Pameran Karya Beda Generasi di Galeri Cipta II TIM Jakarta

Portal Teater – Suasana di Lobby Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Jumat (15/11) sore tampak ramai. Setelah melakukan konferensi pers pembuka, sambil meneguk minuman, para awak media, pensketsa urban, kurator, dan panitia pameran berbincang-bincang lepas di pendopo galeri.

Sementara yang lainnya masuk ke dalam ruang pameran yang terdiri dari dua sekat. Sekat pertama persis berada pada pintu masuk ruangan pameran. Sekat lainnya lebih ke dalam dan lebih luas.

Di ruang pertama, koleksi lukisan dan sketsa lebih sedikit dibandingkan dari koleksi yang dipamerkan di ruang kedua. Total sketsa dan lukisan yang dipamerkan dalam pameran yang diberi tajuk “Sontoloyo” itu berjumlah 75 buah.

Ketujuhpuluhlima buah koleksi merupakan gabungan dari 15 lukisan dan sketsa yang diambil dari ruang penyimpanan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan 60 lainnya merupakan karya para pensketsa urban dari 20 pensketsa urban yang diundang DKJ.

Mereka umumnya bekerja dan berkarya di Jakarta. Memiliki komunitas sendiri yang bernama “Indonesia Urban Sketchers”. Mereka tidak menyebut diri sebagai seniman atau pelukis, tapi lebih sebagai pensketsa, meski nominalisasi ini belum baku dalam khazanah bahasa Indonesia.

Donald Saluling, salah satu dari antara mereka menjadi salah satu pembicara dalam konferensi pers pembukaan pameran bersama Danton Sihombing (Plt. Ketua DKJ), Bambang Bujono dan Lisistrata Lusandiana (kurator pameran).

Menurut laki-laki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan itu, sketsa urban mulai muncul di pentas pengkaryaan seni Indonesia sudah sekitar sepuluh tahun terakhir. Malah, karya-karya sketsa memang sudah ada jauh-jauh sebelumnya, seperti yang terlihat dari koleksi DKJ yang dipamerkan.

Namun mereka tidak berkarya seperti seniman pada umumnya, sebab mereka bukan seniman murni yang berkarya dengan menekankan unsur artistik dan estetik. Mereka berkarya hanya sekedar mengisi waktu-waktu senggang. Hal itu tampak dari karya-karya mereka yang boleh dikatakan non-mainstream, apolitis dan non-ideologis.

Dalam pameran kali ini, Donald memamerkan karyanya berjudul “Istrirahat Siang dengan Pemandangan Premium”. Karya ini, seperti juga karya teman-temannya di komunitas sketsa urban, baru dibuat menjelang pameran ini (2019). Hal ini karena sketsa mereka lebih merupakan respon atau perwajahan baru dari karya-karya koleksi DKJ.

Sementara, karya-karya koleksi DKJ umumnya dibuat pada masa-masa Orde Baru, yaitu berkisar antara tahun 1960-an sampai 1980-an.

Dua Perbedaan Karya

Ada dua perbedaan mencolok dari kedua generasi karya dalam pameran ini. Sketsa dan lukisan pada era sebelumnya umumnya menggunakan garis hitam putih.

Salah satu seniman Indonesia yang saat ini menetap di Jerman, Hanura Hosea, menyebut garis hitam putih ini dibuat untuk mengaburkan bias warna akibat kontruksi gender masyarakat.

Namun, dalam konteks politik masa itu, selain belum begitu banyak muncul cat-cat air pewarna, mereka umumnya mengaburkan pesan-pesan pemberontakan lewat garis-garis hitam putih agar tidak mudah ditangkap rezim.

Sementara pada era sekarang, sketsa-sketsa umumnya lebih berwarna dan mencolok. Secara visual menjadi lebih menarik penonton ke dalam tubuh sketsa atau lukisan mereka. Meski beberapa pensketsa tetap memakai garis hitam putih.

Dalam karya seniman koleksi DKJ, umumnya karya sangat abstrak, sehingga penonton tidak mudah masuk ke dalam medan pertarungan karya. Selain membutuhkan waktu kualitatif lebih untuk mengabstraksikannya.

Danton dan Bambang, sebagai perwakilan generasi terdahulu dalam konferensi pers itu mengatakan, ada perbedaan lain yang sangat menonjol antara kedua generasi pensketsa. Salah satunya adalah pesan-pesan ideologis.

