanpa draft dalam waktu singkat dan komposisi yang harmonis. Pilihan warna, judul, dan deskripsi diramu olehnya sendiri.

Menggambar menjadi medium Audrey mengekspresikan emosinya yang tidak tersalurkan secara fisik. Karakter-karakter dalam gambarnya aktif secara sosial, hidup dan ekspresif secara emosional – sesuatu yang Audrey sendiri masih memiliki tantangan untuk dapat melakukannya di kehidupan nyata. Pilihan warna yang brilian adalah salah satu fitur yang kuat dari lukisannya.

Sungguh mukjizat untuk anak yang pada usia 2 tahun didiagnosa dengan muscle tone rendah, praxis problem, motor planning issues dan keterbatasan kapasitas emosional – sebagian saja dari karakteristik Autistik MSDD Type C.

Walaupun memiliki banyak tantangan untuk belajar menulis, Audrey memiliki imajinasi yang unik yang kaya dengan berbagai nada emosi yang ia tuangkan dalam gambar-gambarnya.

4. Bima Ariasena Adisoma

Ari mengidap autisma, yang mempengaruhi persepsi indera dan kemampuan komunikasinya. Ari adalah anggota program Adult Development di Yayasan Daya Pelita Kasih, berfokus pada seni visual dan pelatihan ketrampilan. Ia mulai melukis sebagai terapi dan kini menghasilkan lukisan-lukisan abstrak yang indah.

Lewat seni lukis, Ari menyalurkan emosinya yang tak terungkap hingga bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang visual dan nyata. Lukisan Ari tampak semakin indah dan bermakna ketika kita mengetahui bagaimana ia menggunakan warna-warni untuk mengungkapkan rasa cinta dan hormat kepada ibunya.

Karya Ari sudah dipamerkan sejak tahun 2010, dan salah satunya dilelang oleh Sotheby’s pada tahun 2015 dalam acara penggalangan dana yang diselenggarakan oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.

Hasil lelang tersebut disumbangkan kepada sejumlah sekolah di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pameran terbaru Ari diadakan di Erasmus Huis Jakarta, 20 Februari – 15 Maret, 2019.

5. Daya Olivia Korompis

Daya lahir dengan kelainan kromosom, yang membatasi kemampuan mental dan fisiknya. Sebagai salah satu pendiri Yayasan Daya Pelita Kasih, ia telah menjadi kakak dari teman-temanya di Daya Pelita Kasih.

Daya mulai menggambar dan melukis sejak usia 6 tahun. Berkat kegigihan dirinya serta kesabaran dan kreatifitas guru-gurunya, Daya menemukan teknik melukis yang dapat mengakomodir motorik halusnya yang terbatas. Teknik ini membutukan konsentrasi dan kejelian untuk membentuk lukisan Realist Pointilism yang indah.

Karya Daya sudah dipamerkan sejak 2012, dengan jejak rekam pameran-pameran sukses yang berlanjut hingga sekarang. Melukis membuat Daya merasa bangga dan percaya diri.

Pameran terbarunya diadakan di Erasmus Huis Jakarta, 20 Februari – 15 Maret, 2019.

6. Dwi Putro

Dwi Putro atau lebih akrab disapa Pak Wi terlahir sebagai bayi prematur tujuh bulan yang kemudian tumbuh sebagai kanak-kanak biasa. Menempuh jenjang sekolah dasar hingga kelas III tidak mampu naik kelas.

Ketika harus mengulang lagi, Pak Wi tidak naik kelas lagi. Di usia sekitar 10 tahun itu manifestasi gangguan pendengaran memengaruhi perilakunya. Penyelenggara sekolah pun menyarankan agar Pakwi pindah sekolah luar biasa (SLB) jurusan tunarungu.

Selama menempuh studi di SLB, manifestasi gangguan mentalnya terwujud. Pak Wi soliter atau lebih suka menyendiri. Ia sempat menyukai salah satu gadis teman sekolahnya, tetapi ini justru mengganggu kestabilan mentalnya hingga pihak sekolah menyatakan Pakwi telah selesai studinya.

Sekitar tahun 1983, Pak Wi mulai sering mendapat perawatan medis untuk gangguan mentalnya yang sering berteriak dan mengamuk di rumah. Periode 1983 – 1985 sempat menjalani rehabilitasi gangguan mental.

Setelah itu menjalani rawat jalan dengan rutin mengonsumsi obat. Pada saat tertentu terjadi putus obat. Pakwi lebih banyak mengalihkan aktivitas bersepeda, hingga pernah kecelakaan kemudian beralih berjalan kaki sehari-harinya.

Pak Wi sejak kecil gemar mencorat-coret kertas dengan tulisan dan gambar pemandangan atau mobil-mobil balap yang unik.

7. Hana Madness

Hana Alfikih, lebih dikenal dengan nama Hana Madness, adalah seorang seniman dan aktivis kesehatan mental yang berdomisili di Jakarta. Sebagian besar karyanya terinspirasi oleh kondisi mentalnya—bipolar disorder dan skizofrenia.

Sejak tahun 2012, Hana mulai berbicara kepada media nasional tentang bagaimana ia menggunakan seni sebagai alat agar diperhatikan dan didengarkan oleh masyarakat.

