Padu-Harmoni Geo-Kultur dalam Tiga Pentas

Portal Teater – Jari-jemari Cloud Teo dengan lincah memetik senar-senar pada Guzheng, salah satu jenis alat musik petik atau kecapi China. Di sampingnya duduk Ong May Yi, yang memainkan Ruan, juga satu jenis musik tradisi China.

Bauran kebudayaan dan tradisi antara Malaysia dan China menjadikan hampir semua alat musik, melodi, dan lagu-lagu Melayu-Malaysia dipengaruhi oleh China. Termasuk seperti musik Melayu Malaysia yang dimainkan Teo dan Ong dalam gelaran Etno Musik Festival tahun ini.

Sudah terbiasa tampil pada konser-konser musik internasional, Teo terlihat begitu santai dan piawai memainkan alat musik khas bangsanya, Malaysia. Begitu pula dengan Ong, yang berusaha mengimbangi kedalaman petikan Teo dengan nada-nada alto-nya pada Ruan.

Teo seolah menjadikan Guzheng dirinya sendiri. Yang disentuh dengan lembut, hati-hati, dan ekspresif. Sepuluh jari tangannya digunakan secara sempurna untuk memadu-harmonikan instrumen-instrumen Melayu Malaysia.

Sesekali ia memberi senyuman kepada penonton, sejenak mengajak penonton masuk ke dalam alunan intrumentalnya.

Penonton yang memenuhi gedung pertunjukan Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin (9/9), tidak saja terhibur oleh varian ekspresi musikal yang disuguhkan kedua pemusik itu, tapi lebih dari itu, penonton tertegun, seolah masuk ke alam kontemplasi.

Sebagaimana puncak pencarian kabahagiaan manusia adalah kontemplasi, ekspresi riuh tepukan tangan penonton setiap kali Teo dan Ong menyudahi instrumen mereka, adalah manifestasi peresapan artistik dan estetik kesenian musikal.

Benar seperti yang dikatakan Aristoteles pada masanya, musik membawa manusia kepada puncak kontemplasi. Di alam kontemplasi, retina manusia tidak lagi dipaksa melihat pentas musik, tapi membiarkan alunan instrumental itu masuk melalui pori-pori estetika paling dalam manusia.

Ada dua tembang dilantunkan keduanya lewat petikan dawai Ruan dan Guzheng, sebelum mereka berkolaborasi dengan sekelompok pemusik Ronggeng Deli asal Jakarta.

Dalam proyek kolaborasi itu, mereka melantunkan instrumen-instrumen khas Melayu, sebagaimana Ronggeng Deli memiliki kemiripan kultural dengan Melayu Malaysia. Beberapa lagu khas Melayu dan Nusantara yang dilantunkan, termasuk misalnya lagu “Burung Kakatua” (Maluku) dan Yamco Rambe (Papua).

Pemusik Melayu Malaysia Ong May Yi. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Pemusik Melayu Malaysia Ong May Yi. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Ronggeng Melayu Deli adalah joget Melayu di Sumatera Utara yang terbilang tua usinya, di mana telah disebut dalam “Hikayat Hang Tuah” abad ke-15.

Ketika itu alat musik yang diguna­kan sebuah gong, sebuah gendang dan sebuah seruling atau bangsi, arbab. Dalam perkembangannya, musik yang dipakai adalah Gendang Melayu (Pakpong), serta 2 jenis musik pendatang yaitu Biola & Akordion.

Ronggeng Deli berbeda dengan Ronggeng Jawa, di mana dalam Ronggeng Deli lebih merupakan seni berbalas pantun yang menjadi ciri khas orang Melayu. Selain itu, instrumen biola dan akordion memperlihatkan pengaruh Portugis yang menduduki Malaka pada abad ke-16.

Dari ketiga geo-kultur ini: China, Melayu-Malaysia dan Indonesia, terlihat ada garis linear yang menghubungkannya. Melayu-Malaysia banyak mengadopsi musik China, sementara Indonesia, sebagiannya adalah termasuk suku Melayu, ditengarai banyak memeluk budaya Melayu.

