“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie*

Portal Teater“Panembahan Reso” karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pementasan yang diinisiasi Ken Zuraida, BWCF Society, GenPI.Co, dan JPNN.Com, dalam latihan terbuka di Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta selama dua hari pada akhir pekan lalu, 18-19 Januari 2020, dinilai sangat menarik untuk sebuah pertunjukan teater.

Sekitar 80 persen penonton yang memadati ruang teater merasa puas dengan suguhan tersebut.

Melalui interview reality terhadap penonton dari beragam usia dan kalangan, didapat sejumlah pernyataan berikut: “ini baru teater sesungguhnya”; “menarik ya dan sudah cukup lama gak nonton pertunjukan model begini”; “musiknya bagus, akting pemainnya banyak yang memukau”; dan beberapa apresiasi lainnya.

Sebelum latihan, sahabat Rendra menjelaskan bahwa yang dilihat di atas panggung teater belum final, terutama tata rias yang belum sama sekali, set trap yang dibungkus kain putih akan diubah warna abu-abu.

Tata cahaya pun belum final karena hanya memaksimalkan kondisi lampu di Teater Besar ISI Surakarta, termasuk kostum yang dirancang Retno Damayanti juga akan banyak mengalami revisi nantinya.

Yang dinilai sudah final adalah musik yang dikomposeri Dedek Wahyudi.

Terlepas dari keberhasilan latihan tersebut, barangkali ada 20 persen yang belum merasa puas meski mungkin hanya sebagai bumbu-bumbu dalam sebuah pertunjukan, dan saya termasuk di dalam angka tersebut.

Hal mana saya menemukan adanya shadow teater dan media digital yang tampak seperti membungkus ‘kekuasaan’ di masa lalu pada konteks hari ini.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita mengenai “Raja Sejagat” di Purworejo dengan aktor utama Totok Santoso dan Fanni Aminadia.

Ini layaknya sebuah reality show teater yang dirancang sedemikian rupa (dalam ranah meyakinkan publik) untuk mencapai kekuasaan dan menguasai dunia sekalipun dalam praktiknya penuh dengan modus penipuan.

Fenomena ini merupakan potret masa silam yang terus relevan, di mana Rendra pernah memanggungkan sekitar 35 tahun lalu di Istora Senayan, Jakarta, sebagai refleksi kekuasaan yang belakangan ini dilakukan penuh intrik.

Potret-potret kekuasaan dengan perang hoaks melalui media digital yang terjadi pada saat Pemilihan Presiden, di mana kedua kubu saling menyusun skenario dan merancang kemenangan dengan berbagai macam cara dan intrik.

Perang wacana itu kemudian mencapai klimaks ketika terjadi chaos di Tanah Abang, Jakarta. Namun anehnya, situasi itu berakhir anti-klimaks di mana calon presiden yang kalah didapuk menjadi menteri dalam kabinet presiden terpilih.

Potret ini rasanya cukup menarik ketika lakon “Panembahan Reso” yang dulunya berdurasi 7 jam lebih, kemudian dipangkas menjadi 3 jam.

Tampaknya kerja penyuntingan menarik untuk dianalisis karena beberapa referensi penyuntingan masih ada yang bertele-tele.

Saya kira Hanindawan nampaknya mengetahui hal tersebut, hanya saja mungkin dari berbagai pertimbangan, memang sengaja tidak dipangkas.

Shadow teater yang disajikan dalam “Panembahan Reso” memungkinkan sebagai praktik dramaturgi dalam potongan-potongan adegan yang hanya dihantar dengan gelap; nampaknya terlalu sering dilakukan dengan pergantian adegan pendek-pendek layaknya sebuah film.

Perkembangan teknologi digital dengan adanya layar yang terpampang di sisi kanan-kiri panggung mungkin dimaksimalkan sebagai cara pendekatan atau pergeseran tontonan hari ini. Karena di sisi lain, gambar-gambar grafis metafor baru dalam kekuasaan sudah hadir.

Di sisi lain terkesan usang cara-cara perpindahan setiap adegannya, di mana Hanindawan diketahui sebagai sutradara avant-garde di eranya, tentu sebagai sosok yang memiliki visi dan misi ke depan, barangkali sudah memikirkan itu.

