Pantun Betawi dan Keterputusan Mata Rantai Antar Generasi

Portal Teater – Penulis sastra bercorak lokal Betawi hampir tidak lagi terdengar gaungnya sejak dua dekade terakhir, terutama setelah Zen Hae, Ihsan Abdul Salam, dan Chairil Gibran Ramadhan (periode 1980-an). Begitu pula dengan tradisi pantun yang memiliki keterkaitan dengan identitas kebudayaan Betawi.

Satu-satunya era kejayaan pantun Betawi hanya hadir dalam seniman Zahrudin Ali Al Batawi (atau dikenal sebagai Bang Udin), yang kemudian digelar “raja pantun” Betawi. Selain dia, hampir tidak ada lagi sosok muda yang lebih progresif mengembangkan identitas lokal masyarakat Betawi tersebut.

Berbicara dalam lokakarya “Pantun Betawi” dalam program Pekan Sastra Betawi, Bang Udin mengungkapkan, meski saat ini tradisi tersebut kembali digiatkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan, tetapi budaya pantun Betawi, yang berbeda dari gaya pantun Melayu, nyaris punah.

Menurutnya, hampir tidak ada lagi penulis atau penutur pantun yang mewakili generasi muda saat ini. Selain karena keterbatasan akses generasi saat ini kepada warisan masa lalu, tetapi juga karena adanya keterputusan mata rantai antar generasi.

Substansi permasalahannya adalah tidak adanya arsip dan medium yang menghubungkan generasi terdahulu dengan generasi saat ini, baik dalam bentuk naskah buku, manuskrip atau kebiasaan mendongeng.

“Mungkin mereka dulu jago pantun, tapi anak cucu mereka tidak tahu pantun. Karena pantun inikan nggak bisa diturunin, tapi harus belajar,” katanya dalam kesempatan wawancara di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Selasa, (6/8).

Dalam usaha membangkitkan kembali khazanah pantun Betawi, saat ini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan pejabat-pejabat di lingkup Pemda DKI Jakarta sudah membuat gerakan progresif untuk mengembangkan kebiasaan menggunakan pantun dalam acara tertentu.

Bahkan, Bang Udin sendiri pernah diundang Gubernur Anies untuk memberikan pelatihan kepada para pegawai dan siswa di sekolah-sekolah untuk mengenal kembali tradisi pantun. Karena pantun dapat menjadi instrumen untuk mengedukasi nilai-nilai kehidupan masyarakat universal, termasuk masyarakat Betawi.

“Banyak pejabat yang sudah mulai terbiasa untuk berpantun. Inilah kekuatan pantun. Begitu juga dengan anak-anak muda saat ini yang sudah mulai antusias menyambut workshop tentang pantun, misalnya terjadi di beberapa sekolah baru-baru ini,” katanya.

 Pantun Betawi: Yang Khas

Bang Udin mengakui, pantun Betawi sangat khas dan berbeda dari jenis-jenis pantun di kebudayaan lain, misalnya pantun Melayu, yang biasanya menggunakan perumpaan. Dalam pantun Betawi, pesannya disampaikan secara langsung dan gamblang, tanpa tedeng aling-aling.

“Ciri khas pantun Betawi tidak bertele-tele, langsung saja, tidak pakai umpama seperti dalam pantun Melayu. Misalnya pantun untuk sindiran, perintah atau teguran, dll,” ungkapnya.

Selain bersifat langsung, pantun Betawi juga memiliki kekhasan lain, yaitu adanya keterkaitan yang nyata antara sampiran dan isi yang mau disampaikan (dalam kebiasaan menulis pantunnya, Bang Udin menggunakan pantun 4 baris dengan rima a-b-a-b atau a-b-b-b, dst.). Misalnya dalam contoh berikut:

Buaya mencari makan,

Melate di waktu pagi

Budaya harus dipertahankan

Kalau bukan kite mau siape lagi.