Karakter-karakter yang digambar Hana imut dan berwarna-warni mengungkapkan macam-macam ribuan perasaan dan pikiran Hana yang sering saling bertentangan.

Hana sudah berpartisipasi dalam banyak sekali pameran seni dalam negeri maupun internasional. Ia juga sering memimpin workshop dan menjadi pembicara di acara kesehatan mental.

Selain itu, Hana bekerjasama dengan The British Council dan Tokai Lighters untuk memproduksi merchandise rancanganya.

Detik.com memilih Hana sebagai salah satu “10 Seniman Muda Indonesia Paling Bersinar” di tahun 2017. Tahun berikutnya, Hana masuk jajaran “90 Pemuda-Pemudi Indonesia dengan Karya dan Pikiran Inspiratif”.

8. Oliver Adivarman Wihardja

Oliver adalah seorang murid di Yayasan Bina Abyakta, sebuah workshop untuk individu yang mengidap autisma. Oliver menikmati seni dan merasa tentram ketika melukis, membuat sketsa, atau mewarnai gambar.

Goresan Oliver diatas media unik akan karakternya yang panjang, tegas, dan luwes. Sebagian dari sketsa Oliver yang dicetak diatas suvenir Abyakta mendapatkan banyak apresiasi dari publik.

Desain-desain tersebut sudah terjual tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Desain “rubah”nya laku keras dan diproduksi ulang atas permintaan tinggi.

Karya Oliver sudah terjual di lelang dan pameran sejak ia berumur 10 tahun. Pada Desember 2016, sketsa Oliver lulus seleksi menghias dinding stasiun KRL Jakarta-Bogor.

Tahun itu juga, tiga lukisan nya ditampilkan di Pameran Lukisan Bina Abyakta yang diadakan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tahun 2017, Oliver memenangkan juara pertama kategori Seni Visual ANCA World Autism Festival di Vancouver, Kanada.

Meski harus melalui segala keraguan dan rintangan, Oliver berhasil mengembangkan bakat seninya. Berbagai penghargaan dan prestasi yang dicapai Oliver menjadi inspirasi bahwa autisma tidak harus menjadi hambatan meraih impian hidup.

Perspektif polos dan riang yang ditampilkan Oliver dalam karya-karyanya mencerminkan Anugerah yang sesungguhnya.

9. Raynaldy Halim

Aldy lahir sebagai bayi normal. Namun pada usia 16 bulan, setelah di vaksin MMR ia mengalami penurunan sampai tak bisa bicara. Dokter mendiagnosa Aldy dengan ADHD, namun menurut dokter lain diagnosa Aldy adalah Autism PDD-Nos.

Orangtua Aldy telah mencoba berbagai terapi; baik di dalam atau luar negeri sudah dilakukan untuk menghilangkan gejala autismanya. Aldy mulai intensif melukis abstrak ekspresionis sejak Mei 2017, dan mulai terlihat tenang dan membaik karena bisa mengekspresikan pikiran dan emosinya melalui seni lukis.

Kini di usianya yang hampir menginjak 22 tahun Aldy telah berpameran tunggal dan bersama sebanyak 20 kali dalam kurun waktu 1.5 tahun saja. Biografi Aldy telah diterbitkan dalam buku oleh kurator terkenal Bpk. Agus Dermawan T dengan kata pengantar dari Bpk. Jean Couteau.

Pada tahun 2018, setahun setelah mulai melukis, Aldy diberikan rekor MURI sebagai Anak Berkemampuan Khusus yang melukis 1111 karya dalam waktu 1 tahun.

Sebagai informasi, pameran Outsider Artpreneur berlangsung sepanjang 27 Agustus hingga 8 September 2019. Selain pameran karya pada seniman disabilitas, event ini juga menampilkan “Art Workshop” di bawah pendampingan Hanafi, Talkshow, lelang lukisan karya Hanafi dan Bob Pierce, dan lelang koper karya seniman Outsider Artpreneur.

Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan 5 Tahun Ciputra Artpreneur, yang ikut berpartisipasi di Gallery Night oleh Art Jakarta dalam bentuk Charity Night. Acara ini akan diisi oleh Efek Rumah Kaca dan band lainnya di Ciputra Artpreneur.

*Daniel Deha

Baca Juga

Lukisan Tertua Kedua Dunia Ditemukan di Sulawesi Selatan

Portal Teater - Sebuah lukisan tua baru saja ditemukan pada dinding sebuah gua di Sulawesi Selatan. Lukisan itu diketahui berumur 44.000 tahun dan diklaim...

Hahan Bangkitkan Memori Warga Dresden tentang Raden Saleh Lewat Lukisan

Portal Teater - Seniman asal Yogyakarta Uji Handoko Eko Saputro, atau akrab disapa Hahan, baru saja memamerkan lukisan kolosal Raden Saleh dengan Pop Art...

Peringati Hakordia, Tiga Menteri Jokowi-Ma’ruf Main Teater

Portal Teater - Ada yang unik dengan cara para menteri Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin periode 2019-2024 dalam memperingati Hari...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...