Pasien Positif Corona Diprediksi Melonjak Setelah “Rapid Test”

Portal Teater – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona Doni Monardo mengatakan kepada Kompas TV, Rabu (25/3), bahwa jumlah pasien positif virus corona akan melonjak tajam setelah seluruh masyarakat melakukan “rapid test”.

“Sangat mungkin. Selama ini “rapid test” masih dilakukan dengan cara-cara yang manual, melalui prosedur sampai ke tingkat laboratorium. Ketika “rapid test” ini sudah berada di banyak daerah, maka sangat mungkin, lonjakannya akan sangat pesat sekali,” katanya di Kantor BNPB Jakarta.

Doni yang juga merupakan Kepala BNPB menjelaskan, signifikansi lonjakan jumlah pasien akan bertambah besar jika segenap masyarakat masih melakukan aktivitas yang melibatkan banyak orang, yang memungkinkan kontak tubuh satu dengan lainnya.

Karena itu, ia meminta kepada otoritas di masing-masing daerah dan seluruh masyarakat agar membatas kontak fisik dengan keluarga atau orang di sekitarnya. Bila perlu menutup akses dan interaksi dengan orang di luarnya.

Penutupan akses, pelabuhan dan bandara, misalnya, tidak mungkin dilakukan oleh otoritas daerah, mengingat dalam UU Kekarantinaan Kesehatan, disebutkan bahwa hanya pemerintah pusat yang memiliki wewenang untuk melakukanya.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat pada Rabu (25/3), misalnya, melayangkan surat permohonan kepada otoritas pusat dan provinsi untuk menutup akses Bandara Komodo Labuan Bajo. Namun kebijakan itu dinilai ‘melanggar’ kewenangan pusat karenanya perlu ditarik kembali sembari mencermati dampak pandemi corona.

Doni kembali manandaskan, adanya pelonjakan ini kemungkinan bersusulan dengan tingkat kepanikan dan kekhawatiran masyarakat terhadap corona. Hal itu wajar.

Karena dalam kondisi pandemi, wabah corona yang terjadi di seluruh negara, rasanya akan sulit sekali masyarakat atau di antara keluarga yang tidak terpapar.

Namun dengan segala sumber daya yang ada, pihaknya akan bekerja keras untuk mencegah jangan sampai korban jiwa juga terus melonjak. Sebab, pasien positif corona belum tentu mengalami kematian. Mereka dapat disembuhkan.

“Tetapi yang penting itu, bukan berapa prosentasenya. Yang harus kita lakukan, mencegah jangan sampai korban jiwa kita menjadi lebih banyak. Prosentase dan jumlah yang terpapar positif adalah hal yang wajar saat ini,” katanya.

Prediksi pelonjakan jumlah pasien ini sejalan dengan asumsi pada laman interaktif benflip.shinapps.io yang dibuat oleh Universitas Melbourne Australia. Proyeksi laman itu didasarkan data yang dikumpulkan oleh Universitas John Hopskins.

Mesin benflip.shinapps.io mengasumsikan, peningkatan kasus corona mengalami ritme yang hampir sama setiap 10 hari. Karenanya, proyeksi ini bisa memperlihatkan simulasi pertumbuhan virus corona selama 10 hari ke depan.

Laporan resmi pemerintah pada Kamis (26/3) menyebutkan, jumlah pasien positif corona di Indonesia mencapai 790 orang, bertambah 105 orang dari sebelumnya berjumlah 685 orang. Ada 58 pasien diantaranya meninggal dan 31 lainnya sembuh.

Menurut perhitungan mesin laman tersebut, terjadi penularan dari masyarakat dan tingkat kematiannya sekitar 3,7 persen. Mesin juga menghitung pasien corona memunyai waktu 17 hari sejak terinfeksi hingga meninggal dunia.

Merujuk pada mesin laman tersebut, maka kasus corona di Indonesia bisa mencapai 3.838-7.246 pada 10 hari yang akan datang, baik terdeteksi maupun tidak, dengan total estimasi akan terinfeksi hingga 243.841 orang.

Mesin benflip.shinapps.io memprediksi terjadi lonjakan pertumbuhan terinfeksinya virus corona di Indonesia pada tiap 10 hari. -Dok. benflip.shinapps.io
Mesin benflip.shinapps.io memprediksi terjadi lonjakan pertumbuhan terinfeksinya virus corona di Indonesia pada tiap 10 hari. -Dok. benflip.shinapps.io

“Rapid Test”

Pemerintah Indonesia mendatangkan peralatan “rapid test” atau alat tes cepat ini dari Amerika Serikat. Ada 125 ribu “rapid test kit” untuk pemeriksaan corona dan sudah didistribusikan ke 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Alat ini dapat mendeteksi virus corona dalam jangka waktu sekitar 45-60 menit, namun hasil laboratorium memakan waktu beberapa hari.