Hanya saja banyak pertimbangan yang tidak kita ketahui termasuk pasar di lokasi pertunjukan yang mana belum kita riset dan diketahui bersama.

Shadow teater sangat mungkin mentransformasi kekuasaan hari ini di mana media digital cenderung memprovokasi massa sehingga menimbulkan ketegangan hingga pertempuran berdarah. Sementara para perancang kekuasaan hanya duduk tertawa menikmati permainan.

 Adegan kerajaan di bawah gejolak dan intrik, para senopati berkumpul di tengah Seruti Repati (Ratu Kenari), Jamaluddin Latif (Rebo), dan Sha Ine Febriyanti (Ratu Dara). -Dok. Ali Ibnu Anwar.

Adegan kerajaan di bawah gejolak dan intrik, para senopati berkumpul di tengah Seruti Repati (Ratu Kenari), Jamaluddin Latif (Rebo), dan Sha Ine Febriyanti (Ratu Dara). -Dok. Ali Ibnu Anwar.

Inner-Acting dan Keseragaman Gaya Akting

“Panembahan Reso” memang ibarat mesin motor yang panasnya pelan-pelan di mana pada awal pertunjukan dengan eksposisi yang nampak bosan.

Akting yang diperankan oleh Whani Darmawan (memerankan Reso), menurut saya terperangkap pada keseragaman gaya akting yang disajikan oleh Hanindawan, dilanjutkan dengan siluet Panji Tumbal dengan soliloqui-nya (yang berpotensi dalam memainkan shadow teater) di tengah dua layar yang terpampang.

Padahal di antara keseragaman akting yang dihadirkan banyak pemainnya, masih banyak iner-acting yang kuat dalam lakon ini. Misalnya, Ruth Marini (memerankan Istri Reso) yang membintangi film Wiro Sableng sebagai Sinto Gendeng, cukup memaksimalkan inner-acting dalam pemeranannya.

Tentu saja Ruth Marini yang tumbuh dan berkembang di Teater Satu Lampung bersama Iswadi Pratama dengan metode akting sistem Stanislavski, juga tidak bisa diganggu gugat untuk masuk ke dalam keseragaman gaya akting meski tetap menarik.

Hanya saja, layak dipertimbangkan tokoh-tokoh yang memungkinkan masuk ke dalam inner-acting, mesti diberi ruang untuk menemukan dan menjadikan tokoh sebagai miliknya.

Kuncinya bisa terletak pada keyakinan para aktor untuk membayangkan satu situasi kerajaan yang bisa diadopsi dari data sebelumnya maupun banyak peristiwa belakangan ini.

Sebab aktor tidak dengan sendirinya membangkitkan peristiwa kekuasaan di atas panggung jika tidak didukung oleh keyakinan dari dirinya sendiri.

Apa yang dilakukan setiap pemain harus didasarkan pada denyut nadi emosinya sendiri yang dapat menjembatani jurang yang memisahkan karakter dari aktor. Dengan demikian, inner-acting itu benar-benar dirasakan oleh penonton.

Imajinasi setiap pemain yang berasal dari keyakinan tersebut menyiratkan perbedaan yang justru membebaskan aktor dari seni (lih. Mitter, 1992:8).

Selain Ruth Marini, saya melihat sosok Jamaluddin Latif (memerankan Pangeran Rebo), juga memainkan inner-acting, sekalipun ia tumbuh dan berkembang di Teater Garasi yang lebih menekankan kepada studi teater eksperimental.

Jamaluddin Latif tampak berhati-hati dalam memperlakukan keyakinannya yang juga memiliki latar belakang sebagai pantomimer untuk menahan geraknya sedemikian rupa agar tidak masuk ke dalam tokohnya.

Padahal saya justru melihat kemungkinan-kemungkinan itu bisa menjadi penguat jembatan inner-acting, sebagai tokoh yang lugu dan cenderung takut maupun baik layaknya anak-anak, berkompromi dengan keadaan, maupun seringkali menjadi pangeran yang sangat manja.

