PERTJA, Realisme Urban di Panggung Teater

Portal TeaterĀ – Sindikat Aktor Jakarta (SAJ) sukses mementaskan “PERTJA” naskah karangan Benny Yohanes (Benjon) pada Kamis (5/9), pekan lalu. Lakon ini berhasil meriuhkan Gedung Teater Jakarta (GKJ) karena tepukan tangan para penonton pada akhir pertunjukan.

“PERTJA” merupakan lakon yang mengisahkan kehidupan tiga bersaudari (Rosa, Pupu dan Selasih) dengan persoalan kehidupan yang kompleks, sebagai seorang manusia, perempuan dan juga satu kakak-beradik.

Persoalan dimulai ketika sang ayah meninggal dunia, tanpa meninggalkan pijakan. Selasih (diperankan Miana Syndi Aliffa) si bungsu, menjadi hilang arah, berjalan melawan arus hidup hingga hamil di luar nikah.

Si sulung Rosa (diperankan Nia Yuniansah A) putus sekolah dan harus memikul beban menjadi tulang punggung keluarga. Membentuk jalannya sendiri, menjajakan diri tiap malam, tanpa diketahui kedua adiknya.

Sedangkan Pupu (diperankan Angelibi), menciptakan dunianya sendiri dengan drama dan fantasinya yang liar.

Selasih dan Rosa betengkar di ruang tamu. -Dok. Tewel Seketi.
Selasih dan Rosa betengkar di ruang tamu. -Dok. Tewel Seketi.

Kehidupan keluarga ini tak pernah harmonis dan sukar dipersatukan, tercerai berai sehingga menjadi PERTJA (perca) atau kain besar yang dipotong-potong menjadi kecil dan tidak berguna tanpa berniat menjahitnya ulang.

Persoalan ketiga sudari ini ditambah dengan kehadiran Pak Brojo (diperankan Joind Bayuwinanda) seorang pegawai pemerintahan yang mengaku telah menghamili Selasih demi menepis kenyataan bahwa ia adalah seorang gay.

Dan Rian (diperankan Haikal Sanad) yang terlihat baik, membuat Pupu jatuh cinta tanpa berniat membalasnya karena ia adalah psikopat dan gay.

Rosa, Pupu dan Selasih merupakan representasi dari kaum minoritas masyarakat urban yang tercekik oleh kemiskinan dan hasrat yang tinggi. Sedangkan Pak Brojo dan Rian merupakan representasi dari hasrat dan kegelisahan manusia menghindari persoalan dan kenyataan. Barangkali oleh konstruk sosial dan budaya yang keras.

Teater dan Realita Kehidupan

Kesenian merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Ragam panggung kesenian merupakan hasil dari riset dan pengamatan terhadap realita.

Dalam seni pertunjukan teater, kita sering menjumpai naskah teater yang berasal dari riset dan pengamatan penulis atau kelompok teater tertentu yang kemudian disebut sebagai ‘naskah realis’ atau ‘pertunjukan realis’.

Rosa meluapkan emosinya pada Brojo yang ternyata adalah bekas pelanggannya. -Dok. Tewel Seketi.
Rosa meluapkan emosinya pada Brojo yang ternyata adalah bekas pelanggannya. -Dok. Tewel Seketi.

Sutradara “PERTJA” Joind Bayuwinanda mengungkapkan, persoalan manusia sangat kompleks dan tak pernah usai. Dan teater harus jeli melihatnya serta berperan untuk membentuk kesadaran masyarakat lewat pertunjukan.

“Manusia tidak pernah selesai, terutama persoalan kemiskinan. Bahwa persoalan ini masih menarik dan tepat untuk dibawakan dalam model apapun, sekalipun teater itu sendiri,” ungkapnya di GKJ, Kamis (5/9) seusai pentas.

Dalam naskah penulis (Benjon) menyampaikan, “PERTJA” sebagai representasi dari kaum urban yang miskin. Hal ini berseberangan dengan Joind selaku sutradara.

Joind menemukan bahwa persoalan sosial dan ketimpangannya bukan hanya orang miskin melainkan juga orang-orang kaya.

“Persoalan sosial bukan lagi soal uang, tetapi soal hasrat yang tinggi sebagai manusia. Mencari sesuatu dengan kesenangannya dan caranya sendiri, di luar nalar dan akar sehat,” jelasnya.

Catatan Sutradara

Fenomena biasa terjadi di Ibukota bernama Jakarta. Banyak penganut paham menganggap manusia sebagai objek penting untuk dijadikan alasan sebagai sumber kemajuan dengan cara membentuk objek konservasi kemanusiaan dengan alih-alih menyelamatkan hidup masyarakat dari kemiskinan dan keterpurukan.

Meski pada kenyataannya kaum urban miskin kota tetap berjuang mati-matian mempertahankan hidup di tengah kota yang paradoks.

Aksi Rian di puncak cerita, yang menunjukan dirinya sebagai psikopat dengan memutilasi tubuh Brojo. -Dok. Tewel Seketi.
Aksi Rian di puncak cerita, yang menunjukan dirinya sebagai psikopat dengan memutilasi tubuh Brojo. -Dok. Tewel Seketi.

Naskah PERJA secar khusus hendak memberi imbangan kreativitas untuk memperkuat kembali konsep seni peran realis serta mewujudkannya dalam bentuk karakterisasi dan intrepretasi dialog masyarakat urban yang tersembunyi dengan tetap memperlihatkan kekuatan emosi natural yang tidak terjebak pada distorsi atau stilisasi.

Melalui naskah PERTJA yang kompleks dan konflik silang sengkarut antar tokokh bisa menjadi pelajaran bahwa bagaimanapun hidup harus dibuat se-rasional mungkin dalam menghadapi segala persoalannya.

*Rere Marselina

Baca Juga

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama denganĀ  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...