Penabur International Choir Festival Perkuat Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater – Sekolah, atau lembaga pendidikan, merupakan salah satu variabel penting dalam kerangka pembentukan ekosistem kesenian di sebuah kota, dalam hal ini Jakarta.

Dalam tataran ini ekosistem lebih dilihat sebagai mata rantai produksi dan distribusi antar lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, termasuk seni, pendidikan, pemerintah, pasar, dll.

Sebagai elemen pokok dalam ekosistem internal kota, maka lembaga pendidikan punya peran signifikan dalam upaya membentuk gagasan kesenian, bukan hanya berorientasi memproduksi karya kesenian, tapi juga menciptakan kerangka ekosistem.

Sebab ekosistem seni juga berada dalam bayang-bayang ketiga lembaga dominan ini: lembaga pemerintah, pasar dan lembaga pendidikan (sekolah/kampus). Dengan itu, ekosistem seni yang terbentuk pada sebuah lembaga pendidikan, turut berkontribusi dalam penciptaan gagasan kesenian sebuah kota, termasuk Jakarta.

Badan Pendidikan Kristen PENABUR atau yang dikenal dengan BPK PENABUR sebagai lembaga pendidikan Kristen di bawah naungan dari Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat sadar betul akan hal itu.

Untuk membentuk ekosistem seni kota, lembaga pendidikan ini menggagas sebuah festival paduan suara internasional yang disebut dengan PENABUR International Choir Festival (PICF). Gagasan ini telah dimulai sejak tahun 2013 dan telah berlangsung selama empat kali, masing-masing pada 2013, 2015, 2017 dan 2019.

Pada tahun ini festival yang melibatkan peserta paduan suara lintas jenjang sekolah (SD, SMP, SMA dan Umum) itu dilaksanakan pada 3-7 September 2019 di SPK PENABUR dan Graha Gepembri, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Selama empat kali perhelatan, festival dua tahunan ini mendapat sambutan luar biasa, baik oleh pemerintah, lembaga pendidikan, industri, media, dan masyarakat Indonesia.

Di  tahun keenamnya, PICF mengangkat tema “Harmony In Music for Indonesia”, untuk membawa semangat harmonisasi kepada peserta didik, terutama harmonisai bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Termasuk, upaya pembentukan karakter peserta didik dalam menghadapi era disrupsi di bidang musik, misalnya disiplin, bertanggung jawab, percaya diri, dan kemampuan mendengar.

Diikuti Lima Negara

PICF 2019 menghadirkan 152 tim paduan suara yang berasal dari lima negara, yakni: Indonesia, Malaysia, Filipina, Jepang dan Vietnam. Total, ajang ini melibatkan sekitar 6.161 penyanyi.

Dari Indonesia, tercatat ada 14 Provinsi yang menjadi partisipan, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua.

Secara terperinci, PICF 2019 terbagi ke dalam 11 kategori kompetisi, yaitu 4 kategori utama sesuai jenjang sekolah Kindergarten (10 peserta) , Primary School (21 peserta), Junior High School (17 peserta), dan Senior High School (20 peserta).

Sementara untuk kategori umum, antara lain: Children Choir (16 peserta), Mixed Youth Choir (14 peserta), Mixed Choir (15 peserta), Folklore (31 peserta), Gospel & Spiritual (11 peserta), Musica Sacra (24 peserta) dan Chamber Choir (8 peserta).

Hadirkan Juri Mancanegara

Untuk memperluas jejaring kerja kesenian pada skala global, PICF 2019 menghadirkan 10 tim juri dari manca negara dan juga 2 juri lokal. Dua orang juri dari Indonesia, yakni Herman Sinapa dan Aris Sudibyo.

Tim juri PICF dari luar negeri, antara lain Aivis Greters (Latvia), Tom T. Shelton. Jr (USA), Bengt Ollen (Swedia), Johnny Ku (Taiwan), Foong Hak Luen (Singapura), John A. Pamintuan (Filipina), Ko Matsushita (Jepang), Innesa Bodyako (Belarus), Dr. Bienvenido (Filipina), dan Soundarie David R. (Sri Lanka).

Sementara Artistic Director dipegang oleh Aida Swenson Simanjuntak, pendiri dan pemimpin Paduan Suara Anak Indonesia (PSAI), yang juga adalah alumni dari SMAK 1 Penabur Jakarta. Aida juga memiliki perjalanan karir soal paduan suara, di antaranya adalah penemu dan dirijen untuk Indonesian Children’s &Youth Choirs Cordana.

Di sisi lain, untuk meningkatkan kualitas paduan suara di Indonesia, PICF 2019 memfasilitasi ragam kegiatan lain, selain pentas paduan suara, yaitu Workshop, Choir Clinic dan Meet the Juries (yang dipimpin langsung oleh beberapa juri), Friendship Concert, Sunday Service, Outreach Concert.

BPK Penabur Jakarta juga bekerjasama dengan Yamuger menyelenggarakan Special Concert Kamer Youth Choir, Rabu (4/9) di Graha Gepemri, Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Jumat (6/9) di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran, Jakarta Utara.

Diapresiasi Pemerintah

Kepala Sub Direktorat Kelembagaan dan Kemitraan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Maryana mengapresiasi upaya yang dilakukan pihak BPK Penabur yang secara berkelanjutan melaksanakan festival paduan suara, bagian dari produksi gagasan kesenian.

“Kita mengapresiasi dilakukannya festival paduan suara ini. Semoga para peserta paduan suara dari Indonesia bisa membawa nama harum bangsa kita di pagelaran even ini,” katanya, Rabu (4/9).

Maryana juga mengapresiasi pola didikan dari BPK Penabur yang mendorong penguatan karakter mau berkolaborasi, berkomunikasi, kritis dan kreatif sebagai salah satu pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia unggul demi masa depan bangsa lebih maju.

Ia berharap, PICF dapat menjadi ajang pencarian bakat terbaik dari anak-anak Indonesia agar bisa berprestasi dan eksis di panggung internasional.

Lebih dari itu, ajang tersebut dapat menjadi platform di mana signifikansi peran lembaga pendidikan dalam membentuk ekosistem kesenian yang berkelanjutan menjadi lebih kuat.

Sumber berita: Republika.co.id, CNNIndonesia.com, RRI.co.id, Scholae.co, BPK Penabur Jakarta.

*Daniel Deha

Baca Juga

Teater Lorong Yunior Eksplorasi Kreativitas Anak Lewat Lakon “Sang Juara”

Portal Teater - Teater Lorong Yunior  mengeksplorasi kreativitas anak-anak lewat pementasan drama musikal "Sang Juara" pada Minggu (19/1) di Gedung Kesenian Jakarta. Lakon ini mengangkat...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...