Hanya saja nampaknya terbatasi hal-hal lainnya, barangkali kemanjaan-kemanjaan itu diperkuat layaknya anak yang masih ‘netek’ pada ibunya, untuk memperkuat atau memperjelas potret kekuasaan yang terjadi hari ini.

Saya melihat tokoh Pangeran Rebo sebagai ‘anak’ kekuasaan yang disetir Ratu Dara (diperankan Sha Ine Febriyanti) yang keras dan ambisius dalam memutuskan banyak kebijakan.

Hubungan peran antara Jamaluddin Latif dan Sha Ine Febriyanti tampak berjarak dalam ikatan emosional kasih sayang dalam perangkap “kekuasaan”.

Hubungan gerak dan bisnis akting antara keduanya bisa memungkinkan lebih lentur dan memikat jika lebih jujur dan ikhlas dalam tindak perilakunya tanpa batasan apa pun.

Proses transformasi narasi dan wacana yang belum maksimal dimainkan oleh Jamaluddin Latif sekalipun ia cukup longgar dalam transportasi perannya untuk menggiring empati ke penonton, sehubungan dengan impuls-impuls yang ditemukan dalam dirinya.

Temuan dari sekumpulan paket impuls secara diam-diam harusnya dirancang secara intelektual untuk menyatukan satu dengan yang lain, sehingga memberi energi dirinya sebagai aktor dengan kedudukan yang mantap dan mendorong perannya pada satu posisi yang lebih kuat untuk mempertebal kemanjaan karakternya (bdk. Mitter, 1992:10).

Jika itu sudah dilakukan, Jamaluddin Latif barangkali akan lebih memukau dalam menjadikan tokoh ke dalam dirinya.

Sementara Seruti Respati (memerankan Ratu Kenari) dan Ucie Sucita (memerankan Siti Asasin) juga sangat memungkinkan lepas dari ‘tampak’ keseragaman gaya akting keseluruhan pemain.

Tentu saja Whani Darmawan dan Sha Ine Febriyanti memiliki kemampuan, namun terjebak pada proses transformasi dan tranportasi dalam keseragaman akting setiap tokoh, terutama akting-akting para Panji maupun Maryam Supraba (Ratu Padmi) dan Dimas Danang (Pangeran Gada) serta akting beberapa pangeran lainnya.

Patut dicermati, Whani Darmawan dalam menghidupkan perannya sebagai Panji Reso yang bertransformasi menjadi Aryo Reso hingga Panembahan Reso, bukan tidak memiliki tawaran sama sekali.

Aktor yang sudah banyak terlibat dalam kerja kolaborasi dengan banyak tokoh lainnya seperti Emha Ainun Najib, Djaduk Ferianto, Mira Lesmana, ataupun Riri Riza ini menurut saya kurang mampu meletakkan keyakinan tokohnya pada ‘pintu gerbang’ sisi gelap dan tipu muslihat kerajaan.

Begitu juga dengan Sha Ine Febriyanti mengalami gangguan kausalitas di antara tangga atau laku dramatiknya yang tidak terbangun secara bertahap. Lantas, akhir ketragisannya tidak punya hukum kausalitas tersebut.

Tapi sekali lagi, pertunjukan ini sangat layak ditonton untuk mencari temuan lainnya di setiap pemain karena catatan saya ini ditulis tanpa mengetahui penjelasan dari sutradara Hanindawan.

Saya hanya membaca melalui temuan-temuan yang terjadi dalam proses latihan secara terbuka tersebut, dan mungkin saya tidak mampu melacak temuan lainnya sehubungan dengan impuls, energi, dorongan karakter, inner-acting, maupun pengembangan karakter.

Adegan Siti Asasin (Ucie Sucita) yang tengah bertransaksi dengan dua senopati kerajaan. -Dok. Ali Ibnu Anwar.
Adegan Siti Asasin (Ucie Sucita) yang tengah bertransaksi dengan dua senopati kerajaan. -Dok. Ali Ibnu Anwar.

Teknologi dalam “Panembahan Reso”

Keberadaan dan fungsi teknologi pada tahun 1986, di mana karya ini pertama kali dipentaskan, tentu saja berbeda dengan konteks di mana karya tersebut dimainkan ulang hari ini.

