Penonton Anak-Anak KSS Miss Tjitjih Menjadi ‘Pembeda’

Portal Teater – Bersetia mementaskan teater tradisi bergenre horor komedi selama puluhan tahun (sejak 1928) telah menjadi karakter sekaligus identitas Kelompok Sandiwara Sunda (KSS) Miss Tjtijih Jakarta.

Terakhir, komunitas teater berbasis Jakarta Pusat itu memainkan “Kuntilanak Waru Doyong”, lakon yang menjadi ‘produk andalan’-nya selama beberapa dekade, pada Sabtu (8/2) malam.

Sutradara KSS Miss Tjitjih Imas Darsih pernah mengatakan, jika tidak memainkan lakon-lakon horor komedi maka itu bukan Miss Tjtijih. Karena, kedua entitas ini sudah menyatu, padu, dan seperti memiliki keterkaitan yang simultan.

Bekerja secara simultan tidak hanya terjadi secara intrinsik, tapi kemudian juga terhubung dengan entitas ekstrinsik, terutama dengan penontonnya.

Di mana, mayoritas penonton komunitas teater yang sudah berusia 92 tahun ini sudah loyal, seolah memiliki keterkaitan sejarah dan emosi dengan KSS Miss Tjitjih.

Pada pertunjukan pembuka Pentas Bintang 2020, akhir pekan lalu, ratusan penggemar KSS Miss Tjitjih dengan antusias memadati tribun penonton dan menanti para aktor idamannya bermain di panggung Gedung Kesenian Miss Tjitjih.

Di antara orang-orang tua dan dewasa, anak-anak adalah yang paling membludak menonton pertunjukan yang mengisahkan protagonis Rukiah yang meninggal bunuh diri karena perlakuan buruk keluarga tirinya itu.

Imas Darsih beberapa waktu lalu mengatakan, penonton KSS Miss Tjitjih sudah bersifat turun-temurun. Dari kakek-nenek menurun ke orangtua, lalu ke anak-anak mereka.

Sri Marita Handayani (17 tahun) dan Alda Rizky Adella (18 tahun) adalah dua di antara ratusan penonton anak-anak itu.

Pelajar Kelas XII SMK Hangtuah Jakarta Pusat itu mengaku sudah menonton pementasan Miss Tjitjih sejak SD. Sri Marita, atau akrab disapa Noni, menuturkan, bahkan sejak SD Kelas 1 ia menonton karya-karya Miss Tjitjih.

Namun ketika memasuki usia remaja (SMP-SMA) ia mulai jarang menonton kelompok sandiwara yang mula-mula didirikan oleh Sayyed Abu Bakar Bafaqih, pemilik kelompok sandiwara Keliling atau Komedie Stamboel itu.

Noni mengaku begitu terhibur dan cukup menikmati persembahan KSS Miss Tjitjih, meski sebagai remaja generasi milenial, ia sudah mulai cukup akrab dengan kemutakhiran teknologi masakini.

Intens menonton pertunjukan KSS Miss Tjitjih, Noni bahkan pernah menyaksikan para artis terkenal di panggung Miss Tjitjih, antara lain Dewi Persik, Master Limbad, Cherybelle, SMASH, XI-XO, dan beberapa lainnya.

Para artis itu, kata Noni, datang bukan untuk mementaskan karya, tapi lebih sebagai penggemar yang ikut menonton pertunjukan KSS Miss Tjitjih.

Pementasan "Kuntilanak Waru Doyong" oleh KSS Miss Tjitjih di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (8/2) malam. -Dok. portalteater.com
Pementasan “Kuntilanak Waru Doyong” oleh KSS Miss Tjitjih di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (8/2) malam. -Dok. portalteater.com

Anak-Anak sebagai ‘Pembeda’

Sebuah pemandangan yang menjadi ‘pembeda’ dalam pertunjukan ini adalah kehadiran anak-anak. Tiket pertunjukan gratis tidak serta merta menjadi ‘alasan’ yang menggerakkan anak-anak ini datang menonton teater.

