Perkuat Ekosistem Kampus, SENTRA Pentaskan “Hamlet” di TIM Jakarta

Portal Teater – Di tengah target masuk ke ranking 400 dunia dalam kategori QS World University Ranking, Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta memperkuat ekosistem kampusnya dengan mengembangkan, tidak hanya kapasitas teoretik mahasiswa, melainkan juga pengalaman dan jejaring.

“Jadi begitu masuk dunia profesi, tidak hanya mengandalkan akademi tapi apa yang termasuk ke dalam kecerdasan emosional,” kata Prof. Agustinus Purna Irawan, Rektor Untar, Minggu (6/10) lalu, melansir antaranews.com.

Salah satu upaya pengembangan ekosistem kampus tersebut adalah dengan memperdalam kemampuan mahasiswa melalui pengalaman berkesenian.

Seni Teater Tarumanegara, disingkat menjadi SENTRA, adalah salah satu wahana pedagogik yang berusaha menampung aspirasi seni mahasiswa agar memiliki pengalaman berteater. Tidak hanya menjadi aktor, tapi juga menjadi bagian dari manajemen produksi.

SENTRA, sebagai rumah produksi teater kampus Untar, dalam perjalanannnya telah memproduksi 23 karya/naskah teater. Ini menunjukkan sebuah pertumbuhan yang luar biasa.

Salah satu pemain teater SENTRA Ravina Saraswaty mengungkapkan, dalam setahun SENTRA setidaknya memproduksi tiga buah karya. Dua karya dipentaskan di internal kampus, sedangkan satu karya lainnya di pentaskan di luar kampus.

“Biasanya SENTRA tampil di Gedung Graha Swara Untar itu dua kali dalam setahun, dan satu lagi yaitu pentas besar yang diadakan di luar Untar. Biasa untuk pentas besar kita selama ini mainnya di TIM (Taman Ismail Marzuki, red),” katanya melalui pernyatan tertulis, Kamis (31/10).

Produksi ke-23 SENTRA tahun ini akan dipentaskan di Teater Kecil, TIM Jakarta, pada Sabtu (2/11) bertajuk “HAMLET”. Pentas ini disutradarai Theo Layarda dan akan dipentaskan dua kali: show 1 pada pukul 13.00 WIB dan show 2 pada pukul 19.00 WIB.

Ravina menuturkan, sebelumnya SENTRA mementaskan “The Lost Child” sebagai produksi ke-22 pada 17 dan 19 Mei 2019 di Gedung Graha Swara Untar. Pentas ini berupa drama musikal.

Tahun lalu, SENTRA pentaskan naskah “Mustika Perkasa” sebagai pentas inagurasi anggota baru pada 23 dan 24 November 2018. Ini merupakan produksi ke-21 SENTRA.

Pada venue pementasan di TIM, sudah ada beberapa naskah yang dipentaskan SENTRA, antara lain: “Perkawinan” (produksi ke-14 tahun 2016), “Dokter Gadungan” (produksi ke-17 tahun 2017), “Loyal” (produksi ke-20 tahun 2018).

“Dan yang sekarang Hamlet,” terang Ravina yang nanti akan memerankan Ophelia.

Pentas "HAMLET" oleh Seni Teater Tarumanegara. -Dok. pikdo.net.
Pentas “HAMLET” oleh Seni Teater Tarumanegara. -Dok. pikdo.net.

Sinopsis Karya

Hamlet, seorang pangeran dari sebuah kerajaan di kota Elsinore, Denmark, baru saja ditinggal mati oleh ayahnya  yang merupakan seorang raja dikerajaan itu.

Claudius, paman Hamlet yang juga menjadi raja baru kerajaan Elsinore, menikahi ibu Hamlet, Getrude, dan menjadi ayah baru pangeran Hamlet.

Setelah meninggalnya raja terdahulu, suasana kerajaan terbalut rasa kelam dan suram; mengetahui ternyata arwah sang raja menghantui istananya.

Dengan mengetahui sebuah rahasia dari arwah sang raja, Hamlet langsung membuat segala rencana untuk membalas dendam arwah ayahnya.

Ia bersumpah demi rumput dan angin akan membalas kematian ayahnya dengan segala cara meskipun akhirnya harus dibayar dengan bayaran yang mahal dan mengorbankan banyak hal, termasuk cintanya kepada gadis yang dicintainya, Ophelia.

Apakah Hamlet berhasil membalaskan dendam ayahnya? Atau Hamlet akan menyerah dan kembali hidup dengan tenang bersama keluarga barunya di kerajaan?

