Pentaskan ‘Celeng Oleng’, ‘Indonesia Kita’ Bangun Semangat Multikultural

Portal Teater – Akhir pekan ini Indonesia Kita akan menyajikan sebuah pertunjukan mengagumkan yang agaknya sangat relevan dengan kondisi kekinian masyarakat dan bangsa kita. Pertunjukan ke-32 program Indonesia Kita itu bernama “Celeng Oleng”.

Disutradarai oleh Agus Noor, lakon ini merefleksikan tentang bagaimana kebudayaan sejatinya memuliakan kemanusiaan kita dan menumbuhkan semangat multikulturalisme, meski konflik sosial politik sering mendera atau menghancurkan jati diri ke-Indonesia-an kita.

Hari ini, Indonesia dipenuhi berbagai persoalan, termasuk perpecahan akibat pilihan politik. Maka merawat semangat ke-Indonesia-an menjadi sesuatu yang harus secara terus-menerus diupayakan. Dan pementasan ini merupakan ikhtiar ke arah tersebut melalui jalan kesenian.

Penggagas Indonesia Kita Butet Kartaredjasa mengatakan, petunjukan ini sangat relevan karena dapat menumbuhkan kembali kepekaan kemanusiaan kita sebagai bangsa yang beragam dan menjunjung tinggi semangat multikultural.

“Ketika jalan kemanusiaan direfleksikan melalui pertunjukan Indonesia Kita, maka semakin terasa relevan untuk mengajak, menemukan dan menumbuhkan kembali kepekaan, kesadaran dan kemanusiaan kita,” katanya.

Menurut sang seniman dan budayawan senior, seni pertunjukan sering diibaratkan seperti oase di tengah kegersangan. Karena itu, Indonesia Kita menghadirkan seni di antara masyarakat yang melampaui sekat dan batas-batas suku, agama dan orientasi politik.

Direktur Kreatif Indonesia Kita Agus Noor pun menandaskan, di tengah tensi politik Indonesia yang panas bersamaan dengan perhelatan pemilihan umum, kerapkali sebagai bangsa yang plural, kita lupa akan identitas kebangsaan kita sendiri.

Karena itu, seni dapat menjadi wadah yang menghangatkan temperatur politik tersebut.

“Seni merupakan refleksi kompleksitas manusia dengan beragam dimensi. Kesadaran ini menjadi dasar untuk mengolah gagasan-gagasan kreatif dalam menciptakan pertunjukan Indonesia Kita sepanjang tahun 2019 di mana kita semua berada di antara gegap gempita peristiwa politik, namun kebudayaan mengingatkan kita untuk memuliakan kemanusiaan,” tuturnya.

Lakon ini akan dipentaskan dua kali, yaitu pada Jumat-Sabtu, 5-6 Juli 2019, di di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, masing-masing pada setiap pukul 20.00 WIB.

Cak Lontong, komedian Indonesia, akan tampil sebagai pemain. Sang komedian jenius itu akan bermain bersama dengan Akbar, Marwoto, Boris Bokir Manullang, Wisben, Joned, Meri Sinaga, OBAMA [Orang Batak Marlawak], Sri Krishna Encik, Sruti Respati, Christina Panjaitan, Febriati Nadira, Flora Simatupang dan Andy Eswe.

Pementasan ini memilih tema: “Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan”. Tema ini merupakan benang merah dari pentas-pentas yang diselenggarakan di sepanjang tahun 2019 karena menyadari pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman dalam kehidupan sosial.

Lakon Celeng Oleng

Celeng merupakan sebutan untuk seekor babi hutan yang liar, besar dan bAertaring. Dalam banyak kisah, Celeng sering digambarkan sebagai hewan yang menakutkan dan mistis.

Dalam lakon ini, Celeng menjadi pembicaraan dan kecemasan orang-orang kampung, sehingga sebutannya menjadi ‘Celeng Oleng’. Dengus nafasnya membuat udara menjadi panas dan mengundang hawa tegang. Orang-orang saling curiga dan mudah terpancing permusuhan.

Di suatu wilayah, ada dua kampung dengan latar tradisi, sejarah dan karakter yang berbeda. Satu kampung dihuni orang Batak dan kampung lainnya dihuni orang Jawa. Warga kedua kampung ini bersikap saling bermusuhan dan ketakutan dengan adanya Celeng Oleng.

Konon, diceritakan Celeng Oleng mampu menghisap darah dan nyawa manusia. Bisa mencuri tanpa tertangkap karena uang dan bermacam-macam barang bisa tiba-tiba lenyap.

Banyak kejadian aneh di wilayah dua kampung itu. Warganya saling curiga, “Jangan-jangan ada yang sengaja melepas celeng untuk menakuti penduduk dan membuat kacau?”

Ketika ada yang bermaksud baik mau menangkap Celeng Oleng, malah dituduh sebagai pemilik mahluk yang mengerikan itu. Ketika ada yang bermaksud mendamaikan kedua kampung yang bermusuhan itu, malah dianggap pencitraan karena ingin berkuasa.

Situasi kampung bertambah genting dengan adanya rencana penggusuran. Tawuran antar kampung sudah siap meledak, terutama karena dua perempuan dari dua kampung itu mendadak hilang. Apa sebenarnya yang terjadi?

Benarkah dua perempuan itu hilang karena digondol Celeng Oleng? Dengan sosok yang misterius dan menegangkan, apakah warga kampung memang sudah pernah benar-benar melihat wujud Celeng Oleng?

Pada titik itulah, lakon ini ingin mengajak publik untuk merenungkan semangat multikultural kebangsaan, yang agaknya mulai pudar diterpa konflik dan perpecahan politik, di mana satu kubu tidak pernah menemukan titik persinggungan gagasan dengan kubu yang lain; tiap-tiap kubu ingin menang sendiri.

Indonesia Kita

Indonesia Kita mulai menggelar pertunjukan sejak tahun 2011, dan sejak itulah pentas-pentas yang diadakan menjadi “laboratorium kreatif” bagi berbagai seniman, baik lintas bidang, lintas kultural dan lintas generasi. Dari satu pentas ke pentas lainnya, pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah ikhtiar untuk semakin memahami bagaimana proses “menjadi Indonesia”.

Indonesia Kita telah menjadi sebuah forum seni budaya yang bersifat terbuka, yang mempercayai jalan seni dan kebudayaan sebagai jalan yang sangat penting untuk mendukung ‘proses menjadi Indonesia’.

Ketika Indonesia nampaknya rentan dan penuh berbagai persoalan, maka merawat semangat ke-Indonesia-an menjadi sesuatu yang harus secara terus-menerus diupayakan.

Indonesia Kita secara berkala dan rutin diselenggarkan. Butet Kartaredjasa menyebut program-program Indonesia Kita sebagai “ibadah kebudayaan”, yakni semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...