Namun ada dua hal yang timbul dari pemandangan ini. Pertama, mereka telah memiliki keterhubungan baik secara emosional maupun mental dengan KSS Miss Tjitjih.

Energi positif yang mendorong mereka untuk setia menonton pertunjukan Miss Tjitjih tidak lagi atas desakan orangtua atau melihat orangtua mereka.

Tapi lebih didasarkan pada kesadaran mental bahwa mereka memiliki hubungan langsung dengan cerita-cerita dalam pertunjukan Miss Tjitjih.

Hubungan ini tidak bersifat mekanistik yang terkait dengan narasi atau properti pertunjukan yang menarik atau menyeramkan, tapi lebih bersifat kultural, di mana mereka telah mengidentifikasi diri mereka ke dalam identitas KSS Miss Tjitjih sendiri.

Diketahui, sejak pendiriannya, KSS Miss Tjitjih selalu memainkan cerita-cerita yang hidup dalam kebudayaan Sunda di Jawa Barat, mulai dari teater, karawitan, babad kerajaan, persilatan dan masih banyak kekayaan budaya Sunda lainnya.

Keberhasilan proses indetifikasi identitas kultural inilah yang membangkitkan antusiasme anak-anak, yang secara turun-temurun bersetia menonton Miss Tjitjih.

Arwah Rukiah mendatangi ibu tirinya. Pementasan "Kuntilanak Waru Doyong" oleh KSS Miss Tjitjih, Sabtu (8/2) malam. -Dok. portalteater.com
Arwah Rukiah mendatangi ibu tirinya. Pementasan “Kuntilanak Waru Doyong” oleh KSS Miss Tjitjih, Sabtu (8/2) malam. -Dok. portalteater.com

Hal lain yang dapat ditangkap dari fenomena ini adalah ‘penolakan’ anak-anak terhadap karya-karya kontemporer yang dianggap masih terlalu ‘jauh’ dari jangkauan mereka.

Tidak berarti mengkerdilkan wawasan anak-anak ini untuk menerima kebaruan atau kemutakhiran, mereka tampaknya masih ‘nyaman’ dan ‘terjangkau’ mencerna karya-karya tradisional. Karena hal itu masih akrab, baik di lingkungan maupun pengetahuan mereka sehari-hari.

Karya-karya tradisional tidak melulu bersifat mistis atau takhayul, sebagaimana menjadi agenda produksi Miss Tjitjih, namun teater sebagai ‘panggung sandiwara’ atau ‘drama’, memantulkan kenyataan lain yang dapat ditangkap anak-anak sebagai nilai atau keyakinan tentang diri dan hidup mereka.

Penolakan itu juga tidak bersifat radikal, tapi dapat didamaikan melalui proses pembelajaran yang baik di lingkungan sekolah, misalnya.

Mendekatkan anak-anak dengan nilai-nilai kultural di lingkungannya tidak berarti menolak kedatangan ilmu pengetahuan modern.

Karena itu, fenomena penonton anak-anak dalam pertunjukan ini memantulkan satu bayangan lain, yaitu perihal bagaimana pendidikan semestinya mengimplementasikan atau memberdayakan ekosistem lokal yang lebih ‘dekat’ dengan anak-anak.

Selain itu, membludaknya anak-anak pada setiap pementasan KSS Miss Tjitjih memperlihatkan kenyataan bahwa pada dasarnya anak-anak (termasuk pelajar) kita masih cukup mencintai dan menyukai karya-karya tradisional.

Hal ini berbeda dengan pertunjukan musik atau teater kontemporer yang banyak digandrungi kaum milenial atau orang dewasa muda. Pada beberapa event di Jakarta, perbedaan ini cukup mencolok dan nyata.*

Baca Juga

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Adaptasi Game Mobil Legend, Teater Alamat dan Teater Binaan Garap “Pertarungan Takdir”

Portal Teater - Teater Alamat berkolaborasi dengan teater binaannya, yaitu Teater Batara dan Teater Balang, akan mempersembahkan garapan terbaru untuk dipanggungkan perdana tahun ini...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...