Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater – Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk “membaca” identitas kota Jakarta, pematung Dolorosa Sinaga dipilih sebagai Direktur Artistik untuk merancang ‘bangunan’ program kali ini.

Sementara “ESOK: Membangun Sejarah Bersama” akan menjadi tajuk utama untuk memayungi keseluruhan mata acara yang bakal digelar pada 11 November 2020-12 Februari 2021.

Program ini terakhir diadakan tahun 2017 dengan tema “JIWA”. Pada mulanya berada di bawah payung Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Namun sejak 2015 menjadi event yang terpisah, dengan Yayasan Jakarta Biennale ditunjuk menjadi pengelola kegiatan.

Kali ini, program yang diberi nama Jakarta Biennale sejak 1975 dan telah menjadi ajang bertaraf internasional sejak 2009 ini akan dihelat di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara.

Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, akan menjadi venue utama Jakarta Biennale 2020. -Dok. satujam.com
Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, akan menjadi venue utama Jakarta Biennale 2020. -Dok. satujam.com

Tempat yang Memadai

Direktur Pasar Seni Ancol Mia Maria mengatakan, keterpilihan Pasar Seni Ancol didasarkan pada beberapa kriteria. Salah satunya adalah venue yang memadai untuk menampung karya-karya pada seniman, pelaku kreatif dan warga kota Jakarta.

“Selain itu, Pasar Seni Ancol sejatinya memiliki sejarah yang panjang dalam peta seni rupa Indonesia. Ada banyak sekali pameran penting yang pernah diadakan di tempat kami. Jadi, tentu saja kami dengan senang hati mendukung Jakarta Biennale 2020 ini,” katanya, melansir publikasi resmi Jakarta Biennale, Kamis (16/1).

Menjadikan Pasar Seni Ancol sebagai venue utama, Jakarta Biennale 2020 akan melakukan dua jalur pendekatan artistik, yakni seni rupa di ruang publik dan arsip sebagai medium artistik.

Kedua premis artistik ini akan dijabarkan menjadi beragam aktivasi yang akan mengambil lokasi pameran utama di Pasar Seni Ancol serta beberapa pameran lain di lokasi pendukung di Jakarta dan sekitarnya.

Pematung Dolorosa Jadi Direktur Artistik

Pemahat patung perempuan terkenal Indonesia Dolorosa Sinaga dipilih oleh Yayasan Jakarta Biennale sebagai Direktur Artisitk dalam event ini.

Dolorosa saat ini adalah Pengajar dan Dekan Fakultas Seni Rupa pada Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pendiri Somalaing Art Studio berbasis Jakarta Timur ini juga dikenal sebagai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Akhir pekan ini, Sabtu (18/1), perupa asal Sibolga, Sumatra Utara ini akan meluncurkan buku terbarunya: “Tubuh, Bentuk, Substansi” di Ruang Seminar, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Pematung perempuan ternama Indonesia, Dolorosa Sinaga. -Dok. harnas.co
Pematung perempuan ternama Indonesia, Dolorosa Sinaga. -Dok. harnas.co

Dalam sebuah pernyataan, Dolorosa mengatakan, seni adalah warisan manusia yang mesti dipelihara untuk masa yang akan datang. Karena itulah, kali ini, penyelenggara menggagas tema “Esok: Membangun Sejarah Bersama”.

“Jakarta Biennale 2020 memanggil suara-suara kepedulian akan isu-isu kemanusiaan, penyalahgunaan kuasa akan ekspresi seni dan budaya, kehancuran lingkungan, perampasan hak kesejahteraan dan kesetaraan gender,” katanya.

Dolorosa menandaskan, gagasan tematik Jakarta Biennale 2020 bermaksud mengkonsolidasi imajinasi dan kreativitas, tanpa takut akan ancaman akan ekspresi seni dan budaya demi keberlangsungan dan warisan kemanusiaan di masa depan.

Hal itu merespon dinamika dan perubahan sosial politik global, disrupsi digital dan isu-isu seperti keragaman, polarisasi kubu kiri-kanan, perubahan iklim dan sebagainya, yang mengemuka secara tajam di ranah perbincangan internasional.

“Hal ini diyakini akan memberi pengaruh signifikan terhadap pola interaksi masyarakat global, juga praktik seni yang menjadi bagian di dalamnya,” tutur perempuan 57 tahun itu.