Kecepatan tes ini menunjukkan apakah orang positif terinfeksi virus corona dinilai menjadi bagian terpenting dalam upaya meredam penyebaran virus ini karena alat ini mampu memusnahkan bakteri atau virus yang berada di dalam darah.

Banyak pakar medis memprediksi, kelambatan, atau tes yang kacau-balau bisa menelan banyak korban jiwa, termasuk para dokter dan perawat kesehatan.

Alat tes diagnostik terbaru buatan Cepheid ini disebutkan didesain untuk bisa dioperasikan oleh peralatan dan GeneXpert Systems yang saat ini ada 23.000 unit, dan tersebar di seluruh dunia, demikian pernyataan perusahaan di California.

“Hasil test yang disebut ‘point of care’ itu bisa langsung diperoleh di pusat pelayanan kesehatan setempat, seperti rumah sakit, pusat perawatan darurat serta ruang perawatan gawat darurat“, ujar Komisioner FDA Stephen Hahn, melansir liputan6.com, Rabu (25/3).

Juri Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto dalam sebuah konferensi pers streaming pada Selasa (24/3) mengatakan, “rapid test” ini dilakukan sebetulnya tidak untuk mendeteksi langsung terhadap virus corona.

Ia menjelaskan, pemeriksaan langsung ke virus corona menggunakan metode berbasis antigen (zat yang dapat merangsang pembentukan antibodi jika diinjeksikan ke dalam tubuh). Yaitu dengan memeriksa bagian rongga belakang hidung atau mulut.

“Karena kalau memeriksa langsung terhadap virusnya, maka kita menggunakan pemeriksaan yang kita sebut berbasis pada antigen. Yang kita gunakan adalah melakukan pemeriksaan dengan swab, dengan apusan, usapan yang dilaksanakan di dinding belakang rongga hidung atau di belakang rongga mulut,” katanya.

Yuri menerangkan, jika nantinya hasil “rapid test” menunjukkan negatif corona, maka pemeriksaan akan diulang kembali setelah 10 hari.

Pemeriksaan kedua dilakukan karena hasil tes negatif bukan jaminan tak terinfeksi. Karena bisa saja orang tersebut terinfeksi namun masih pada tahap awal lantaran antibodi belum terbentuk. Antibodi baru terbentuk setelah 6-7 hari kemudian. Saat itulah baru didiagonsa, apakah positif atau negatif corona.

Meski demikian, bilamana pada tes kedua hasil masih menunjukkan negatif, maka belum tentu ke depannya orang tersebut tidak akan terinfeksi Corona. Sebab, hasil negatif itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak memiliki antibodi.

Artinya, masih terbuka kemungkinan bagi orang tersebut terinfeksi corona jika mengabaikan upaya-upaya pencegahan.

Dengan adanya tes cepat ini, pemerintah sudah menentukan dua kelompok yang menjadi prioritas dalam pemeriksaan metode ini.

Prioritas pertama ialah mereka yang pernah melakukan kontak dekat dengan pasien yang sudah terkonfirmasi positif virus corona.

Sementara prioritas kedua adalah tenaga medis yang melakukan pelayanan terkait virus corona. Petugas terdepan rumah sakit juga akan diperiksa.

Tidak Efektif

Namun demikian, dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta Timur Erlina Burhan mengkritik impor alat tes cepat corona yang dilakukan pemerintah.

Menurut Erlina, alat ini hanya bisa digunakan mendiagnosis keberadaan corona jika ada antibodi yang terbentuk saat seseorang menunjukkan gejala.

Dengan demikian, persepsi publik bahwa tes besar-besaran (massal) harus dilakukan untuk menghambat penyebaran corona adalah keliru.

“Kalau seseorang dalam masa inkubasi, kemudian diperiksa rapid test serologi belum terdeteksi, nanti jadi seolah-olah negatif, ini disebut negatif palsu,” katanya.

Menurutnya, kesalahan dalam diagnosis akan berakibat fatal bagi masyarakat. Karena tidak merasa mengidap virus, masyarakat bisa saja kembali beraktivitas normal, kemudian malah menjadi penyebar virus.

Erlina menyarankan, adalah lebih baik pemerintah menggadakan alat polymerase chain reaction (PCR) untuk digunakan di rumah sakit atau laboratorium kesehatan.

Kebijakan itu akan membuat lebih banyak fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan melakukan tes akurat corona lebih banyak lagi daripada saat ini.