Para Pemain

Berikut para pemain “Hamlet” oleh SENTRA:

  • Raja: Farhan Hesadwiya Abdillah
  • Ratu: Nurul Indah Saraswati
  • Hamlet: Yohanes Agustino
  • Laertes: Alfan Franklyn
  • Polonius: Lorenzo Adiel
  • Ophelia: Ravina Saraswaty
  • Horatio: Elvindo
  • Arwah: Septian Chandra
  • Rose: Erika Tanuwijaya
  • Guild: Annisa Azzahra Purnamasari
  • Marcellus: Vincent Stanley
  • Barnardo: Ruth Stefani
  • Fransisco: Stefani Elsa

Aktor dan penari:

  •  Raja: William Kristianto
  • Hamlet Senior: Stanley Chua
  • Ratu: Vanessa Violeta
  • Rakyat dan Penari: Monica Triputri, Caroline, Rani Febriyani, Danar, Iren Stefani

Tim Produksi

  • Ketua pelaksana: William Kristianto
  • Wakil ketua pelaksana: Michelle Valensia
  • Sekretaris: Vanessa Violetta
  • Bendahara: Ruth Stephanie
  • Acara dan lapangan: Ricky Sanjaya, Ayunda, Triongko Agatha, Vanessa Stefani, Benedictus Bio
  • Dana: Grace Virya Salim, Alida Danar Saputra, Caroline Stevanie, Revika Averamita, Priscilla Gita, Ruth Stephanie, Stephanie Elsa
  • Sponsor: Ana Theresa, Lioni
  • Hubungan Masyarakat: Cici Parwati, Lorenzo Adiel, Riza Permata, Merry Ningtias, Michaela Felicia
  • Desain & Dokumentasi: Agnes Tasya, Yuliana Nyotan, V. Stanley
  • Properti: Septian chandra, Anzhar Jumsar
  • Kostum: Annisa azzahra Purnamasari, Caroline Stefanie, Monica Tri Putri
  • Musik: Rangga Pranendra, Louis, Nanta Farhan, Hansen, Grace Kartika, Ognin Situmeang
  • Make Up: Aisyah Nurani (Cha Cha), Grace Virya Salim, Madeline Nathania, Michaela Felicia, Esther Pascalia
  • Ticketing: Michelle Yurika, Michelle Gracia, Gabriella Anniza Suhendro, Aisyah Nurrani
  • Konsumsi: Monica Tri Putri, Felix Putra, Nurul Indah Saraswati
  • Transport: Stanley Chua

Tentang Teater Kampus

Anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Adinda Luthvianti mengapresiasi kinerja teater di lingkungan kampus, khususnya di Jakarta, yang saat ini tengah bertumbuh.

Meski begitu, ia menilai, teater kampus saat ini belum menunjukkan kekhasan/keunikan dan perbedaan yang mencolok dengan teater komunitas atau sanggar teater.

Karena itu, pegiat seni di Galerikertas Studiohanafi ini mengajurkan agar teater kampus dapat melakukan riset teks di kampus bersangkutan atau membuat kajian akademik terkait seni pertunjukan.

Ini yang sedikit membedakan antara teater kampus umum dengan teater kampus seni yang ada jurusan seni pertunjukan atau teater.

“Sudah tumbuh, tapi belum memiliki khas/keunikan/perbedaan dengan grup teater komunits atau sanggar teater,” katanya melalui pernyataan tertulis, Jumat (1/11).

Putu Wijaya, maestro seni Indonesia, dalam tulisannya berjudul “Teater Kampus” (publikasi 3/11/2008, ), menyarankan agar teater kampus, tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja, tetapi kehidupan teater yang bebas.

Pendiri dan sutradara Teater Mandiri itu menggarisbawahi agar teater kampus jangan sampai merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas, dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan atau hobi di samping kesibukan akademiknya.

Karena itu, ia memandang kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia.

“Harus menjadi pelopor, sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. Teater kampus ditonton dengan penuh penghormatan dari masyarakat, bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi,” tulisnya.

Di tengah segala keterbatasan sumber daya di kampus, kampus harus membuka diri dengan mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus, misalnya.

Sebab, pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara, akan membuat pertunjukan tak punya arah.

Salah satu teater kampus yang memiliki sutradara dari luar kampus adalah Teater Camuss Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta yang baru saja memenangkan Festival Teater Jakarta Timur 2019 (juara I).

Reza Ghazali adalah sutradara grup teater tersebut. Demikian pula, Theo Layarda, sutradara SENTRA adalah sutradara dari luar kampus, yaitu dari Teater Katak.

Putu Wijaya mengatakan, jika teater kampus memperhatikan sumber-sumber daya tersebut, maka teater kampus akan memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi maupun sarana yang ada di dalam kampus.

*Daniel Deha

Baca Juga

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...