“PEACE”, Respon Kekinian Untuk Rayakan Kebesaran Karya Putu Wijaya

Portal Teater – Berusia empatpuluh delapan tahun bukanlah waktu yang muda bagi kerja kesenian sebuah kelompok teater. Karena tidak semua kelompok atau komunitas yang berkecimpung di dunia teater di Indonesia bisa mencapai usia seperti itu.

Bagi Teater Mandiri (TM), yang terbentuk pada tahun 1971, mencapai usia hampir setengah abad menunjukkan sebuah proses kerja yang, tidak hanya matang, tapi secara gagasan juga inovatif dan kreatif, apalagi di tengah gempuran dan kemunculan grup-grup teater baru yang kian masif.

Tidak bekerja menurut logika pasar yang kompetitif, TM mendayagunakan sumber daya internalnya melalui tokoh sentral, yang sekaligus merupakan pendirinya, Putu Wijaya (lahir 11 April 1944), berikut kesuksesan regenerasi teaternya.

Memiliki nama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya, Putu adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa; seorang pelukis, penulis drama, cerpen, esai, novel, skenario film, dan sinetron. Ia telah menulis 27 drama, 19 novel, 9 cerpen, 4 novelet dan beberapa esai.

Pentas Kebesaran Karya

Dua tahun menjelang perayaan emasnya, seperti juga tahun-tahun perayaan ulang tahun berdirinya, TM senantiasa menggelar pementasan spesial untuk menghibur para pencinta teater dan fan-nya di ibukota.

Pementasan ini disuguhkan melalui kerjasama TM dengan Bhakti Budaya Djarum Foundation dan Galeri Indonesia Kaya.

Tahun ini, TM mempersembahkan pentas istimewa bertajuk “PEACE” untuk merayakan tahun keenam kerjasama tersebut.

Pentas ini disajikan bersamaan dengan merayakan kebesaran HUT kemerdekaan Indonesia. Kita tahu, TM selalu memiliki visi dan ideologi kerja mengusung nilai-nilai Pancasialis, persatuan dan kesatuan Indonesia.

Namun, pada pentas kali ini, ada yang berbeda. Meski tetap dalam gegap gempita perayaan HUT RI ke-74, pentas kali ini seolah ingin memperlihatkan kebesaran karya sang maestro, Putu Wijaya.

Selain sudah lama malang melintang di dunia teater, Putu Wijaya adalah salah satu seniman yang dianggap mampu menghidupkan khazanah kesenian Indonesia.

Pada babak ketiga, lewat naskah berjudul “OH”, Taksu Wijaya (pemeran pengacara muda yang sukses), yaitu putranya sendiri, secara gamblang memperlihatkan upaya apresiasi terhadap kebesaran karya yang digagas ayahnya.

Sebetulnya melalui naskah itu, Putu Wijaya (melalui sosok pengacara muda) ingin menertawakan dirinya sendiri karena pencapaiannya dalam membangun kebudayaan dan cara kerja kesenian Indonesia.

Menewartawakan diri sendiri adalah puncak dari pencaharian karya manusia; suatu titik di mana seorang seniman atau pengkarya merasa dirinya “cukup” dan “besar” setelah menapaki proses-proses kerja yang ulet dan bermartabat.

Tampil sebagai orang bisu yang gagap, Putu Wijaya tidak banyak bicara dalam babak itu. Namun, hanya melalui petunjuk-petunjuk simboliknya berupa gerakan tangan. Ia seolah berada satu tubuh dengan anaknya untuk bersuara tentang kekinian Indonesia.

Tiga Naskah Utama

Pentas “PEACE” oleh TM karya dan sutradara Putu Wijaya, terjadi pada Rabu (25/9) di Gedung Graha Bhkati Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pentas ini terbagi ke dalam empat babak dengan tiga naskah tersebut dan satu babak penutup berupa visualisasi (tanpa judul). Ketiga naskah tersebut, yakni “Perempuan Sejati” (monolog), “Ini Original”, dan “OH”.