Perkembangan teater belakangan ini lebih menggunakan wireless mic ketimbang mic yang digantung di atas panggung (layaknya pertunjukan teater rakyat/tradisi) ataupun condensor mic.

Sebab bagaimanapun kemajuan teknologi juga memungkinkan perubahan proyeksi suara, sehingga metode latihan pun juga bertransformasi.

Teknologi lainnya jelas terletak pada perkembangan kamera, yang memungkinkan menangkap detail shot ekspresi-ekspresi aktor tertangkap secara big closeup, medium closeup, maupun ekstrem closeup, sehingga sangat mempengaruhi visual pertunjukan.

Layar yang terpampang bisa semacam transisi visual, melalui shadow teater, data gambar yang sudah dihadirkan berupa mahkota kerajaan, pepohonan, dan lain sebagainya, termasuk gerak tari yang dikoreograferi Hartati semakin memperbanyak dimensi lainnya.

Watak kerja studio televisi sangat mungkin dipraktikkan pada kerja pertunjukan hari ini, kalau memang itu memungkinkan. Karena pada kenyataannya, panggung dihadirkan banyak memperlakukan sifat dan fungsi teknologi sebagai medium yang cukup variatif, sehingga “Panembahan Reso” memperlakukan teknologi dengan watak kerja yang lain.

Saya membaca temuan dalam teknologi maksudnya juga sebagai instrumen dan peralatan teknologi lainnya yang masuk ke dalam kerangka semacam laboratorium di mana hari ini merupakan praktik menarik untuk dilakukan.

Menurut Nancy Cartwright, instrumen seperti itu harus dipahami sebagai mesin nomologis, yaitu pengaturan komponen yang tetap, atau faktor-faktor, dengan kapasitas stabil yang berada di lingkungan stabil yang tepat akan menimbulkan perilaku reguler.

Dalam watak kerja teknologi terhadap kritik-kritik sosial yang hendak dinarasikan memungkinkan mewakili perilaku mesin nomologis yang sifatnya lebih teratur, yang menyiratkan bahwa hukum-hukum sosial dalam pandangan teknologi akan berlaku sebagai konsekuensi dari operasi mesin nomologis yang berulang dan berhasil jika watak kerjanya secara utuh dipraktikkan (Mike Boon dalam Berg Olesen, et al., 2009:81).

Pembacaan saya ini berdasarkan banyaknya tanda dengan medium-medium yang hadir di atas panggung yang membedakan ruang dan waktu pertunjukan berlangsung.

Sekalipun kostum yang digunakan mengingatkan kita pada masa lampau, namun kenyataannya publik tak bisa menghindari seperangkat teknologi cukup berkeliaran di atas panggung.

Maka jelas memungkinkan watak kerjanya bisa mengawinkan masa lalu dengan masa kini, sehingga lahir hasil pertemuan kedua peradaban tersebut yang sekiranya lebih asyik dan cukup menjanjikan sebagai pembacaan publik dalam watak kerja mesin nomologis.

Adegan percumbuan Reso (diperankan Whani Darmawan) dengan Sri Ratu Dara (diperankan Sha Ine Febriyanti). Dok. Ali Ibnu Anwar.
Adegan percumbuan Reso (diperankan Whani Darmawan) dengan Sri Ratu Dara (diperankan Sha Ine Febriyanti). Dok. Ali Ibnu Anwar.

“Panembahan Reso” dan Teks Chaos Kini

Kekacauan yang terjadi pada “Panembahan Reso” sangat memiliki keterkaitan yang tetap menarik setelah puluhan tahun. Di mana banyak orang ingin berkuasa; berebut pengaruh, untuk mendapatkan askes yang luas kepada kekuasaan.

Dalam “Panembahan Reso”, kita melihat para pengeran berniat memimpin sebuah kerajaan, di antaranya Pangeran Rebo, Pangeran Gada, dan Pangeran Wind. Begitu pula dengan Reso, seorang rakyat biasa, yang berkeinginan menjadi raja dengan segala intriknya.

Politik kekuasaan yang terjadi di kerajaan si Raja Tua yang memiliki tiga istri: Ratu Padmi, Ratu Kenari, dan Ratu Dara, sesungguhnya strategi dalam mendudukkan watak patriarkal.