Keterkaitan itu juga tampak dalam contoh berikut:

Cari udang cari kali

Pake jale di pagi bute

Sejak memandang pertama kale

Abang sudah jatuh cinte.

Dari kedua contoh tersebut, tampak bahwa pesan yang disampaikan dalam sampiran, memiliki arti yang sama dengan pesan yang akan disampaikan dalam isinya.

Yang Santun Lagi Humoris

Kekhasan budaya pantun Betawi itu pun muncul dalam kebiasaan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada seseorang atau kelompok dalam ungkapan yang santun, meski pesannya sangat gamblang menyatakan sindiran, teguran, kegeraman, atau kemarahan.

Dalam 5.000 pantun yang termuat dalam tiga buku berbeda (terbitan 2014, 2016, dan 2018), Bang Udin selalu menggunakan ungkapan atau pantun-pantun untuk mengkritik ketidakadilan sosial, ketimpangan, masalah lingkungan hidup, tata krama, dan kompleksitas isu yang melekat dalam tata sosial kemasyarakatan dan negara.

Dalam pantun-pantun tersebut, Bang Udin menampilkan pesan edukatif dan moralitas secara halus dan santun, sehingga menimbulkan kesan yang berbeda pada pembaca. Malah, pantun-pantun itu terkesan humoris, yang seolah-olah memparodikan kemarahan, kekecewaan, atau kritik-kritik sosial yang tajam.

Contohnya:

Bawa dasi di dalam di dalam tas

Taruh di tas biar nggak kotor

Korupsi gimana mau diberantas

Yang berantas juga koruptor.

Atau:

Ada cicek ada cekiber

Cicek banyak di kolong-kolong

Pajak rakyat diuber-uber

Udah banyak yang pada colong.

Kebanyakan pantun karya Bang Udin menggunakan format empat larik dalam satu stanza dan berdasarkan isinya, meliputi pantun jenaka, pantun nasihat, dan pantun agama sesuai dengan karakter habitus sosial masyarakat Betawi.

Tentang Bang Udin

Bang Udin ahir di Jakarta, 9 Mei 1963 dan bertempat tinggal di Condet, Jakarta Timur. Ia mengenal budaya kebudayaan Betawi berawal dari kediamannya di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang saat itu terkenal dengan kesenian pencak silat.

Saat ini menjabat sebagai Ketua Sanggar Batavia Grup yang sudah berusia kurang lebih 30 tahun. Sebagai ketua, ia sering dituntut untuk menjadi palang pintu, sebuah upacara pernikahan orang Betawi yang kemudian juga menjadi tradisi penyambutan pejabat.

Batavia Group adalah sebuah sanggar yang sudah cukup malang melintang di kesenian palang pintu Betawi. Sebagai dasar pembentukan sanggar tersebut, pada mulanya ia merasa tertantang untuk mendirikan sanggar palang pintu karena pada saat itu masih jarang Betawi menunjukan aksi palang pintu dengan benar. Melalui sanggar inilah namanya kian populer di kalangan masyarakat Betawi.

Bang Udin sudah menghasilkan tiga buah buku pantun diantaranya, antara lain: “999 Pantun Betawi” (2014), “1500 Pantun Betawi” (2016) dan “12 Pantun Cerita Palang Pintu Betawi” (2018). Teranyar, ia sedang dalam proses penggarapan buku pantunnya yang keempat.

*Daniel Deha

Baca Juga

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Goethe-Institut Gelar Tiga Acara Budaya Daring

Portal Teater - Goethe-Institut Indonesien sepenuhnya menyadari bahwa pandemi global virus Corona (Covid-19) bakal menghentikan semua acara kebudayaan selama paruh pertama tahun ini. Untuk...

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Terkini

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Temuan Kasus Baru Melonjak Drastis

Portal Teater - Temuan kasus baru pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19) di Indonesia melonjak drastis pada Kamis (9/4). Otoritas melaporkan, ada 337 kasus baru...

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...