Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater – Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi tersebut sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Pada Desember 2019 lalu, Koalisi Seni Indonesia (KSI) menjaring aspirasi pegiat seni mengenai Dana Perwalian Kebudayaan tersebut. Topik yang dibahas dalam penjaringan itu mencakup prioritas penyaluran dana dan mekanisme pengelolaan.

Mengutip publikasi KSI, aspirasi tersebut dijaring melalui diskusi dan kuesioner daring (online). Sebaran kuesioner tersebut berhasil menjaring lebih dari 1.700 responden.

Selain menjaring aspirasi, KSI juga menggelar diskusi di beberapa kota, antaral ian di Jakarta, Payakumbuh, dan Yogyakarta denganmenghadirkan para pemangku kepentingan di bidang seni.

Hasil jaring aspirasi (diskusi dan kuesioner daring) itu kemudian diolah dalam bentuk dokumen rekomendasi yang telah disampaikan ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini.

Dengan rekomendasi tersebut, para pegiat seni berharap alokasi dana dalam APBN 2020 dalam dikelola secara tepat guna dan menyasar perbaikan ekosistem seni Indonesia.

“Sebagai lembaga yang aktif dalam advokasi RUU Kebudayaan sejak diwacanakan pada 2014 hingga disahkan jadi UU Pemajuan Kebudayaan tahun 2017, Koalisi Seni ingin menjaring masukan publik terkait pemanfaatan Dana Perwalian Kebudayaan,” ujar Kusen Alipah, Ketua Pengurus KSI beberapa waktu lalu.

Kusen menjelaskan, adapun program-program implementasi sesuai alokasi Dana Perwalian tersebut, yakni pembinaan, pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan.

Selain itu, mekanisme akses dan penyaluran dana pun akan disesuaikan dengan karakter pegiat seni budaya.

Ditjen Kebudayaan Kemendikbud pun mengakomodasi kepentingan pelaku seni tidak hanya dengan mengalokasikan dana, tapi juga membuka kesempatan bagi para seniman untuk mengisi data kesenian melalui aplikasi http://sidesi.kemdikbud.go.id.

Aplikasi terbaru itu dimaksudkan sebagai platform yang bakal memudahkan pemerintah untuk memberikan fasilitas atau bantuan kepada komunitas/sanggar dan para pelaku seni untuk berkarya.

Untuk lebih fokus membangun kebudayaan, pemerintah pun meleburkan Dikrekorat Kesenian ke dalam satu direktorat baru bernama Direktorat Pelindungan Kebudayaan.

Menurut Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, direktorat baru tersebut akan mencakup juga pembinaan, pelindungan, dan pengembangan kegiatan seni dan pelaku seni.

Diskusi publik Pekan Kebudayaan Nasional membahas alokasi Dana Perwalian Kebudayaan menghadirkan narasumber: Agung Sentausa, Rini Widyantini, Lisistrata Lusandiana. -Dok. KSI.
Diskusi publik Pekan Kebudayaan Nasional membahas alokasi Dana Perwalian Kebudayaan menghadirkan narasumber: Agung Sentausa, Rini Widyantini, dan Lisistrata Lusandiana. -Dok. KSI.

Kerjasama dengan Ditjen Kebudayaan

Pada momentum Pekan Kebudayan Nasional yang digelar Oktober 2019, KSI bekerjasama dengan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud mengadakan diskusi publik yang menghadirkan tiga orang narasumber.

Pembicara pertama ialah Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini.

Dalam paparannya, Rini memberikan konteks tentang bentuk dan mekanisme pengelolaan lembaga pengelola Dana Perwalian Kebudayaan, serta prosedur pencairan dana dari APBN dan pertanggungjawabannya.

Narasumber kedua, yaitu Direktur Akatara Agung Sentausa. Dalam paparannya ia berbagi tentang potensi pemanfaatan dana di sektor film.

Menurutnya, rantai ekosistem perfilman belum lengkap, terutama dalam sektor edukasi, sehingga perlu diutamakan.

Selain itu, film juga perli diposisikan bukan hanya sebagai karya seni yang berdiri sendiri, tapi juga medium memajukan dan mengkampanyekan objek-objek kebudayaan lainnya.

Karena itu, ia meminta agar dalam lembaga pengelola dana tersebut, ada wakil seluruh pemangku perfilman, termasuk perwakilan sektor digital.

Hadir pula Lisistrata Lusandiana, Direktur Indonesian Visual Art Archive, sebagai pembicara ketiga.

Menurut Lisistrata, untuk membangun model pengelolaan dana perwalian kebudayaan yang tepat sasaran, tidak perlu terburu-buru membatasi definisi budaya pendokumentasian atau pengarsipan, termasuk juga membuat upaya penyeragaman atau standarisasi.

Ia meminta agar pemerintah dan KSI juga perlu berhati-hati tidak terjebak pada model pendokumentasian yang ekstraktif, yakni mencerabut transformasi pengetahuan dari masyarakat dan tanahnya.

Merujuk pada pasal 47 UU Pemajuan Kebudayaan soal pendanaan pemajuan kebudayaan didasarkan atas pertimbangan investasi, Lisistrata pun menyarankan agar diperjelas konteks investasi yang dimaksud dalam pasal tersebut.

Sebab dalam pandangannya, investasi yang dimaksudkan itu bukan investasi ekonomi dan bisnis, tapi lebih merupakan investasi historis, ekologis, dan sosial.

Menyerap pelbagai gagasan dan masukan yang ada, diharapkan Dana Perwalian yang cukup besar ini dapat dialokasikan sesuai porsi kebutuhan prioritas secara tepat guna.*

Baca Juga

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

HUT Ke-46 Teater Keliling: Bermula di TIM Jakarta

Portal Teater - Empat puluh enam tahun lalu, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada sebuah rumah yang merupakan perumahan penjaga Kebun Binatang Raden...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...