Diketahui, alat tes cepat ini sudah diterapkan di Bandung, Jawa Barat, di mana ada 300 tenaga kesehatan di RSHS Bandung menjalani tes pada Rabu (25/3) dan dinyatakan negatif corona.

Sementara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang telah menerima bantuan 100 ribu alat rapid test dan 50 ribu masker pada Senin (23/3) malam, tidak menggunakan alat ini untuk dipakai untuk pengetesan random dan massal.

“Alat rapid-testing ini bukan digunakan secara random. Dan bukan pula untuk dilakukan pengetesan massal di kawasan terbuka,” kata Anies Baswedan lewat akun Instagramnya, Selasa (24/3).

Anies mengatakan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah memiliki prosedur dan kriteria masyarakat yang diprioritaskan untuk pemeriksaan terkait virus corona. Yaitu diutamakan bagi mereka yang berisiko menularkan virus terlebih dahulu.

Meningkat Tajam

Berdasarkan data Worldmeters pada Kamis (26/3) pagi, tercatat ada 468.664 kasus pasien terinfeksi virus corona. Sebanyak 21.191 diantaranya dinyatakan meninggal dan 114.218 lainnya sembuh. Virus corona telah menyebar di 198 negara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, wabah ini sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China, telah meningkat tajam tiap harinya.

Terlepas dari China dan Italia yang paling menderita karena kasus kematian yang terus mengamuk, Amerika Serikat adalah negara baru yang memiliki lonjakan kasus positif corona paling tinggi.

Saat ini tercatat ada 9.909 kasus baru di Negeri Paman Sam, bahkan sebelumnya AS terpukul karena jumlah kasus positif mencapai 11.075 orang.

Selain AS, Spanyol menyusul dengan penemuan 5.553 kasus baru, diikuti Italia dengan 5.120 kasus, Jerman dengan 4.332 kasus, Iran dengan 2.206 kasus, Prancis sebanyak 2.929 kasus, dan Swiss ada 1.020 kasus.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah video konferensi, Rabu (25/3), mengatakan, pemulihan corona sangat tergantung pada strategi kebijakan tiap negara.

Menurutnya, meminta masyarakat tinggal di rumah dan menghentikan pergerakan populasi hanya akan mengulur waktu dan tidak mengurangi laju pertumbuhan virus corona.

“Perlu tindakan yang lebih tepat dan terarah untuk menghentikan transmisi dan menyelematkan nyawa. Kami menyerukan kepada semua negara yang telah memperkenalkan apa yang disebut tindakan lockdown untuk menggunakan waktu ini untuk menyerang virus,” katanya, melansir incvestor.id, Kamis (26/3).

Sementara itu, biofisikawan Israel peraih nobel Michael Levitt, di tengah-tengah pandemi global ini, memberikan harapan bahwa virus ini secara aktif memperlihatkan penurunan, atau apa yang disebutnya “tanda-tanda pemulihan”.

Pada Februari lalu, dugaan penurunan infeksi virus yang dihembuskan Levitt terbukti di China, di mana sejak pertama kali teridentifikasi, virus itu perlahan menurun pada enam hari berikutnya. Hal itu terlihat dari tingkat kematian yang menurun.

Untuk China, ilmuwan Israel itu memperkirakan virus corona akan berhenti pada akhir Maret, atau setidaknya awal April. Kebijakan social distancing dan tinggal di rumah diyakininya cukup efektif untuk meredam transmisi virus ini.

“Situasi nyata tindak mengerikan seperti yang mereka bayangkan,” kata Levitt, melansir investor.id, Kamis (26/3).

Achmad Yurianto beberapa waktu lalu mengatakan jumlah pasien positif terjangkit Covid-19 bakal terus meningkat hingga April 2020. Setelah itu, kasus akan menurun.

“Kita akan dapat gambaran yang semakin naik dan pada saatnya nanti kita prediksi kita mudah-mudahan tidak terlalu panjang. Kita berharap pada bulan April sudah mulai bisa melihat hasilnya dan mulai terkendali,” ujarnya di Jakarta, Rabu (18/3).

Beberapa pakar lain pun menyebutkan, pandemi global ini setidaknya akan menyebar sekitar enam bulan sejak pertama kali ditemukan. Itu berarti, corona akan hilang pada Mei-Juni tengah tahun ini.*

Baca Juga

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Pasien Positif Corona Diprediksi Melonjak Setelah “Rapid Test”

Portal Teater - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona Doni Monardo mengatakan kepada Kompas TV, Rabu (25/3), bahwa jumlah pasien positif virus corona...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Terkini

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...