Akhirnya, tidak dapat dihindari, bahwa alat musik di ketiga suku bangsa Asia ini memiliki kemiripan baik dalam corak maupun bentuknya.

Selain karena migrasi kebudayaan yang besar pada periode silam dari China ke Malaysia dan Indonesia, keterkaitan genealogis dan antropologis antara ketiganya pun meniscayakan bauran kebudayaan dan tradisi.

Sejarah Ruan dan Guzheng

Ruan adalah alat musik serupa gitar, sedang Guzheng serupa kecapi. Dalam perkembangannya, Guzheng memiliki kesamaan atau kemiripan dengan beberapa jenis kecapi di Asia lainnya.

Nama Ruan berasal dari Ruan Xian, seorang bijak pada zaman Tiga Dinasti Jin Timur. Terdapat lima jenis Ruang, yaitu Gaoyinruan (nada tertinggi), Xiaoruan (alto Ruan), Zhongruan (Ruang tengah), Daruan (Ruang bass), dan Diyinruan (Ruang yang bernada paling rendah).

Ruan banyak digunakan pada orkes musik tradisi dan opera China saat ini.

Guzheng, kecapi asal China. -Dok. pinterest.com
Guzheng, kecapi asal China. -Dok. pinterest.com

Sementara Guzheng adalah leluhur dari beberapa alat musik yang tersebar di Asia, seperti Koto (Jepang) dan Gayageum (Korea). Guzheng telah melalui perubahan sepanjang sejarahnya.

Alat musik ini paling tua ditemukan pada sekitar tahun 500 SM dan berdasarkan data-data historis, Guzheng merupakan alat musik paling populer sejak zaman Dinasti Tan.

Teo, yang dikenal juga dengan nama Zhang Yun Xiang, adalah pemusik generasi baru dalam memainkan Guzheng. Ia lulus dari China Conservatory of Music dengan gelar Master in Proffesional Guzheng.

Pada tahun 2007, Teo memenangkan juara kedua kompetisi CTV Traditional Chinese Instrument dan mendapat penghargaan The Outstanding and Best Instructor di beberapa kompetisi nasional dan internasional.

Tahun 2016, Teo merilis album solo berjudul “The Moon” bersama Music Toxin dan merilis album untuk tradisi Imlek beberapa tahun lalu.

Saat ini, Teo banyak berpartisipasi dan festival musik kontemporer dan menggelar konser musik di Malaysia dan luar negeri.

Rekannya Ong May Yi, adalah pemusik Ruan lulusan Beijing China Conservatory jurusan instrumen msik Ruan. Di Malaysia, Ong aktif dalam mempromosikan musik Ruan. Pada tahun 2011, Ong mendirikan The Ruan Chamber Orchestra dan mengkoordinasi konser musik “The Four Dialogues with the Ruan”.

Grup Minang Sakato

Beralih ke musik tradisi Nusantara, pentas musik “Talempong Aguang” oleh Grup Minang Sakato asal Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, juga menghibur penonton.

Kelompok musik ini didirikan sejak 20 tahun lalu dan telah aktif pentas di berbagai seremoni adat di daerah setempat.

Para pemusik Talempong Aguang dan Bupati Limapuluh Kota seusai pentas musik tradisi di GBB TIM Jakarta, Senin (9/9). -Dok. portalteater.com
Para pemusik Talempong Aguang dan Bupati Limapuluh Kota seusai pentas musik tradisi di GBB TIM Jakarta, Senin (9/9). -Dok. portalteater.com

Membawakan kurang lebih tujuh tembang, seperti: Tigo-Tigo, Ta Tonto, Tentara Lusin, Sendayong, Oto Apede, Tai Dinding, kelima pemusik yang umumnya sudah “berusia” itu dengan riang memainkan instrumen-instrumen pendek khas Minangkabau.

