Peron, Penantian-Pertemuan dan Akhir Drama Kehidupan

Portal Teater – Bagi masyarakat Jakarta dan juga beberapa kota-kota lain di Indonesia, istilah peron sudah sangat familiar. Apalagi bagi pengguna jasa transportasi kereta api.

Karena sebagai alat transportasi massal, tiap stasiun menyediakan peron, sebuah tempat atau platform di mana orang (penumpang) orang menanti untuk sebuah tujuan tertentu; menunggu untuk sebuah perjalanan ke tempat baru.

Di peron itulah kita mencoba setia dan sabar menanti bilamana kereta mengalami gangguan atau kemacetan. Di peron kereta itu pula kita bertemu dan saling melempar senyum, menyapa dan berinteraksi dengan orang-orang baru.

Di peron pula mobilitas, gerak, dan transportasi tubuh kita terhenti.

d’Art Beat, sebuah komunitas seni kreatif berbasis Jakarta, mencoba mengambil metafora peron ini ke dalam kemasan pertunjukan debut drama musikal mereka.

Dalam permenungannya, d’Art Beat berupaya menggaris batasan-batasan kisah antar tokoh, dengan tiga utama (Samad, Asih, dan Jarwo), untuk mengajak penonton sejenak “menanti” kejutan apa yang bakal dibuat ketiga sosok ini di akhir drama hidup mereka.

Ada banyak kisah yang tak terungkap dan masih banyak misteri yang belum tersingkap. Kita seperti menunggu di peron, setia menanti datangnya kereta.

Seperti itu juga emosi penonton diaduk-aduk d’Artbeat lewat pentas drama musikalnya yang berlangsung selama dua hari di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Drama musikal yang merupakan produksi ke-12 d’Arbeat ini akan dipentas selama tiga kali, antara lain pada Jumat (11/10) pukul 19:30 WIB dan Sabtu (12/10) pada pukul 14.30 WIB dan 19.30 WIB.

Tangan dingin sutradara Ibas Aragi⁣⁣⁣ (penulis dan aktor film “Horas Amang”), ditemani kerabat kerjanya di bagian musik dan aransemen Yoan Theodora⁣⁣⁣ dan koreografer Felicia Chitra⁣⁣⁣, akan menyulap pentas ini begitu menegangkan, penuh tantangan, serentak mengejutkan.

Pentas drama musikal Peron oleh d'Art Beat di GBB TIM Jakarta. -Dok. d_artbeat
Pentas drama musikal Peron oleh d’Art Beat di GBB TIM Jakarta. -Dok. d_artbeat

Menunggu Bertemu di Peron

d’Artbeat lewat tagline Peron: “banyak yang berani mati, tetapi sedikit yang berani menantang tantangan hidup” mengisyaratkan narasi pokok dari pentas ini.

Di dalam cuplikan singkat pada akun Instagramnya, drama ini menampilkan momen singkat dalam kehidupan tiga tokoh utama: Samad, Asih, dan Jarwo.

Samad bermimpi menjadi anggota dewan perwakilan, dengan kekayaan yang luar biasa dan kekuatan yang menonjol.

Meskipun melikuidasi asetnya untuk mendanai kampanyenya, ia hampir tidak berhasil mendapatkan dukungan pada hari pemungutan suara.

Dalam keputusasaan yang ditimbulkan oleh kebangkrutan dan rasa malu, ia mengakhiri hidupnya dengan melompat dari peron stasiun kereta.

Kematiannya menginspirasi dua orang untuk bermain-main dengan gagasan mengakhiri hidup mereka sendiri.

Yang pertama adalah Asih, seorang mantan pelacur yang tidak hanya terserang stroke tetapi juga seorang suami yang mati suri yang menodai anak mereka sendiri untuk menarik lebih banyak rasa kasihan dan kemurahan hati banyak orang.

Yang kedua adalah Jarwo, yang berjuang dengan dilema keuangan untuk melunasi utangnya, membayar uang kuliah anak-anaknya, atau untuk merawat ibunya yang menderita sakit kanker tulang dan memintanya untuk mengakhiri hidupnya.

Karena peron kereta adalah simbol pertemuan dan perpisahan, kita dapat berharap bahwa peron dalam drama ini akan membuat tokoh-tokoh ini bertemu dan mereka akan saling bentrok satu dengan yang lainnya.

Di peron itulah kita menanti titik kulminasi dari akhir drama kehidupan para tokoh.

Pentas-pentas kreatif d'Art Beat. -Dok. d_artbeat
Pentas-pentas kreatif d’Art Beat. -Dok. d_artbeat

Tentang d’Art Beat

d’Art Beat didirikan pada tahun 2003 dan telah menghasilkan banyak drama musikal yang mengadaptasi kisah-kisah orang Indonesia dari berbagai latar belakang kehidupan.

Pada tahun pertama pembentukannya, d’Artbeat meluncurkan pentas drama musikal berjudul “INSPEKTUR JENDERAL”.

Hingga kini, komunitas seni kreatif ini terus berproses dan menghasilkan setidaknya 12 karya pertunjukan, termasuk Peron.

Beberapa karya lain yang mengangkat khusus kisah-kisah kehidupan masyarakat Indonesia, misalnya SUSI (2013), PUTIH HITAM LASEM (2014), dan SIAPA KAYA SIAPA MISKIN (2016).

Selain dari produksi-produksi drama musical berskala besar, d’Art Beat juga telah memproduksi drama musikal skala kecil dan menengah.

Simak trailer drama musikal “Peron” berikut:

Sumber: d’Artbeat, BWW

*Daniel Deha

Baca Juga

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...