Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater – Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, TIM Jakarta.

Diskusi bertajuk “Genosida Kebudayaan” ini diadakan pada Jumat (24/1), sebagai ekspresi penolakan terhadap penyimpangan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merevitalisasi pusat kesenian yang menghabiskan dana sekitar Rp1,8 triliun tersebut.

Koordinator Acara Gultom Tewe menerangkan, ada tiga hal (tuntutan) yang menjadi polemik dalam proyek revitalisasi yang digagas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yakni upaya komersialisasi TIM, pengelolaan TIM oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dan pembangunan hotel berbintang di kawasan TIM.

Menurut Gultom, poin-poin tersebut menjadi ‘tapal batas’ yang menggerakkan para seniman baik di Jakarta maupun di daerah untuk menyerukan penolakan terhadap upaya kapitalisasi ruang kesenian dari akar kebudayaan.

Sebab, pada dasarnya lawan dari kebudayaan adalah kapitalisme. Bilamana pemerintah mengkooptasi ruang-ruang seni-budaya di pusat, maka dengan mudah mencaplok taman-taman budaya lain yang ada di daerah.

Aktor dan sutradara Teater Pandu itu mengatakan, diskusi publik ini akan menghadirkan sejumlah seniman dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain dari Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Surabaya.

“Artinya bahwa kegiatan diskusi dihadiri oleh kelompok #SaveTIM yang sudah mengembangkan sayapnya di sekitaran Jabodetabek dan di wilayah provinsi lain,” ujarnya di TIM Jakarta, Kamis (23/1).

Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, TIM Jakarta, Jumat (24/1). -Dok. Tewel Seketi/Facebook.
Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, TIM Jakarta, Jumat (24/1). -Dok. Tewel Seketi/Facebook.

“Genosida Kebudayaan”

Tema besar diskusi publik perdana ini adalah “Genosida Kebudayaan”. Tema ini diangkat untuk mendudukkan dan memposisikan kondisi kekinian pembangunan TIM sebagaimana menjadi gagasan Pemprov DKI Jakarta.

Secara literer-historis, tema ini tampak ekstrem dan menakutkan. Karena Indonesia pernah mengalami peristiwa “genocide” pada masa lalu. Membangkitkan kembali terma ini seperti ingin mengorek memori kelam itu.

Tema ini diangkat bukan tanpa pendasaran. Menurut Gultom, gagasan pembangunan hotel berbintang dan pengelolaan TIM oleh Jakpro seperti ingin meruntuhkan akar dan nilai kebudayaan yang tertanam lama di TIM.

“Topik yang akan dibahas dengan tema besar “Genosida Kebudayan”, di mana ada penghancuran nilai-nilai kebudayaan,” tandasnya.

Tema besar diskusi ini akan dibedah oleh empat narasumber utama, yaitu Radhar Panca Dahana, Dolorosa Sinaga, Noorca M. Massardi dan Sihar Ramses Simatupang. Diskusi ini dimoderatori Madin Tyasawan, pegiat teater, dosen, dan mantan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Seniman yang sering “nongkrong” di kawasan yang disulap Gubernur Ali Sadikin dari kebun binatang menjadi ‘rumah seniman’ itu menjelaskan, Radhar dalam diskusi nanti akan membincangkan persoalan esensial kebudayaan sebagai dampak dari komersialisasi TIM.

Dalam opininya di Harian Kompas, Selasa (21/1) lalu, Radhar menulis persoalan ‘kematian seni-budaya’ Indonesia karena ketidakpedulian dan kebebalan manusia dan bangsa yang tidak tahu merawatnya.

Dolorosa Sinaga, pematung ternama Indonesia dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), kata Gultom, akan mendedah persoalan hukum dan perjuangan hak-hak seniman dalam proyek revitaliasi TIM kali ini.

Sementara itu, Massardi akan membincangkan ihwal pendirian TIM. Kemudian Ramses, berlatar sebagai jurnalis, akan membahas mengenai proyeksi keberadaan TIM saat ini dan di masa depan dari perspektif media.

“Akhir dari diskusi ini akan ada pernyataan bersama seniman untuk menolak ketiga pokok polemik tadi,” pungkasnya.

Selanjutnya, para seniman akan terus bergerak dengan mengadakan aksi di Gedung DPRD DKI Jakarta dalam waktu dekat, dari sebelumnya menggelar aksi damai di Balai Kota DKI Jakarta pada akhir tahun lalu.

“Meminta DPR untuk mencabut Pergub No.63/2019, menolak komersialiasi, dan menolak Jakpro dan menolak hotel,” ungkapnya.*

Baca Juga

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...