Pentingnya Kemampuan Mendengar di Era Reformasi

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Setelah kita membicarakan kemampuan membaca, maka aspek literasi yang sangat diperlukan pada tahap selanjutnya adalah kemampuan mendengar.

Karena sepanjang hidup saya bergelut di dunia seni teater maka hampir setiap kegiatan selalu berhubungan dengan kacamata seorang seniman teater, termasuk dalam hal “mendengar”.

Sebagai manusia normal (maaf bagi yang kurang beruntung), kita dianugerahi sepasang telinga pada bagian kiri dan kanan kepala.

Ada yang dinamakan “daun telinga” yang bagi saya mungkin menjadi semacam papan untuk menahan suara yang lewat agar masuk ke telinga.

Selanjutnya, otak akan menyaring rangsangan itu untuk dicermati, dipikirkan, direspons atau mungkin dilewatkan begitu saja.

Maka sering kita mendengar istilah “masuk telinga kiri keluar telinga kanan” untuk mereka yang tidak peduli pada rangsangan itu.

Para siswa SMAN 59 Jakarta mengadakan latihan mendengar. -Dok. Sesarina/Teater Keliling.
Para siswa SMAN 59 Jakarta mengadakan latihan mendengar. -Dok. Sesarina/Teater Keliling.

Pendengaran yang Unggul

Dalam studi seni acting pasti akan mendapat pelatihan agar aktor memiliki daya dengar yang unggul.

Aktor memiliki kelebihan dari rata-rata manusia pada umumnya karena memiliki daya dengar yang lebih.

Aktor perlu mampu mendengar dalam waktu bersamaan dialog lawan main, bunyi musik ilustrasi, suara respons penonton dan suara hatinya sendiri.

Bahkan seniman dituntut lebih njlimet lagi sampai mendengar tiupan angin yang lewat.

Suara langkah kaki lawan main beserta suara-suara lain yang timbul dari gerak tubuh lawan maupun dirinya sendiri.

Seperti halnya kemampuan membaca maka dalam hal mendengar juga memiliki pengertian yang luas.

Tentu tidak berhenti hanya sebagai kata, namun mampu menjelaskan suasana mendengar yang sedang dilakukan.

Mendengar ekspresi marah, sedih, gembira dari perannya sendiri serta dari peran lawannya.

Dengan memiliki daya mendengar yang benar maka akan memunculkan respons yang tepat sehingga tercipta sebuah permainan seni acting yang komunikatif.

Perlu Latihan

Untuk mencapai kemampuan mendengar yang prima tentu saja dibutuhkan pelatihan intensif dalam waktu yang lama.

Yang saya anjurkan pada peserta latihan teater di Teater Keliling ataupun di sekolah-sekolah adalah sejak bangun pagi ketika telinga sudah mampu dengar, maka dengarkan apapun yang ada di sekitar.

Selanjutnya dalam kegiatan seharian berusaha selalu mendengar apapun. Suara air ketika mandi, sabunan, handukan, sarapan pagi, perjalanan ada suara kendaraan.

Atau ketika berada di tempat kerja hingga jam istirahat dan kerja lagi hingga perjalanan pulang dan rehat sampai tidur.

Berapa banyak suara sudah didengar dan mampukah mengingatnya kembali? Yang berat adalah ketika harus menahan diri ketika ada yang bicara.

Umumnya kita tidak bisa menahan diam tapi mau langsung jawab saja bahkan akhirnya kita yang lebih banyak ngoceh. Bahkan alur pembicaraan kita terlepas dari inti pembicaraan lawan.

Orang yang memiliki daya dengar yang prima akan kuat juga daya ingatnya. Ketika mendengar dengan serius penuh perhatian maka apa yang didengar akan tersimpan rapi dalam bawah sadar dan suatu saat dibutuhkan akan keluar secara utuh.

Banyak sekali kejadian yang cukup meresahkan ketika melihat orang berdebat tapi sebenarnya tidak nyambung.

Akhirnya, yang terlihat dan terdengar hanyalah orang-orang yang bicara dari pikirannya sendiri untuk mencari pembenaran diri.

Hal ini terjadi karena lemahnya kemampuan mendengar.

Para siswa SMAN 92 Jakarta mengadakan latihan mendengar. -Dok. Sesarina/Teater Keliling.
Para siswa SMAN 92 Jakarta mengadakan latihan mendengar. -Dok. Sesarina/Teater Keliling.

Memprihatinkan jika kelemahan dasar ini sering terlihat dari debat di medsos dalam menyikapi ucapan seorang pejabat, misalnya.

Pembicaraan melebar kemana-mana sesuai maunya pikiran sendiri bahkan yang muncul atas dasar suka dan tidak suka dengan manusianya, bukan setuju atau tidak setuju dengan pendapatnya.

Seharusnya mendengar orang bicara, ya bukan hanya ambil potongan-potongan kata atau kalimat yang kemudian dipakai untuk menyerang lawan bicara.

Padahal potongan kata atau kalimat jika secara keseluruhan yang diucapkan didengar saksama maka pengertiannya tidak seperti jika hanya kalimat sepotong saja.

Akhirya yang terjadi seperti “debat kusir”. Saya kurang tahu juga istilah debat kusir ini berawal darimana, tapi kusir pasti bekerja selalu dengan waspada, penuh kehati-hatian dan perhatian terhadap lingkungan di mana dia mengendalikan kendaraannya.

Kita juga bisa memperhatikan acara talkshow di televisi swasta maupun negara di negeri kita.

Karena dibatasi oleh waktu, seringkali pertanyaan belum selesai dijawab narasumber, host sudah dipotong dan berlanjut ke pertanyaan selanjutnya.

Saya kurang tahu apakah ada riset mengenai hal ini untuk mencari perbaikan-perbaikannya bagi acara selanjutnya; paling tidak untuk meminimalisir agar tidak ada yang dirugikan, terutama penonton.

Perlunya host bukan sekedar bertanya sesuai yang sudah dibuat oleh redaktur. Lebih kesal bila terlihat host tidak mendengar jawaban dan sibuk menyiapkan pertanyaan selanjutnya.

Lagi-lagi kemampuan mendengar sangat diperlukan dalam kegiatan pembicaraan yang bukan monolog.

Seperti halnya pelatihan di teater bahwa pemain diajar mampu mendengar lawan main, maka sutradara pun juga harus memiliki kemampuan mendengar pemain-pemainnya bicara, bergerak, inner action-nya, atau perasaan-perasaannya.

Jadilah kita semua terlatih bukan hanya mendengar tapi saling mendengar. Inilah problem yang sangat mendasar yang saya perhatikan sedang hidup di negeri tercinta ini.

Selama 30 tahun (masa pemerintah Orde Baru) bangsa ini terdidik hanya untuk mendengar ke atas atau ke satu arah saja.

Maka ketika bebas dari cengkeraman tersebut dan mendapatkan kebebasan di era Reformasi, kita justru tidak memiliki kemampuan mendengar yang baik. Setiap orang mau berbicara.

Karena itu, sebagai kesimpulan, pendidikan literasi memang harus dipadatkan melalui sekolah. Namun pertanyaannya, sudah siapkah para guru untuk melaksanakan gerakan tersebut.

Jika kita tidak memiliki guru literasi murni, sudah semestinya para guru mata pelajaran apapun memiliki tingkat literasi yang baik sehingga karena memiliki daya untuk menggerakkan peserta didik.*

*Rudolf Puspa adalah pemerhati senior teater, juga adalah pendiri dan sutradara Teater Keliling, Jakarta.

Baca Juga

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...