Farah Wardani, yang terpilih menjadi Direktur Eksekutif menggantikan Ade Darmawan yang telah menjabatnya sejak 2013, mengatakan akan mendukung gagasan artistik yang dimunculkan Dolorosa dalam ajang ini.

“Bersama para kurator dan seniman yang dipilih, Dolorosa akan memikirkan bagaimana kontribusi Jakarta Biennale 2020 pada isu-isu kemanusiaan yang harus diperjuangkan oleh kita semua, sebagai warga dunia, untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Farah adalah pendiri Indonesian Visual Art Archive. Ia baru saja menyelesaikan masa tugasnya selama lima tahun terakhir di divisi koleksi, National Gallery Singapore.

Salah satu karya pameran pada Jakarta Biennale 2017. -Dok. nowjakarta.co.id
Salah satu karya pameran pada Jakarta Biennale 2017. -Dok. nowjakarta.co.id

“Membaca” Kota Jakarta

Jakarta Biennale menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang dapat dinikmati oleh warga Jakarta sebagai cara untuk membaca “kota”, sebuah zona/tempat yang terus bergerak dan berubah.

Kita tahu, Jakarta termasuk dalam 20 kota global dan di Asia Tenggara menjadi salah satu kota terbesar. Di era 1970-an, Jakarta bahkan pernah menjadi pusat kegiatan seni terbesar di Asia.

Kota ini memiliki cerita yang unik, begitu dinamis dan menjadi cermin sosial, politik, ekonomi dan budaya Indonesia, baik di era kontemporer maupun di masa lalu.

Pada masa kolonial, Belanda menjadikan kota ini sebagai pusat segala kegiatan imperialisme: ekonomi, politik dan perdagangan. Begitu pula, ketika merdeka, para pendiri bangsa ini menahbiskannya sebagai ibukota negara.

Di “ibu dari semua kota di Indonesia” ini, orang-orang berebut ruang dan akses terhadap sumber daya: politik, ekonomi, pendidikan, dan masa depannya.

Jakarta Biennale persis diadakan di jantung “kota diaspora” ini. Kota yang tidak hanya menjadi ulayat mereka yang secara turun-temurun hidup di tempat ini, tapi juga generasi setelahnya yang disebut sebagai imigran/transmigran (baca: warga diaspora).

Tidak seperti gagasan awalnya, pameran seni Jakarta Biennale terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak kegiatan seni dan budaya dengan melibatkan publik yang lebih luas.

Maka dalam event ini, tidak saja seniman dan pegiat kreatif yang terlibat, tapi juga warga setempat dengan segala budaya dan identitas lokalnya.

Infrastruktur canggih Kota Jakarta saat ini. -Dok. today.line.me
Infrastruktur canggih Kota Jakarta saat ini. -Dok. today.line.me

Historiografi Jakarta Biennale

Jakarta Biennale dibentuk sejak 1968 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia di Pusat Seni Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pembentukan program ini bersamaan dengan berdirinya TIM oleh Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968.

Pada 1975, nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia diubah menjadi Jakarta Biennale (seni lukis) dan kemudian menjadi Biennale Fine Arts pada 1993.

Program ini sempat paceklik ketika Indonesia memasuki masa pergolakan di akhir 1990-an. Selama periode ini, ranah seni Indonesia kehilangan standar pengukuran yang telah berlangsung selama tiga dekade sebelumnya.

Infrastruktur Taman Ismail Marzuki masakini. -Dok. vertanews.id
Infrastruktur Taman Ismail Marzuki masakini. -Dok. vertanews.id

Di tengah kesulitan akses terhadap ruang politik itulah DKJ justru ingin memantapkan kiprahnya dengan meninjau kembali progam ini agar lebih siap menghadapi tantangan yang lebih besar di masa mendatang.

Selama tahun berselang, Biennale Fine Arts akhirnya digiatkan dengan judul baru yang tampak lebih segar: Jakarta Biennale, pada 2006.

Pada 2015 acara Jakarta Biennale diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh Jakarta Biennale Foundation, setelah sebelumnya diselenggarakan oleh DKJ. Yayasan Jakarta Biennale didirikan pada Oktober 2014.*

Baca Juga

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...