Seperti sepakbola, mereka membentuk formasi 2-2-1, dengan Talempong dipukul Sukarnis dan Wardinas; Gendang oleh Asril dan Dasril; dan Gong oleh Asrinal. Kemiripan nama-nama mereka turut membentuk cita rasa dan harmonisasi nada-nada yang dimainkan.

Satu tembang usai, seorang pemukul Talempong segera mengumumkan lagu berikutnya. Sambutan penonton makin riuh, ketika menyaksikan kedua pemukul Talempong suku Minang tersebut lihai memindah-mindahkan tangan mereka di atas Talempong.

Sementara Asrinal di barisan terbelakang, begitu menikmati pukulannya ke Gong. Sebagai penentu irama musik, Asrinal hafal betul kapan tangannya harus berayun.

Musik Talempong adalah sebuah instrumen pukul tradisional khas suku Minangkabau yang berbentuk seperti Bonang dalam komponen musik tradisi Gamelan di Jawa.Aguang adalah sebuah gong yang berbentuk sama seperti yang di daerah lain di Nusantara.

Talempong Aguang biasa dimainkan oleh Uwaik-uwaik (ibu-ibu) sembari memasak di dapur saat mempersiapkan masakan yang akan dihidangkan kepada tamu pada suatu ritual adat.

Sembari menunggu sayur masak, mereka bergembira sambil menari, bercanda ria, dan bermain musik dengan menggunakan talempong, aguang dan peralatan dapur lainnya, seperti panci, gelas, piring, dll.

Persembahan Dua Milenial Tenggarong

Malam pentas musik tradisi hari kedua Etno Musik Festival dibuka oleh atraksi musikal dua milenial dari Sanggar Kelabang, di kabupaten Tenggarong, Kalimantan Timur.

Adalah Erlika Firanda (mahasiswi semester V) dan Zhordhan Pratama (mahasiswa semester VII), kedua mahasiswa Institut Seni Budaya Kalimantan Timur, yang memainkan alat musik tradisi khas Suku Dayak Kenyah, Sape.

Seperti dituturkan Zhordhan, permainan musik itu mengiringi tarian Sape dalam budaya Dayak. Adapun lagu-lagu yang dinyanyikan melalui instrumen itu, antara lain: Leleng, Lan-e-tuyang, dan Julut.

Zhordhan memainkan musik Sape. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Zhordhan memainkan musik Sape. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Pada baris nada akhir, keduanya mencoba melakukan improvisasi menjadi lebih pelan dan lambat. Menurut Zhordhan, pergerakan nada, entah cepat atau lambat, sangat bergantung pada pemusik itu sendiri, di mana mereka mau menempatkan nada-nada tersebut. Misalnya di tengah, di awal, atau di akhir.

Tidak seperti Sape dalam tradisi adat setempat, Sape yang dimainkan Erlika dan Zhordhan lebih merupakan Sape yang khusus dimodifikasi untuk kepentingan profan, sehingga jumlah senarnya seperti jumlah dawai pada gitar, yaitu enam senar.

Sape sendiri adalah alat musik petik khas suku Dayak yang merupakan penghuni asli pedalaman Kalimantan. Sape dalam bahasa Dayak berarti “memetik dengan jari”. Sebutan Sape hanya khusus bagi suku Dayak Kenayan dan Dayak Kenyah. Sementara bagi suku lain biasa disebut Sampe’, Sampe, atau Kecapai.

Erlika memainkan musik tradisi Sape di GBB TIM Jakarta, Senin (9/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Erlika memainkan musik tradisi Sape di GBB TIM Jakarta, Senin (9/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Sape terbagi menjadi dua jenis, yaitu Sape Kayaan (ditemukan oleh orang Kayaan). Sape jenis ini mempunyai 4 tangga nada dengan ciri berbadan lebar, bertangkai kecil, panjangnya sekitar 1 meter, punya 2 senar atau tali dari bahan plastik.

Sape Kenyah (ditemukan orang Kenyah) memiliki ciri berbadan kecil memanjang, panjang 1.5 meter, tangga nada 11-12 dan talinya dari senar gitar atau senar halus.

*Daniel Deha

Baca Juga

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...