Kekuasaan memang memiliki hegemoni dan sangat superior, sehingga banyak manusia cenderung untuk memperebutkannya, termasuk yang dilakukan Reso yang bukan keturunan bangsawan.

Namun yang patut dicermati adalah “Penembahan Reso” tampak ingin membongkar legitimasi kebangsawanannya melalui kelicikan dan kecerdasan rakyat biasa sekalipun tumbang di tangan perempuan; perempuan bangsawan yang hidup di antara praktik kerja humanitas dan anti-humanitas.

Hanya saja peran Ratu Kenari yang dimainkan Seruti Respati kurang mampu menggiring pada penandaan perannya pada paradoks karakter.

Sebab empati yang diharapkan bisa dimainkan lewat energi, dorongan peran, impuls, dan lain-lain, barangkali akan lebih mengejutkan ketika di akhir cerita, hadir dengan tembang yang bisa lebih mengoyak gendang telinga siapapun untuk menjawab kekacauan yang terjadi dari awal hingga akhir.

Kasusnya hampir sama dengan peran Siti Asasin yang dimainkan Ucie Sucita.

Kebekuan nan mendalam layaknya pembunuh bayaran berbahaya dari sikap yang ditawarkan ke hadapan penonton bisa mungkin dimaksimalkan untuk membuat sebuah kejutan ketika terjadi peristiwa antara Ratu Dara dengan dirinya, sebagai contoh kecil chaos dari dampak psikologis kemanusiaan.

Seperti yang sudah disinggung di atas, teks chaos” terjadi belakangan ini layaknya drama tanda tanya yang tidak pernah selesai. Semacam narasi-narasi badut; melalui pertengkaran di program televisi yang saling membela kepentingan golongannya.

Seolah-olah tampak seperti treatment skenario yang disusun oleh pemegang kekuasaan.

Gambaran-gambaran dalam “Panembahan Reso” merupakan kekonyolan-kekonyolan yang terlihat dalam realitas.

Praktik anti-humanitas di balik narasi yang didengungkan sebagai potret humanitas bagai dua sisi mata uang dengan merasa sebagai manusia paling unggul di antara lainnya.

Padahal keunggulan manusia dipengaruhi oleh realitas dan kontribusi yang sudah berdampak tanpa adanya tipu daya skenario kekuasaan.

Akhirnya sebagai penutup catatan ini, saya mengitup pernyataan Bre Redana yang menjelaskan bahwa di dunia ini tidak ada yang standar, yang penting kita melakukan sesuatu, sekalipun sesuatu yang dimaksud bisa berujung kehancuran dan ketragisan.

Rendra dengan kesusastraannya yang kuat dan syarat kritik dan dengan Bengkel Teater Rendra, seperti membaca bahwa pada masa yang akan datang akan ada zaman yang lebih kacau dan edan daripada pada masanya.

Kita boleh berandai-andai bahwa kebaikan memang sebagai anomali, dan ‘kebangsatan’ yang dilakukan Reso sebagai cermin perilaku standar di era digitalisasi sekarang ini.

Kalau memang demikian, maka chaos yang terjadi belakangan ini hingga ke depannya menjadi cermin refleksi dan pelaporan data-data yang dilihat dan dirasakan bersama.

“Panembahan Reso” akhirnya hadir sebagai refleksivitas di antara problematika humanitas dan anti-humanitas dalam politik kekuasaan dan standar kehidupan hari ini.

Karya ini sangat layak ditonton dan dikaji bersama sebagai renungan sekaligus pengetahuan untuk melihat dan meresapi lingkungan terdekat kita.

*Penulis adalah petualang dan pejalan kaki yang sedang menempuh Studi Pascasarjana Jurusan Penciptaan Teater pada Institut Seni Indonesia Surakarta.

Baca Juga

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Mohammad Yusro Kembali Terpilih Jadi Ketua Itera

Portal Teater - Musyawarah Besar Ikatan Teater Jakarta Utara (Itera) 2020 kembali menunjuk Mohammad Yusro menjadi Ketua Itera periode 2020-2023. Sebelumnya jabatan ini dipegang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...