Pada masa Orde Baru, banyak seniman yang melukis menggunakan sketsa-sketsa hanya karena mereka takut terhadap represi politik kekuasaan saat itu. Karenanya, mereka cenderung menggunakan karya-karya abstrak berupa sketsa untuk mengekspresikan realitas yang dialami zamannya.

Salah satu lukisan yang dianggap kontroversial saat itu adalah lukisan berjudul “Suhardi Presiden RI 2001” karya Hardi (nama lengkap R. Soehardi). Karya ini pertama kali dipamerkan dalam Pameran Pelukis Muda se-Indonesia di TIM Jakarta tahun 1979.

Atas pemberontakannya lewat karya itu, Hardi ditahan selama dua malam di Laksusda Jaya (lembaga militer pelaksana tugas dan program Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), lembaga darurat yang kekuasaannya tak terbatas. Lembaga ini terbentuk persis setelah tahun 1965 pasca peristiwa Gerakan September Tigapuluh.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan karya-karya yang muncul setelah era Reformasi. Dalam tataran tertentu, karya-karya masa ini cenderung “merayakan” kebebasan sehingga tidak memuat politik dan ideologi tertentu di dalamnya.

Seperti halnya dengan sketsa urban, yang menurut Danton apolitis, karena tidak bersentuhan dengan kepentingan politik manapun. Mereka berkarya hanya untuk merespon gejolak perubahan ekosistem kota, misalnya.

Tanpa Ideologi

Donald pun membenarkannya. Pengalaman berkarya selama beberapa tahun belakangan, sketsa-sketsa mereka tidak menyuarakan wacana politik atau ideologi tertentu. Mereka hanya menangkap realitas kota ke dalam sketsa.

Tidak pula seperti seniman yang memiliki konsep-konsep karya, mereka umumnya mengsketsakan realitas kota, baik itu kepadatan, kemacetan, gedung-gedung pencakar langit, perubahan tata ruang, dll., hanya dengan datang dan melihatnya, lalu menggambarnya langsung.

Seperti fotografi yang menangkap objek di depannya. Bedanya, fotografi mempunyai kemampuan menangkap gambaran realitas secara cepat.

Itulah perbedaannya, kata Donald. Bahwa pensketsa tidak meletakkan karya mereka sebagai layaknya “karya seni”, melainkan lebih sebagai sketsa kota yang difungsikan untuk membentuk cerita (story telling) kepada masyarakat.

Karenanya, pekerjaan membuat sketsa urban lebih akrab dengan dunia maya (media sosial) di mana sketsa-sketsa itu dipublikasikan agar masyarakat mengetahui dan mengenal kondisi kekinian kota.

Yang terpenting dari sketsa urban kata Donald, adalah bagaimana para pensketsa terhubung satu sama lain, terutama di ruang maya, untuk berbagi cerita lebih banyak kepada masyarakat.

Saat ini, sketsa urban sedang panas-panasnya. Dua bulan lalu, tepatnya di September, Galeri Nasional Indonesia mengundang para pensketsa urban untuk menggelar pameran Sketsaforia Urban yang berlangsung selama satu bulan, 12 September-12 Oktober 2019.

Meski mereka bukan “seniman”, tapi kemunculan dan kreativitas mereka sudah menjadi gejala baru yang harus mendapat tempat dalam matarantai ekosistem kota.

Pameran ini digagas Komite Seni Rupa DKJ dan berlangsung sepanjang 15-30 November. Pertama kalinya, pameran koleksi DKJ diadakan pada tahun 2006.

Kali ini, pameran persis diadakan bersama dengan Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019, sehingga menambah kesemarakan salah satu pusat kesenian Jakarta, yaitu Taman Ismail Marzuki.

*Daniel Deha

Baca Juga

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Kadisbud Iwan Henry: Teater Jadi Medium Literasi Anak

Portal Teater - Teater Lorong Yunior sukses mementaskan dua kali lakon "Sang Juara" karya dan sutradara Djaelani Mannock di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (19/1)....

Sambut Imlek, Mahasiswa UNJ Pentaskan Seni dan Budaya Tionghoa

Portal Teater - Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Sabtu (25/1) akhir pekan ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama denganĀ  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...