Pelaku Teater Minta Mendikbud Nadiem Wajibkan Pelajar Nonton Teater

Portal Teater – Penonton teater yang teridentifikasi di beberapa gedung pertunjukan di Jakarta memperlihatkan bahwa minat dan antusiasme pelajar untuk menonton teater masih sangat minim. Mayoritas penonton teater masih didominasi oleh kaum milenial (usia di atas 17 tahun).

Justru banyak penonton pelajar yang meluber di beberapa event kesenian non-teater, seperti pertunjukan musik, tari, dan sejenisnya. Hal ini cukup menggelisahkan bagi pendalaman ekosistem penonton teater, di Jakarta khususnya.

Di Jakarta memang ada festival teater untuk para pelajar. Penonton pada festival ini umumnya adalah para pelajar. Namun pada pertunjukan teater umum, minat pelajar masih sangat kecil.

Hal ini memperlihatkan bahwa minat pelajar terhadap pertunjukan teater masih segmentatif. Karena itu perlu upaya untuk memperluas dan memperdalam aktivitas “menonton teater” di kalangan pelajar.

Terapkan Aturan Khusus

Merespon fenomena tersebut, para pelaku teater meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membuat regulasi yang mewajibkan pelajar menonton teater.

Salah satu pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno, mengatakan, apreasiasi pelajar terhadap pementasan teater masih belum merata. Ia berharap agar Mendikbud baru dapat membuat aturan khusus agar penonton teater lebih banyak.

“Saya ingin sekali Mendikbud yang baru mewajibkan anak sekolah satu kali saja nonton teater, live perfomance dan bandingkan dengan nonton lewat YouTube. Itu jauh berbeda,” katanya di Sanggar Teater Koma, Selasa (29/10), melansir cnnindonesia.com.

Menurutnya, pembelajaran dan kenikmatan yang didapatkan penonton teater jauh berbeda dengan ketika pelajar menonton film di bioskop atau di kanal Youtube.

Kenikmatan tersebut karena penonton dapat merasakan langsung pengalaman pertunjukan di atas panggung. Berbeda dengan film dan Youtube yang gagasan atau konsepnya sudah diatur dan tersusun sedemikian cara.

Istri pendiri dan sutradara Teater Koma Nano Riantiarno itu memandang, kurangnya apreasiasi pelajar terhadap pertunjukan teater karena belum ada pelajaran khusus di sekolah.

Karena itu, ia menganjurkan agar para guru perlu menginformasikan dan mewajibkan peserta didiknya untuk menonton teater. Selain itu, perlu menerapkan pembelajaran teater di sekolah-sekolah seperti halnya matematika atau pelajaran lainnya.

“Mudah-mudahan sekolah-sekolah dan orangtua bisa mewajibkan anak-anaknya untuk menonton,” harapnya.

Dapat Gambaran Perkembangan Teater

Anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Rita Matu Mona pun mengungkapkan, kewajiban pelajar untuk menonton teater pada dasarnya bertujuan agar pelajar mendapat gambaran atau insight baru mengenai perkembangan teater saat ini.

Tidak hanya pelajar, para guru seni teater pun diwajibkan untuk menonton teater, agar mampu mentransfer ilmu dan pengalaman teater secara benar kepada siswa.

Dalam dua tahun belakangan Rita dipercayakan Kemendikbud menjadi pengamat tetap lomba teater SMK pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Pertama kali di provinsi Aceh dan terakhir di Lampung.

Dalam pengamatannya, ia melihat perkembangan teater di tingkat pelajar cukup baik. Namun, tampak bahwa para pelajar tidak dibekali pelajaran ilmu teater yang benar, meski di SMK ada jurusan seni teater.

“Karena guru-guru teaternya banyak yang tidak punya latar belakang teater,” katanya melalui pernyataan tertulis, Rabu (30/10).

Karena itu, gagasan untuk mewajibkan pelajar menonton teater perlu direspon secara positif oleh pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud. Sebab event semisal FLS2N merupakan ajang uji kompetensi murid.

Sutradara Sindikat Aktor Jakarta Joind Bayuwinanda pun menandaskan, gagasan mewajibkan pelajar menonton teater merupakan suatu penanda kemajuan. Karena para pelajar dapat menemukan wacana pembelajaran kehidupan lain di atas panggung.

“Menurutku itu ide brilian, karena susahnya minat masyarakat penonton terhadap seni pertunjukan teater,” katanya melalui pernyataan tertulis, Rabu (30/10).

*Daniel Deha

Baca Juga

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Nantikan Pameran Ekskursi Arsitektur UI “Orang Laut” di Museum Nasional

Portal Teater - Pada periode Juni-Juli 2019 Tim Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia telah melakukan pendokumentasian arsitektur vernakular suku asli di Lingga, Kepulauan Riau, dan...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...