Sebagai tontonan yang merefleksikan kondisi sosial kekinian, naskah pertama “PEACE” memperlihatkan adanya perlakuan yang tak adil terhadap kaum perempuan (diperankan Jais Darga) di masyarakat luas yang memerlukan keseimbangan segera.

Agar kehidupan berjalan harmonis, dengan cara memberikan ruang dan kesempatan yang lebih pantas, berimbang dan sama pada perempuan, sesuai kemampuannya, bukan berdasarkan jenis kelaminnya.

Pada bagian kedua (naskah “Ini Original”), terlihat adanya masalah dilematis antara upaya menegakkan keadilan jangka panjang dan berliku dengan berbagai trik dan taktik strategi terlalu njelimet yang mungkin bisa mendatangkan salah paham.

Berhadapan dengan tuntutan praktis masyarakat, yang tak sabar lagi menuntut keadilan konkret nyata dengan segera, meski apapun risikonya. Itu disebabkan mereka merasa sudah terlalu sering ditipu, dibohongi, dan dikobarkan.

Sementara pada naskah ketiga, TM ingin bercerita tentang betapa bahayanya kalau berbagai persoalan atau konflik yang kompleks diselesaikan dengan kekerasan.

Perang dengan dalih menjaga atau mengejar perdamaian tidak akan membawa perdamaian. Damai tidak bisa dicapai dengan perang. Damai hanya bisa dicapai dengan kompak bersatu dalam dan dengan damai.

Hal itu persis digambarkan melalui visualisasi gerakan dan gambar pada babak terakhir. Di naskah tersebut memperlihatkan upaya perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dari jajahan kolonial.

Puncak dari kemenangan itu, bukanlah hak atas kemerdekaan itu sendiri. Bagi TM, yang menandai adanya kemerdekaan adalah persatuan dan kesatuan yang melandasi tiap perjuangan tiap individu dan masyarakat seluruhnya.

Karenanya, pada akhir adegan itu, segenap kru dan pemain TM bersama-sama keluar dari layar lebar yang menjadi latar permainan visual, ke tengah-tengah panggung sambil menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.

Kepada penonton, para pemain meminta berdiri dan bersama-sama melantunkan lagu ciptaan Liberty Manik tersebut.

Tentang Teater Mandiri

TM adalah perhimpunan nirlaba berasaskan kekerabatan dan semangat gotong royong untuk menekuni, mengembangkan, dan mempraktikkan sikap mandiri.

Mampu tampil dan beraktivitas sendiri tanpa dibantu, tetapi juga cakap bekerja dalam sebuah tim di kehidupan masyarakat yang majemuk melalui berbagai aktivitas seni budaya, khususnya teater.

TM dipimpin oleh Putu Wijaya dan berbasi di Ciputat, Tangerang Selatan.

TM bukan organisasi formal, melainkan sebuah komunitas kekerabatan atas dasar niat yang tulus untuk menumbuhkan kepribadian, memantapkan karakter, dan etos kerja mandiri. TM menjadi tempat bertemu, menimba pengetahuan, dan kesetaraan dan tanpa diskriminasi.

TM tidak berafiliasi dengan ideologi politik tertentu, kecuali menjunjung teguh dasar negara Pancasila. Namun TM mau terbuka bekerjasama dengan semua pihak, tanpa menodai kemandiriannya.

Sejak pendiriannya, TM sudah bermain di Brunei Darusalam, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Hong Kong, Taiwan, Mesir, Praha, Beograd, dan Bratislava.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

PSBB untuk Jakarta, Bagaimana Nasib Daerah Lain?

Portal Teater - Pemerintah resmi menetapkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta. Keputusan ini dibuat untuk menekan transmisi virus...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Terkini

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Temuan Kasus Baru Melonjak Drastis

Portal Teater - Temuan kasus baru pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19) di Indonesia melonjak drastis pada Kamis (9/4). Otoritas melaporkan, ada 337 kasus baru...

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...